Merasa Bosan

1165 Kata
Resya masih duduk di dalam ruangannya. Ia masih fokus dengan pekerjaannya. Menganalisa target pasar untuk bagian promosi dari usaha milik keluarganya. Sehari tidak bersama Levin membuat Resya merasa ada yang berbeda. Kursi yang biasa pemuda itu tempati kosong tidak berpenghuni. Biasanya, Resya akan melihat pemandangan Levin yang sedang membaca koran dengan wajah yang serius. Kalau tidak seperti itu, pemuda itu akan menjaga di depan ruangannya dan menjadi godaan beberapa karyawan baru atau karyawan magang. Resya pasti akan kesal melihatnya dan menyuruh Levin masuk ke dalam ruangan. Levin sejak pagi telah keluar dan Zidan yang menggantikan perannya. Sahabatnya itu malah tertidur karena kelelahan. Dengkurannya membuat Resya tidak bisa fokus. Entah Resya merasa risih atau tidak biasa. Padahal Resya yang berharap Zidan bisa bersamanya. Namun, ia sendiri yang merasa tidak senang dengan kehadirannya. Pikiran Resya kembali tertuju pada Levin. Muncul pikiran konyolnya untuk menyamar dan menemui mamanya Levin. Gadis itu masih belum menemukan alasan kenapa mamanya Levin begitu membencinya. Gadis itu mulai berpikir akan mengajak Zidan saat Levin pergi dan tentunya tanpa sepengetahuan Nasya. Ia tidak mau semakin penasaran meskipun nyawanya sendiri dalam bahaya. Kejadian tempo hari soal penembakannya tidak membuat Resya jera. Gadis itu merasa tidak jera dan takut jika ada bahaya yang mengintai. Ia yakin Zidan pasti bisa melindunginya dengan baik. [Om ...!] Resya tersenyum saat mengirim pesan kepada Levin. Ia menutup dokumen pemberian Nasya dan mengirim pesan kepada Levin. Menunggu lama balasan Levin membuat Resya hanya bisa kesal. Ia kembali mengirim pesan berulang kali dengan isi yang sama. Resya sengaja melakukannya agar ponsel Levin terus berbunyi sampai Levin membalas pesannya. “Om Levin ngapain, sih? Mentang-mentang di luar, dia lupa jagain aku.” Resya menggerutu kesal. Padahal sudah ada Zidan yang menjaganya sesuai keinginannya, tetapi Resya masih saja protes. Pesan dari Levin belum juga masuk. Gadis itu mulai gelisah dan berpikir terjadi sesuatu pada Levin. Apa lagi Resya juga tidak tahu kemana Levin pergi. [Ada apa?] Akhirnya Levin membalas pesan Resya. Gadis itu tersenyum dan langsung membalas pesan Levin. [Om Levin di mana?] Levin langsung membalas pesan Resya dengan mengirim sebuah foto yang membuat Resya tercengang melihatnya. Terlihat foto Levin, Stevi, dan mamanya Levin tengah makan siang bersama. Mereka terlihat begitu akrab dan Resya merasa mamanya Levin dan sang tante begitu dekat. Resya memilih menutup ponselnya karena kesal. Ia tidak mau lagi melihat foto kebersamaan mereka. Entah apa yang terjadi, yang jelas Resya tidak suka melihatnya. Gadis itu beranjak dan membangunkan Zidan. Resya merasa suntuk dan ingin keluar kantor. Tentunya tanpa sepengetahuan Nasya. Jika maminya tahu Resya akan mendapat teguran. “Dan! Bangun!” Resya menggoyang tubuh pemuda di depannya. “Zidan!!! Bangun!!!” Resya masih berusaha memangunkan sahabatnya itu. Zidan masih terlihat tidak bereaksi. Resya berjongkok dan melihat wajah Zidan yang tertidur pulas. Ketampanan yang terlihat begitu maskulin hingga membuat Resya tergila-gila sejak dulu. Sayangnya Resya tidak pernah berani mengungkapkan perasaannya. Ia merasa malu jika harus mengatakannya lebih dulu sebagai seorang perempuan. “Kamu itu tampan, tetapi kenapa hari ini aku tidak suka melihatmu. Bahkan dari pagi kamu terlihat tidak peduli. Kamu hanya duduk dan sibuk dengan urusanmu sendiri.” Resya berujar pelan. Sikap Zidan sangat jauh berbeda seperti biasanya. Lelaki itu seolah menjaga jarak dengan Resya tidak seperti biasanya. Tiba-tiba Zidan menggeliat dan membuat Resya mundur beberapa langkah agar Zidan tidak curiga. Resya bisa mati kutu jika kepergok mengamati wajah Zidan. Pemuda itu membuka matanya dan melihat Resya sudah berada di depannya . Ia langsung duduk, merapikan rambut dan pakaiannya. “Sya, aku tertidur?” Zidan mengusap matanya beberapa kali. Rasanya ia masih mengantuk dan butuh waktu beristirahat setelah semalam ia harus begadang di sasana. “Kamu pikir kamu sedang bernyanyi?” Zidan tertawa, sikap Resya memang selalu tidak berubah. Gadis tomboy yang sering berkata ketus kepada siapapun. “Kamu semalam ke mana sampai ngantuk kayak gitu?” Resya bertanya. Zidan menguap beberapa kali dan mengambil air mineral yang berada di dalam tasnya. Lelaki itu meneguknya perlahan. Resya mengamati gerak-gerik Zidan setiap detilnya. Gadis itu kembali terpesona meskipun Zidan baru bangun tidur. Gadis itu mulai lupa dengan sikap kesalnya semula. Ia hanya tersenyum dan menjerit di dalam hati. Minum aja Zidan terasa maskulin, apa lagi jika Zidan yang menjadi pahlawan yang menyelamatkannya, bukan Levin. Resya pasti akn bersorak girang karenanya. “Sya, ada yang salah?” Zidan merasa aneh. Ia kembali menutup botol dan menyimpannya. Pemuda itu kembali terlihat lebih segar dari sebelumnya. “Ah, aku cuma ... ah, tidak, kita keluar, yuk.” Resya mengalihkan pembiacaraan. Janga sampai Zidan curiga dengan sikapnya. “Keluar? Ke mana?” “Ke sasana? Udah lama banget enggak latihan.” “Tanganmu, kan, masih sakit, jangan bandel!” Zidan menarik hidung Resya. Kebiasaannya saat Resya mulai berulah. Mereka terlihat seperti Kakak Adik saat sang Adik mulai merajuk dan si Kakak mencoba mengingatkan Adiknya. “Ayolah, Dan. Mami enggak bakal tahu. Lagian, Mami juga masih sibuk dengan urusannya sama Om Vano. Si Om pengawal itu juga enggak ada di sini. Kita ke sasan ya?” Zidan tampak berpikir. Ia juga tidak mau gegabah dalam mengambil keputusan jika sampai berakibat fatal nantinya. Nasya telah memberi kepercayaan kepadanya dan Resya sudah Zidan anggap seperti adik sendiri. Ia juga tidak mau hal buruk terjadi dengan Resya nantinya. “Zidan, tanganku memang masih lemah, tetapi aku hanya ingin melihat anak-anak latihan, tidak lebih.” “Kalau Tante marah gimana? Aku enggak mau, ya, nanti Tante malah lapor Mama. Bisa di stop uang bulananku kalau sampai Mama tahu aku ngedukung kamu berbuat ulah.” “Abangku tersayang ... kamu enggak kasihan lihat adikmu tersayang ini terkurung enggak jelas kayak gini? Mending kalau aku ini seorang princes, lha ini dunia nyata, buka dongeng Abang ... aku sangat bosen dengan semua aktivitas ini.” Resya menunjukkan wajah berharap agar membuat Zidan iba kepadanya. Setidaknya saat ini Resya bisa keluar dan melupakan kekesalannya beberapa saat lalu akibat foto yang dikirimkan Levin. “Sya, bukannya aku tidak mau, tetapi ...” Zidan tampak ragu. Ia tahu Resya memang berharap banyak kepadanya, tetapi Zidan hanya merasa tidak enak jika Resya tahu yang sebenarnya. “Enggak ada tapi-tapian, ayo berangkat sekarang!” Resya mengambil tasnya dan langsung menarik tangan Zidan keluar. Gadis itu membiarkan mejanya berantakan dan pergi begitu saja. Sementara Zidan tidak bisa menolak dan bahkan melarang Resya untuk berbuat apa yang gadis itu inginkan. Ia hanya bisa menuruti keinginan Resya untuk pergi ke sasana. Jika masalah terjadi, Zidan memikirkannya nanti. Resya termasuk gadis keras kepala yang begitu manja kepada siapapun. Terlebih Zidan adalah sahabat yang sudah dekat dengan Resya sejak dulu. Hubungan kedua keluarga pun sangat baik. Sehingga tidak jarang mereka terlihat begitu akrab layaknya saudara. Namun Resya menganggapnya berbeda, Zidan adalah cinta pertama Resya yang tidak pernah ia berani ungkapkan. Sikap lembut dan perhatian Zidan membuat perasaan gadis itu berbunga-bunga saat di dekatnya. Hobi berolah raga tinju dan otomotif membuat Resya mengikutinya untuk bisa dekat dengan Zidan. Resya berusaha menjadi gadis yang Zidan inginkan sesuai dengan hobi pemuda tersebut. Hingga akhirnya Resya tumbuh menjadi gadis yang tomboy hanya untuk terlihat menarik di depan Zidan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN