Resya masih penasaran dengan sosok Levin yang menjadi bodyguard-nya sekarang. Gadis itu berusaha mencari tahu siapa Levin sebenarnya, kenapa mamanya begitu membenci sosok Resya saat berkunjung. Padahal Resya sama sekali belum pernah bertemu Levin dan mamanya sebelum Nasya memperkerjakan Levin. Lelaki yang terlihat polos itu membuat Resya benar-benar penasaran dengan kehidupannya.
“Zidan, beneran kamu nggak kenal Levin?” Resya masih menarik tangan Zidan yang duduk di samping. Gadis itu berlaku sangat manja dengan sahabatnya itu. Sudah lama ia tertarik dengan Zidan, tetapi Resya tidak berani mengungkapkan perasaanya.
Zidan mengupas apel, memotong dan menguyahnya pelan. Ia masih tenang tidak menanggapi pertanyaan Resya. Baginya soal Levin adalah bukan hal penting untuk dibahas. Ia tidak begitu suka dengan kemunculan lelaki yang menurutnya sangat kaku dan aneh.
“Zidan ...! Aku serius, nih!” Resya kembali menarik tangan Zidan. Ia kesal karena Zidan mengabaikan pertanyaannya.
Hari ini Zidan berkunjung ke rumah Resya, Pagi tadi Resya menelpon ingin bertemu. Bukan tanpa alasan ia menyuruhnya datang, jika Resya bertemu Zidan Resya tidak bisa leluasa. Ada Levin yang selalu mematok waktu dan terlihat begitu protektif terhadapnya.
“Sya-Sya, aku enggak tahu. Orang datar kayak gitu, enggak asik.” Zidan menguyah potongan terakhir.
“Zidan ... coba diingat-ingat.” Resya masih memaksa.
“Resya ... kamu tahu, kan? Waktuku habis di sasana, aku jarang pulang.”
Resya kecewa mendengar ucapan Zidan, padahal ia berharap mendapatkan informasi yang lebih dari Zidan. Ternyata malah nihil, ia sama sekali tidak tahu tentang Levin dan keluarganya. Zidan tidak bisa memberikan informasi apa pun.
“Maaf, sudah saatnya Nona Bos ke rumah sakit.” Levin datang dengan muka datarnya.
Zidan melihat Levin tidak suka, ia mengamati wajah Levin mencoba mengingatnya. Sementara Resya mengamati keduanya, ia tersenyum melihatnya. Paham apa yang harus ia lakukan. Hatinya berbunga-bunga melihat ekspresi Zidan.
“Biar Resya aku yang antar.” Zidan beranjak dan mendekati Levin, matanya menatap tajam lelaki yang menurutnya datar dan lugu.
Levin masih tak menyahut, pandangannya masih tajam beradu.”Ini kewajiban saya sebagai supir sekaligus bodyguard-nya.”
“Tapi, aku temannya. Kamu enggak perlu khawatir.”
Resya semakin tahu apa yang harus ia lakukan. Melihat kedua lelaki di depannya tengah bersitegang membuatnya berpikir akan mendapat jalan keluar dari masalahnya. Keduanya menunjukkan rasa tidak suka. Zidan dan Levin sama-sama tidak mau mengalah.
“Maaf, saya tetap harus mendampingi Nona Bos.”
Zidan semakin sengit menatapnya. Ia merasa sangat susah untuk menekan Levin yang terlihat lugu. Lelaki itu mempunyai pendirian yang tegas dan tak terelakkan.
“Kalian semua ikut.” Suara Resya membuat persengitan di antara mereka berhenti. Keduanya menoleh ke arah Resya tidak percaya.
Gadis itu malah tersenyum tidak jelas, seperti sengaja membuat mereka bersama. Ada hal yang harus Resya pecahkan. Ia membutuhkan Zidan dan Levin bersama untuk memecahkan rasa pensarannya.
“Sya-Sya ....“ Zidan protes.
“Aku enggak mau kena marah Mami karena pergi tanpa Levin.”
Zidan tidak bisa apa-apa, akhirnya ia harus menuruti perkataan Resya. Menggandeng Resya keluar rumah membiarkan Levin mengikuti mereka dari belakang. Ia tidak mau berdekatan dengan Levin yang menurutnya sangat aneh.
Sesekali Resya menoleh, ekspresi Levin tidak berubah, masih saja datar. Zidan mengambil alih kemudi, sedangkan Levin duduk di jok bagian belakang. Ekspresinya masih saja datar, tidak ada kata perlawanan atau lainnya.
“Sya-sya, nanti mampir ke rumah, ya?” tanya Zidan di sela-sela mengemudi mobil.
“Maaf, Nona Bos tidak boleh pergi sembarangan.” Suara Levin terdengar dari belakang.
“Aku enggak tanya kamu!” Zidan melengos. Kehadiran Levin begitu mengganggu baginya. Kebersamaannya dengan Resya terganggu.
Resya tersenyum, melihat Zidan dan Levin yang kembali sengit. Ada ruang lega yang menyeruak dari dalam hatinya. Melihat Zidan yang kesal membuatnya sedikit senang. Apakah perasaannya berbalas? Apakah Zidan cemburu dengan kehadiran Levin bersamanya.
Wajah Zidan masih menahan kekesalan, raut mukanya tak berekspresi, sedangkan Levin, ia masih saja datar. Tidak ada yang berubah.
“Sya-sya , kita udah sampai.”
Mobil berhenti di parkiran rumah sakit. Zidan berniat membantu Resya keluar. Ia tersenyum, wajahnya sedikit menghangat. Baru saja hendak keluar, Levin sudah membukakan pintu untuk Resya dan memapahnya keluar mobil.
“Makasih.” Resya sengaja tidak menolak. Melihat ekspresi Zidan yang semakin kesal membuat Resya semakin senang.
Cukup sudah ia menahan perasaannya, sudah waktunya ia membuktikan sejauh mana perasaan Zidan kepadanya. Terbiasa bersama sejak kecil membuatnya menyimpan sedikit rasa, tetapi tanpa ia sadari bibirnya mengulum senyum saat melihat Levin tersenyum ke arahnya.
***
“Om, Levin. Aku bisa jalan sendiri, kamu enggak perlu memapahku.” Resya merasa tidak enak. Levin memperlakukan Resya berlebiham saat masuk ke ruang dokter sampai keluar.
Sejak keluar ruangan dokter. Levin masih memapahnya, ia terlihat sangat perhatian dan tidak memberi Zidan jeda untuk bersama Resya.
“Ini sudah menjadi tugas saya,” ucapnya datar.
Resya melirik Zidan, lelaki itu hanya menatap Levin kesal. Ia merasa terjepit di antara dua lelaki yang sangat bertolak belakang. Ia seperti terperangkap dengan rencana konyolnya sendiri, niat hati ingin memancing Zidan, Resya malah terjebak dengan Levin.
“Om, aku enggak apa-apa, tanganku sudah mendingan,” ucap Resya setengah berbisik. Ia tidak ingin Zidan mendengar percakapannya.
“Apa dia kekasihmu?” tanya Levin, pandangannya begitu tajam. Ia masih saja memapah Resya.
“Dia ... dia ... .” Resya bingung. Ingin mengakui bahwa menganggap Zidan lebih dari sekedar teman, tetapi ia malu bila Zidan mengetahui perasaannya yang sebenarnya.
“Sya, sebaiknya aku langsung ke sasana. Percuma juga aku di sini.” Perkataan Zidan mengagetkan Resya.
“Tapi, Dan ... aku mau ke rumahmu, ketemu Tante Zee.” Resya merengek, ia tidak ingin rencananya gagal karena kekesalan Zidan.
“Lain kali aja, hanya kita berdua, enggak ada si Om-om itu,” ucap Zidan ketus.
Zidan mulai menghilang, Resya tampak kecewa. Gagal sudah rencananya untuk bertemu orang tua Zidan. Tetapi, kenapa Resya begitu menggebu ingin bertemu Mamanya Zidan. Bukankah Levin bukan siapa-siapa? Kenapa Resya harus begitu penasaran.
“Nona mau ke rumah Tante Zee?” tanya Levin saat mereka memasuki area parkir rumah sakit.
“Enggak usah!” Resya tak bersemangat.
“Aku bisa mengantar Nona.”
Resya berhenti berjalan, wajah Levin terlihat sangat tulus. Lelaki itu terus berjalan meninggalkan Resya sendirian di belakang.
“Sungguh?” Resya berusaha mempercepat langkahnya, memastikan ia tidak salah dengar.
“Maaf kalau aku sudah mengganggu waktumu bersama Zidan.”
Resya tak percaya apa yang ia dengar, lelaki itu terdengar sangat melo.membukakan pintu mobil dan membiarkan Resya masuk ke dalamnya. Ia sama sekali tak memandang wajah gadis di depannya.
‘Om Levin kenapa? Apa aku salah ucap?’ batin Resya dalam hati.
Melihat keanehan Levin membuatnya tidak tenang, sepintas ia melupakan apa yang terjadi barusan. Bayangan Zidan mulai menghilang, ia hanya berpikir tentang Levin dan mamanya. Bertemu Mama Zidan dan ia akan tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Masalah Zidan, ia akan menemuinya lain waktu agar tidak terjadi salah paham di antara mereka.