Bermalam

1178 Kata
Resya sudah siap masuk ke dalam rumah Levin lengkap dengan penyamarannya. Memakai rambut palsu berwarna hitam lurus, memakai kacamata serta menempelkan t**i lalat palsu di bagian pipi. Resya tampak berbeda dan tidak seperti Resya yang sebelumnya tomboy. Penampilannya pun berubah menjadi lebih feminim dan terlihat begitu manis. Levin bahkan terpukau melihat penampilan Resya yang sangat berbeda. Pemuda itu tidak berkedip sama sekali dan terlihat tersenyum melihat Resya. Gadis itu merasa aneh dengan pandangan Levin yang membuatnya. Zidan saja tidak pernah menatapnya seperti itu. Sahabatnya itu terlalu cuek dan Resya malah menyukai sikapnya yang seperti itu. “Om!” Resya berteriak untuk mengurangi rasa malunya. Levin langsung tersadar jika dirinya begitu terpukau dengan penampilan Resya yang tidak biasa. Ia menggaruk kepalanya untuk mengalihkan pandangan Resya yang malah membalasnya tajam. Jatuh harga dirinya di depan Resya jika gadis itu tahu kalau Levin sebenarnya kagum melihat penampilan Resya. “Ah, Nona udah siap?” Levin berjalan mengambil barang Resya di bagasi mobil. Sebuah koper besar yang berisi perlengkapan Resya selama dua hari menginap di rumah Levin. “Udah. Mamanya Om Levin mana? Kenapa aku jadi takut, ya, Om.” Resya menarik lengan Levin dan memegangnya erat. Kenangan buruk saat pertama bertemu masih sangat membekas. Hal itu malah membuat Levin tidak karuan. Ia merasa Resya malah membuat kondisi hati Levin makin tidak karuan karena sikapnya yang manja. Levin masih bingung untuk melangkah masuk atau tetap berdiri dan berusaha menghilangkan rasa gugupnya terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam rumah. “Biasanya jam segini Mama sedang beristirahat setelah makan malam. Mungkin kita baru bisa bertemu Mama besok pagi. Setelah minum obat, Mama akan tidur nyenyak hingga pagi hari.” Levin menjelaskan runtinitas sang mama. Lelaki itu melepas tangan Resya dan langsung berjalan masuk membawa koper Resya. Setidaknya ia bisa terhindar dari pikiran konyolnya saat Resya berada di dekatnya. Gadis itu mengikuti Levin masuk ke dalam rumah. Ia berjalan pelan dan mengamati keadaan rumah Levin. Beberapa foto lawas Levin dan sang mama terpampang rapi di dinding ruang tamu. Resya merasa aneh karena sama sekali tidak melihat foto Levin bersama papanya. Semua foto Levin dari kecil hingga dewasa hanya bersama mamanya. Suasana ruangan yang agak remang membuat Resya merasa merinding. Apa lagi mengingat kejadian saat mamanya Levin berusaha mencekik lehernya. Resya hanya bisa bergidik ngeri dan berharap mamanya Levin tidak mengenalnya. Levin masuk ke dalam sebuah kamar yang terletak di samping ruang tengah. Di sana ada dua kamar, kamar sebelah kanan adalah kamar milik mamanya Levin, terlihat jelas ada hiasan bungan di depan pintu yang menandakan jika pemiliknya adalah seorang wanita. Sedangkan kamar sebelah yang sangat terlihat jelas jika penghuninya adalah laki-laki. Resya sangat yakin jika kamar itu adalah kamar Levin. Terlihat jelas dari ornamen basket yang terpasang di depan pintu kamar. Resya langsung ikut masuk dan melihat Levin menata baju miliknya ke dalam lemari kecil yang berada di sudut kamar. Melihat kamar Levin yang sempit dan agak pengap membuat gadis itu langsung berjalan membuka jendela kamar. Ia agak kesulitan membukanya karena pengaitnya begitu keras. Menandakan jika sang pemilik kamar jarang sekali membuka jendela. “Tidak usah dibuka!” Levin langsung menghentikan aksi Resya yang ingin membuka jendela. Pemuda itu berdiri di dekat Resya dan menahan tangan gadis tomboy tersebut. Resya merasa aneh, udara di dalam kamar begitu pengap meskipun di malam hari. Udara terasa panas dan Resya tidak terbiasa. Meskipun kamarnya juga tidak terlalu luas. Resya selalu bisa tidur pulas dan nyaman karena pendingin ruangan yang terpasang. Sedangkan di kamar Levin sekarang, Resya pasti akan kesulitan tidur karena merasa gerah dan luas tempat tidur berukuran single membuatnya akan susah bergerak saat tidur. “Om, ini kamar kamu?” tanya Resya. “Iya, kamu bisa tidur lebih dulu kalau kamu capek.” Levin mengangguk memberi isyarat agar Resya segera berbaring di tempat tidur. Resya merasa udara semakin panas dan berniat membuka rambut palsunya. Ia merasa saat tidur tidak perlu menjaga penampilan yang membuatnya terlihat konyol dan lugu sekali. Memakai kaca mata tebal dan t**i lalat di pipi. Melihat penampilan dirinya di cermin membuat Resya terlihat malu, berbeda jauh dengan penampilannya dahulu. Ia juga merasa heran kenapa bisa menyamar hanya untuk bisa masuk ke dalam rumah Levin. Resya hanya bisa menggeleng memikirkan tingkah anehnya sendiri. Padahal seharusnya ia tidak perlu mempersulit dirinya sendiri dan tidak perlu ikut campur dengan urusan Levin. Ia justru malah bisa terbebas dari Levin saat bodyguardnya meminta izin pulang. Selain itu, Resya juga akan tidur di kamarnya yang lebih nyaman jika saja berhasil menghentikan sikap penasarannya. “Jangan dilepas!” Levin menahan rambut palsu Resya yang hendak dibuka. Gadis itu langsung terkejut saat tahu Levin berada di belakangnya. “Aku mau tidur. Aku merasa enggak nyaman pake ini.” “Pakailah, kamu bisa saja lupa memakainya dan Mama bisa kapan saja melihatmu.” Resya tampak berpikir. Ia sungguh malas jika harus tetap menjaga penampilan terbarunya saat tidur. “Terserah kamu. Mau tetap di sini atau pulang. Aku siap mengantarmu sampai rumah.” Levin akan merasa beruntung jika Resya memang ingin kembali ke rumah. Ia tidak akan perlu berbohong kepada mamanya. “Eh, jangan, aku masih mau di sini.” Resya langsung berbalik dan berbaring di tempat tidur. “Kalau aku tidur di sini, Om mau tidur di mana? Jangan bilang kita tidur satu kamar.” Levin malah tertawa mendengar Resya berbicara. Pemuda itu berbalik mengambil selimut dari dalam lemari dan menutup tubuh Resya dengan selimut di tangannya. Resya malah merasa gugup melihat Levin yang begitu perhatian. Pemuda itu duduk di tepi ranjang masih melihatnya. “Om, kenapa melihatku kayak gitu? Om Levin enggak mau ngapa-ngapain, kan?” “Kamu pikir aku mau apa?” Levin benar-benar merasa pertanyaan Resya begitu konyol terdengar. “Siapa tahu kamu mau memanfaatkan keadaan. Jangan harap, ya!” Resya melotot dan berusaha beranjak dari tempatnya. Ia merasa tidak nyaman jika Levin duduk di dekatnya dengan posisi Resya berbaring. “Tidurlah, setelah kamu tidur aku akan tidur di luar.” Levin menghentikan Resya yang hendak bangun. Lelaki itu mengambil sebuah buku di laci dekat tempat tidur dan mengipasi Resya. Ia hanya terdiam dan terus saja menggerakkan tangannya. “Tangannya enggak capek?” Levin menggeleng, ia terus saja menggerakkan tangannya. Lama kelamaan semakin cepat dan membuat Resya tersenyum. Ia merasa tidak terlalu gerah dan perlahan membuat matanya semakin berat untuk dibuka. Levin tahu jika Resya tidak terbiasa tidur di kamar tidak ber-Ac. Makanya pemuda itu berinisiatif mengambil buku untuk dijadikan sebagai pengganti kipas. Meskipun kekuatannya tidak akan maksimal, setidaknya bisa membuat Resya sedikit nyaman. “Om, kalau aku udah tidur jangan coba-coba buat menciumku atau lainnya. Aku bisa menendang Om jika sampai hal itu terjadi.” Setelah itu Resya langsung tertidur pulas. Ia memeluk guling kecil di sebelahnya dan terdengar mendengkur. Menandakan jika dirinya begitu lelah seharian bekerja. Levin tersenyum dan menghentikan gerak tangannya. Ia menaruh bukunya dan masih melihat wajah Resya versi berbeda yang tertidur pulas di depannya. Gadis tomboy berwujud feminim yang selalu marah-marah tidak jelas kepadanya dan gadis yang keras kepala. Semua yang dia inginkan harus terpenuhi. “Aku tidak tahu apa maumu. Aku harap kamu tidak mempunyai niat buruk setelah melihat keadaan mama yang sebenarnya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN