Pergi Tanpa Pamit

1058 Kata
Rania POV Hari itu akhirnya datang, hari dimana Kenzie mengacuhkan aku dan mulai memperhatikan Rea. Bukan hanya pulang bersama, tapi Kenzie pun mulai menampakkan kasih sayang pada istri barunya di hadapanku. Cemburu? Tentu saja. Dadaku hampir meledak melihat kedekatan mereka. Apalagi, saat Kenzie mengatakan tentang rencana makan malamnya. Rasanya, aku ingin melempar pisau yang aku pegang ke arahnya. Tapi, akal sehatku masih terlalu kuat untuk menyerah. Dia berhasil menenangkan aku dan membuatku sadar, jika aku sendiri sudah memprediksi semuanya. Aku tahu, suatu saat Kenzie akan membagi hatinya dan aku harus menerima itu. Kenzie bukan tipe pria yang mudah nyaman berdekatan dengan wanita. Sikap dinginnya selalu muncul saat dirinya berinteraksi dengan mereka. Karena itu, jarang ada wanita yang ingin dekat dengannya. Keberanian mereka menciut setiap berhadapan dengan sikap dinginnya. Tapi, hal itu tidak berlaku untuk Rea. Dari awal, aku merasa Rea berbeda dari kebanyakan wanita. Dia wanita tangguh dan pemberani. Aku yakin, sifatnya itu akan memancing Kenzie untuk menyukainya. "Aku tidak membutuhkan ini," gumamku seraya menyimpan kembali syal yang aku pegang. Kemudian mengambil sebuah sweater, lalu memakainya. Sekilas, aku melirik jam dinding. Waktu menunjukkan pukul 16.05. Acara perayaan hari jadi panti masih lama, tapi aku ingin segera pergi dari rumah. Aku tidak mau melihat kemesraan Kenzie dan Rea lebih lama lagi. Sekali lagi, kuperiksa barang-barang yang akan kubawa untuk ikut tour bersama anak-anak. Setelah yakin semuanya lengkap, aku menutup resleting koper lalu beranjak keluar dari kamar. Hatiku mencelos melihat ruangan rumah yang kosong. Aku yakin, Kenzie dan Rea sedang berada di lantai atas. Mereka pasti sedang mengobrol mesra di sana. Kakiku melangkah hendak berpamitan. Tapi, akal sehatku melarang. Aku mungkin akan mengganggu jika naik ke atas menemui mereka. Karena itu, aku memutuskan untuk pergi tanpa memberitahu. Aku yakin, mereka pun tidak akan mempedulikan keberadaanku. "Pak ... tolong masukan ke dalam mobil," ujarku pada pak Karman seraya menyerahkan koper yang aku pegang. "Bawa barangnya banyak sekali nyonya. Seperti mau pergi lama saja," tuturnya seraya mengangkat koper, kemudian memasukkannya ke dalam bagasi. "Lumayan lama pak, satu Minggu. Rania akan ikut ke Jogja bersama anak-anak," sahutku. Menjelaskan rencana kepergianku selama seminggu kedepan. Sebenarnya, aku tidak ingin pergi. Aku tidak mau berpisah dengan Kenzie. Tapi aku sadar, Kenzie dan Rea membutuhkan waktu berdua. Karena itu, aku memutuskan pergi agar mereka bisa bebas berduaan di rumah. "Tuan tidak ikut mengantar, nyonya?" tanya Karman. Pria paruh baya itu menatapku dengan sorot mata penasaran. Biasanya, Kenzie memang selalu mengantarku saat aku akan bepergian. Aku pun tersenyum tipis pada Karman. "Sepertinya, Ken sedang beristirahat. Aku tidak mau mengganggunya. Biar nanti, Rania pamit lewat telpon saja," jawabku. Tatapan Karman meredup. Dia seperti merasa iba padaku. Aku benci. Aku tidak suka dikasihani. "Ayo pak, kita berangkat," ajakku. Tidak mau berlama-lama mendapatkan tatapan iba dari supirku sendiri. Karman membukakan pintu mobil, lalu menutupnya secara perlahan. Dia pun bergegas masuk menyusulku, kemudian melajukan mobil meninggalkan ruang. 'Aku pergi' pamitku pada Kenzie. Aku mengirim pesan singkat kepadanya. Pesan yang benar-benar singkat. Karena Aku memang bukan tipe orang yang suka berbasa-basi. Satu jam berlalu, aku terus melirik ponselku. Namun, tidak ada balasan dari Kenzie. Padahal, Kenzie sudah membaca pesanku dari 45 menit yang lalu. "Haaah! Apa nanti juga akan seperti ini? Kenzie dan aku tidak mengucapkan perpisahan dengan baik?" batinku. Membayangkan perpisahan yang akan kami hadapi membuat hatiku sakit. Pedih bagai diiris-iris. Dadaku sampai terasa sesak memikirkan hal itu. "Jangan menangis! Tidak ada yang perlu kamu tangisi. Kamu sudah terbiasa menghadapi perpisahan. Kamu tidak boleh cengeng. Tidak akan ada orang yang akan peduli walau kamu menangis darah sekalipun," tuturku dalam hati. Menguatkan diriku sendiri. Perhatianku teralihkan saat ponselku bergetar. Nampak, nama Rea muncul pada layar ponselku. Aku menarik nafas, lalu mengangkat telpon darinya. "Rea," sapaku begitu sambungan telepon terhubung. "Rania ... Kamu sudah pergi?" tanya Rea. Aku mengernyit saat mendengar suaranya yang terdengar marah? Tapi mungkin hanya perasaanku saja. "Iya, aku tidak mau mengganggu kalian, jadi aku pergi. Oh ya, Rea ... aku pergi selama seminggu. Tolong perhatikan jadwal makan Kenzie. Biasanya, dia lupa makan kalau tidak ada yang mengingatkan." "Tapi Rania ... Aku-." "Halo? Rea?" panggilku saat mendengar suara Rea terputus. Keningku mengernyit, ternyata Rea mematikan sambungan telponnya. Aku tersenyum kecut. Rasa sakit kembali menyeruak dalam d**a. "Kenzie memang bukan orang penyabar. Dia pasti tidak suka melihat Rea bertelpon terlalu lama." Tanganku meremas d**a. Lalu, menepuknya dengan pelan. Mencoba menenangkan hatiku yang bergemuruh karena membayangkan kemesraan yang tengah Kenzie dan Rea lakukan. "Tidak apa-apa. Kamu akan baik-baik saja. Rasa sakit akan sembuh seiring berjalannya waktu, rasa sedih akan hilang dengan sendirinya. Kamu hanya butuh waktu untuk melepaskan dan merelakan," bisikku pada diriku sendiri. Bayang-bayang kebersamaanku dan Kenzie tergambar jelas di pelupuk mata. Rasanya, air mataku hampir luruh mengingat sikap Kenzie kepadaku. Kelembutannya, perhatiannya dan rasa khawatirnya yang berlebihan membuatku tersenyum sekaligus merasa sesak. "Aku mencintaimu Ken. Maafkan aku, ternyata tidak mudah berada di sisimu dengan bayangan wanita lain di antara kita. Aku menyerah." *** Malam acara perayaan panti di gelar. Melihat suka cita anak-anak yang tertawa senang membuat kesedihanku sedikit berkurang. Kini, aku mencoba memfokuskan perhatianku pada anak-anak kurang beruntung yang sedang mengucapkan terima kasih kepadaku. "Terima kasih kak. Lili suka hadiahnya," ujar salah satu anak panti dengan antusias. Dia tersenyum menggemaskan seraya memperlihatkan gigi rumpangnya. Aku berjongkok untuk mengelus kepalanya. "Sama-sama, sayang. kakak senang kamu menyukai hadiahnya." Anak perempuan itu memelukku, kemudian menciumi pipiku berkali-kali. Tawaku pecah merasa geli dengan ciumannya. Sungguh! Anak itu membuat perasaan sedihku hilang seketika. "Lili, ayo bergabung dengan teman-temanmu jangan terus mengganggu kak Rania." Seorang wanita paruh baya mendekati kami. Nampak, senyum indah merekah di bibirnya. Wanita itu menatapku dengan tatapan hangatnya. "Terimakasih. Malam ini kamu sudah membuat anak-anak senang," ujar wanita itu. Aku balas tersenyum. "Sama-sama. Rania juga senang melihat senyum anak-anak." Ibu Tiara, kepala panti, tersenyum kepadaku. "Bibirmu boleh tersenyum. Tapi, matamu mengatakan sebaliknya. Kamu tidak bisa membohongi ibu, Rania." Kepalaku menunduk. Aku memang tidak bisa menyembunyikan apapun dari ibu Tiara. Dia selalu bisa menebak keadaanku dengan benar. "Katakan! Apa yang terjadi? Apa kamu sedang bertengkar dengan Kenzie?" Air mataku luruh. Pertanyaan ibu Tiara mengingatkan aku pada Kenzie. Hatiku menjerit karena merindukannya. Ya! Belum ada sehari kami berpisah, tapi aku sudah sangat merindukan suamiku. "Rania ... jangan memendam masalahmu sendirian. Kamu boleh bercerita pada ibu. Memendam kesedihan hanya akan membuatmu bertambah sedih," ujar ibu Tiara seraya memeluk dan mengelus punggungku dengan lembut. "Rania ... Hiks! Rania merindukan Kenzie Bu. Rania ...." "Aku disini Rania."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN