Bertemu Lagi

1068 Kata
Bangun tidur Resya tidak menemukan Levin di dekatnya. Pandangannya beredar mencari sosok Levin yang semalam telah membuat Resya tidur nyenyak. Resya menata rambut dan mencari kacamatanya. Gadis itu langsung beranjak keluar. Ia terus saja berjalan mencari keberadaan Levin. Pemuda itu berbaring di sofa dan masih terlelap. Resya hanya tersenyum melihat Levin yang masih tidur. Wajahnya terlihat teduh dan tersenyum. Semua itu pasti karena Levin bisa dekat dengan mamanya. Bisa menjaga mamanya dan tidak khawatir lagi. Pandangan Resya beralih pada seorang perempuan yang tengah duduk di teras samping rumah dan menatap kosong ke arah taman. Wanita itu bisa terlihat jelas dari tempat Resya berdiri. Melihat Levin masih tertidur membuat Resya berinisiatif untuk menemui mamanya Levin. Ia yakin dengan penampilannya yang berubah tidak akan membuat mamanya Levin mengenalinya. Resya hanya ingin mengenal lebih jauh wanita yang terlihat banyak tekanan itu. Ada rasa penasaran yang memang membuatnya ingin tahu apa yang telah terjadi dan membuat mamanya Levin seperti itu. “Pagi, Tante.” Resya menyapa agak ragu. Ia tidak melihat perawat yang biasa menjaga mamanya Levin. Ia takut jika mamanya Levin tiba-tiba mengamuk dan kembali mencekik lehernya saat itu. Mamanya Levin masih diam tidak menanggapi sapaan Resya. Wanita itu tetap melihat lurus ke depan. Tidak peduli dengan kehadiran Resya yang menyapanya. Resya memberanikan diri berjalan pelan dan jongkok di depan mamanya Levin. Ia memegang tangan wanita di depannya yang terasa sangat dingin. Wanita itu langsung berekspresi melihat kehadiran Resya di depannya. Ia melihat tajam seorang gadis yang tidak ia kenal. Ia mengamati wajah Resya dan berusaha mengingat di mana ia pernah bertemu. Mamanya Levin merasa wajah Resya sangat melekat di pikirannya. Hanya saja ia tidak bisa mengingat dengan jelas di mana ia bertemu dengan Resya. “Tante mengenaliku?” Resya sengaja memancing wanita di depannya. Ia tahu jika mamanya Levin telah merespon kehadirannya. Mamanya Levin menggeleng. Ia masih tidak mengeluarkan suara. Wajahnya yang terlihat sayu terlihat tidak mempunyai semangat hidup. “Aku temannya Levin, Tante. Aku menginap di sini sampai besok. Boleh?” Resya mengajak bicara pelan. Berharap wanita itu akan mengeluarkan suaranya. “Te—man?” “Iya, teman.” Resya mengangguk. Mamanya Levin kembali diam. Wanita itu seperti ingin mengeluarkan suara, tetapi diurungkan. Resy merasa penasaran dan mencoba memancingnya lagi. “Apa boleh, Tante? Aku menginap di sini semalam lagi?” “Kamu siapa? Kamu bukan Res—ya, kan?” Mamanya Levin kembali melihat lurus ke depan. Ucapan terakhirnya menyebut nama Resya membuat gadis di depannya merasa terkejut. Ternyata mamanya Levin mengingat namanya dan terlihat tidak begitu suka. Resya berpikir keras untuk mencari nama lain agar mamanya Levin tidak curiga. “Aku Sya-sya, Tante.” Gadis itu memakai nama panggilan dari Nasya. Setidaknya mamanya Levin tidak tahu nama sebenarnya. “Nama yang bagus.” Mamanya Levin tersenyum. Ia terlihat merasa lega. Bukan Resya namanya jika gadis itu tidak semakin penasaran. Hanya berdua dengan mamanya Levin adalah kesempatan bagus untuk mencari tahu kenapa mamanya Levin begitu histeris saat melihatnya waktu itu. “Kenapa dengan Resya, Tante? Apa Tante tidak suka?” Resya begitu berhati-hati. Takut jika wanita itu akan bereaksi lebih karena pertanyaannya. Mamanya Levin tampak berpikir. Ia melihat Resya tajam dan berpikir. Resya yang melihatnya sedikit takut karena tiba-tiba wajahnya mamanya Levin berubah tidak suka. “Sepertinya aku salah ucap.” Resya merutuki kebodohannya yang terlalu tergesa-gesa. Mamanya Levin masih saja melihat Resya tajam. Wanita itu tiba-tiba saja tersenyum dan malah mengusap kepala Resya. Ia mengusapnya dan melihat Resya dengan ekpsresi yang cepat sekali berubah. “Aku tidak suka dengan gadis itu, tetapi aku sangat menyukaimu.” “Eh, aku ...” Resya malah bingung. Ia malah terjebak dengan pertanyaannya sendiri. Ia hanya bingung apa yang dimaksud mamanya Levin dengan arti kata “suka” dan “tidak suka”. Jangan sampai mamanya Levin mengira jika Resya memiliki hubungan khusus dengan anaknya itu. “Mama!” Levin muncul dengan perawat penjaga. Ia tampak begitu khawatir karena tidak mendapati mamanya di kamar. “Mama kenapa ada di sini?” Levin berjongkok dan menggenggam tangan sang mama. Ia melihat Resya curiga yang hanya berdua dengan mamanya. “Mbak, bawa Mama ke dalam dan siapkan semua perlengkapannya untuk ke rumah sakit.” Perawat penjaga langsung mendorong kursi roda dan membawa mamanya Levin masuk ke dalam. “Tante ...” Resya merasa pembicaraannya belum selesai. Ia menoleh ke arah Levin dan sedikit kesal karena bodyguard-nya itu mengganggu. Padahal sedikit lagi Resya pasti akan tahu kenapa mamanya Levin begitu tidak suka dengannya. “Nona Bos kenapa ada di sini?” tanya Levin curiga. Ia tidak tahu apa maksud dan tujuan Resya, tetapi ia sangat yakin Resya mempunyai alasan tertentu kenapa gadis itu mengikutinya. “Aku hanya ingin berkenalan.” “Berkenalan? Bukannya kamu sudah mengenal Mama saat itu?” Levin merasa jawaban Resya sangat tidak masuk akal. Pemuda itu juga merasa lega karena mamanya tidak mengenali Resya dengan tampilan yang berbeda. Pagi ini adalah jadwal kedua dalam satu bulan mamanya Levin terapi ke rumah sakit. Biasanya setelah terapi mamanya akan menunjukkan peningkatan. Wanita itu mulai bisa diajak berbicara dan tidak terlalu banyak diam. Levin sengaja meluangkan waktunya untuk menemani sang mama dan bertemu dengan dokter secara langsung untuk mengetahui perkembangan mamanya. Setidaknya setelah itu ia merasa lega meninggalkan mamanya untuk bekerja untuk Nasya kembali. “Om, boleh tahu? Kenapa Tante enggak menyukaiku?” Resya kembali bertanya kepada Levin. Pemuda di depannya menggeleng. Ia sendiri juga tidak tahu persis kenapa mamanya tidak suka dengan Resya padahal mereka tidak pernah bertemu sebelumnya. “Sebaiknya jangan menemui Mama sendirian. Aku tidak tahu jika sewaktu-waktu Mama bisa mengamuk tanpa kendali lagi.” “Dia baik-baik saja, Om. Bahkan kita sempat mengobrol sebentar. Tante bilang kalau dia menyukaiku.” Dengan percaya diri Resya langsung mengatakan apa yang dikatakan mamanya Levin. Levin terkejut. Sebelumnya mamanya tidak pernah berbicara banyak dengan orang asing yang tidak ia kenal. Namun, bersama Resya yang menyamar wanita itu terlihat biasa. “Sudahlah, mungkin Mama salah ucap. Aku akan mengantar mama ke rumah sakit. Kamu tinggal di rumah jangan pergi ke mana-mana.” “Enggak mau! Aku ikut!” “Nona ....” “Om ... kalau terjadi sesuatu denganku bagiamana? Apa Om mau tanggung jawaban? Aku ini limited edition, loh.” Resya menunjukkan ekspresi tercantiknya. Berharap Levin mau mengajaknya bersama. Setidaknya dia bisa melakukan pendekatan pada mamanya Levin. Levin tampak berpikir. Setidaknya apa yang dikatakan Resya benar. Ia harus tetap menjaga kemanan Resya karena gadis itu menjadi tanggung jawabnya. “Baiklah.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN