Jam 10 pagi. Seperti yang sudah direncanakan, aku menemui dokter kandungan. Beberapa menit lalu, Kenzie datang ke rumah sakit menyusulku. Dan sekarang, kami sedang berada di ruangan dokter Irma untuk berkonsultasi.
"Penanaman embrio akan disesuaikan dengan masa subur calon ibu. Kalian bisa mendapatkannya dengan dua cara, pemberian hormon atau menunggu masa subur alami."
Fokusku tidak berpaling dari wajah dokter Irma. Aku menyimak penjelasan dokter itu dengan seksama. Ternyata, lumayan lama waktu yang dibutuhkan untuk bisa menanamkan embrio Rania di rahimku. Padahal, sebelumnya aku kira bisa melakukan itu secepatnya.
"Dokter cara mana yang lebih cepat? Pemberian hormon atau menunggu secara alami?" tanyaku. Ingin mengambil cara tercepat untuk bisa hamil. Aku ingin segera menyelesaikan perjanjianku dengan Rania.
"Tergantung. Kita harus melakukan pemeriksaan terhadap kadar hormon dan rahim Bu Rea lebih dulu untuk mengetahuinya," jawab dokter.
"Baiklah. Saya mengerti, kalau begitu saya ingin pemeriksaan dilakukan secepatnya," ujarku tidak sabar.
Dokter Irma tersenyum tipis. "Kita bisa melakukannya sekarang juga."
Aku balas tersenyum pada dokter paruh baya itu. Entah hanya perasaanku saja atau memang benar adanya. Tapi, sikap dokter Irma lebih bersahabat hari ini. Aku yakin, semua itu karena kehadiran Kenzie.
Tatapanku berpaling melirik pria itu. Kenzie nampak serius memperhatikan penjelasan dokter Irma dengan wajah datarnya. Entah apa yang tengah dipikirkannya. Tapi, Ekspresi datar Kenzie selalu membuatku penasaran, ingin tahu isi kepalanya.
"Bagaimana kabar Nyonya Rania? Apa sekarang kondisinya sudah membaik?"
"Membaik?" tanya Kenzie. Alisnya bertaut. Nampak beberapa garis tipis pada keningnya.
Kata itu adalah kata pertama yang keluar dari mulut Kenzie. Sejak tiba di rumah sakit hingga sekarang, Kenzie tidak bicara sepatah katapun. Dia terus diam dan hanya membalas pertanyaan dengan gerakan kepala atau tatapan tajamnya saja.
Tidak berbeda jauh dengan Kenzie, aku pun terkejut mendengar pertanyaan dokter Irma. Rasanya, pertanyaan itu terdengar ambigu.
'Membaik? Memangnya Rania sedang sakit?' batinku bertanya-tanya.
"Saya dengar dari dokter Frans, minggu lalu nyonya Rania di opname karena penyakit lambungnya kambuh. Tapi belum ada satu hari, nyonya Rania memaksa pulang," jelas dokter Irma.
Aku mengerutkan kening. Ingatanku tertuju pada keadaan Rania saat Kenzie pulang dari rumah sakit. Aku yakin, waktu itu melihat plester di punggung tangan Rania. Hatiku berjengit. Mungkin plester itu Rania gunakan untuk menutupi bekas suntikan infus di tangannya.
"Istri saya di opname?" Suara Kenzie tercekat. Kaget mendengar berita tentang istrinya.
Perhatianku tertuju pada pria itu. Kenzie nampak gusar sekaligus khawatir. Aku yakin, dia pasti mencemaskan keadaan istrinya.
"Anda tidak tahu?" Dokter Irma balas bertanya.
Kenzie berdiri dari tepat duduknya. "Saya harus menemui dokter Frans. Permisi!"
Kenzie pergi dari ruangan dokter Irma. Dia meraih handle pintu, lalu keluar dengan langkah terburu-buru. Kenzie bahkan tidak menghiraukan keberadaanku.
"Suster asih akan mengambil sempel darah. Apa anda sudah siap?"
Suara dokter Irma membuatku berpaling dari daun pintu tempat Kenzie keluar. Aku diam tidak langsung menjawab pertanyaan dokter Irma. Tadinya, aku pikir Kenzie akan menemaniku menjalani tes ini. Tapi, dia malah pergi menemui dokter lain.
"Tentu, dok. Saya sudah siap," jawabku seraya memaksakan senyum.
Dua jam berlalu. Hasil tes sudah keluar. Dokter Irma juga sudah melakukan USG terhadapku.
Ternyata, masa suburku datang dalam waktu dekat. Hanya sekitar lima hari lagi. Dokter pun memberikan resep obat sebagai tambahan hormon progesteron kepadaku.
"Diminum satu kali sehari, tapi harus di jeda. Jangan diminum dalam satu waktu," tutur petugas apotek seraya menunjukkan dua jenis obat kepadaku.
"Baik," ujarku, lalu memberikan uang untuk pembayaran obat.
Kepalaku celingukan ke kanan dan kiri, berharap Kenzie masih berada di sekitar rumah sakit menungguku. Senyumku mengembang saat melihat orang yang ku cari ternyata sedang termenung di kursi tunggu.
"Apa yang kamu lakukan disini?" tanyaku begitu sampai di hadapan Kenzie.
Wajah pria itu mendongak. Sorot matanya terlihat bergetar. Aku menangkap kesedian dalam tatapannya.
"Sudah selesai?" tanyanya. Berdiri dari tempat duduk. Suara Kenzie terdengar dingin seperti biasanya. Namun, juga terdengar sedikit berat.
Aku mengangguk. "Sudah."
"Ayo pulang!" ajaknya. Dia berjalan mendahuluiku.
Sejenak, aku terpaku memperhatikan punggung Kenzie. Pria itu berjalan seraya memasukan satu tangannya ke saku. Kebiasaan Kenzie yang baru aku sadari.
"Tunggu! Jangan jalan cepat-cepat," ujarku seraya berlari kecil menyusulnya.
Setibanya di parkiran. Aku heran dengan Kenzie yang membukakan pintu mobilnya untukku. Dia bahkan meminta pak Santo untuk pulang lebih dulu.
"Kamu mau mengantarku pulang? Tidak kembali ke kantor?"
"Masuklah! Ada hal yang ingin aku bicarakan," jawab Kenzie, lalu berjalan ke samping lain mobil. Kemudian masuk dan duduk dibelakang kemudi.
"Ada apa dengannya?" gumamku. Aku pun segera masuk ke dalam mobil, lalu memasang sabuk pengaman.
Kenzie melajukan mobil. Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara diantara kami. Keadaan sunyi. Hanya terdengar suara deru mesin dan keributan jalanan dari luar.
"Kamu yakin akan menjalani program bayi tabung itu?"
Kepalaku berpaling saat mendengar suara Kenzie. Nampak, pria itu tengah memperhatikan jalan dihadapannya dengan raut wajah serius.
"Tentu. Aku yakin dengan apa yang aku inginkan. Bukankah aku sudah mengatakan itu berkali-kali?" jawabku. Menegaskan keinginanku untuk hamil dengan cara itu.
Kenzie diam tidak menjawab. Raut wajahnya pun tidak berubah sedikitpun. Masih tetap tenang dan datar.
"Apa peluang keberhasilannya cukup besar?" tanya Kenzie. Dia melirik sekilas kepadaku.
Kepalaku mengangguk. "Keadaan rahimku baik-baik saja. Hanya tinggal menunggu masa subur. Tadi, dokter bilang lima hari lagi aku harus melakukan cek kesuburan lagi. Jika rahimku sudah siap, proses penanaman bisa dilakukan," ujarku.
Kenzie menghembuskan napas dengan pelan. Terdengar berat seakan mengeluarkan berjuta-juta beban yang ditanggungnya.
"Semoga saja langsung berhasil. Itu kesempatan terakhirku untuk mempunyai keturunan," ujarnya dengan nada suara lemah.
Aku menautkan alis. Tidak berhasil mencerna perkataan pria itu. "Terakhir kali? Maksudmu?"
"Tadi, aku sudah berkonsultasi dengan dokter. Dua hari lagi, aku akan melakukan pembersihan."
"Pembersihan? Apa maksudmu?" tanyaku semakin bingung dengan perkataan Kenzie.
Pria itu diam. Tidak langsung menjawab pertanyaanku. Dia mencengkram setirnya dengan erat hingga menampakkan buku jarinya yang memutih.
"Aku akan melakukan vasektomi."
Bagai dipukul sebuah godam. Aku tersentak mendengar jawaban Kenzie. Mataku terbeliak, menatap Kenzie dengan rasa tidak percaya.
"Vasektomi? Kamu sudah gila? Untuk apa kamu melakukan itu? Apa kamu tidak ingin mempunyai anak?" cecarku dengan suara tinggi. Terlalu kaget mendengar kata-kata yang keluar dari mulut kenzie.
Kenzie tersenyum tipis. "Tidak masalah jika aku tidak memiliki anak. Asal Rania sadar, kalau bukan hanya dirinya yang cacat. Tapi aku juga."