“Apa yang terjadi?” Nasya langsung memberondongi Levin dengan pertanyaan.
Melihat Resya yang masih terlihat syok membuat Nasya Khawatir. Berita tentang penembakan yang terjadi langsung menyebar dan membuat Nasya langsung bergegas menemui Resya berada di tempatnya. Ia hanya khawatir terjadi sesuatu pada putri semata wayangnya.
Meskipun Resya masih selamat tidak membuat Nasya tenang begitu saja. Hal itu adalah kedua kalinya Resya hampir celaka. Kecelakaan mobil yang Resya alami baru saja terjadi beberapa bulan yang lalu. Dan gadis itu hampir saja celaka karena ada yang berniat menembaknya.
“Resya enggak apa-apa, Mi. Ada Om Levin yang menyelamatkan Resya.”
“Ini masalah serius , Sya. Ada yang mengincarmu.” Nasya masih tidak tenang. Selama ini ia merasa tidak mempunyai musuh, tetapi kenapa Resya seolah dalam bahaya.
Satu-satunya orang yang membenci Resya adalah Sila, tetapi lama sekali Nasya tidak pernah bertemu dengan mantan kekasih suaminya itu. Selain itu ada lagi yang tidak begitu menyukainya. Wanita itu adalah Stevi. Adik kandung sang suami yang masih sangat membenci Nasya. Namun, Resya adalah keponakannya, apa mungkin Stevi tega melakukannya. Hal itu kembali terpikir dalam pikiran Nasya.
Wanita mulai berpikir tentang keberadaan Sila yang lama sekali tidak pernah ia temui. Semenjak menikah, keberadaan wanita itu menghilang begitu saja. Apa lagi saat Nasya mendapat kiriman foto yang berakhir membuat hubungannya dengan sang suami merenggang hingga akhirnya mereka berpisah untuk selamanya. Nasya harus menerima kenyataan suaminya telah meninggal sebelum hubungan mereka membaik. Itulah hal yang paling Nasya sesali sehingga membuat dirinya menyesal sampai sekarang dan berjanji tidak akan mencari pendamping untuk menggantikan posisi sang suami. Resya pun menjadi alasan utamanya karena sang anak tidak menyukai kehadiran lelaki mana pun yang mendekati Nasya.
“Mami, tenanglah. Mungkin mereka sedang latihan menembak dan salah sasaran.”
“Resya! Ini bukan bahan bercanda! Ini masalah serius. Kamu sedang dalam bahaya!”
Resya terdiam melihat Nasya terlihat marah. Maminya terlihat begitu mengerikan saat mengeluarkan amarahnya. Resya hanya bisa diam dan menuruti perkataannya.
“Levin, kita perlu bicara.” Natalie duduk di kursi yang berada di sudut ruangan Resya. Wanita itu terlihat sangat serius menanggapi hal yang telah terjadi.
Ia harus mengambil tindakan dan tidak boleh gegabah. Nasya berencana akan mencari keberadaan Sila dan meminta Levin untuk mengawasi gerak-geriknya. Kalau perlu Nasya akan menambah pengawalan agar keamanan Resya lebih terjamin.
“Ma, Resya bukan anak kecil lagi.” Resya protes dengan keputusan mamanya. Ruang geraknya akan semakin sulit jika Nasya menambah pengawalan.
“Sya! Menurutlah, ini semua demi kebaikanmu!” Nasya tidak peduli dengan sikap protes Resya. Keselamatan Resya adalah hal yang penting.
Mau tidak mau Resya harus menurut dan memilih diam. Nasya mulai kembali berbicara dan menunjukkan foto lama Sila yang masih ia simpan. Melihat foto itu membuat Levin sangat terkejut. Mamanya sedang foto bersama lelaki lain yang tidak lain adalah Rendra. Papinya Resya. Teka-teki pertanyaan Levin mulai terjawab perlahan. Ia sangat yakin jika lelaki yang da di dalam foto itu adalah yang membuat hubungan kedua orang tuanya hancur.
Mulai timbul kebencian kepada Nasya saat mengingat keadaan mamanya yang tidak stabil. Levin masih berusaha menahan diri dan bersikap seolah tidak mengenal Sila dan tidak terjadi apa-apa. Levin Menyetujui permintaan Nasya dan langsung mengambil foto yang diberikan Nasya. Ia tidak ingin Resya curiga dan membongkar semua jika wanita yang ada di dalam foto adalah mamanya Levin.
