Ketakutan

1179 Kata
Akhirnya Levin menyetujui permintaan Resya untuk ikut mengantar mamanya ke rumah sakit. Gadis merasa bisa leluasa ikut karena mamanya Levin tidak mengenalinya dan malah suka dengan Resya. Gadis itu sengaja duduk di jok bagian belakang bersama mamanya Levin. Sebelumnya ia telah meminta izin Levin dan pemuda itu mengizinkannya. Sepanjang perjalanan Resya berusha mengajak bicara mamanya Levin dengan pertanyaan-pertanyaan singkat untuk memancing reaksi mamanya Levin. Wanita itu merespon dan sesekali tersenyum dengan candaan yang dilempar Resya. Levin sekilas mengintip dari kaca spion di depan apa yang terjadi di belakang. Mamanya bisa tersenyum saat bersama Resya. Padahal ia sempat khawatir jika mamanya bereaksi lebih, ternyata ia salah. Sang mama bisa menerima kehadiran Resya dengan versi yang berbeda. Dan bahkan mamanya Levin begitu menyukainya. Setelah sampai di rumah sakit. Levin segera membawa mamanya Levin untuk mengkonfirmasi pendaftaran via telepon. Ia meminta Resya dan penjaga mamanya menunggu terlebih dahulu di ruang tunggu. Resya duduk di samping mamanya Levin yang melihat sekeliling ruangan yang bercat putih tersebut. Wanita itu kembali menatap kosong seperti memikirkan beban begitu berat yang tidak bisa ia katakan. “Mbak, apa mamanya Om Levin selalu seperti ini saat mau terapi?” tanya Resya kepada penjaga mamanya Levin. Wanita muda yang usianya jauh lebih tua itu hanya mengangguk. Ia juga menceritakan keadaan mamanya Levin yang selama beberapa hari ini sering mimpi buruk dan selalu ketakutan. Anehnya saat Levin berada di rumah, sang mama terlihat baik-baik saja. Resya semakin merasa aneh. Ia memikirkan apa yang sebenarnya terjadi dengan mamanya Levin. Ketakutan dan mimpi buruk. Dua hal yang saling berkaitan. “Mbak, Om Levin kenapa lama, ya?” “Mungkin Mas Levin sedang konsultasi dengan terapisnya soal perkembangan Ibu.” “O ..” Resya hanya mengangguk. Ia kembali melihat mamanya Levin yang masih duduk dengan tenang di kursi roda. Tiba-tiba saja mamanya Levin melihat sudut ruangan dan merasa ketakutan. Semakin lama mamanya Levin tidak tenang dan takut. Resya melihat sosok yang tidak begitu jelas berada di balik pintu transparan. Sosok itu mengamati mereka dan tiba-tiba menghilang saat mamanya Levin bereaksi. Wanita itu terdengar ketakutan dan memanggil nama Sya-sya. Resya sendiri terkejut karena wanita itu malah memanggilnya. Ia menyimpulkan jika mamanya Levin mengingat namanya saat pagi tadi berkenalan. Gadis itu mendekat dan mencoba menenangkan mamanya Levin. Resya mengedarkan pandagan mencari sosok yang ia lihat sekilas dan tidak menemukan siapapun. Hanya mereka bertiga yang berada di ruang tunggu dan tidak ada siapapun di sana. “Sya-sya, bawa aku bertemu dengan Levin. Ayo! Bawa aku bertemu dengannya. Ia tidak boleh mati, Levin tidak boleh mati. Pria itu akan membunuhnya! Ayo, Sya!” Mama Levin terdengar tidak tenang. Bicaranya mulai tidak terkendali. Sang penjaga mulai berusaha menenangkannya, tetapi tidak berhasil. Resya memegang tangan mamanya Levin dan perlahan berbicara agar membuat wanita itu tenang. Jangan sampai ketakutannya malah menjadi dan membuat kegaduhan di rumah sakit. “Tante tenang, Om Levin ada di dalam bersama dokter. Tidak akan ada yang akan membunuhnya.” “Panggil Levin! Jangan sampai orang itu bertemu dengan Levin dan membunuhnya! Dia adalah dalang semuanya! Aku tidak mau Levin mati di tangannya.” Mamanya Levin semakin tidak terkendali. Penjaga mamanya Levin dan Resya masih berusaha keras untuk menenangkannya. “Tante, tenang, ya. Ada Sya-sya di sini. Katakan padaku, Tante melihat siapa?” “Dia! Dia yang menjadi sumber masalah selama ini!” Mata mamanya Levin membulat. Ia seperti mencoba menunjukkan kejadian penting kepada Resya yang sangat menentukan hidupnya di masa lalu. Wanita itu terus saja menyebut ‘Dia’ dalam ocehannya. Hingga akhirnya Levin datang bersama sang terapis dan langsung mengambil alih mamanya Levin agar membuat wanita itu bisa sedikit lebih tenang. Mamanya Levin melakukan terapi bersama penjaganya dan Resya masih menunggu di ruang tunggu. Sementara Levin memilih tinggal untuk bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Resya mulai menjelaskan tentang sosok yang mamanya Levin lihat hingga membuat wanita itu tidak tenang dan ketakutan. Bahkan mamanya Levin khawatir jika ada yang akan membunuh anak lelakinya. “Kamu lihat siapa sosok itu?” tanya Levin. Pemuda itu merasa apa yang dilihat mamanya memang nyata. Hanya saja ia masih belum percaya apakah itu hanya sekadar imajinasinya melihat sosok yang akan membunuhnya. “Aku hanya melihat ada seseorang yang berada di balik pintu itu. Setelahnya tiba-tiba saja menghilang saat mamamu mulai ketakutan.” Resya menunjuk ke arah pintu dan menjelaskan apa yang terjadi. Levin terlihat berpikir keras dan membuat Resya semakin penasaran dengan apa yang terjadi. Ia merasa ada yang mengancam keselamatan keluarga Levin, tetapi Resya sendiri juga tidak tahu siapa sosok yang mengintip tadi. “Om, sebenarnya apa yang terjadi dengan Tante? Kenapa ia terlihat paranoid dan begitu takut? Apa ada hal yang membuatnya ketakutan?” Resya mencoba bertanya. Ia masih penasaran dengan apa yang terjadi. Levin masih terdiam tidak menjawab. Ia merasa pertanyaan Resya terlalu ikut campur dengan masalahnya. Ia mulai tidak nyaman dengan sikap Resya yang ingin tahu tentang keluarganya. Ada hal memalukan yang pastinya akan Levin sembunyikan untuk menjaga nama baik mamanya. “Tidak ada apa-apa. Mama hanya teringat dengan temannya yang meninggal karena dibunuh waktu itu.” Levin beralasan. Ia teringat dengan kasus teman mamanya yang meninggal dan menjadikannya sebagai alasan. “Dibunuh? Apa hal itu yang membuat Tante sampai seperti itu? Kamu enggak bohong, kan, Om? “Buat apa aku bohong. Teman Mama memang meninggal karena dibunuh.” “Pembunuhan yang tragis?” Resya masih bertanya. Ia belum puasa dengan jawaban Levin yang menggantung. Ia merasa ada hal yang disembunyikan Levin darinya. Resya bisa melihat dari cara berbicara Levin yang menghindar dan menutupi sesuatu. Resya tidak akan tertipu dan Levin tidak bisa mengelabuhinya. Tidak mungkin mamanya Levin khawatir dengan keselamatan Levin dengan alasan teringat saat temannya dibunuh jika tidak ada saling keterkaitan di antara mereka. Jika hal itu benar bisa saja mamanya Levin adalah bagian dari pembunuhan itu hingga membuatnya begitu ketakutan. “Om, ini masalah serius. Tante khawatir dengan keselamatanmu, bukan dirinya. Ia takut ada yang membunuhmu, bukan membunuhnya.” Resya menekankan ucapannya. Setidaknya ia memberi peringatan jika keluarga Levin sedang dalam pengawasan seseorang. “Sya, aku dan mamaku baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir. Justru yang perlu kamu khawatirkan adalah keluargamu.” Resya langsung membulatkan matanya. Apa hubungannya dengan keluarganya saat Resya memberi peringatan kepada Levin. Resya merasa keluarganya tidak mempunyai musuh sama sekali dan selama ini mereka hidup tenang. “Om Levin enggak usah ngaco! Kami tidak punya musuh. Tidak ada alasan orang mau mencelakai kami.” Levin tersenyum tipis. Resya begitu percaya diri jika selama ini tidak memiliki musuh dan ada bahaya yang tidak terlihat sedang mengintai mereka. “Belum. Kamu pikir kecelakaan yang menimpamu murni kecelakaan karena kamu ngebut?” Levin mengingatkan Resya soal kecelakaan yang menimpa gadis itu hingga Nasya menyewa Levin untuk menjaganya. “Sebaiknya kamu juga harus berhati-hati. Bukan hanya kamu, tetapi semua keluargamu.” Levin menekankan akhir kalimatnya. Levin beberapa hari sebelum pulang memang menangkap keanehan. Terutama di sekitar rumah neneknya Resya. Ia merasa ada yang sedang mengawasi gerak-gerik yang terjadi di kediaman Reni. Levin sempat memergoki lelaki berpakaian hitam yang tengah mengintai. Ia merasa lelaki itu bukanlah orang kiriman Nasya. Terbukti saat Levin mencoba bertanya kepada mereka dan mereka malah gugup dan kemudian pergi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN