“Aku tunggu di luar.” Levin mematikan mesin mobilnya. Mereka telah sampai di halaman rumah neneknya Resya.
Resya merasa Levin masih marah kepadanya. Gadis itu masih diam. Ia merasa bersalah dan memilih tidak keluar dari mobil. Sementara neneknya tampak menyambut cucu kesayangannya di depan pintu rumah. dari kejauhan wanita itu terlihat tidak begitu sehat. Wajahnya terlihat tidak terlalu segar, tetapi ia berusaha berdiri menunggu kedatangan Resya.
“Kenapa tidak turun?”
“Kita pulang saja.” Resya melipat tangannya.
“Pulang?” Resya memastikan ucapan Resya. “Baiklah, sepertinya pekerjaanku akan lebih ringan jika kamu pulang. Jadi aku tidak susah payah untuk menjagamu.” Levin langsung menghidupkan mesin mobil. Ia tahu jika itu hanyalah trik Resya agar membuat dirinya tidak kesal karena ulah Resya yang seenaknya mengubah penampilan Levin.
“Eh—eh—eh, kok pulang. Aku belum ketemu Oma, Om!” Resya menahan tangan Levin yang bersiap memasukkan gigi.
“Katanya mau pulang? Kita pulang aja sekarang.”
“Om Levin!” Resya tidak membiarkan tangan Levin bergerak. Gadis itu terlihat kesal karena sikap Kevin. Ia belum bertemu dengan neneknya. Levin malah langsung mengajak pulang.
Reni yang tampak penasaran dengan apa yang terjadi berjalan menghampiri mobil Resya. Ia penasaran kenapa cucunya belum juga turun Padahal mobilnya telah sampai beberapa menit yang lalu dan malah terlihat hendak meninggalkan halaman rumahnya kembali.
“Sya ... Sya-sya.” Reni mengetuk kaca mobil. Ia mencoba memastikan apa yang terjadi di dalam.
Resya memberi kode pada Levin untuk membuka kaca mobil dan mematikan mesin mobil agar membuat neneknya Resya tidak khawatir.
“Kalian kenapa masih di dalam?” Reni melihat aneh cucu dan pemuda di sampingnya. “Kenapa kalian tidak turun?”
“Anu, oma ... itu ... Om Levin ....”
Reni hanya menggeleng. Ia yakin jika Resya telah membuat masalah. Ia melihat Penampilan Levin yang berbeda dan agak mirip dengan seseorang. “Turun, ajak Levin masuk.”
Resya menunduk saat mendengar perintah sang nenek. Ia memberi kode pada Levin untuk turun. Mereka berdua masuk ke dalam rumah sedangkan Levin memilih duduk di teras rumah. Ia terlihat tidak nyaman dengan pakaian yang dikenakan. Belum lagi dengan celana yang begitu ketat membuatnya kesulitan untuk bergerak.
Penampilan Levin terbilang sederhana. Ia lebih menyukai jenis pakaian model kemeja dan celana bahan yang membuat penampilannya lebih rapi.
“Katakan pada Oma, apa yang terjadi?” Reni menarik tangan Resya dan meminta cucunya duduk.
“Enggak ada apa-apa Oma.”
“Itu Levin kenapa jadi seperti itu? Kalau bukan ulahmu siapa lagi?”
Resya tersenyum. Ia mengakui jika mengubah penampilan Levin agar terlihat lebih muda dan wajahnya yang tampan itu tidak terlihat terlalu tua. Hal itu ia lakukan karena melihat penampilan Levin membuatnya kesal. Lelaki muda itu terlhat jauh lebih tua dari usianya. Satu-satunya style yang Resya ingat adalah gaya Zidan berpakaian. Setiap gaya sahabatnya itu Resya hapal betul. Menurutnya gaya berpakaian Zidan modis dan membuat Zidan terlihat keren. Namun Resya merasa aneh karena Levin justru tidak menyukainya.
“Resya-Resya, jelas Levin tidak suka.” Reni menggeleng.
“Om Levin itu gayanya kuno banget Oma ... Aku malu kalau jalan ama dia.” Resya cemberut.
“Malu? Kenapa harus malu.”
“Pokoknya Resya enggak suka ama penampilannya!” Resya merengek. Gadis itu selalu saja bermanja dengan sang nenek.
Resya adalah cucu satu-satunya dari Renda, anak sambungnya. Sedangkan Stevi adiknya Rendra memilih hidup di luar negeri setelah rencana pernikahannya dengan Vano gagal. Stevie merasa malu karena pernikahannya yang gagal saat hari H. Semua undangan telah disebar dan saat hari pernikahan digelar, Vano memberi kabar jika dirinya belum siap menikah dan memilih memutuskan hubungan mereka. Hal itu langsung membuat Stevi shock dan sempat mengurung diri selama beberapa hari. Butuh waktu lama untuk Stevi bisa menerima keputusan Vano. Akhirnya satu tahun kemudian Stevi memilih tinggal di Singapura dan tidak berniat kembali lagi ke Indonesia. Hatinya terlampau terluka da lebih memilih hidup sendiri penuh kebebasan tanpa takut akan sakit hati lagi.
Reni merasa sedih melihat Stevi. Meskipun Rendra dan Stevi bukan anak kandungnya, Reni begitu menyayangi mereka seperti anak sendiri. Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima keputusan puterinya jika hal itu adalah yang terbaik.
Melihat sikap Resya yang kekeh dengan kemauannya membuat Reni kembali teringat dengan Rendra. Sifat dan keras kepalanya sangat mirip dengan anak lelakinya itu. Reni hanya tersenyum dan melihat duplikat sang anak dalam bentuk perempuan.
“Oma kenapa malah nangis? Resya buat salah?” Resya panik. Ia tidak tahu kenapa neneknya malah menangis.
“Enggak, Oma hanya ingat papimu.”
“Papi ...” Resya memeluk sang nenek. Ia merasa ikut bersedih. Lelaki yang belum pernah ia temui sejak kecil selalu melekat di hatinya. Fotonya selalu ia simpan di dalam dompet dan ia pajang di dinding kamar miliknya. Baginya Rendra adalah satu-satunya lelaki yang menjadi ayahnya. Tidak ada yang lain yang bisa menggantikannya.
“Sya, kenapa kamu malah yang sedih?”
“Mami ...”
“Kenapa mamimu? Dia sehat, kan?”
Resya mulai bercerita tentang Vano yang mulai datang ke rumah dengan alasan membantu Nasya dalam urusan pekerjaan. Padahal menurut Resya hal itu hanya sebuah alasan untuk mendekati sang Mami. Ia juga mengatakan soal perasaan Nasya yang tidak suka jika Vano menjadi pengganti Rendra. Resya sangat tidak menyukainya. Ada hal lain yang membuat Resya tidak menyukai Vano. Gadis itu merasa ada yang aneh dari lelaki dewasa itu. Pandangannya ke Nasya dan dirinya sangat berbeda jauh. Resya bisa merasakan hal itu.
Saat melihat Nasya lelaki itu terlihat begitu lembut dan berharap jika mereka mempunyai hubungan yang lebih. Sedangkan saat melihat Resya, gadis itu bisa merasakan ada perbedaan yang sangat jauh. Seperti ada rasa benci dan tidak suka dengan kehadiran Resya. Sejak kecil pun Resya tidak pernah menyukai Vano dan dekat dengan lelaki itu.
“Dia masih mendekati mamimu?” Reni terlihat berpikir. Ia terbatuk dan memegang dadanya yang terasa nyeri.
Resya khawatir pada neneknya. Ia memanggil pembantu untuk mengambil air putih untuk sang nenek. Beberapa hari yang lalu keadaan Reni sudah membaik dari sakit. Bahkan ia begitu gembira saat Resya menelepon akan berkunjung ke tempatnya. Reni hanya ingin tahu keadaan cucunya setelah kecelakaan yang menimpanya. Ia tidak bisa berkunjung ke rumah Resya karena kondisinya yang semakin lemah dan tidak memungkinkan keluar.
“Oma sakit?”
“Oma hanya lelah saja. Usia yang semakin tua membuat Oma tidak bisa berpikir lebih keras lagi.” Reni masih mengurut dadanya. Ia merasa dadanya sesak mendengar tentang Vano. Ia teringat Stevi yang berada jauh darinya.
“Oma ingat Tante Stevi?” Resya tahu apa yang neneknya pikirkan.
“Kamu tenang saja. Oma baik-baik saja. Antar Oma ke kamar, setelah itu ajak Levin makan siang di sini.”
Resya menggandeng Reni ke kamarnya. Ia tidak mau mengganggu neneknya dan membuat neneknya berpikir terlalu dalam soal Vano dan maminya. Resya tahu jika Reni masih merasa sakit saat Vano membuat Stevi terluka.
Resya mengambil obat dan air putih yang berada di meja. Ia membantu neneknya minum obat dan kemudian berbaring. Usia yang semakin tua membuat wanita itu perlu banyak istirahat dan tidak terlalu banyak pikiran. Resya merasa menyesal karena telah bercerita banyak tentang Vano. Padahal niat Resya hanya ingin menceritakan rasa kesalnya kepada sang nenek, tetapi kondisi sang nenek malah buruk.
“Resya di sini saja nemenin Oma.”
Reni tersenyum. Kalau kamu sama Oma, siapa yang nemenin Mamimu?”
“Mami bisa urus diri sendiri. Dia enggak pernah peduli denganku. Oma lebih penting.” Resya masih duduk. Ia meras tidak rela meninggalkan sang Oma hanya tinggal dengan beberapa pembantu yang menemaninya.
“Resya ...”
“Oma ... jangan bandel! Nanti Resya telepon Mami buat izin.” Resya memohon.
Wanita tua itu hanya mengangguk mengabulkan permintaan Resya. Ia juga ingin melepas rindu dan berdua dengan cucu perempuannya. Rasa rindunya kepada Rendra dan Stevi seolah terobati saat Resya bersamanya.