Levin duduk di sudut ruangan, matanya tampak lelah. Penampilannya terlihat kucel. Semalaman ia menjaga Resya, gadis tomboy itu tampak lelap tertidur.
Ia terlihat sangat manis saat tak bersuara. Rambut panjang dan kulit putihnya membuatnya terlihat cantik. Hidungnya yang mancung menjadi pelengkap kecantikannya.
Terdengar suara kasak-kusuk yang membuat Levin terpejam beberapa saat. Melihat Resya yang kesusahan mengambil gelas untuk minum.
“Nona, kalau butuh sesuatu panggil saja aku.” Levin mengisi gelas dengan air putih dan menyodorkannya pada gadis cantik di depannya.
Cemberut, Resya mengambil segelas air dari Levin. Menaruh gelas, Levin menangkap gelagat yang tak biasa dari Resya. Gadis itu terlihat gelisah dan menggaruk tengkuk lehernya.
Levin memicingkan matanya, Resya terlihat aneh. Tak biasanya gadis tomboy di depannya terlihat seperti itu.
“Om ... “ Resya memanggil pelan.
Levin tak percaya apa yang ia dengar barusan. Apakah wajahnya setua itu sampai Resya memanggilnya dengan sebutan ‘Om’.
“Nona memanggil saya?” Levin memastikan ia tak salah dengar.
“Iya ... “ Resya semakin menggoyangkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri.
Levin semakin merasa aneh, Resya terlihat seperti ulat bulu yang merambat di lantai.
“Nona baik- baik saja?”
“Om....!”
“Nona memanggil siapa?” tanya Levin polos.
“Aku panggil kamu Om Levin, udah nggak tahan, nih ... “ Resya masih menggeliat tak jelas.
“Apanya yang nggak tahan?” Levin masih tidak paham apa yang dimaksud Resya.
Resya terlihat bingung, berulang kali menggaruk leher dan menggigit bibir.
“Aku ... aku ... “
Levin menunggu perkataan Resya bingung.
“Om ... kebelet pipis ... .” Resya terlihat sangat manja.
Levin tidak percaya gadis yang tampak garang itu terlihat sangat manja dan imut kepadanya.
Tanpa berkata apa pun, Levin membopong tubuh Resya dan membawanya ke toilet. Resya hanya diam melihat wajah lugu yang terlihat begitu datar.
‘kalau dilihat dari dekat, tampan juga,’ gumam Resya sembari tersenyum simpul.
Levin membawa masuk Resya ke dalam toilet dan menurunkannya. Ia masih berdiri dan bergeming.
Resya bingung apa yang harus ia katakan pada Levin.
“Om, kenapa masih di sini?” tanya Resya.
“Nanti kalau kamu jatuh terpeleset gimana?” jawab Levin dengan polosnya.
Resya menepuk jidatnya, bagaimana bisa sang Mami memilih Pengawal sepolos dia. Apa harus Resya perjelas kalau ia mau buang air kecil dan Levin harus menunggunya di luar.
“Masa iya, Om, mau lihat aku pipis?”
Wajahnya memerah tak berkutik, Resya terlihat tak bisa menahan. Levin segera keluar dan menunggunya di balik pintu. Bisa-bisa jantungnya meloncat keluar jika masih berada di dalam.
Resya telah selesai buang air kecil dan membuka pintu. Tanpa diminta, levin langsung membopong tubuh Resya kembali ke brankarnya.
Wajahnya yang kalem dan pendiam membuat Resya tak berkutik.
Potongan rambutnya yang mirip Andy lau memang terkesan norak, tetapi mimik mukanya yang kalem dan cool membuatnya terlihat lebih menarik.
“Jangan pernah memandangiku seperti itu.”
Resya gelagapan dan salah tingkah. Rasa-rasanya ingin membuang mukanya jauh-jauh karena ketahuan memandang kagum wajah Levin.
“Jangan Ge er. Aku hanya memastikan kalau kamu itu cowok tulen!” Resya menutup mulutnya. Bagaimana bisa ia mencari alasan yang sangat tidak masuk akal.
“Maksudmu? Kamu ingin lihat ... “
Buru-buru Resya meminta Levin menurunkannya. Bagaimana mungkin ia bisa mengatakan hal bodoh yang membuatnya terjebak. Lelaki di hadapannya terlihat begitu misterius. Tak banyak ucap dan bercanda. Ucapannya selalu to the point.
Penampilannya yang lugu sangat berbanding terbalik dengan perkataannya.
***
Nasya mengemasi pakaian Resya ke dalam tas. Ia merasa lega karena kondisi Resya sudah mulak membaik.
Dokter memberi ijin Resya untuk pulang, dengan catatan satu minggu ke depan ia harus rutin periksa ke rumah sakit. Kondisi tulang tangan kanannya belum begitu pulih.
Gadis tomboy itu masih menggunakan penopang tangan yang membuatnya kesulitan beraktifitas.
"Kamu pulang bareng Levin, Mami ada urusan dengan Om Vano."
Levin hanya mengangguk mematuhi perintah Nasya. Melirik Resya yang sedikit cemberut.
"Mami pergi dulu." Mencium kening Resya dan meninggalkannya bersama Levin.
Wajah Resya masih muram tak jelas penyebabnya.
"Nona kenapa?" tanya Levin ragu. Ia tidak ingin menjadi sasaran kemarahan Resya.
"Apa perlu aku bopong ke depan?" tambah Levin.
"Nggak usah, aku bisa jalan sendiri." Resya beranjak dari tempatnya berjalan mendahului Levin.
Suasana hatinya tampak tak bersahabat, entah apa yang terjadi. Gadis itu bisa saja terlihat garang, pemarah, lembut dan cengeng. Paket komplit sang Papi begitu melekat pada dirinya.
Sepanjang perjalanan pulang ia hanya terdiam, sesekali mengusap air matanya yang tumpah. Levin sesekali menengok bosnya, penasaran apa yang terjadi pada Resya.
"Nggak usah ngintip-ngintip." Resya memergoki Levin yang tengah memandangnya. Wajahnya kini terlihat lebih garang dari sebelumnya.
'Apes banget hidupku' gumam Levin menatap Resya dari kaca depan mobil.
Gadis itu masih terlihat melo, air matanya tiba-tiba menetes membasahi pipi tirusnya.
Sekilas tatapan mereka bertemu kembali dalam satu titik. Levin mengalihkan pandangannya dan fokus melihat ke depan. Ia tidak ingin Resya semakin kesal kepadanya.
Mungkin Nona Bos sedang sedih memikirkan tangan kanannya yang retak. Itu tandanya ia akan lebih susah untuk melakukan sesuatu sendirian.
"Kita ke sasana latihan!"
Levin melirik sekilas."Kata Nyonya, saya harus membawa Nona pulang, bukan ke tempat lainnya."
Resya mencebik kesal."Aku bosmu, ya, bukan Mami."
"Nyonya Bos yang memperkerjakan saya."
Meskipun lugu, Levin tetap bisa mengambil sikap. Ia tidak ingin kehilangan pekerjaannya karena menuruti keinginan Resya.
'Sial, dia nggak selugu yang aku pikirkan,' kesal Resya dalam hati.
Ia tak kehilangan akal, terus berpikir agar Levin mau membawanya ke sasana. Ia rindu latihan, ia rindu bertemu dengan Zidan.
"Kamu mau membawaku ke mana?" Resya terkejut, Levin membawanya bukan menuju rumahnya.
"Nanti Nona Bos bakal tahu."
"Jangan macam-macam atau kamu kupecat," ancam Resya. Kini Levin tampak misterius baginya.
Lelaki itu tak nampak banyak bicara, tetapi ia langsung mengambil tindakan tanpa meminta persetujuan Resya.
Mobil berhenti tepat di depan sebuah rumah kecil dengan banyak tanaman bunga di depannya.
Levin membuka pintu dan memersilahkan Resya keluar. Gadis tomboy itu merasa asing dengan bangunan di depannya. Melihat seorang wanita duduk melamun di teras.
Wajah blesteran dengan rambut berwarna pirang membuat wanita itu masih terlihat cantik, tetapi sayang pandangannya kosong. Seperti memiliki trauma yang berat dalam hidupnya.
"Ini rumahku, maaf jika aku membawamu kemari." Levin mempersilahkan Resya memasuki halaman rumahnya.
"Dia siapa?" tanya Resya. Hatinya terasa iba melihat wanita itu.
Levin hanya terdiam, ia memberi kode pada Resya untuk mengikutinya.
Wanita itu kini begitu dekat. Levin mencium tangannya dan merapikan rambutnya.
"Ma, ini Levine pulang. Mama sudah makan?"
Hati Resya bergetar melihat wanita di hadapannya adalah Mama Levine.
Wanita itu menggeleng pelan, air matanya luruh tanpa sebab.
"Levin sekarang di sini, Mama nggak usah takut." Levin mendekap mamanya, membuat Resya begitu iba melihat mereka berdua.
Levin menuntun mamanya masuk ke dalam, ia terlihat begitu telaten merawatnya. Menyuapi mamanya pelan, tatapan wanita itu masih kosong. Tubuhnya bergerak bagai tanpa nahkoda.
Resya begitu miris melihatnya, ia masih beruntung memiliki Nasya yang begitu menyayanginya, tanpa berkurang satu apapun. Meskipun Maminya akan terdengar sangat cerewet saat ia berbuat ulah.