“Om, aku tadi nggak bermaksud membuat Tante histeris, aku juga nggak tahu kenapa tiba-tiba Tante semarah itu melihatku.” Resya merasa tak enak.
Levin hanya diam, wajahnya terlihat sangat datar, seperti ada beban berat yang ia pikul. Resya bingung melihat ekspresi Levine. Ia bingung harus berkata apa agar pria di sampingnya tersenyum.
“Om ... “
Levin tak menyahut, raut wajahnya sama sekali tak enak dipandang, Resya bingung apa yang harus ia lakukan. Awalnya ia sama sekali tak peduli dengan muka datar Levin, tetapi setelah melihat kondisi Mama Levin membuatnya prihatin dengan kondisi sang bodyguard.
“Om Levin ditanya diam melulu, saki gigi apa?” Resya mulai cemberut. Baru kali ini ada pemuda yang mengabaikannya, Zidan saja tak pernah mengabaikannya sedikit pun.
“Maaf, saya sedang tidak ingin berbicara apapun.”
Damn!
Perkataan Levin sangat menyentil hati Resya yang sensitiv. Raut mukanya berubah antara marah dan kesal, tetapi tetap saja Resya merasa iba melihat Levin.
“Saya tidak butuh belas kasihan Nona Bos.”
Ucapan yang singkat, tetapi langsung menohok hati. Resya merasa bersalah karena kehadirannya membuat mamanya Levine menjadi histeris.
“Antar aku ke rumah Oma!” Perintah Resya, tiba-tiba moodnya berubah. Ia ingin bertemu Reni. Ia ingin mengungkapkan seluruh kekesalannya kepada Reni. Ia butuh tempat bicara sekarang. Mamanya terlalu sibuk dan tidak ada waktu untuk mereka berbicara meskipun hanya sekadar sharing.
Semenjak kecelakaan, Resya belum pernah melihat Oma kesayangannya. Ia khawatir denga kondisi yang telah memasuki usia senja itu. Resyalah yang sering mengunjunginya dan menjadi teman bicaranya.
Tanpa menyahut, Levin langsung membelokkan mobilnya ke arah yang lain. Mereka saling diam, tak ada obrolan atau candaan di dalamnya. Levin sepertinya bukan tipe humoris yang mampu membangun suasana ceria. Membuat Resya semakin bosan sepanjang perjalanan ke rumah Reni.
‘Ngimpi apa aku ketemu cowok model begini?’ batin Resya.
Mobil Berhenti, Levine membantu Resya membuka sabuk pengamannya. Aroma parfum lelaki di depannya sangat menyengat, tetapi Resya suka dengan aromanya. Hati yang semula dongkol berubah nyaman dengan aroma yang tak biasa.
“Apa perlu saya gendong untuk masuk ke dalam?” tawar Levine dengan mukanya yang datar.
“Nggak usah.”
Resya membuka pintu mobil, meninggalkan Levin dengan wajah yang masih kesal. Terkadang lelaki itu terlihat dingin, tetapi seringkali melontarkan ucapan yang sangat tidak masuk akal.
Reni menyambut kedatangan cucu kesayangannya dengan gembira, sudah lama ia tidak bertemu dengan Resya yang selalu membuatnya terhibur dengan sikap manjanya. Kehadiran gadis itu seolah menjadi obat penawar rindunya pada Rendra. Melihat Resya, mengingatkannya pada putra kesayangannya yang telah meninggal. Mereka hampir memiliki kemiripan.
“Cucu Oma.” Reni memeluk Resya.
“Aww, sakit oma...” Resya meringis.
Reni segera melepas pelukannya, melihat wajah Resya membuatnya semakin gemas.
“Kamu sama siapa? Jangan bilang kamu ke sini sendirian?” tanya Reni khawatir. Menggandeng Gadis manja tersebut duduk.
“Sama Om Levin.” Wajah Resya memberengut kesal.
Reni tersenyum melihat wajah cucunya yang berubah, ia paham Resya merasa terkekang dengan kehadiran Levine sebagai bodyguard. Nasya sempat bercerita dengan Reni saat mengunjunginya. Wanita itu mengungkapkan alasan menyewa bodyguard untuk Resya dan Reni paham dengan apa yang dilakukan menantunya itu.
“Ih, Oma kok malah senyum.”
“Kenapa Levine nggak disuruh masuk?”
“Biarin aja nunggu di luar si muka datar.”
“Muka datar?” Reni tersenyum mendengar sebutan Resya kepada supirnya.
“Iya.” Resya langsung tidur di pangkuan Reni, melihat langit-langit ruangan yang tergambar dengan lukisan alam yang indah.
Sedari dulu Resya sangat menyukainya, memandanginya saat hatinya sedang galau. Saat Nasya memarahinya karena kenakalannya, Resya selalu pergi ke rumah Reni dan melihat lukisan di langit-langit rumah.
“Oma, Papi itu orangnya seperti apa sih?” tanya Resya sembari tidur di pangkuan Reni.
“Papi kamu itu ... seorang yang penyayang, meskipun dia adalah seorang sangat dingin, tetapi terkadang dia itu punya sisi yang sangat romantis.”
“Benarkah?” Resya terlihat berbinar mendengarnya.
“Iya ... “
“Beruntungnya Mami punya Papi.”
“Sebentar, apa cucu Oma sedang jatuh cinta?” Reni melihat perubahan pada raut wajah Resya.
“Ti—dak,” Resya bangkit dan menetralisir keadaan.
“Kenapa malu? Bukankah kamu sudah besar?”
“Aku ... “ Resya berusaha menyembunyikan kegugupannya. Ia tidak ingin Reni menyadari perasaannya kepada Zidan. Resya merasa malu karena Reni pasti akan menggoda Resya.
***
Resya masih membayangkan ekspresi Mama Levine saat melihatnya. Amarahnya begitu besar, Resya semakin penasaran apa yang sebenarnya terjadi pada Mama Levine saat masa lalu. Luka itu sepertinya dalam hingga membuat mamanya Levine depresi sampai sekarang. Resya mencoba menyimpulkan sendiri asumsinya. Sikap datar dan dingin Levine karena keadaan sang mama yang belum kunjung membaik.
“Ternyata hidup Levine sangat menyedihkan.” Resya bergumam. Ia merasa beruntung memiliki Nasya yang masih menyayanginya meskipun terkadang sang mami terdengar begitu cerewet.
Waktu menunjukkan pukul 22.00, Resya belum juga memejamkan matanya. Pendingin ruangan yang di setel 16 derajat celcius tak mampu membuatnya tidur dengan nyenyak.
Resya membuka ponselnya dan mencari akun media sosial milik Levine, tetapi percuma saja. Ia sama sekali tak menemukan hal apapun tentang Levine di f*******:, i********:, atau media sosial lainnya. Sepertinya lelaki misterius itu sama sekali tidak mengenal media sosial. Resya tidak bisa mencari informasi lebih banyak soal Levine. Padahal Resya sangat penasaran.
“Mami, Ya Mami.” Resya berinisiatif untuk menanyakan tentang Levine kepada Nasya.
Resya keluar dan menuju kamar Nasya, membukanya perlahan, ia masih melihat Nasya duduk di depan laptopnya, wajahnya terlihat serius. Sepertinya ia tengah mengerjakan pekerjaan Resya yang selama ini ia tinggalkan karena kecelakaan.
“Mami ... “ Resya duduk di samping Nasya.
Nasya masih fokus menatap layar laptopnya.
“Mami ... “
“Sya-Sya?” Nasya baru menyadari kehadiran putrinya.
Menutup laptopnya dan beralih menghadap putrinya yang tengah berwajah muram.
“Ada yang bisa Mami bantu?” Nasya memicingkan matanya.
Melihat raut wajah Resya, ia yakin pasti putri kesayangannya sedang memikirkan sesuatu.
“Mami kenal Om Levine dari mana?” Resya langsung to the point tanpa basa-basi, rasa penasarannya begitu tinggi.
“Om?” Nasya terkejut dengan panggilan Resya kepada Levin. Mengingatkan dirinya saat pertama kali bertemu dengan Rendra. Betapa konyolnya dirinya saat ini, berpikiran bahwa Rendra akan berbuat m***m kepadanya.
“Iya, Om Levine, Mami kenapa? Senyum-senyum sendiri.”
“Resya, Levin itu masih muda, masih seumuran kamu dan Zidan.”
Resya tersipu mendengar nama Zidan disebut. Trainer muai thai itu benar-benar telah menyita perhatiannya.
“Nggak penting lah, Mi.”
Nasya menggelengkan kepalanya, tingkah Resya masih kekanak-kanakan.“Kenapa tiba-tiba tanya Levin? Naksir?”
“Nggak, Mi. Aku hanya penasaran aja.” Resya masih menutupi apa yang sebenarnya terjadi. Ia tidak ingin Nasya memecat Levine karena kejadian tadi pagi.
“Mama kenal Levin dari Tante Zee, dia itu dulu tetangganya, tetapi sekarang udah pindah kontrakan karena Mamanya sering ngamuk dulunya. Kasihan Levine, dia itu anak yang baik.”
“Berati tetangga Zidan dong mi? Kok Zidan nggak kenal.” Resya merasa heran.
“Kenal? Memangnya mereka pernah bertemu?” Nasya curiga dengan perkataan Resya, ia merasa ada yang di sembunyikan darinya.
Resya menutup mulutnya, keceplosan bicara. Setelah ini pasti Nasya akan menginterogasinya.
“Resya, Mami butuh penjelasan.”
Resya tak bisa menyembunyikan apapun, raut wajah Nasya meminta penjelasan.
“Tadi pagi, aku minta Om Levine buat nganterin aku ke sasana ketemu Zidan, terus Om Levine ngajak mampir ke rumahnya buat nengokin Mamanya.” Resya takut Nasya akan marah bila mengetahuinya.
“Rumah Levin?”
“I—ya Mi,”
Resya waswas.”Mi, jangan pecat Om Levine, ya? Aku yang ngajakin dia keluar.”
Nasya tersenyum melihat Resya yang tengah takut dan menghawatirkan Levine. Padahal pertama kali bertemu Levin, dia sangat menolak dan tidak setuju.
“Ada yang perhatian kayaknya.” Nasya menggoda Resya, membuat pipi putrinya memerah.
“Mi, ada hubungan apa sama Om Vano?” kini giliran Resya yang bertanya. Nada bicaranya terdengar tidak suka. Ia melihat beberapa hari terakhir mereka sering keluar bersama.
Mata Nasya terlihat mengembun, berusaha mengusap bulir yang mulai jatuh membasahi pipinya.
Resya merasa bersalah, ia hanya menggaruk tengkuknya dan mendekati Nasya.
“Mi, are you okey, now?”
Nasya mengusap pipinya yang mulai basah. Tak ingin Resya melihat kesedihan yang ia rasakan. Putrinya tidak boleh tahu apa yang sedang ia pikirkan. Jangan sampai Resya terlarut dalam kesedihan.
“Mami nangis?”
“Nggak, mata Mami hanya lelah, terlalu lama di depan laptop.” Nasya beralasan.
“Mami ingat Papi?” Resya melihat ada kesedihan di mata Nasya.
Sejak kecil, Resya sangat paham bila Nasya bersedih saat bersinggungan dengan semua hal yang berhubungan dengan Rendra.
“Mi ... maafin, Sya-Sya. Aku nggak bermaksud ... “ Resya menyesal telah bertanya tentang Vano.
Harusnya ia tahu bagaimana perjuangan Nasya membesarkan dirinya sendirian. Ia tak tertarik sedikit pun untuk menjalin hubungan atau menikah dengan lelaki lain. Ia hanya fokus membesarkan Resya hingga seperti sekarang ini. Tumbuh menjadi gadis yang tangguh meski hidup tanpa kasih sayang seorang Rendra.
“Sya-sya, Mami nggak apa-apa, Cuma capek matanya.”
“Mi, jangan bohong. Aku itu tahu saat Mami ingat Papi.”
Nasya tersenyum melihat Resya, meskipun terkadang membuat Nasya pusing dengan tingkahnya. Resya tetaplah seorang wanita yang mempunyai hati yang lembut dan sensitif.
“Mami dan Om Vano hanya berencana bekerjasama, tidak lebih. Kamu nggak usah khawatir.” Nasya mencubit hidung Resya.
“Mami ... “ Resya cemberut, mendengar ucapan Nasya membuatnya sedikit lega. Hatinya masih tak rela jika hati Nasya terganti dengan yang lain.
“Gimana Levin? Tampan kan? Baik ‘kan anaknya?”
“Muka datar.” Resya mencebik.
“Datar? Kayaknya tadi ada yang mulai simpati, sekarang kok jadi sensi.” Nasya menggoda putrinya yang terlihat cemberut.
“Idih ... siapa yang simpati.”
“Lha tadi tanya soal Mamanya Levin.”
“Itu ... karena ... .” Resya ragu ingin menceritakan kejadian yang menimpanya.
“Kenapa?”
“Udah ah, Mi, Ngantuk. Aku tidur bareng Mami, Ya?” Resya terdengar sangat manja.
Nasya tersenyum melihatnya, rindu menghabiskan waktu bersama dengan putri tercintanya.
Jika saja Rendra menemani mereka, pasti lengkap sudah kebersamaan mereka. Menjadi keluarga yang lengkap sudah menjadi impian Nasya sejak kecil, dan sekarang Resya harus mengalaminya. Bedanya, Resya masih beruntung memiliki Nasya dan hidup berkecukupan sekarang. Sedangkan Nasya, sejak kecil ia hanya hidup bersama sang Nenek tanpa mengetahui siapa orang tuanya.
Semua harapannya sirna saat bertemu dengan sang Ibu, Tuhan lebih menyayanginya dari siapapun. Nasya harus kembali menelan rasa pahit. Menerima kenyataan bahwa ibunya telah tiada di saat ia telah menemukannya.