“Foto siapa, Mi?” Resya penasaran. Ia melihat sikap Levin yang terburu-buru mengambil foto yang diberikan Nasya.
Pemuda itu berusaha terlihat tenang dan menjawab, “Sebaiknya Nona tidak perlu tahu. Nona fokus saja dengan keselamatanmu.”
“Mi, pokoknya aku enggak mau kalau ada tambahan Om Levin yang lain untuk menjagaku.”
“Sya-sya! Jangan keras kepala. Levin Harus mengerjakan pekerjaan lainnya. Dan Mama juga harus memastikan keadaan kamu aman.”
“Tapi aku enggak mau kalau bukan Zidan!” Resya mengajukan pilihan. Ia memilih Zidan sebagai lelaki yang akan mengawasinya.
“Zidan? Kenapa harus Zidan?”
“Karena enggak ada yang aku bisa percaya selain Zidan. Jangan pernah berpikir untuk menyuruh Om Vano mengawasiku.” Resya masih bersikukuh. Ia tidak ingin hidupnya semakin dikekang jika ada orang baru yang lebih kaku dari Levin. Terlebih jika lelaki itu adalah Vano. Pria yang menurut Resya penuh dengan kepalsuan.
Nasya melihat ke arah Levin. Wanita itu hanya bisa menggeleng mendengar perkataan Resya. Ia begitu membenci Vano. Padahal lelaki itu sudah membantunya dalam mengembangkan bisnisnya. Namun, Resya masih saja tidak menyukainya.
Nasya meminta pendapat Levin tentang permintaan Resya. Biar bagaimanapun Levin lah yang bertanggung jawab penuh atas keselamatan putrinya. Setidaknya pemuda itu tahu mana yang terbaik dan aman bagi putrinya.
“Tidak masalah, Nyonya, toh Zidan juga pandai bela diri.” Levin menanggapinya datar.
Kebenciannya mulai timbul karena ia mulai tahu apa yang terjadi. Semakin menguatkan apa yang pernah Stevi katakan kepadanya. Dugaan Levin semakin kuat jika sampai sekarang Nasya masih menyimpan rasa tidak sukanya kepada Sila. Pikiran buruk Levin langsung mengatakan jika bisa saja Nasya menyuruh Resya berpura-pura tidak mengenal Sila dan sengaja mengawasi sang mama. Hal itu berarti keselamatan sang mama lebih terancam. Namun, insiden penembakan Resya mematahkan opininya tentang semua itu.
Ada pihak ketiga yang memang sengaja ingin mencelakai Resya. Bukan mamanya ataupun Stevi yang baru dikenalnya beberapa hari yang lalu. Levin bisa yakin karena memang mamanya tidak tahu jika Resya adalah anak mantan kekasihnya.
“Om, kenapa melamun?”
“Aku hanya memikirkan keselamatan Nona saja.”
Resya terlihat berpikir. Ia kembali membuka ponselnya dan langsung menelepon Zidan. Ia sangat yakin jika sahabatnya itu bisa sangat membantu. Senyumnya terlihat terbit saat teleponnya tersambung dengan Zidan. Resya merengek manja saat meminta bantuan sahabatnya itu. Gadis itu sama sekali tidak menunjukkan ketakutan jika dirinya berada di dalam bahaya. Ia terlihat santai mengobrol dan tidak peduli ada Levin yang masih menunggunya.
“Anak muda zaman sekarang.” Nasya geleng-geleng kepala. Ia memutuskan keluar ruangan dan meminta Levin kembali menemuinya jika Resya telah selesai menelepon Zidan ia hanya ingin memastikan jika sahabat anaknya bersedia menjaga Resya saat Levin mengintai Stevi dan Sila.
“Om Levin ngapain masih di sini?” Resya menutup teleponnya dengan tangannya. Ia tidak ingin Zidan mendengar jika ada Levin di dekatnya. Misinya untuk mendekati Zidan akan gagal.
“Mengawasimu.”
“Kamu bisa menemui Mami dan mengatakan jika Zidan setuju dengan permintaanku!” Resya tersenyum. Ia merasa ada hikmahnya saat dirinya terancam. Setidaknya ia akan terbebas sejenak dari Levin yang menurut Resya semakin hari semakin mengesalkan. Tidak ada lagi Om Levin yang dengan penampilan kunonya. Hanya ada Zidan sang penjaga hati yang akan menemaninya beberapa hari ke depan.