Gosip dan Hujan Datang

1103 Kata
Nina kira, dirinya yang akan pulang duluan. Ternyata, anggota penguruslah yang pulang duluan dan kini tinggal tiga orang saja yang ada di ruang sekretariat himpunan ini yaitu Nina, Brina, dan Wati. Hari memang sudah sore dan Nina sangat lelah sekali karena banyak yang mereka obrolkan termasuk Nina yang tanpa sadar perlahan-lahan mulai bisa berbaur dan mengobrol dengan santai bersama mereka.  Karena memang sudah sore, dirinya pun bersiap-siap untuk pulang. Yang pasti mereka akan ke depan bersama dengan Brina dan Wati.  "Ayo, Kak, Wati," kata Nina yang sudah duluan keluar. Wati menyusul, sementara Brina juga keluar ruangan tapi masih perlu mengunci ruangan yang sama sekali tidak luas itu.  "Nin, Wati, sorry ya kayaknya gue duluan," kata Brina yang tiba-tiba saja terlihat buru-buru.  "Kenapa, Kak?" tanya Nina yang penasaran. Wati sebenarnya penasaran juga, tetapi ia tidak ikut bertanya.  Brina sibuk dengan ponselnya, lalu kembali terlihat buru-buru. "Adalah," katanya yang tidak mau memberitahu kenapa. Brina langsung pergi dari sana dengan langkah cepat setelah ia berpamitan pada Nina dan Wati. "Gue duluan ya, bye!" Padahal, mereka bertiga masih bisa jalan sampai depan, tetapi memang Brina saja yang ingin buru-buru dan saat ini tinggallah Nina dan Wati saja.  "Yuk," kata Nina, mengajak Wati untuk segera pergi dari sini.  Mereka pun berjalan santai menuruni tangga di tengah cuaca yang sedikit mendung. Sore hari ditambah mendung adalah kombinasi yang sempurna untuk berdoa agar tidak turun hujan. Nina tidak mau dalam perjalanannya sampai rumah kost nanti dirinya kehujanan. Dirinya juga enggan memesan taksi online karena dirasa terlalu mahal bagi kaum mendang-mending seperti Nina, yaitu mending cepat-cepat berdoa setelah itu cepat-cepat jalan kaki sampai kost agar hujan tak tiba kecuali jika ia sudah sampai di rumah kostnya.  "Nin, Kak Brina tuh sama Kak Brian udah putus ya?" tanya Wati tiba-tiba. Sontak saja membuat Nina menghentikan langkahnya dan menatap kedua matanya dengan alis yang berkerut.  "Masa sih? Kok lo ngomong kayak gitu? Bukannya baik-baik aja ya? Lo jangan sebar gosip deh!" kata Nina yang tidak percaya. Pasalnya memang yang ia tahu, Brina dan Brian memang baik-baik saja dan bahkan tidak ada gosip di kampus ini bahwa dua sejoli itu telah putus. Nina benar-benar baru mendengar perihal tersebut dari mulut Wati.  "Kok lo yakin banget sih kalo mereka baik-baik aja? Emang lo sedekat apa sama mereka?" Wati bertanya balik. Perempuan itu bahkan sangat penasaran dengan hubungan Nina dengan Brina dan Brian.  "Kok lo nanya gitu? Lo tau kan kalo gue emang dekat banget sama Kak Brina?" Ujung-ujungnya, Nina juga malah balik bertanya.  Keduanya sama-sama bingung satu sama lain. Ada sesuatu yang masih menjadi pertanyaan bagi Nina, yaitu tentang mengapa Wati bisa bertanya tentang kondisi hubungan Brina dan Brian, dan juga tentang yakinnya Nina mengenai kondisi hubungan Brina dan Brian yang baik-baik saja.  Akhirnya Nina memutar bola matanya. Ia nampak lelah saja dengan orang-orang yang hobi sekali mengurusi hubungan orang sampai terlalu penasaran seperti ini. Walau sebenarnya wajar saja karena memang lingkungan yang sangat mendukung untuk berjulid ria, tetapi tetap saja orang yang suka mengurusi hubungan orang lain sangat tidak memiliki pekerjaan.  "Wati, lo sama yang lain apa emang suka gini sih? Maksud gue, kalian suka ngomongin orang?" tanya Nina pada Wati yang langsung pada poinnya. Walau Nina sendiri juga tak luput dari kegiatan yang sama yang dituduhkannya pada Wati, tetapi memang sejarang itu Nina membicarakan orang lain karena teman dan sahabat Nina hanya sedikit, apalagi jika ia bercerita pada Brina, ujung-ujungnya dirinyalah yang mendapat nasihat.  Wati hanya terkekeh. Ia santai sekali menanggapi pertanyaan Nina. "Wajar, Nin. Semua orang kayak gini. Bahkan gue yakin lo juga kayak gini. Kayak makan bangkaii saudara sendiri tuh rasanya nagih banget!" Watu berucap dengan enteng tanpa beban sedikitpun.  Nina tidak bisa berkata-kata karena yang dikatakan Wati memang ada benarnya. Tetapi, tetap saja jika yang wati dan orang lain bicarakan adalah tentang dirinya, Brina, dan Brian, Nina tidak akan pernah setuju. Perempuan itu tidak terima dijadikan bahan pembicaraan. "Oiya, lo sedekat apa sih sama Kak Brian, pacarnya Kak Brina?" tanya Wati yang tiba-tiba membuat Nina mengalihkan tatapannya ke sana kemari asal tidak menatap kedua mata Wati.  "Hng? Biasa aja," jawabnya kemudian. Sejujurnya Nina belum siap untuk menjawab pertanyaan tersebut dan Nina tahu jika dirinya harus berhati-hati dengan pertanyaan semacam ini.  "Gue denger-denger sih lo sama Kak Brian jalan berdua di mall tanpa Kak Brina. Kalau nggak deket banget pasti nggak jalan bareng deh!"  Benar saja, yang dibahas Wati adalah mengenai kemarin ketika ia jalan bareng bersama Brian di mall. Lagi-lagi Nina tidak percaya jika Wati sepenasaran itu dan menanyakan langsung pada dirinya.  "Apa lo diem-diem jalan berdua tanpa Kak Brina tahu?" tanya Wati yang menebak-nebak. Matanya ia sipitkan untuk melirik Nina sampai perempuan itu merasa terintimidasi.  Nina pun mendengkus. "Apaan sih lo? Kalau ada gosip kayak gitu, yang pasti Kak Brina bakal tahu dan kalau emang gue jalan sama Kak Brian di belakang Kak Brina, sudah pasti gue nggak bakal deket sama Kak Brina seperti biasanya, seperti tadi. Jelaslah Kak Brina tahu kalo gue kemarin sama Kak Brian ke mall, toh Kak Brina awalnya juga ada di sana tapi pulang duluan." "Terus lo lanjut jalan sama Kak Brian?" "Ih!" Nina sudah berdecak sebal. "Bukan gitu, kan ada yang masih dicari Kak Brian, ya makanya gue kudu nemenin dia sekalian." "Kok lo nggak canggung? Gue kira selama ini kalian, maksud gue lo sama Kak Brian itu nggak dekat. Eh tiba-tiba dengar lo pergi ke mall bareng Kak Brian." Wati terus saja penasaran, sementara Nina semakin tidak nyaman dengan pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari mulut perempuan itu. Setidaknya Nina tidak boleh menghindar atau Wati akan semakin penasaran lagi. Ia terus saja menjawab pertanyaan Wati dan ia harus tetap hati-hati dengan jawabannya. Karena meladeni Wati, Nina sampai dibuat kesal. Mereka memang mengobrol dalam perjalanan sampai berpisah di depan gedung. Tetapi, baru saja Nina akan melangkahkan kaki untuk pulang ke rumah kostnya, bukan gerimis yang datang tetapi hujan yang langsung deras menerpa.  Lagi-lagi, Nina dibuat mengembuskan napasnya lelah. Wati sudah naik taksi online meninggalkan dirinya yang kini sendirian meneduh di gedung fakultas. Sore hari, sepi, hujan deras, dan tidak ada yang menemani. Ah, rasanya memang sedikit horor, tetapi Nina tetap berusaha untuk bisa melewati ini. Menunggu hujan reda tidak membosankan karena Nina suka hujan. Sayangnya di sini tidak ada kursi yang jelas membuat kaki Nina akan pegal-pegal.  Nina pun mengeluarkan ponselnya. Ia ingin mengalihkan perhatiannya pada ponselnya yang sejak tadi tidak ia tengok. Lalu, ternyata ada satu pesan yang sangat mencuri perhatiannya. Pesan tersebut sudah ia terima sejak sepuluh menit yang lalu, dari siapa lagi kalau bukan Brian. Kak Brian: Na, mau hujan. Kata Brina kamu masih di kampus ya? Mau bareng nggak?  Dan saat itu, tubuh Nina kembali dibuat gemetar oleh oknum bernama Brian. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN