Membuat Rania Cemburu?

1186 Kata
Sepanjang perjalanan. Aku termenung memikirkan kata-kata Kenzie. Perkataan pria itu terus terngiang dan mengganggu pikiranku. Aku tidak habis pikir, Kenzie akan melakukan vasektomi hanya demi Rania. "Jangan mengatakan apapun pada Rania. Jika dia sampai mengetahui rencanaku, kamu akan menanggung akibatnya," ancam Kenzie saat tiba di depan rumah. Aku menatap Kenzie, wajahnya datar seperti sebelumnya. Tidak ada ekspresi apapun. Matanya menatapku dengan penuh ancaman. Sungguh! Aku tidak mau terpengaruh ancamannya. Dipikir seperti apapun, aku tetap merasa, keinginan Kenzie tidak benar. Sebagai seorang istri dan seorang wanita, aku tidak setuju suamiku melakukan vasektomi seperti rencananya. Tapi, kepalaku berkhianat. Dia terlalu takut dengan tatapan Kenzie yang seakan menghunus tajam diriku. Mengkhianati keinginan hatiku. Tanpa aku duga, kepalaku mengangguk mengiyakan perkataan Kenzie. "Satu hal lagi, jangan pernah mengatakan apapun pada Rania tentang perkataan dokter Irma. Aku tidak mau Rania tahu, kalau kita sudah mengetahui keadaan kesehatannya," ujar Kenzie. Kepalaku kembali mengangguk. Mengiyakan permintaan pria itu. Sisi gelapku merutuk, aku bagai kerbau yang di cucuk hidungnya saat berurusan dengan Kenzie. "Turunlah dan bersikap seperti biasa. Jangan sampai membuat Rania curiga," tukas pria itu, Kemudian turun dari mobil tanpa menungguku turun lebih dulu. Buru-buru, aku mengejar Kenzie, kemudian menyetarakan langkah dengannya. "Kalian pulang bersama?" Baru beberapa langkah memasuki rumah, langkahku dan Kenzie terhenti saat mendengar suara Rania. Wanita itu tengah berdiri di depan jendela. Bibirnya tersenyum, sedang matanya menatap kami dengan penuh curiga. Rania benar-benar aktris yang baik. Dia sangat pandai menyembunyikan emosinya. Aku yakin, saat ini dia tengah cemburu melihat kami berdua. Hal itu terlihat dari tatapan matanya. "Tadi kami ...." "Aku menjemput Rea untuk mengajaknya makan siang." Lidahku kelu mendengar ucapan Kenzie. Kepalaku bergerak meliriknya. Pria itu, Kenzie Mahardika. Dia tengah tersenyum padaku, aku hampir meleleh melihat senyumnya. "Seperti katamu, kami harus saling mengenal secepatnya," tutur Kenzie seraya menatapku. Dia berbicara tanpa mengalihkan sedikitpun perhatiannya dariku. Sungguh! Aku terkejut dengan sikapnya yang tiba-tiba berubah baik. "Begitu ... Baguslah." Suara Rania menarikku dari kekaguman yang tengah aku rasakan pada suamiku. Tatapanku kembali tertuju pada Rania. Nampak, senyum Rania yang masih melekat di wajahnya. "Kalau begitu, aku akan menyiapkan jus. Kalian pasti haus." Tanpa menunggu persetujuan kami, Rania melangkah pergi meninggalkan aku dan Kenzie. Kulirik Kenzie yang tengah menatap kepergian Rania. Sorot matanya berubah sendu. Aku mendengus melihatnya. Ternyata, Kenzie memanfaatkan aku untuk membuat Rania cemburu. "Sialan!" umpatku dalam hati. Tanpa mengatakan sepatah kata pun lagi, Kenzie melangkah pergi menuju lantai atas. Aku pun beranjak menyusul pria itu. 45 menit berlalu. Aku tidak tahu apa yang sedang Kenzie pikirkan. Pria itu terus berdiam di depan jendela sambil terus melirik jam tangannya. "Ayo kita turun!" ajaknya. Aku menurunkan majalah yang tengah aku baca, lalu mengalihkan seluruh perhatianku kepadanya. "Aku malas. Kamu saja yang pergi," tolakku. Sebenarnya, aku ingin menenangkan diri. Aku ingin merenung sendirian. Memikirkan sikap yang harus aku ambil tentang pemerintahan Kenzie sebelumnya. "Turun atau aku akan menyeretmu," ancam Kenzie. Hatiku merutuki pria itu. Aku heran, semenjak pulang dari rumah sakit, pria itu jadi lebih sering mengancam. "Baiklah!" ujarku terpaksa.Aku dan Kenzie keluar dari kamar. Kami menapaki anak tangga beriringan. Sejenak, kulirik Kenzie yang terlihat mencari keberadaan istrinya. Tatapannya tertuju pada ruang makan. Ternyata, Rania ada di sana. "Apa yang kamu lakukan?" tanya Kenzie. Tubuhku menegang saat tiba-tiba, Kenzie memegang tanganku. Aku terpaku seraya melirik wajahnya. Aku menarik tanganku, namun Kenzie malah menguatkan pegangannya. "Akhirnya kalian turun," tutur Rania dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Tiba-tiba, Cengkraman tangan Kenzie terasa semakin kuat. Aku hampir meringis, tapi sebisa mungkin aku tahan. "Kami terlalu asik mengobrol sampai lupa waktu." Lagi-lagi, Kenzie berbohong. Dia benar-benar memanfaatkan aku untuk membuat istrinya cemburu. Sisi gelapku mencibir, merutuki Kenzie yang terlalu berbuat sesuka hati kepadaku. "Owh, begitu," ujar Rania seraya tersenyum lebar. Matanya menatap ke arah tautan tanganku dan Kenzie. "Kalau begitu, lanjutkan saja mengobrol di ruang tengah. Aku sudah menyiapkan jus dan camilan untuk kalian. " Rania berbalik. Dia kembali menyibukkan diri memotong bahan makanan. Kenzie melepaskan tautan tangannya, lalu berjalan menghampiri Rania. "Aku dan Rea sudah makan siang. Tidak perlu memasak." Kenzie berhenti tepat di belakang punggung Rania. "Aku tahu," timpal Rania. Dia beranjak menuju westafel untuk mencuri sayur-mayur. "Aku memasak untuk makan malam." "Jangan memasak terlalu banyak. Aku dan Rea akan makan malam di luar." Keningku mengernyit. Sebelumnya, pria itu tidak pernah mengatakan apapun tentang makan malam kepadaku. Aku pun berjalan menuju meja makan. Memperhatikan Rania dan Kenzie seraya memakan apel. Rania berbalik. Sebuah senyum masih tersungging di bibirnya. "Benarkah?" tanyanya. Matanya menatap Kenzie dengan ekspresi datar. Menyembunyikan perasaanya. Kenzie mengangguk. "Aku sudah melakukan reservasi untuk nanti malam. Aku ingin membawanya ke restoran tempat kita biasa makan." Senyum Rania nampak memudar. Dia menyapa Kenzie dengan tatapan redup. Rania terlihat sedih. "Kalau begitu, aku tidak perlu memasak." Rania berbalik, lalu meniriskan sayuran yang sudah di cucinya. Kemudian memasukkan bahan makanan yang sudah dipotongnya ke dalam mangkuk kaca. "Kenapa tidak jadi masak? Aku hanya mereservasi tempat untuk dua orang saja," ujar Kenzie seakan ingin menegaskan kalau dirinya akan pergi tanpa Rania. Rania diam. Tidak menyahuti perkataan suaminya. Tangannya masih bergerak mengemasi bahan makanan. Lalu, berbalik, membawa bahan makanan yang sudah dikemasnya. "Semoga makan malam kalian menyenangkan." Rania melewati Kenzie. Berjalan menuju kulkas. Tidak seperti biasanya, kali ini Kenzie membiarkan istrinya membawa barang-barang yang di pegangnya sendirian. Tidak membantu sama sekali. "Aku juga tidak makan malam di rumah. Sepetinya kamu lupa, malam ini ada acara di panti. Aku akan makan bersama meraka." Rania berbicara seraya membelakangi suaminya. Nampak, ekspresi Kenzie menegang. Tangannya terkepal erat. Dia seakan menyesali sesuatu. "Maaf ... aku lupa kalau harus menemanimu pergi ke acara itu." Rania memutar tubuhnya. Senyumnya merekah. "Tidak apa-apa. Aku bisa pergi sendirian. Nikmati saja waktumu bersama Rea." Wanita itu beralih menatapku, kemudian kembali menatap suaminya. "Malam ini, aku tidak pulang. Aku akan menginap di panti. Besok, aku harus membantu pengurus panti untuk menyiapkan tour wisata anak-anak." Rania melangkah kearahku. Dia memberikan pisau buah padaku. "kupas dulu kulitnya," ujarnya. "Aku tidak tahu bagaimana apel itu di tanam. Walau sudah di cuci, lebih baik kulitnya di kupas dulu. Takut masih tersisa pestisida dalam kulitnya." Aku mengangguk seraya mengambil pisau yang Rania berikan. Hatiku meringis. Rania memperhatikan hal kecil sekalipun. "Makan apel saja ada aturannya," cibirku dalam hati. Kenzie berjalan menghampiri kami. Dia duduk di sebelahku. Kenzie merebut pisau yang aku pegang. "Biar aku yang kupaskan untukmu." Mulutku ternganga. Tidak percaya pria itu akan mengupaskan apel untukku. Aku memperhatikan gerakan tangannya yang tengah mengupas apel. Dia sungguh mengagumkan, gerakan tangannya saja membuat jantungku berdebar. "Oh ya, Ken. Kalau boleh ... Aku ingin ikut anak-anak pergi ke tour wisata." Gerakan tangan Kenzie terhenti. Wajahnya menengadah menatap Rania. "Ke Jogja?" "Iya. Sepertinya, akan menyenangkan menghabiskan waktu dengan mereka," jawab Rania tanpa melepaskan senyumannya. "Kalau begitu pergilah. Lakukan apapun yang membuatmu senang." Rania tersenyum lebar. "Terima kasih. Kalau begitu, aku ke kamar dulu. Aku akan bersiap." Kenzie menurunkan tangannya. Aku terbeliak saat melihat darah di telapak tangan Kenzie. Ternyata, bukan apel yang sedang dia kupas. Tapi, tangannya sendiri. "Ken ... tanganmu berdarah," pekikku seraya menyentuh telapak tangannya. Kenzie menghempaskan tanganku dengan kasar. "Jangan sentuh!" ujarnya. Dia bangun dari duduknya, kemudian beranjak pergi meninggalkan aku. "Dasar bodoh! Apa yang kalian lakukan?Kenapa kalian malah saling melukai seperti ini?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN