Make Over

1571 Kata
Resya harus menerima kenyataan jika Levin akan tetap menjadi bodyguard-ya. Itu tandanya, Resya tetap berada dalam pantauan Nasya. Hal itu akan membuat gerak Resya semakin sempit. Ia tidak akan bisa sebebas dulu. Bermain dengan Zidan hanya sakadar untuk latihan mua thai atau nge-drift bareng. Nasya pasti akan melarang keras dan meminta Levin untuk mengawasinya lebih ketat. Apa lagi Resya mulai membantu Nasya di percetakan. Waktunya akan semakin terbatas, rasa penasaran untuk mencari tahu siapa Levin sebenarnya sepertinya mustahil. Resya masih mengunyah roti tawarnya dan meneguk cokelat hangat. Menu sarapan pagi yang selalu menjadi favorit Resya. Pukul delapan pagi Nasya sudah bersiap dengan semua berkas yang akan dibawa. Membawa beberapa contoh cetakan yang akan dibawa. Hari ini Nasya kedatangan klien dari Bandung yang akan mengunjungi tempat produksi. Mereka sengaja ingin melihat secara langsung proses percetakan dari awal hingga akhir. Hal itu menjadi pertimbangan mereka untuk melihat bahan-bahan yang dipakai percetakan Nasya secara kualitas. Nasya merasa membutuhkan bantuan Vano untuk mengatur semuanya. Ia merasa tidak percaya diri dengan kemampuannya sendiri. Ia masih merasa percetakan miliknya jauh dari kata sempurna. Dukungan dari Vano membuat Nasya yakin bisa peninggalan usaha sang suami bisa maju lebih baik lagi untuk bekal Resya ke depannya. “Pagi, Sya ...” Vano datang menyapa Resya. Gadis itu mengubah wajahnya menjadi tidak bersahabat. Sementara Nasya hanya menggeleng melihatnya. “Mami udah mau berangkat? Ini masih pagi, Mi.” Resya tidak menanggapi sapaan Vano. Gadis itu tidak suka, ia tidak mau terlihat sok baik atau menutupi rasa kesalnya di depan Vano. Ia sengaja melakukannya agar lelaki itu menjauh dari keluarganya. “Sya, ada Om Vano, kenapa gak nyapa? Nasya langsung menegur Resya. Ia tidak ingin puterinya menjadi gadis yang tidak mempunyai sopan santun kepada yang lebih tua. “Kan, udah ada Mami. Lagian Om Vano juga Nyari Mami, bukan Sya-sya.” Resya beranjak. Kedatangan Levin membuatnya beruntung. “Aku mau ke tempat Oma.” Resya langsung pergi menggandeng Levin pergi. Ia tidak peduli dengan teguran Nasya untuk menyapa Vano. Levin hanya menggeleng dan menuruti keinginan Resya. Ia membuka pintu mobil dan membiarkan gadis di depannya masuk terlebih dahulu. Sebelum masuk, Levin menoleh dan melihat Nasya bersama Vano berdiri di depan pintu. Wanita berumur itu mengangguk dan tersenyum. Memberi izin Levin membawa Resya pergi. Pemuda itu langsung berjalan memutar dan masuk ke dalam mobil. Ia langsung melajukan mobilnya keluar membawa Resya ke tempat sang nenek. Wanita tua yang selalu menjadi tempat Resya saat merasa kesal dan ingat dengan papinya. “Resya sepertinya tidak menyukaiku.” Vano berbicara setelah mobil yang ditumpangi Resya tidak terlihat. “Tidak usah diambil hati. Anak itu bukannya memang seperti itu dari dulu?” Nasya masih berdiri. “Anak itu sangat terlihat jelas tidak menyukaiku. Sepertinya jalanku akan lebih sulit.” “Sulit? Apa maksudmu?” Nasya tidak mengerti dengan perkataan Vano. “Nasya, kita sudah dewasa dan bahkan lebih dari cukup umur untuk tahu semuanya.” Vano terdengar berharap dengan hubungannya dengan Nasya. Wanita yang pernah mengisi hatinya bertahun-tahun yang lalu. Mereka mengukir kisah cinta saat Nasya masih sekolah, gadis itu begitu istimewa baginya. Hingga ia merasa bodoh saat Nasya lepas dan malah memilih lelaki lain. Sejak saat itu sosok Nasya seolah tidak bisa berganti. Kehadiran Stevie pun tidak cukup membuat vano bisa melupakan Nasya. Ia memilih memutuskan hubungannya dengan Stevi dan memilih melajang hingga usianya tidak lagi muda. Berharap pada wanita di depannya yang berstatus single. Vano sangat berharap Nasya mau membuka hatinya kembali untuknya. Hal itu tidak semudah yang dibayangkan. Hati Nasya masih kaku dan tidak cukup lebar untuk membuka pintunya. “Kamu tahu, kan? Kita hanya teman, tidak lebih. Aku hanya ingin fokus dengan Resya. Ia sudah dewasa, waktunya serius untuk menata masa depannya. Sangat lucu rasanya jika aku harus ikut-ikutan larutan dalam kesenanganku sendiri.” “Kamu berhak bahagia.” Vano masih berusaha meluluhkan wanita di depannya. Mereka memang tidak pantas lagi berbicara tentang cinta yang membara, tetapi perasaan Vano masih sama seperti terkahir mereka berpisah. “Aku akan lebih bahagia jika kamu menemukan pasangan hidupmu. Aku sudah berbahagia bersama Rendra meski tidak bersama. Resya adalah wujud kasih sayang kami.” “Sya ...” “Kita sudah pernah membahasnya.” Nasya menghentikan pembicaraan yang menurutnya tidak penting. Ia tidak mau berurusan lagi dengan yang namanya cinta. Usianya sudah terlalu tua untuk memikirkan hal tersebut. Merasakan cinta dari Resya sudah lebih dari cukup untuknya. “Kita berangkat sekarang. Aku naik mobil sendiri dan kamu bisa memakai mobilmu.” Nasya pergi meninggalkan Vano. Lelaki itu hanya menatap Nasya menjauh. Upayanya selama ini terasa sia-sia. Nasya sama sekali tidak merubah perasaannya. Entah itu karena Rendra atau Resya puterinya yang tidak ingin Nasya menikah lagi. “Sya dulu atau sekarang kamu akan tetap milikku.” Vano menggenggam kunci mobilnya. Rasa marah bercampur kecewa membuat hatinya koyak. Dengan cara apa lagi ia harus membuat Nasya mau menoleh kepadanya dan menerima perasaannya. Vano merasa Rendra tidak berhak dan tidak pantas mendapatkan cinta yang begitu besar dari Nasya. Lelaki yang menurut Vano arogan itu tidak lebih baik darinya. Lelaki yang selalu memaksakan kehendaknya dan suka berbuat semaunya. Belum lagi skandal dengan mantan kekasih Rendra membuat Vano berpikir Rendra adalah lelaki buruk yang tidak pantas untuk Nasya. *** Resya masih kesal dengan kehadiran Vano di rumahnya. Sepanjang perjalanan menuju rumah neneknya ia selalu menggerutu kesal. Ia tidak peduli Levin mendengar ocehannya. Setidaknya hal itu bisa membuat hatinya sedikit lega. Kehadiran Vano menurutnya seperti ancaman baginya. Lelaki itu bisa kapan saja merebut Nasya darinya dan sang papi. Resya tidak ingin memiliki ayah tiri, meskipun Vano adalah orang yang baik sekalipun. Nasya hanyalah untuknya dan sang papi. Resya memang terkesan egois, tetapi ia tidak ingin membuat Nasya tidak berbahagia. Bagi Resya, hidup berdua dengan sang mami sudah lebih dari cukup. “Kamu nyetirnya bisa lebih cepat enggak, sih?” Resya merasa tidak sabar. Tanpa menyahut ocehan Resya, Levin langsung menambah kecepatan laju mobilnya. Jalanan yang sepi membuat Levin bisa mengatasi laju kencang mobilnya. Ia terlihat piawai memainkan laju mobil dengan kecepatan tinggi. Resya hampir tidak percaya melihatnya. Lelaki yang ia anggap lugu dan polos ternyata bisa membawa mobil dengan kecepatan tinggi. “Keren!” “Kencangkan sabuk pengamanmu!” Levin berseru. Ia akan memasuki fly over dan bersiap menurunkan perlahan kecepatannya. “Om Levin keren! Aku enggak nyangka Om Levin bisa seperti ini.” “Jangan panggil aku Om! Aku masih muda, usiaku tidak lebih jauh darimu.” Levin menandaskan ucapannya. Ia kesal karena Levin selalu memanggilnya dengan sebutan Om. “Kalau enggak mau dipanggil Om, jangan pernah pake kemeja dengan kancing tertutup. Apa lagi model rambut kuno seperti itu.” Resya menunjuk model rambut Levin yang rapi dan kancing bagian paling atas kemeja yang tertutup. “Apa salahnya?” “Salah! Sangat salah!” “Nyonya Bos tidak mempermasalahkannya. Kenapa Nona Bos yang bingung?” Levin memutar kemudinya dan keluar dari fly over. Sebentar lagi mereka akan sampai di rumah neneknya Resya. “Jelas Mami enggak masalah karena kamu bukan bodyguard Mami. Kamu adalah bodyguard-ku, sudah seharusnya kamu menurut padaku.” Resya melipat tangannya. Terbesit ide jahil untuk mengubah penampilan Levin sebelum bertemu dengan neneknya. “Di depan itu ada distro. Kita berhenti di sana.” Resya menunjuk Sebuah papan baliho yang terpampang di ujung jalan. Levin hanya mengangguk dan menurut. Mobil mereka berhenti dan Resya tersenyum. Ia menoleh pada Levin agar mengikutinya. “Mau apa kita? Ini bukannya distro pakaian lelaki?” Levin heran melihat ekspresi Resya. “Kamu diam aja Om. Kita masuk dan kamu menurut saja.” Resya langsung keluar dan menunggu Levin. Mereka masuk bersama dan Resya langsung memilih beberapa pakaian yang menurutnya cocok. Sesekali Resya melihat ke arah Levin dan membandingkan dengan baju yang dipilih. Ia memanggil Levin agar mendekat. “Coba ini.” Resya memberi satu kaus berwarna putih dan celana jeans berwarna dongker. Sedangkan hodie berwarna biru gelap masih berada di tangannya. “Untuk apa?” “Pakai saja.” Resya melotot. Ia tidak ingin Levin menolaknya. Mau tidak mau akhirnya Levin masuk ke ruang ganti dan mengganti pakaiannya. Ia merasa penampilannya aneh. Levin lebih suka memakai kemeja daripada kaus tanpa kerah. Ia merasa penampilannya tidak rapi dan terkesan mirip dengan seseorang. “Om buruan keluar!” Resya memanggil Levin yang masih di dalam. Akhirnya Levin keluar dan menunjukkan penampilan barunya. Ia merasa tidak nyaman dan malu. “Wah Om Levin keren, loh!” Resya tidak percaya dengan apa yang dilihat. Lelaki yang menurutnya polos berubah dengan memakai baju yang berbeda. “Pakai ini, Om Levin pasti tambah keren.” Resya memakaikan hodie pada Levin. “Tuh, kan, cakep!” “Nona, enggak seharusnya Nona seperti ini.” “Kamu diam aja. Aku bosnya.” Resya tersenyum. Ia beralih membayar semua pakaian yang dipakai Levin. Setelah itu ia memberi kode apada Levin untuk kembali melanjutkan perjalanan. “Nona!” Levin menahan tangan Resya. Ia tidak suka dengan sikap Resya yang seenaknya mengubah penampilannya. “Kenapa? Kamu mau berterima kasih? Sama-sama.” “Ini yang pertama dan terakhir.” “Maksudnya?” “Aku adalah Levin, bukan Zidan. Jangan pernah membuat diriku terlihat seperti Zidan di depanmu.” Levin terdengar marah. Ia merasa Resya menjadikan penampilannya seperti Zidan. Hal itu yang membuat Levin tidak suka. Levin langsung pergi dan masuk ke dalam mobil terlebih dahulu. “Eh, Om, bukan maksudku seperti itu. Kenapa dia jadi sensi begini” Resya bingung dengan sikap Levin. Padahal Resya sama sekali tidak bermaksud seperti itu. Ia hanya ingin Levin berpenampilan lebih baik. Bukan membandingkan penampilannya dengan Zidan atau lainnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN