Sudah Merelakanmu

1068 Kata
Tubuhku tertegun mendengar suara Kenzie. Jantungku berdegup kencang. Tidak mungkin Kenzie menyusulku kemari. Tapi, aroma parfum yang selalu suamiku pakai meyakinkan aku tentang keberadaannya. "Maaf, saya datang terlambat bu. Tadi, saya berkeliling menyiapkan hadiah untuk anak-anak," ujar Kenzie. Aku menggigit bibir seraya mengepalkan tangan. Belum berani membalikan badan menghadapnya. "Tidak apa-apa. Ibu senang kamu sudah menyempatkan waktu untuk datang. Terimakasih," ujar ibu Tiara. Wanita itu tersenyum lembut pada Kenzie, lalu mengusap bahuku. "Suamimu sudah datang. Tidak perlu bersedih lagi." Aku menarik bibir menampakkan senyum. Tatapan ibu Tiara berubah redup. Seolah tahu, kalau aku hanya memasang senyum palsu. "Rania ...," Kenzie memutar bahuku. Mata hitamnya menatap lekat diriku. "Maaf sudah membuatmu menunggu." Kenzie tersenyum padaku. Hatiku menghangat melihat senyumannya. Aku memeluk Kenzie, melepas rindu yang menghantuiku selama beberapa jam ini. "Aku kira, kamu tidak akan datang," ujarku berbisik. Mengingat perkataan Kenzie yang mengatakan kalau dirinya akan makan malam bersama Rea. "Aku sudah janji akan datang. Tidak mungkin aku mengingkari janjiku." Kenzie mengecup pucuk kepalaku. Membuat hatiku tenang dan dadaku berdebar kencang. Senyumku pun mengembang karena perlakuannya. Aku senang Kenzie datang dan membatalkan makan malamnya dengan Rea. Hatiku berjengit saat mengingat Rea. Benarkah Kenzie kemari dan membatalkan makan malam dengan istri barunya? Lalu, dimana Rea sekarang? "Dimana aku harus meletakkan barang-barang ini?" Pertanyaanku terjawab saat mendengar suara Rea. Kenzie membawa wanita itu kemari. Aku melerai pelukanku, lalu beralih menatap Rea yang tengah membawa satu dus boneka. "Aku membawa boneka untuk anak-anak. Rea yang memilihkannya," ujar Kenzie. Aku tersenyum tanpa menimpali ucapan Kenzie. Hatiku mencelos. Ternyata, Kenzie ke sini hanya untuk memenuhi janjinya saja, bukan untuk diriku. "Berikan padaku, biar aku bagikan pada anak-anak," ujarku seraya berjalan menghampiri Rea. "Kardusnya lumayan berat. Biar aku saja," tolak Rea. Kenzie datang menghampiri kami. Dia mengambil kardus yang Rea bawa. "Biar aku saja yang membawanya. Ayo kita bagikan!" Tubuhku mematung melihat senyum Kenzie pada Rea. Hatiku perih. Aku menunduk lalu berbalik membelakangi mereka. "Anak-anak, ayo kemari. Ada hadiah lagi untuk kalian," ujarku berteriak. Seketika, anak-anak berhamburan ke arahku. Tapi, aku mengarahkan mereka pada Kenzie dan Rea. "Ambil hadiahmu di sana." Kepalaku menunjuk Kenzie dan Rea yang tengah membagikan boneka pada anak-anak. Senyum di wajah anak-anak bertambah lebar. Mereka pasti senang menerima hadiah yang Kenzie bawa. Bukan hanya boneka, Kenzie pun membawa coklat dan kue untuk anak-anak. Kenzie tersenyum ke arahku. Aku pun membalas senyumannya. Terlihat, Rea menepuk Kenzie dan membisikan sesuatu padanya. Kenzie tersenyum lebar. Aku penasaran, apa yang Rea bisikan sehingga bisa membuat Kenzie tersenyum lebar seperti itu. Tanpa sadar, kakiku melangkah mundur. Menjauhi Kenzie dan Rea yang masih sibuk berinteraksi dengan anak-anak. Melihat tawa Kenzie yang meledak karena godaan anak-anak panti. Hatiku mengerut seketika. Kenzie bahagia tanpaku. "Rania ... Siapa wanita itu?" tanya ibu Tiara. Dia berdiri di sampingku. Aku menoleh. Nampak, beberapa kerutan tipis di keningnya. Ibu Tiara nampak penasaran dengan wanita yang Kenzie bawa. "Istri baru Kenzie Bu. Mereka baru menikah seminggu lalu," jawabku. "Apa?!" Tatapan wanita itu berubah sendu. "Rania ... Kenapa kamu tidak pernah bercerita pada ibu. Pasti berat untukku menerima pernikahan suamimu." Aku tersenyum tipis. "Tidak ada yang perlu Rania ceritakan, Bu. Dan lagi, Rania yang meminta Kenzie menikah lagi. Rania baik-baik saja bu. Tidak perlu cemas." Ibu Tiara mengusap punggungku dengan lembut. "Tidak satupun wanita di dunia ini, yang akan baik-baik saja saat melihat suaminya memiliki wanita lain. Rania ... Apa ini yang membuatmu terlihat murung dari tadi?" "Tidak Bu," sanggahku berbohong seraya tersenyum untuk menyakinkannya. "Rania baik-baik saja. Selama Kenzie bahagia, Rania pun ikut bahagia untuknya." "Rania ...." lirih Wanita itu. Seraya menatap iba padaku. Hatiku berjengit. Tidak suka dikasihani. Aku tidak mau menadapat tatapan iba yang membuatku terlihat semakin menyedihkan. "Bu ... Tolong temani Kenzie dan Rea. Perut Rania sakit. Rania mau minum obat sebentar," pintaku. Ibu Tiara terlihat ragu. Dia memperhatikan wajahku baik-baik. Aku pun pura-pura meringis untuk meyakinkannya. Sebenarnya, perutku baik-baik saja. Tapi, hatiku yang terluka. Aku ingin melarikan diri dari Kenzie dan Rea. Tidak mau terlalu lama melihat keceriaan mereka bersama anak-anak panti. "Baiklah! Ibu akan meminta Reni menyiapkan makanan untukmu," ujar ibu Tiara. Dia hendak memanggil seorang wanita muda yang umurnya jauh terpaut dibawahku, namun aku melarangnya. "Rania tahu letak dapur. Biar Rania mengambil makanan sendiri. Ibu Tiara menghela. Wanita itu nampak khawatir. "Baiklah!" Aku mengangguk, kemudian pergi meninggalkan aula panti. Langkahku melebar menuju kamar. Aku memang tidak berniat makan, aku hanya ingin membaringkan tubuh. Menenangkan perasaanku yang kacau balau. Begitu sampai di depan kamar. Tanganku meraih handle pintu, kemudian membukanya. Aku memang mempunyai kamar khusus di panti ini. Aku sudah lama mengenal ibu Tiara dan panti asuhan ini sudah seperti rumah rumah kedua untukku. Dulu, ibu Tiara adalah guru bimbingan konseling di sekolahku. Kami dekat karena aku sering di panggil ke ruang BK. Ibu Tiara memberiku konseling karena sifat pendiam ku, karena itu kami menjadi dekat. Aku nyaman jika sudah berbicara dengannya. Dua tahun lalu, setelah aku dan Kenzie menikah. Kenzie menawarkan diri untuk menjadi donatur tetap bagi panti asuhan. Karena itu, anak-anak panti mengenalnya. Kami pun sering berkunjung ke sini untuk berinteraksi dengan mereka. "Ternyata sudah hampir jam sepuluh malam," gumamku seraya melirik jam dinding. Lagi-lagi, aku melewatkan makan malamku. Tanganku terulur mengeluarkan obat dari dalam tas. Aku mengambil dua kapsul, lalu menenggaknya. Karena kondisi lambungku memburuk beberapa hari ini, aku terpaksa harus mengkonsumsi obat lambung. Dari kecil, aku memang sudah memiliki masalah dengan perutku. Orang tuaku tidak pernah memperhatikan jadwal makanku, karena itu aku tidak makan teratur. Akhirnya, aku mengalami peradangan dinding lambung. Mulutku menguap. Mataku terasa berat. Obat yang aku minum mulai bekerja. Aku pun beringsut menaiki tempat tidur, lalu membaringkan tubuh dibawah selimut. Samar-samar, aku mendengar pintu kamar terbuka. Karena rasa kantuk, aku pun tidak terlalu mempedulikan orang yang masuk. Tak lama, tempat tidurku berderit. Aku terkesiap saat sebuah tangan memeluk tubuhku. "Kenzie?" gumamku seraya membuka mata. Wajah Kenzie begitu dekat denganku. Tangan pria itu mengelus lembut wajahku. "Kamu nampak pucat. Apa kamu sakit?" "Tidak." Aku menggeleng seraya tersenyum tipis. Mata kantukku pun terpaksa terbuka untuk manatapnya. "Aku baik-baik saja. Hanya mengantuk." Kenzie mengusap kepalaku, lalu mendaratkan kecupannya. Dia memelukku dengan erat. Kehangatan tubuh Kenzie membuat rasa kantukku semakin menyerang. Mataku tertutup, lalu kesadaranku mulai menghilang. Samar-samar, aku mendengar Kenzie berkata. "Aku mencintaimu Rania. Apa yang harus aku lakukan untuk membuktikan itu? Kenapa hubungan kita semakin renggang seperti ini?" Sebelum kesadaranku benar-benar hilang, batinku berucap. "Tidak ada harapan lagi untuk kita, Ken. Ayah dan ibumu benar. Kamu akan lebih bahagia bersama Rea. Aku sudah merelakanmu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN