Setiap hari, Resya merasa harus mengawasi Levin. Bukan untuk mencari tahu tentang mamanya Levin seperti tujuan awal. Melainkan memperhatikan Levin yang setiap hari terkadang tersenyum sendiri. Hal itu sangat terasa aneh bagi Resya. Senyum seorang Levin sangatlah langka. Akan tetapi, tiba-tiba pemuda itu dengan mudahnya tersenyum beberapa hari. Perlahan gadis tomboy itu malah melupakan misinya.
Resya sudah kembali beraktivitas di kantor membantu Nasya. Beberapa pekerjaan mulai ia lakukan untuk menghilangkan rasa bersalahnya atas meninggalnya sang nenek. Kepulangan Stevi pun membuat Resya da Nasya tidak ikut campur dalam semua hal yang berhubungan dengan Reni. Nasya hanya menemui Stevi satu kali untuk menjelaskan kronologi meninggalnya Reni. Namun, bukan Stevi namanya jika tidak menyalahkan Nasya. Wanita itu memang tidak pernah menyukai Nasya sejak wanita itu masuk ke dalam keluaraganya sebagai kekasih Rendra. Terlebih Stevi selalu menyalahkan jika Nasya lah penyebab gagalnya hubungannya dengan Vano.
Enggan memperkeruh keadaan, Nasya memilih mengalah dan pergi. Sejak saat itu ia tidak pernah lagi mengunjungi kediaman almarhumah sang mertua. Nasya hanya menghindari omongan tidak enak keluar dari mulut Stevi yang mengatakan jika Nasya dan putrinya berharap harta kekayaan Reni. Padahal Nasya sudah merasa puas dengan apa yang sang suami tinggalkan untuknya. Semua sudah lebih dari cukup untuk membuat hidupnya dan Resya jauh lebih layak.
Resya juga sebenarnya sudah malas berurusan dengan dengan tantenya yang galak itu, tetapi rasa penasaran mengalahkannya harus mengikuti Levin saat bertemu Stevi saat jam istirahat kantor. Gadis tomboy itu memang sengaja memberi izin Levin untuk keluar saat jam makan siang. Akan tetapi, Resya mengikutinya dari belakang tanpa sepengetahuan Levin.
Gadis tomboy itu merasa semakin aneh saat melihat Levin dan Stevi terlihat begitu dekat. Mereka berbincang satu sama lain dengan nyaman. Stevi yang galak tidak terlihat sedikit pun. Levin yang terbiasa banyak diam juga terlihat lebih banyak bicara bersama Stevi.
Rasanya kepala Resya ingin meledak memikirkan semuanya. Memikirkan Stevi, mamanya Levin, belum lagi dengan Vano yang semenjak kepulangan Stevi seolah semakin memperkeruh keadaan. Lelaki itu seperti sengaja terus -menerus mendekati maminya dan membuat Stevi semakin tidak menyukai Nasya. Agak kesal sebenarnya, tetapi Resya mencoba sabar hingga menemukan waktu yang tepat untuk membuat Vano mundur.
Melihat Stevi yang telah pergi membuat Resya harus menutup wajahnya dengan buku menu di depannya. Ia tidak ingin keberadaannya diketahui oleh Stevi atau pun Levin. Ia tidak ingin Levin menganggapnya cemburu karena mengikutinya setiap hari. Resya juga harus menjaga gengsi sebagai gadis tomboy yang tidak sembarangan jatuh cinta. Karena bagi Resya Zidan tetap nomor satu. Baginya Zidan adalah lelaki yang macho, cool dan mencerminkan lelaki sesungguhnya.
“Nona Bos ngapain di sini?” Levin duduk di depan Resya dan sepertinya pemuda itu bisa langsung mengenalinya. Levin menarik buku menu milik Resya dan melihat gadis tomboy di depannya.
Levin merasa curiga karena tidak biasanya Resya makan di tempat tersebut. Setahu Levin, Resya paling tidak suka sea food. Gadis itu selalu menghindari tempat makan yang jaraknya tidak begitu jauh dari kantor. Namun, Levin malah melihatnya duduk sambil memegang buku menu.
“Aku hanya mencoba menu baru?” Resya berasalan. Ia mati gaya dan tidak tahu bagaimana lagi beralasan. Jangan sampai Levin tahu jika dirinya telah mengikuti Levin.
“Menu baru? Setahuku tidak ada menu baru di sini.”
“Ah, aku hanya penasaran.” Resya kembali beralasan.
“Penasaran?”
“Iya, aku penasaran dengan makanan di sini.”
“Bukankan Nona Resya tahu jika semua makanan di sini hanya menyediakan sea food dan Nona Resya alergi dengan makanan itu.” Levin mengingatkan kembali Resya. Apa yang dikatakan Resya terasa aneh jika gadis itu mengatakan penasaran dengan menu makanannya.
“Oh, itu, aku hanya penasaran dengan yang dibilang anak-anak kalau makanan di sini sangat enak.”
Levin tersenyum simpul dan masih terlihat santai. Wajahnya berubah tegang saat berhadapan dengan Resya. Sangat jauh berbeda saat berbincang dengan Stevi. Hal itu membuat Resya semakin kesal, tetapi ia hanya bisa menahannya dalam hati.
“Penasaran dengan makanannya apa dengan pertemuanku dengan Tante Stevi?”
Mata Resya membulat. Levin akhirnya tahu apa motif Resya berada di tempat makan tersebut. Gadis itu langsung tersenyum meringis.
“Tidak ada hal penting yang kami bicarakan. Tante Stevi hanya menanyakan kabar Mama. Rencananya sebelum kepulangannya ke Singapura Tante Stevi akan mengunjungi Mama.” Levin menjelaskan isi pembicaraannya.
Beberapa hari bertemu dan mengenal Stevi membuat Levin tahu jika mamanya pernah memiliki hubungan baik dengan kakaknya Stevi yang tidak lain adalah papinya Resya. Hal itu membuat Levin semakin tertarik. Apa lagi Stevi sangat tidak menyangka hubungan mamanya Levin dan sang kakak harus berakhir. Stevi tidak melanjutkan ceritanya lagi karena harus mengurus acara doa bersama tujuh hari meninggalnya sang mama. Wanita itu terburu-buru dan telah membuat janji dengan Levin kembali untuk bertemu dengan Sila sebelum pulang ke Singapura.
“Kalau penting aku pun tidak peduli. Aku sama sekali tidak cemburu.” Resya menggerutu kesal. Ia menoleh dan membuang pandangannya. Ia tidak ingin matanya bertatapan dengan lelaki yang dianggapnya sangat kuno tersebut.
“Cemburu? Aku tidak pernah menganggapmu cemburu. Kamu saja yang berlebih menanggapinya.”
“Om Levin!!!” Resya kesal karena Levin membalik perkataannya. Resya merasa kalah telak karena terpancing dengan keadaan.
“Nona Bos, dewasalah sedikit dalam menanggapi hal apa pun. Aku dan Tante Stevi tidak ada hubungan spesial apa pun. Jadi, kamu tidak perlu lagi mengikuti kami lagi dengan alasan apa pun. Dan pesanku, jika kamu menyukai seseorang lebih baik kamu katakan sebelum kamu menyesal melihatnya bersama orang lain.”
Bibir Resya membulat sempurna. Gadis itu semakin tidak mengerti ke mana arah pembicaraan Levin. Akan tetapi Resya merasa apa yang dikatakan Levin memang benar.
“Kamu masih mau di sini atau kembali sebelum Nyonya Nasya akan memarahimu karena keluar kantor dalam waktu yang lama?” Levin beranjak meninggalkan Resya. Pemuda itu berjalan keluar dengan santainya.
Resya mau tidak mau harus mengikutinya. Gadis itu berusaha mengejar pemuda yang berjalan cepat di depannya. Levin sama sekali tidak menunggu Resya yang berusaha mengejarnya meskipun memanggilnya berulang kali.
“Om Levin!!!” Resya masih kesusahan berjalan. Melewati trotoar yang menghubungkan jalan menuju kantor Resya membuatnya harus berhati-hati dengan kondisi jalan yang agak rusak.
Sementara Levin tiba-tiba saja berhenti dan langsung berbalik menarik tubuh Resya hingga membuat gadis itu terhimpit pada tiang pembatas. Bunyi peluru terdengar keras terpental. Semua yang mendengarnya teriak ketakutan. Resya terkejut dengan apa yang terjadi. Ia tidak mengira ada seseorang yang hampir saja menembaknya.
“Tenang! Semuanya tenang. Situasi aman.” Levin berteriak keras. Seorang bertopeng hitam yanng mengarahkan peluru ke arah Resya telah pergi bersama temannya.
Kepanikan masih terjadi dan mengundang keramaian. Levin berusaha mengatasinya agar tidak sampai mengundang perhatian pihak kepolisian. Karena hal itu akan bertambah semakin rumit jika pihak polisi ikut campur.
“Nona tidak apa-apa?” Levin menelisik seluruh tubuh Resya . Levin terlihat begitu khawatir dengan keadaan Resya. Ia kembali memeluk Resya dan berusaha menenangkannya. Ia tahu jika Resya pasti masih terkejut dengan kejadian yang berlangsung hanya beberapa detik tersebut.
Keberuntungan masih berpihak dan tidak ada korban yang terkena amukan peluru yang salah sasaran. Levin dengan sigap menyadari pengendara yang lewat dan mengarahkan peluru. Membuat Levin langsung berbalik arah dan menyelematkan Resya. Levin tahu jika target utamanya adalah Resya.
“Om ... apa aku masih hidup?” Suara Resya terdengar gemetar.
Levin hanya terdiam. Ia berusaha menenangkan Resya sebelum kembali ke kantor dan membuat Nasya curiga. Ia juga tidak yakin jika kejadian tersebut tidak akan tersebar. Jarak kantor yang begitu dekat dengan tempat kejadian pasti membuat berita tersebut cepat sekali menyebar. Pemuda itu hanya perlu menenangkan Resya dan membawanya kembali ke kantor dengan selamat seperti dengan tugasnya.