Bertahan Tanpa kamu

1034 Kata
Aku terbangun saat alarm di ponselku berbunyi. Tubuhku ingin menggeliat, namun sebuah tangan dengan kokoh melingkari pinggangku. "Kenzie?" Mataku mengerjap. Memperjelas penglihatanku. Nampak, wajah damai Kenzie yang tengah terlelap. Bibirku tersenyum melihat wajah tampannya. Rasanya, sudah lama sekali aku tidak memperhatikan wajah Kenzie saat tidur. Aku kira, Kenzie tidak akan mau tidur disini. Mataku terbuka sempurna saat menyadari sesuatu. Alergi kenzie. Dia selalu mengalami ruam dan gatal setiap tidur di tempat lain selain kamarnya. Aku beranjak duduk, lalu memeriksa kulit wajah dan tangan suamiku. Hatiku lega melihat kulit kenzie yang ternyata baik-baik saja. Sekilas, mataku menangkap bungkus obat di atas nakas. Keningku berkerut. 'Kenzie mengkonsumsi antihistamin?' batinku. Pantas saja, alerginya tidak kambuh. Tapi, seingatku Kenzie paling tidak suka minum obat, apalagi obat alergi. Karena itu, Kenzie lebih memilih menghindari hal yang membuat alerginya kambuh. Tapi kali ini, kenapa Kenzie mengkonsumsinya? Apa untuk bisa bermalam denganku? Hatiku menghangat memikirkan itu. Bibirku tersenyum lebar. Tatapanku kembali pada suamiku, aku mendekatkan wajah lalu mengecupi wajahnya. "Pergi! Pergiii!" Tubuhku terlonjak saat mendengar suara wanita, aku menatap ke arah lantai. Alisku bertaut melihat Rea yang terbaring di lantai beralaskan tikar dan bantal. "Kenapa dia tidur di sana?" gumamku. Senyumku memudar. Aku menatap Kenzie dan Rea bergantian. Aku juga memperhatikan ranjang yang aku gunakan. Ukuran ranjang ini tidak sebesar ranjang yang berada di kamar Kenzie. Hatiku mencelos. Teringat dengan malam-malamku saat harus tidur bertiga dengan Kenzie dan Rea. Sejenak, aku termenung. Memikirkan hal yang terjadi pada Kenzie dan Rea setelah aku tidur. Aku yakin, ada alasan sampai mereka harus menginap di kamarku. Mengingat jam ketika aku tidur semalam. Kesimpulanku hanya satu, Kenzie dan Rea menginap karena kemalaman. Bibirku tersenyum kecut. Ternyata, kenzie menginap disini bukan karena aku. Dia pasti lelah setelah berkeliling membeli hadiah, kemudian membagikannya sendiri pada anak-anak. Karena itu Kenzie lebih memilih tidur di panti. "Jangan terlalu berharap Rania. Harapan hanya akan membuatmu semakin terluka," gumamku pada diri sendiri. Aku beringsut menuruni tempat tidur, lalu berjalan ke arah lemari. Tanganku terulur mengambil selimut. Kemudian berjalan menghampiri Rea. "Kamu bisa masuk angin jika tidur tanpa selimut begini," ujarku seraya membentangkan selimut untuk menutupi tubuh Rea. Sejenak, aku terpaku menatap wajah Rea. Aku tahu betul penderitaan yang Rea tanggung setelah ayah kandungnya mengusirnya. Aku yakin, kesulitan yang Rea hadapi tidak jauh berbeda dariku. Tapi, satu hal yang aku salutkan darinya. Rea tumbuh menjadi wanita tangguh. Dia pemberani dan tidak takut apapun. Bahkan, saat menghadapi kesulitan pun Rea masih terlihat ceria. "Andai aku mengenalmu lebih cepat. Mungkin aku bisa melakukan lebih untukku," tanganku terukur mengelus kepala Rea. "Sekarang yang bisa aku lakukan hanya mengembalikan apa yang seharusnya kamu miliki." Aku beranjak dari dudukku, lalu berjalan menuju kamar mandi. Aku ingin membersihkan diri dan bersiap pergi tour bersama anak-anak. Selesai mandi dan bersiap. Aku menghampiri Kenzie yang masih tidur lelap seraya melirik jam menunjukkan pukul 04.05. "Aku pergi. Jaga dirimu baik-baik," pamitku. Aku mendaratkan beberapa kecupan di wajah Kenzie. Bibirnya tersenyum, tangannya bergerak merangkul pinggangku. Dia merapatkan wajahnya padaku, sakan tidak mau ditinggalkan. Tanganku terulur mengelus kepala Kenzie, lalu mengecup keningnya. "Aku mencintaimu." Lagi, aku melihat senyum di wajah Kenzie. Sepertinya, Kenzie sedang bermimpi indah. Aku tidak mau menganggu tidurnya. Perlahan, aku beringsut dari tempat tidur. Kemudian berjalan ke arah koper. Kakiku melangkah menuju pintu. Tubuhku mematung diambang pintu, memperhatikan Kenzie yang masih tidur dalam posisinya. Berat rasanya untuk pergi jauh dari Kenzie. Tapi, aku meyakinkan diri untuk tetap pergi. Aku harus membiasakan hidup tanpa suamiku. "Aku pergi ken. Sampai jumpa seminggu lagi," tuturku. Kakiku pun kembali melangkah keluar dari kamar. Menapaki setiap lantai yang ku injak dengan langkah berat. "Kenzie ... ternyata berat untuk lepas darimu." Langkahku sampai di depan pekarangan panti. Terlihat dua bus yang sudah menanti. Aku pun bergegas menghampiri bus yang akan aku tumpangi. "Rania ... Kamu jadi ikut?" tanya ibu Tiara. Aku mengangguk. "Ikut Bu." Wanita itu mengernyit. "Lalu bagaimana dengan kenzie? Dia mengijinkan?" "Kenzie sudah mengijinkan dari kemarin. Karena itu, Rania bilang akan ikut," jawabku. "Baiklah kalau begitu. Ayo berangkat!" Tanpa berkata apapun lagi, aku beranjak naik ke dalam bus. Mengikuti ibu Tiara. Begitu masuk, suara riuh gembira anak- anak menyambutku. Aku tersenyum melihat keceriaan mereka. Tak lama, mobil bus melaju meninggalkan panti asuhan. Matanya terpaku pada kamar di lantai dua panti. Kamar tidur tempat Kenzie berada. "Aku pergi ken," batinku. *** Perjalanan Jakarta - Jogja cukup lama. Kami menghabiskan waktu hampir sembilan jam diperjalanan. Matahari sudah terik saat kami tiba di pantai yang menjadi tujuan wisata. "Tidak ikut berenang?" tanya ibu Tiara. Dia duduk di kursi pantai samping tempatku duduk. "Tidak Bu. Rania lihat anak-anak saja," jawabku. Ibu Tiara mengusap punggungku. "Karena kamu sudah berada di sini. Ibu harap kamu menikmati liburan kita. Pergilah bersenang-senang bersama yang lain. Luapkan kesedihanmu di laut ini." Aku terkekeh mendengar perkataan ibu Tiara. Merasa lucu sekaligus miris, karena lagi-lagi, wanita itu mampu melihat wajah asliku dibalik topeng yang kupakai. "Ibu bisa saja. Rania baik-baik saja," ujarku. Wanita itu meremas tanganku. "Semakin kamu bilang baik-baik saja, semakin ibu yakin kalau kamu sedang tidak baik. Rania ... Ibu tahu apa yang kamu sembunyikan. Jadi, dengarkan kata-kata ibu. Pergilah bersama yang lainnya dan nikmati pantai ini. Lupakan hal yang membuatmu sedih." Aku tersenyum tipis. Tatapanku tertuju pada anak-anak yang sedang asik bermain pasir. Aku ragu, pergi menghampiri mereka atau tetap berada di sini. Sejujurnya, aku memang ingin bermain air. "Ayo pergi! Siapa tahu air laut bisa membawa kesedihanmu," tutur ibu Tiara kembali mendorongku untuk pergi. Aku terkekeh, kemudian beranjak dari tempat duduk. "Oke oke. Rania pergi bermain dulu." Wajah ibu Tiara tersenyum lebar. Dia mengibaskan tangannya mengusir. Aku pura-pura mencebik, kemudian berlari ke arah laut. Mataku berbinar melihat ombak yang menerjang ke sisi pantai. Rasanya, aku tidak sabar ingin bermain ombak. "Kak ... Ayo bermain!" ajak beberapa anak berteriak padaku. Tanpa ragu, aku berlari menghampiri mereka. Kami berpegang tangan seraya menunggu ombak datang. Begitu ombak datang, kami menjerit karena tubuh kami yang basah di terjang ombak. "Sekali lagi," ujar salah satu anak. Aku kembali ikut berpegangan tangan. Rasanya, hatiku terasa ringan setelah tertawa bersama mereka. Tawaku pecah saat tubuhku tersungkur karena tertenjang ombak. Hampir saja, aku tenggelam. Untung ada tangan seseorang yang bisa aku pegang. "Rania ... Hati-hati! Kamu bisa tenggelam." Kepala ku mendongak menatap pria yang tangannya tengah aku pegang. "Aditya?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN