Tante Stevi

1119 Kata
Setelah kepulangan Zidan. Resya langsung menemui Levin. Ia masih belum puas dengan jawaban Levin saat di dapur. Lelaki itu menyebutkan jika hanya mengobrol soal kematian neneknya Resya. Padahal jelas-jelas Resya mendengar pembantu itu menyebut nama Rendra. Hal itu semakin membuat Resya penasaran. Untuk alasan apa Levin mencari tahu tentang papinya. Padahal Levin sama sekali tidak mengenal sang papi dan Resya merasa keluarganya tidak pernah dekat dengan keluarga Levin dan saling mengenal. Kemungkinan yang Resya pikirkan adalah masa lalu. Dan semua kunci itu ada pada Nasya. Ya, Resya teringat dengan sang mami. “Om Levin mau ke mana? Urusan kita belum selesai.” Resya menghadang langkah Levin. Ia tahu jika bodyguard-nya itu terlihat menghindar. Levin berdiri dengan tenang dan menata sikapnya. Ia tidak ingin membuat Resya curiga dengan sikapnya. “Nona mau ikut ke depan?” “Ngapain?” tanya Resya aneh. “Buang sampah.” Levin menunjukkan bungkusan hitam di tangannya. “Kenapa enggak bilang dari tadi?” Resya menggerutu kesal. Ia membiarkan Levin lewat dan Resya membuntutinya dari belakang. Gadis tomboy itu sepertinya tidak akan membiarkan Levin begitu saja. Momen yang tepat membuat Resya semakin yakin apa yang ia inginkan akan segera terungkap. Ia akan tahu siapa Levin dan mamanya jika berhasil membuat Levin mengaku. “Sya—sya. Kamu masih di sini?” Seorang wanita cantik berkulit putih dan tinggi datang dengan gaya pakaian yang stylish. Resya melihat takjub perempuan yang lama sekali tidak pernah Resya lihat. Adik kandung papinya baru saja datang dari Singapura. Penampilannya sangat jauh berbeda saat terakhir kali Resya bertemu. Kulitnya terlihat mulus dan penampilannya lebih fashionable. Rambutnya berwarna cokelat dan wajahnya masih terlihat awet muda. “Tante Stevi?” Resya memastikan jika dirinya tidak salah lihat. “Iya. Mana Mamimu? Belum juga genap tiga hari Mama meninggal sudah menghilang tidak jelas! Tante mau meminta pertanggungjawabannya kenapa Mama bisa sampai meninggal? Niat enggak, sih, jagain Mama.” Stevi terlihat kesal. Ia masih menunjukkan rasa tidak sukanya. Resya terdiam. Ia melirik ke arah Levin yang semakin merasa aneh dengan sikap tantenya Resya. Bisa dibilang semua terasa begitu rumit. Namun, kedatangan tantenya Resya seperti angin segar bagi Levin untuk mencari lebih jauh persoalan mereka. “Ini sudah takdir, Tante. Enggak usah nyalahin Mami.” “Ish,,, kamu sama Mamimu sama aja!” Stevi melenggang masuk dan mengabaikan Resya. Wanita muda itu terlihat sama sekali tidak memasang wajah sedih. Kedatangannya seolah tidak membawa kesedihan tidak dapat bertemu dengan Reni saat pembaringan terakhir. Ia lebih mementingkan pekerjaan dan enggan jika harus bertemu dengan Nasya yang ia pastikan akan menjadi orang yang mengurus segala sesuatunya. “Dia tantemu?” Levin bertanya. “Menurutmu apa dia terlihat lebih pantas seperti ibu tiriku?” Resya menanggapinya kesal. Sikap Stevi memang tidak pernah berubah. “Galaknya minta ampun. Pantas saja menjadi perawan tua. Siapa yang mau mendekati wanita galak sepertinya. Om Vano aja enggan, apa lagi lainnya.” Resya masih menggerutu kesal. Ia masih tidak habis pikir sikap Stevi yang kasar. “Tantemu belum menikah?” Resya menggeleng. “Kamu tertarik, Om? Ambil saja. Mungkin dia sangat cocok denganmu.” Gadis tomboy itu langsung masuk meninggalkan Levin. Sepertinya Resya lebih memilih masuk ke dalam kamar. Moodnya tiba-tiba hancur saat Stevi menyalahkan Nasya tentang kematian neneknya. Setidaknya Resya juga merasa bersalah karena meninggalkan neneknya saat sedang sakit. “Keluarga yang aneh.” Levin menarik napas.Sepertinya ia sudah menemukan jalan untuk memulai semua cerita. Stevi adalah target yang sangat pas untuk memulai segala rasa penasaran Levin. *** Kepulangan Stevi membuat Resya memutuskan untuk pulang. Tidak ada lagi hal penting yang membuatnya tinggal lebih lama di rumah sang nenek. Stevi tidak terlihat menginginkan kehadirannya. Hubungan keduanya pun tidak begitu baik. Kebenciannya kepada Nasya membuat Stevi tidak begitu menyukai Resya. Meskipun terkadang Stevi masih menunjukkan sikap kepeduliannya terhadap Resya. Namun, itu semua tidak sebanding dengan rasa bencinya yang masih begitu besar. Melihat Levin yang mengobrol dengan Stevi membuat Resya mempunyai tanda tanya besar. Tidak biasanya Levin akrab dengan seseorang. Pemuda itu juga memasang wajah yang ramah dan tersenyum. Resya segera mengambil tasnya dan menghampiri Levin. Ia tidak ingin Levin terlalu lama berbicara dengan Stevi. “Om, kita pulang sekarang!” Resya berhenti di samping Levin. Stevi melihat keponakannya terlihat aneh. Wanita cantik kembali berbicara kepada Levin dan mengabaikan kehadiran Resya. “Om, Ayo pulang!” Kali ini Resya merengek menarik lengan Levin. Merasa tidak enak akhirnya Levin mengakhiri obrolannya dan berpamitan pulang. Sebelum pergi Levin dan Stevi terdengar membuat janji aka bertemu di lain waktu. Sedikit tidak sabar, Resya langsung menarik paksa Levin untuk pergi. Ia juga tidak peduli berpamitan dengan Stevi. Tiba-tiba saja Reaksi Resya terlihat begitu berlebih saat melihat Levin mengobrol dengan Stevi. Gadis itu masih menarik Levin dan membuka pintu mobil. Ia menyuruh Levin duduk dan Resya yang akan mengemudi. Levin berusaha protes, tetapi Resya menyuruh pemuda itu untuk tetap diam. Akhirnya Levin memilih mengalah dan membiarkan Resya membawa mobil dengan resiko akan mendapat teguran dari Nasya jika melihatnya. “Nona ... bawa mobilnya pelan-pelan.” Levin mengingatkan Resya saat gadis tomboy itu menambah terus kecepatan lajunya. Levin hanya khawatir jika terjadi sesuatu. Sudah lama Resya tidak membawa mobil setelah kecelakaan itu. “Kamu tenang saja. Aku tidak akan membuatmu mati konyol.” Resya masih santai melajukan mobilnya. Melaju di jalanan yang lengang membuat Resya menambah lagi kecepatannya. “Nona, berhenti di tepi. Biar aku yang membawa mobilnya.” Levin berusaha menggantikan. “Tidak usah! Jangan coba-coba menghentikanku!” “Nona ...” “jangan memanggilku.” Levin memilih menyerah. Pemuda itu terdiam memperhatikan jalanan. Ia juga tidak tahu kenapa tiba-tiba Resya berubah seperti itu. Padahal sebelumnya gadis tomboy itu masih terlihat wajar dan biasa saja sebelum kedatangan Stevi. “Ngapain kamu janjian sama Tante Stev. Apa wanita dewasa itu lebih menggodamu?” Levin berusaha menahan tawanya. Mendengar pertanyaan Resya membuatnya harus bisa menahan diri. Tidak biasanya gadis itu menanyakan urusan pribadinya. Ia berusaha tenang dan tidak terpancing. “Aku single dan Nona Stevi single, tidak ada salahnya kita bertemu. Lagi pula dia juga mengenal mama.” “Apa?! Jangan bilang kamu suka sama tipe wanita tua?!” Resya memelankan laju mobilnya perlahan. Jawaban Levin membuatnya terkejut. Levin yang terlihat dingin dan selalu serius tiba-tiba membahas soal status yang single. “Suka ataupun tidak sepertinya itu adalah hal yang privasi.” “Terserahlah, jangan salahkan aku jika setiap hari kamu harus pusing karena mendapat omelan dari Tante.” Resya memilih diam. Apa yang dikatakan Levin memang benar. Hal itu adalah privasi Levin dan Resya tidak berhak ikut campur. Levin hanya tersenyum. Setidaknya saat bertemu dengan Stevi dia akan mendapat jawaban dari semua pertanyaannya. Membuatnya sedikit tahu apa yang terjadi dengan mamanya dan masa lalu yang membuat Sila begitu membenci Nasya dan histeris saat melihat Resya. Dan semua itu Resya tidak akan mengetahuinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN