Resya merasa puas akhirnya bisa keluar dari ruangan yang menurutnya sangat menyiksa. Gadis tomboy tersebut akhirnya menghabiskan separuh harinya di sasana bersama Zidan dan beberapa anak sasana lainnya. Gadis itu kembali melakukan latihan ringan untuk melatih kekuatan tangannya yang lama sekali tidak pernah ia latih semenjak kecelakaan. Beberapa teman Resya terlihat sangat senang karena gadis itu tomboy itu kembali dan membuat suasana sasana kembali ramai. Resya adalah satu-satunya anggota perempuan yang aktif dan selalu membuat kegaduhan jika berada di sana.
Setelah latihan selesai mereka mengajak Resya untuk melihat balapan mobil malam nanti d sirkuit yang baru saja dibuka. Zidan terlihat ragu untuk mengajak serta Resya, tetapi gadis itu memaksa karena merasa bosan. Berulang kali Zidan menolaknya dan akan mengantar Resya pulang. Pemuda itu merasa sirkuit tersebut tidak begitu aman karena tempatnya yang terbuka dan akan banyak orang di sana. Zidan tidak akan mungkin bisa mengawasinya karena menjadi salah satu team di sana.
“Ayolah, aku tidak akan berulah.”
“Sya, ini tempat ramai.”
“Apa masalahnya jika tempatnya ramai? Aku kagen melihat arena balapan.” Resya menarik-narik lengan Zidan.Gadis itu bahkan tidak memikirkan keselamatannya yang terancam.
“Sya ...” Zidan berbalik dan menatap gadis di depannya. Gadis tomboy yang terlihat sangat berharap Zidan sekali lagi mengabulkan permintaannya. “Kamu tahu? Kalau sampai terjadi apa-apa denganmu, aku akan sangat merasa bersalah.” Zidan mengusap pucu kepala Resya. Pemuda itu tidak ingin terjadi sesuatu pada Resya.
“Semua pasti baik-baik saja.” Resya tersenyum melepas tangan Zidan. Gadis itu langsung menariknya keliuar sasana menuju tempat Zidan memarkirkan mobilnya.
Gadis yang sangat keras kepala dan tidak ingin mendengar pendapat orang lain. Apa yang ia inginkan harus bisa ia penuhi dan orang terdekatnya harus memenuhi permintaannya. Tidak ada kata tidak untuk penolakannya. Hanya Levin satu-satunya yang bisa membuat Resya tidak berkutik saat gadis itu merengek.
“Ya...”
Zidan masih berpikir. Ia memperhitungkan resiko yang akan terjadi jika Resya ikut dengannya. Sebelumnya, Zidan melihat sikap Resya yang begitu antusias. Pemuda itu tidak tega jika pada akhirnya Resya malah kabur dan mencari kesempatan sama seperti yang pernah ia lakukan sebelum-sebelumnya. Nasya akan marah-marah saat mengetahui putri semata wayangnya kabur hanya untuk mengikuti balapan.
“Baiklah, tapi dengan sayarat kamu harus telepon Tante dulu. Aku akan mengajakmu pergi.”
“Itu hal yang mudah.”
“Baiklah, telepon sekarang.” Zidan hanya memastikan jika Resya tidak akan bohong. Pemuda itu meminta Resya menelepon Nasya di hadapannya.
“Dasar bawel, ah!” Resya menggerutu. Gadis itu mengeluarkan ponselnya dan langsung menelepon Nasya.
Resya beralasan akan pergi ke rumah Zidan bertemu dengan mamanya Zidan agar Nasya mengizinkannya. Seperti dugaan Resya, Nasya mengizinkan Resya untuk pergi dengan catatan sebelum jam sembilan malam, Resya sudah harus sampai di rumah. Melihat tingkah Resya Zidan hanya bisa geleng-geleng. Gadis tomboy itu selalu ada seribu alasan untuk membuat maminya mengizinkannya pergi. Termasuk berbohong agar mendapat izin pergi ke sirkuit.
“Aku nginep di rumah Tante Zee aja, ya, Mi. Lama banget aku enggak ketemu Tante.” Resya kembali bernegosiasi.
Zidan semakin melotot melihat Resya. Namun, gadis itu tidak peduli. Ia terus saja berbicara pada Nasya agar dizinkan menginap. Resya dapat tersenyum lebar setelah Nasya mengabulkan permintaan Resya. Gadis itu merasa sangat senang karena maminya sama sekali tidak curiga.
“Dasar kamu!” Zidan menarik hidung Resya. Ada-ada saja tingkah gadis di depannya hanya untuk mendapatkan izin.
“Kita berangkat sekarang.” Resya langsung masuk ke dalam mobil tanpa menunggu lama.
Gadis itu tidak ingin terlambat dan melewatkan sedikitpun acara balap yang telah lama dinantikannya. Terlebih Zidan menjadi salah satu team unggulan yang dijagokan pada balapan tersebut. Resya seolah menjadi barisan terdepan yang akan bersorak mendukungnya. Meskipun Zidan hanya tampil di belakang layar balap, Resya tetap akan mendukungnya.
Tidak ada hal yang membuatnya paling bahagia selain bisa bersama Zidan. Rasanya hidup Resya terasa bebas tanpa pengawasan dari Levin. Pemuda yang menurut Resya terlampau serius menjalani kehidupannya. Bahkan Levin terlihat lebih dewasa dari umur sebenarnya. Itulah yang selalu membuat Resya memanggil Levin dengan sebutan Om.
__..__
Levin duduk di teras rumahnya sembari mengamati ponsel di layarnya. Ia melihat pergerakan Resya yang pergi ke arah lain rumahnya. Levin mengawasinya terus dan memastikan ke mana Resya pergi. Tanpa sepengetahuan Resya, Levin telah memindai ponsel Resya agar pemuda itu lebih mudah mengawasi Resya di mana gadis itu berada. Meskipun berada di tempat yang berbeda Levin terus saja memantau Resya. Setelah pertemuannya dengan Stevi dan mamanya, Levin mempunyai sedikit waktu luang untuk mengecek keberadaan Resya.
Tugas yang diberikan Nasya kepadanya terasa mudah. Levin hanya perlu mengundang Stevi bertemu dengan mamanya dan semuanya selesai. Sila tidak menunjukkan keanehan. Wanita itu terlihat normal dan berbicara santai. Bahkan ia mengingat begitu jelas tentang masa lalunya bersama Rendra yang baru saja Levin ketahui. Hingga saat membicarakan Nasya, Sila berubah begitu marah dan sangat benci. Levin bisa menangkap jelas dari raut wajah Sila yang berubah drastis.
Dari pertemuan mereka Levin bisa menangkap jika keduanya tidak menyukai Nasya karena urusan masa lalunya yang belum selesai, tetapi Levin juga bisa menyimpulkan jika mereka tidak ada kaitannya sama sekali dengan insiden yang hampir saja mencelakai Resya. Levin bisa memastikan jika mamanya tidak melakukannya karena setiap pergerakannya selalu Levin awasi. Sedangkan Stevi, wanita dewasa itu hanya membenci Nasya, bukan Resya. Bahkan wanita itu berniat kembali lagi ke Singapura besok pagi. Levin hanya bisa menduga ada pihak luar yang memang tidak menyukai Resya dan keluarganya. Termasuk kematian Reni masih menjadi misteri bagi Levin. Hanya saja hal itu tidak Levin ungkapkan agar tidak membuat heboh ataupun panik.
Pemuda itu kembali mengamati ponselnya saat Levin melihat Resya berada di sirkuit balap. Tiba-tiba saja Levin menjadi panik. Pemuda itu beberapa kali memastikan tempat Resya berada dengan melihat lokasi sekitar di maps.
“Mau apa Nona Bos ke sana?” Levin memutar lagi posisi maps di ponselnya. “Bukankah dia bersama Zidan? Harusnya aman. Aku tidak perlu khawatir.” Levin menepis rasa khawatirnya.
“Vin, nanti malam kamu tidur di rumah?” Sila datang dengan bantuan perawatnya. Wanita itu tampak lebih cerah setelah bertemu dengan Stevi. Seperti ada hal yang membuat wanita itu bisa tersenyum kembali.
“Sepertinya, Ma, tetapi Levin masih harus bekerja lagi.”
“Di mana kamu bekerja? Kenapa bisa sampai mengenal Stevi?”
Levin langsung bingung bagaimana harus menjawab. Tidak mungkin ia menjawab jujur jika bekerja dengan Nasya. Sila pasti akan marah dan melarang Levin bekerja. Padahal pemuda itu sangat butuh biaya untuk mamanya.
“Aku bekerja dengan Nona Sya-sya dan kebetulan tempat tinggal Tante Stevi dekat dengan Nona Sya-sya.”
“Sya-sya? Bagaimana kabarnya? Kapan kamu ajak dia ke sini lagi?”
“Nona ... itu ... dia sedang sibuk.”
“Dia itu sangat berbeda dengan anak wanita ganjen itu! Sya-sya jauh lebih baik dari gadis yang pernah kamu bawa temui Mama sebelumnya. Anak wanita ganjen itu sama seperti mamanya.” Sila terlihat negitu kesal. Hanya saja wait itu masih tidak menyebutkan Nasya telah merebut Rendra darinya.
“Resya maksud Mama?”
“Jangan sebut namanya! Dia tidak jauh berbeda dengan mamanya! Kamu jangan sampai berhubungan dengan mereka. Stevi saja tidak menyukai mereka.”
Levin masih merasa aneh, ia merasa jika Stevi tidak membuka rahasia tentang pekerjaannya. Levin merasa aman.
“Mama kenapa sampai membenci mereka?”
“Mereka yang udah buat Papamu ninggalin kita, mereka yang udah buat hidup kita seperti ini. Terutama Nasya. Wanita itu yang menyebabkan ....” Sila terdiam. Ia tidak mungkin menyebutkan nama lelaki lain di depan anaknya. Hal itu sama saja menjebak dirinya terlihat buruk di depan Levin. “Sudahlah, Mama mau istirahat. Mbak, bawa aku ke dalam.”
Levin kembali bingung, mamanya masih terlihat menyembunyikan sesuatu dan tidak mau jujur kepadanya. Hal inilah yang membuat Levin masih bingung dengan semuanya. Nasya begitu baik terhadapnya. Rasanya begitu mustahil jika Nasya adalah orang jahat. Namun, Sila adalah mamanya. Mungkin bertemu dengan papanya, Levin akan mendapat kejelasan siapa mamanya di masa lalu.