Keadaan Keluarga Levin ternyata tidak seperti yang Resya bayangkan. Melihat Mamanya yang mempunyai kelainan mental membuat Resya menjadi Iba. Pria pendiam tersebut mempunyai sejuta misteri yang ia sembunyikan. Sorot matanya menunjukkan betapa besarnya rasa sayangnya terhadap mamanya.
Resya semakin penasaran dengan Levine dan mamanya. Instingnya tergelitik untuk lebih jauh mencari tahu tentang mereka. Gadis itu melihat raut wajah Levine yang tampak serius. Resya memutar otaknya agar sang bodyguard bisa tersenyum atau sekadar mengeluarkan suara.
“Om, ambilin Minum.” Resya merengek sambil memegangi tangan kanannya yang diperban. Ia berpura-pura terlihat kesakitan agar pengawal barunya mau membantu.
Gadis cantik itu sengaja mengerjai Levin agar tidak betah dengan sikap Resya yang manja. Ia tidak suka dengan sikap Levine yang terlalu dingin kepadanya.
Levine berjalan mengambil sebotol s**u di dalam kulkas. Sementara Resya malah asyik menonton kartun favoritnya. Gadis itu malah tertawa seperti tidak merasakan sakit.
Levine mendekat dan menyodorkan sebotol s**u kepadanya. Resya mendongak dan melihat botol di depannya. Tangannya kesulitan meraih botol s**u yang diberikan Levine.
“Nggak bisa, Om.” Resya cemberut.
Tanpa berkata apapun, Levin duduk disamping Resya, menuangkan s**u ke dalam gelas dan membantu Resya minum. Wajahnya yang kalem membuatnya terlihat cool, hari ini ia memakai kemeja kotak-kotak berlengan pendek. Tatanan rambut seperti biasa, belah tengah mirip Andy Lau.
Resya melirik sekilas gerak-gerik Levine, pria itu hanya diam tak bersuara. Semuanya terasa membosankan bagi Resya. Gadis yang selalu heboh dan bertingkah manja merasa hidupnya sial karena kecelakaan yang dialaminya. Ia harus berhadapan dengan bodyguard sewaan maminya yang terlihat sangat datar. Lelaki itu tak banyak bicara dan hanya menunjukkan wajah dingin di hadapannya.
Semenjak pulang dari rumah sakit, Levine akan menjaga Resya dari pagi hingga malam. Makan siang pun Levine akan menemaninya. Semuanya harus dengan Levine, itulah perintah Nasya. Resya hanya bisa menurut dan tidak bisa protes.
“Om, sakit gigi?” Resya mencoba memancing tanggapan Levin. Resya penasaran kenapa bodyguard-nya tidak mengeluarkan suara sama sekali.
Levine tak menjawab, ia masih saja asik dengan koran yang ia baca. Mukanya tak berekspresi, datar sedatar landasan pesawat terbang. Pertanyaan Resya seperti angin lalu yang hilang begitu saja.
“Om ... “ Resya kembali merengek. Ia belum puas jika Levine belum bereaksi.
Levine merasa terusik, sifat manja Resya membuat konsentrasinya terpecah. Ia terbiasa hidup tenang tanpa gangguan, tetapi semenjak menjadi bodyguard Resya, hidupnya seperti terusik. Setiap hari ia harus mendengar rengekan Resya dan harus merelakan dipanggil ‘Om’. Padahal umurnya seusia Resya.
“Nona Bos, jangan panggil aku Om. Aku masih 23 tahun.” Ekspresi Levine begitu datar.
“Terserah, aku bosnya!”
Levine merasa percuma berbicara dengan Resya, gadis itu akan selalu semaunya, tak terbantahkan. Ia kembali membaca koran di depannya. Membaca headline news tentang pembunuhan sekaligus perampokan yang terjadi di rumah pejabat setempat.
‘mukanya datar amat, sih.’ Resya bergumam. Ia masih tidak terima jika Levine mengabaikannya. Gadis itu masih memandang Levine yang tampak serius saat membaca.
Levin masih saja cuek menghiraukan Resya yang sedari tadi mengamati gerak-geriknya. Ia tidak ingin kesenangannya terganggu karena Resya yang berisik.
“Om, aku bosan. Kita main ke rumahmu yuk.”
Resya masih sangat penasaran dengan mamanya Levine, wanita itu seperti membutuhkan teman untuk kesembuhan psikisnya. Selain itu Resya juga ingin tahu siapa Levine sebenarnya.
“Nona saya ajak ke rumah, bukan berarti saya mengijinkan Nona kembali ke sana.”
Lagi-lagi wajah Levine begitu datar, bahkan nada bicaranya terasa sangat dingin seperti air di kulkas.
“Kalau kamu nggak mau, antar aku ke sasana.” Kini Resya yang terlihat kesal, Levine mulai tampak menyebalkan.
Setelah pulang dari rumah sakit, Resya merasa jenuh karena harus berdiam di kamar tanpa kegiatan apapun. Levine hanya diam tak memberi jawaban. Ia kembali membuka korannya dan melihat berita yang sedang trending lainnya.
“Om ... “
Levine bergeming, tak peduli Resya merengek seperti apa. Ia tetap diam dan tidak akan membawa Resya keluar. Ia tidak ingin mendapat teguran dari Nasya jika membawa Resya keluar rumah.
“Om ...” Resya masih berusaha membujuk Levin. Ia tidak akan menyerah sebelum Levine menuruti perkataannya.
“Jangan panggil aku Om! Aku bukan Om-mu!” Kini Levine menutup korannya dan memandang Resya tajam. Ia merasa tidak nyaman dengan panggilan ‘Om’ yang Resya berikan. Kedengarannya seperti menjijikkan bagi Levine.
Resya beranjak turun dari tempat tidur dan mendekati Levin, duduk bersebelahan dan tidur di pangkuan Levin. Ia sengaja menggoda pemuda yang tampak datar tersebut. Sejauh mana ia akan bertahan. Gadis itu melihat wajah datar Levine dari bawah. Lumayan tampan untuk ukuran seorang lelaki. Hanya saja sikap dingin dan ketusnya membuat Resya kesal.
Levin masih saja bergeming, ia beralih mengambil ponselnya, ia tidak menyadari jika Resya mendekatinya. Gadis itu masih nyaman dengan posisinya sebelum sang pengawal menyadari perilakunya. Wajah datar itu menunjukkan Senyum yang terlihat manis dan menawan. Gadis cantik itu berpikir akan menggoda Levine lagi agar lelaki itu menyerah. Resya tak kehilangan akal untuk membuat Levine mau menuruti permintaannya.
“Om ... “ Resya memanggilnya dengan nada yang agak mendesah. Berharap Levine akan merespon dan mau mengabulkan permintaannya.
“Nona Bos ... !“ Levine merasa frustasi mendengar rengekan Resya yang berulang-ulang. Menutup ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku.
Ia baru menyadari ada Resya di pangkuannya, mata lentik itu mengisyaratkan permintaan. Levine semakin gugup dibuatnya. Tak pernah ada satu gadis pun yang dekat dengan Levine sejauh ini. Ia lebih suka menutup diri. Hanya Resya satu-satunya gadis yang selalu menggodanya.
“Om Levine kenapa?” Resya terlihat pura-pura bodoh, padahal ia tahu saat ini Levine sangat gugup karena ulahnya.
Berulang kali Levine mengusap mukanya merasa frustasi pada keadaan seperti ini.
“Om, antar aku ke sasana, apa aku cium?” Resya memonyongkan bibirnya hingga membuat Levine bergidik ngeri.
Levine beranjak dan menarik tubuh Resya menjauh, bisa-bisa ia masuk rumah sakit jiwa bila berdekatan dengan Resya terlalu lama. Gadis manja yang selalu over dan berusaha menggodanya.
***
“Sya-sya, kamu baik-baik saja,’kan?” Melihat tangan Resya berbalut perban membuat Zidan khawatir.
Akhirnya Levine menuruti keinginan Resya. Sang bodyguard membawanya ke sasana untuk bertemu dengan Zidan. Levine memberi waktu sebentar agar mereka bisa bicara. Mau tidak mau Resya harus setuju.
Resya tersenyum sangat manis memamerkan deretan gigi putihnya, ia senang bisa bertemu dengan Zidan. Ia menganggap Zidan sebagai sahabat dan mempunyai perasaan istimewa kepadanya. Pemuda Bertubuh kekar itu telah menarik perhatian Resya sejak kecil.
Terbiasa bersama membuat Resya kagum melihat sosok Zidan. Sahabatnya itu selalu melindungi Resya dari gangguan temannya.
Levine yang melihat Resya dan Zidan bertemu memilih meninggalkan mereka. Ia tidak mau ikut campur urusan mereka. Apalagi Resya terlihat sangat menyukai Zidan.
“Sya, aku punya kabar penting buat kamu.” Zidan mengajak Resya duduk di tepi. Suasana sasana yang tak begitu ramai membuat mereka lebih leluasa untuk bicara.
“Soal Papi?”
Zidan mengangguk, sudah sejak lama mereka mencari informasi. Resya merasa bahagia akhirnya mulai mendapat sebuah titik terang.
“Jangan sampai Tante Nasya tahu, aku nggak ingin dia terlalu banyak pikiran.”
“Mami? Dia sudah tidak peduli semua hal tentang Papi.” Resya tampak sedih.
Zidan mengacak rambut Resya, gadis itu terlihat cemberut dan jengkel. Ia sangat paham bagaimana perasaan Resya. Gadis itu selalu mengeluh saat melihat Vano mendekati maminya. Mereka terlihat akrab sehingga membuat Resya berpikir jika maminya juga menyukai Vano.
“Kamu cemburu?”
Resya membelalakkan mata.”Enggak, lah. Cemburu sama Om Vano?”
Zidan tertawa melihat ekspresi Resya, gadis itu terlihat sangat imut saat menampakkan wajahnya yang garang.
“Nona, sudah saatnya kita pulang.” Levine sudah menghampiri Resya dengan wajah yang datar.
Zidan mengamati penampilan Levin dari bawah sampai atas, seperti tidak asing dengan wajah Levine.
“Om, baru saja aku duduk. Masa iya harus pulang sekarang?” Resya jengkel dengan Levine yang tidak bisa di ajak kompromi. Ia masih ingin bertemu dengan Zidan lebih lama lagi.
“Ini sudah 20 menit, waktunya untuk Nona pulang dan istirahat.”
“Lima menit lagi, ya?” Resya menunjukkan wajahnya memelas.
Zidan yang melihat mereka seolah tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, wajah Levine seolah sangat familiar baginya, mukanya seperti tak asing dan mirip dengan seseorang yang sedang ia cari.
Tanpa seijin Resya, Levin langsung membopong Resya. Membawanya keluar sasana meskipun gadis tersebut meronta-ronta berteriak. Levine tidak peduli yang terpenting ia menjalankan kewajibannya.
Duduk di samping kemudi membuat Resya menekuk mukanya, bagaimana bisa ia kalah dari Levine si muka datar. Pembicaraannya dengan Zidan belum selesai, tetapi Levine malah membopongnya pergi.
“Maaf, saya harus melakukannya.” Memakai sabuk, pengaman Levine menghindari tatapan Resya.
“Om, tapi aku belum selesai.”
“Setidaknya aku sudah menepati janjiku untuk membawamu ke sasana.”
“Levine!” Akhirnya Resya memanggil Levine dengan sebutan namanya. Gadis itu semakin kesal. Ia tidak terima karena Levine menggagalkan misinya.
Tak memedulikan Resya yang kesal, Levine melajukan mobilnya keluar dari sasana, membawa Resya ke arah yang berbeda. Ia tidak membawa Resya ke arah jalan pulang, melainkan arah yang sama seperti kemarin, yaitu menuju rumah Levine bersama sang Mama.
Resya tersenyum simpul, ternyata Levin memang sangat sulit ditebak, kadang ia menunjukkan hal yang sangat bertolak belakang dengan apa yang dilakukannya. Lelaki misterius yang sangat menyebalkan.
Mereka tiba di halaman rumah Levine, tampak Mama Levin duduk termangu di teras. Keadaannya masih sama, pandangannya kosong. Wajah cantiknya terlihat layu, padahal Mama Levine belesteran indo Amerika.
Rambutnya yang pirang kali ini terlihat sedikit rapi, hanya saja ia masih menatap dengan tatapan kosong.
“Aku ikut turun,” pinta Resya.
Levine menyetujuinya, membuka pintu untuk Resya dan menggandengnya bertemu sang Mama.
Kali ini wajah sayu itu tampak tersenyum sedikit melihat kepulangan Levine. Wajahnya mengembang, melihat putra semata wayangnya pulang untuk menjenguknya.
“Ma, Levine pulang.” Levine Memegang erat tangan sang Mama.
Tampak wajahnya yang datar terlihat bahagia. Melihat senyum sang Mama membuatnya tersenyum bahagia. Resya ikut terharu melihatnya. Resya tidak percaya melihat senyum Levin untuk pertama kalinya, ternyata ia sungguh terlihat tampan bila tersenyum.
“Ma, kenalin ini Resya.” Levin mengenalkan Resya pada mamanya.
Sang Mama menoleh dan terkejut melihat Resya. Wajahnya menggambarkan ketidakpercayaan. Emosinya tergambar meledak pada raut wajahnya. Mata itu menyorotkan kebencian yang begitu dalam. Apakah masa lalunya begitu menyakitkan? Hingga membuat emosinya terlihat sangat meledak.
“Kamu?” Matanya membulat sempurna. Wajah yang tadinya kosong penuh kehampaan terlihat begitu beringas.
Tangannya mencekik leher Resya hingga membuatnya kesulitan bernapas. Mata itu terlihat semakin berapi-api memancarkan kebenciannya.
Levine panik melihat perubahan sang Mama saat bertemu Resya, ia tidak tahu apa yang terjadi pada sang Mama.Menurut dokter kemarin, perkembangan psikisnya sudah berangsur membaik, hanya saja jangan sampai mamanya mengingat kejadian-kejadian yang membuatnya merasa bersalah ataupun marah.
“Ma, lepas Ma.” Levine berusaha melepas tangan sang Mama, tetapi cekikan itu semakin kuta hingga membuat Resya kesulitan bernapas.
“Tan—te ..” Resya kesulitan bernapas.
Levine memanggil perawat yang ia bayar untuk merawat mamanya. Satu suntikan penenang ia berikan. Perlahan Mama Levin mulai tenang dan melepas tangannya. Ia tertidur akibat obat penenang yang diberikan perawat.
Resya bisa bernapas lega, kejadian yang berlangsung beberapa menit membuatnya bergidik ngeri bila mengingatnya. Lehernya masih terasa sakit, dan memerah akibat terkena kuku Mama Levine.
Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Mama Levine begitu histeris ketika melihat Resya?
Ada satu hal yang membuat Resya semakin bingung, ia baru saja mengenal Levin dan mamanya, tetapi Mamanya terlihat sangat marah kepada Resya.
Resya masih pusing memikirkan kedekatan Maminya dengan Vano, kini ia malah semakin heran dan penasaran dengan asal-usul keluarga Levine.