Dijadikan Bahan Pembicaraan

1011 Kata
Sesuatu yang selalu Nina hindari, membuat Nina semakin sering saja datang ke tempat ini, apalagi kalau bukan sekretariat himpunan. Siang hari begini harusnya ia sudah sampai di kost dan segera tidur siang, karena semalam dirinya tidak bisa tidur karena banyak mengobrol dengan Brian walau yang dibrolkan lewat pesan singkat bukanlah sebuah obrolan yang penting. Nina sudah sampai di depan ruang sekretariat himpunan. Seperti biasanya, pintu ruangan ini tertutup namun tidak pernah rapat jika tidak sedang melakukan rapat yang penting. Jadi, Nina tinggal membuka sepatunya saja sebelum akhirnya masuk ke tempat itu untuk mengantarkan berkas yang kemarin sempat ketua himpunan minta yaitu berkas untuk mengadakan malam akrab atau makrab bagi mahasiswa baru. Nina lah yang ditugasi untuk meminta tanda tangan itu. Walau mau tidak mau, tetap saja ini sudah menjadi bagian dari tugasnya.  Siapapun juga tahu, jika seseorang tidak bersama dengan orang lain, seseorang itu bisa menjadi bahan bicaraan orang lain bersama dengan teman-teman lainnya. Dan Nina mengalami hal itu sekarang. Perempuan itu bisa mendengar apa saja yang sedang dibicarakan di dalam sekretariat himpunan. Jelas sekali terdengar, bahkan tidak ada bisik-bisik, mereka yang ada di dalam sana tengah membicarakan perihal dirinya, menyebut-nyebut namanya dan juga Brina dan Brian.  Memang benar apa Brian kemarin, pantas saja dirinya sedikit khawatir jika ia dekat dengan Nina, maka akan banyak orang memandang dengan salah paham. Semua orang tahu jika Brian adalah kekasih dari Brina dan Nina adalah sahabat dari Nina. Jelas saja desas-desus kedekatan Nina dan Brian cepat sekali tercium dan menjadi bahan pembicaraan banyak orang. Selain mereka pernah bertemu di perpustakaan, kemarin Nina dan Brian juga sempat jalan berdua di mall. Ah, mungkin saja ketika itu ada orang yang mengenal mereka, melihat mereka berdua jalan bersamaan tanpa Brina. Jadilah gosip baru, bahan pembicaraan baru.  Nina memutuskan untuk mendengarkan semuanya terlebih dahulu diam-diam di luar ruangan sebelum ia memutuskan untuk masuk. Mungkin asyik rasanya, dijadikan bahan pembicaraan oleh orang-orang yang menganggap dirinya semua dalam satu himpunan ini sudah seperti keluarga.  "Nin, ngapain?"  Nina sedikit terkejut ketika ada Brina yang sudah menepuk bahunya.  "Kok nggak masuk?" tanya perempuan itu.  Nina pun meletakkan jari telunjuk di depan mulutnya, memberi isyarat pada Brina untuk tetap diam dan tidak berisik. Brina dibuat bingung, tetapi ia menurut saja pada Nina.  "Ada apa sih, Nin?" tanyanya lagi, kali ini sudah memahami apa yang dimaksud Nina dan dia pun berkata sambil berbisik.  Nina memberi isyarat untuk Brina juga mendengarkan apa yang sedang dibicarakan di dalam ruangan.  "Ada yang ngomongin kita, Kak," kata Nina. Walau dengan berbisik, tidak tanggung-tanggung ia ceplas-ceplos saja pada Brina.  "Siapa?" "Orang-orang yang katanya udah anggap kita sebagai keluarga." Nina menyindir. Setelahnya Brina hanya terkekeh tanpa suara dan langsung membuka pintu saja. Orang-orang yang ada di dalam terlihat terkejut saat Brina dan Nina tiba-tiba muncul di balik pintu. Mereka yang awalnya duduk mengumpul, kini menyebar dan menghentikan semua obrolannya. Terlihat sekali mereka sangat khawatir jika Nina dan Brina mendengar semua obrolan mereka yang membicarakan dua perempuan yang sudah ada di depan matanya.  "Siang, guys. Tumben pada kumpul di sini," kata Brina menyapa semuanya. Brina mendengar semua obrolan mereka tentang dirinya, tetapi Brina tetap berpura-pura tidak mendengar apapun.  Berbeda dengan Brina, Nina masuk tanpa ekspresi dan langsung menaruh berkas yang sudah ia mintakan tanda tangan di atas meja. Perempuan itu hendak keluar, tapi tangannya ditahan oleh Brina.  "Duduk dulu, Nin," kata Brina yang juga sudah duduk. Mau tidak mau Nina menurut saja, walau sebenarnya ia sudah muak dengan orang-orang yang ada di sini.  "Udah pada makan belum nih?" tanya Brina pada mereka.  "Belum sih, Brin. Mau traktir? Boleh lah," ucap salah satu dari mereka. Niatnya memang hanya basa-basi, tetapi langsung disetujui oleh Brina. "Mau makan apa nih? Kebetulan lagi ada rezeki lebih," kata Brina dengan enteng, membuat mereka yang lain juga langsung tertarik dengan tawaran Brina.  "Geprek aja geprek." "Iya, ayam geprek aja." Nina mendengus dalam hati. Padahal, beberapa menit yang lalu mereka tengah sibuk membicarakan dirinya dan juga Brina. Namun, saat ini ketika Brina menawari ingin mentraktir mereka, mereka yang paling bersemangat. Nina tidak tahu lagi bagaimana sebuah gratisan mampu membuat mereka berbeda sikap. Nina hanya tertawa saja dalam hati, ingin segera pergi dari sini tetapi tidak bisa. Ada Brina, sudah pasti perempuan itu akan melarangnya untuk pergi dengan alasan agar lebih dekat dengan pengurus lain.  Obrolan mereka yang tadinya terputus karena kedatangan Nina dan Brina, kini sudah berlanjut, tetapi bukan membicarakan mengenai Nina, Brina, dan Brian. Sudah pasti tema obrolan mereka akan berubah karena orang yang mereka bicarakan hadir di tengah-tengah mereka. Kali ini ada satu nama yang menjadi bahan obrolan. Seperti biasanya, memang jika seseorang tidak hadir dalam sebuah pertemuan maka orang itu yang akan menjadi bahan pembicaraan.  Nina sudah lelah dari tadi, ingin segera pulang tetapi tidak bisa. Setidaknya, ia harus tetap berada di sini sampai makanan yang Bina pesan untuk mentraktir semua orang sudah disantap bersamaan. Nina memaksakan senyumnya ketika mereka saling bercanda.  "Kalo gue jadi Nadia, gue mah udah putusin si Rendi. Enaknya si Rendi, ganteng juga enggak tapi udah bisa selingkuh dari Nadia. Terang-terangan pula," ucap salah seorang di antara mereka yang masih asyik dengan perghibahannya.  Yang lain kompak mengangguk. "Emang rada-rada tuh si Nadia." "Setau apa sih kalian sampai ikit campur urusan mereka?" celetuk Brina tiba-tiba, membuat mereka langsung terdiam. Nina pun sama, dirinya langsung mengalihkan perhatiannya dari rada bosa pada pertanyaan Brina.  Seseorang mengibaskan wajah di depan Brina. "Halah, Brin. Siapa sih yang nggak tahu betapa bucinnya Nadia ke Rendi? Sampai gue aja yang nyangka kalo Rendi bisa selingkuh di depan semua orang." "Ya udah sih kalo emang bener kenyataannya kayak gitu berarti ya emang Nadia nggak mandang fisik kan buat cinta sama Rendi? Walau dia disakitin, tapi ini termasuk ujian yang dikasih Tuhan lhoh. Mungkin Tuhan lagi nguji seberapa besar cintanya Nadia buat Rendi." Brina masih berbicara dengan menatap mereka Bergantian termasuk juga Nina.  Dalam hati, lagi-lagi Nina dibuat terenyuh. Apa yang dikatakan Brina memang benar. Seseorang akan memperjuangkan cintanya walau beberapa kali telah disakiti. Jika Nadia saja bisa mempertahankan hubungannya dengan Rendi yang sudah menyakitinya, berarti Nina juga harus memperjuangkan hubungannya dengan Kak Brian, tidak peduli dengan pacarnya, Kak Brina. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN