Kepulangan Rania membuat amarah Kenzie mereda. Emosinya seakan menguap dengan kehadiran wanita itu. Sosok pria bengis yang sebelumnya aku lihat pun menghilang, tergantikan dengan sosok pria lembut dan penyayang.
"Kenapa sudah pulang? Bukankah keadaanmu masih belum pulih?" Rania menatapku dan suaminya bergantian. Dia membantu Kenzie duduk di atas sofa.
"Kenzie memaksa ingin pulang," jawabku jujur.
Sontak, Kenzie melayangkan tatapan tajamnya kepadaku. Aku memutar mata jengah. Lelah dengan Kenzie yang tidak pernah bisa bersikap lembut kepadaku.
"Benarkah? Kenapa?"
Rania menatap suaminya dengan alis bertaut. Nampak kepenasaran dalam raut wajah cantiknya.
Tatapanku beralih pada kenzie. Wajahnya meringis. Aku yakin, pria itu bingung menjawab pertanyaan istrinya.
"Karena di rumah sakit tidak ada kamu."
Aku terperangah mendengar jawaban Kenzie. Pria itu sungguh diluar dugaan. Aku jadi ragu. Jangan-jangan, pria yang sekarang duduk di hadapanku bukan pria yang tadi marah-marah dan mengancam semua orang yang ada di rumah. Sifat Kenzie di hadapan Rania bertolak belakang dengan sifatnya saat Rania tidak ada.
"Aku sudah bilang, aku akan kembali saat keadaanku membaik," tutur Rania. Nampak semburat merah di kedua pipinya. Tak lama, raut wajah Rania berubah khawatir. "Lalu kenapa tadi kamu sampai turun dari kursi roda? Dan ini ..." Rania menyentuh perban di kepala kenzie, kemudian menatapku. "Apa Kenzie belum mengganti perbannya?"
Rania menatapku dengan tatapan menuduh. Tatapannya seolah mengecapku sebagai orang yang lalai. Jelas aku tidak terima.
"Kenzie menolak bantuanku. Dia tidak mau aku membantunya," jawabku.
Sejenak, aku mencibir diriku yang seperti anak kecil yang sedang mengadu kepada ibunya. Terasa aura dingin di sekitarku. Dan ternyata, Kenzie tengah menatapku dengan tatapan dinginnya.
Rania menghela. Dia memijat kepalanya. Aku mengernyit melihat plester yang tertempel di punggung tangannya. Sejenak, tatapanku pun tertuju pada Rania. Wajah wanita itu nampak pucat. Matanya pun terlihat redup. Bibirnya sedikit bergetar dan nampak kering.
"Apa Rania sakit? Sebenarnya, kemana wanita itu pergi? Kenapa dia tidak istirahat di rumah?" batinku bertanya-tanya. Penasaran dengan keberadaan Rania beberapa jam lalu.
Rania mengangkat wajahnya. Dia menatap Kenzie dengan senyum manisnya, seolah ingin menyembunyikan wajah pucatnya.
"Orang sakit tidak bisa mengurus diri sendiri, Ken. Seharusnya, kamu berterima pada Rea karena dia bersedia membantumu," ujar wanita itu.
Kenzie menggeleng. "Aku tidak butuh bantuan siapapun. Aku hanya membutuhkanmu."
Aku kembali memutar mata. Kata-kata Kenzie. terdengar menyebalkan di telingaku.
Rania memintaku membawakan perban dan air hangat. Dia juga memintaku untuk membawa makanan baru. Rania mengganti perban di kepala Kenzie, kemudian menyuapinya dan memintanya minum obat.
Hatiku iri melihat sikap Kenzie pada Rania. Pria itu tidak sedikitpun menolak permintaan istrinya. Dia melakukan segala yang Rania perintahkan.
Namun, satu hal yang membuatku merasa heran dengan Kenzie. Pria itu tidak bertanya tentang keberadaan Rania sebelumnya. Dia seakan tidak mempermasalahkan kepergian Rania yang sudah membuatnya kalang kabut mencarinya.
"Kalian harus istirahat. Sudah jam sembilan malam," ujar Rania seraya melirik kepadaku dan Kenzie.
"Aku tidur denganmu," ujar Kenzie seraya mengecup punggung tangan istrinya.
Rania menghela. Dia melirik ke arahku. "Apa kamu tidak masalah?"
"Hah?" Aku terperangah. Kaget dengan pertanyaan Rania. Untuk apa wanita itu bertanya padaku. "Terserah saja," jawabku acuh.
"Baiklah! Kalau begitu kita tidur bertiga."
"APA?!" pekikku dan Kenzie bersamaan. Kaget mendengar kalimat yang Rania ucapnya.
"Kenapa kalian kaget? Kamu mau tidur denganku dan kamu juga tidak keberatan aku tidur dengan Kenzie. Karena Kenzie tidak mungkin tidur di kamarku, jadi kita akan tidur di kamar atas bertiga," ujar wanita itu dengan wajah datar seraya menatapku dan Kenzie bergantian.
"Tidak begitu Rania," desis Kenzie. Rahangnya mengeras. "Kita akan tidur bersama. Tapi, tidak dengan dia. Biarkan saja wanita itu tidur di kamar lain."
Kepalaku mengangguk cepat. Menyetujui perkataan Kenzie. Aku bahkan tidak mempermasalahkan perkataan Kenzie yang menyebutku dengan kata 'wanita'. Terdengar sangat asing.
"Tidak bisa begitu Ken. Kalian baru menikah kemarin. Pengantin baru harus tidur bersama selama tujuh hari. Kamu tidak bisa membiarkan Rea tidur sendiri di kamar lain," timpal Rania.
"Aku tidak apa-apa. Aku akan tidur di manapun," sahutku. "Aku bahkan tidak masalah kalau harus tidur disini," ujarku seraya menepuk sofa yang aku duduki.
Rania membuat keadaan terasa canggung. Aku tidak bisa membayangkan kalau kami harus tidur bertiga di kamar Kenzie. Pasti tidak nyaman.
"Kalau begitu, aku akan tidur di kamarku," ujar Rania seraya melirikku, kemudian melirik suaminya. "Aku tidak mau mengambil jatah malam Rea. Dia berhak bersamamu seminggu penuh."
"Tapi Rania ...." Kenzie menatap istrinya dengan raut wajah frustasi. "Aku tidak mau ada orang lain diantaranya kita."
Hatiku tersentil. Kenzie benar-benar menganggapku orang asing. Tapi, aku tidak terlalu mengambil hati. Keinginan gila Rania lebih menarik perhatianku saat ini.
"Aku akan tidur di kamarku," ujar Rania. Dia hendak beranjak dari sofa. Namun, Kenzie menarik tangannya hingga membuatnya kembali duduk.
"Baiklah! Kita tidur bertiga," ujar Kenzie. Suaranya terdengar putus asa.
Aku terkesiap. Kenzie sama gilanya dengan istrinya. Mereka berdua pasangan kurang waras. Mana bisa menempatkan dua istri dalam satu tempat tidur. Aku tidak bisa membayangkan kecanggungan yang akan terjadi.
Tapi sayang, aku tidak kuasa untuk menolak. Karena Aku hanya istri kontrak. Dan wanita yang Rania sewa untuk menjadi istri suaminya.
"Baguslah kalau kamu setuju. Ayo kita tidur. Aku juga sudah mengantuk," ujar Rania. Dia membantu Kenzie berpindah ke kursi roda, kemudian berjalan menuju lift yang ada di rumah.
Hatiku risau saat lift sampai di lantai dua. Aku tidak bisa membayangkan malam yang akan kami lewati bertiga. Sekilas, aku melirik Rania dan Kenzie. Wajah mereka terlihat datar seakan ingin menyembunyikan perasaan mereka.
"Kenzie tidur di tengah saja," ujar Rania saat kami sedang mengatur posisi tidur.
Aku dan Kenzie saling melempar pandang. Nampak, raut tidak suka dalam wajah pria itu. Aku pun tidak menyukai gagasan Rania. Tapi, baik aku ataupun Kenzie tidak bisa menolak. Percuma menolak, aku yakin Rania akan tetap memaksa.
Dengan perasaan canggung, ku baringkan tubuhku di sebelah pria yang baru dua hari ini menjadi suamiku. Jantungku berdebar, gugup karena ini pertama kalinya aku tidur bersama seorang pria.
"Selamat tidur," ujar Rania. Dia membalikkan badannya memunggungi Kenzie. Terlihat Kenzie pun berbalik memeluk punggung istrinya. Meninggalkan aku sendiri dalam keresahan.
Tak lama, rasa lelah menghampiriku. Aku mulai mengantuk. Ku balikkan tubuhku memunggungi Kenzie. Beruntung, tempat tidur Kenzie luas. Jadi, walau kami tidur bertiga masih ada sisa ruang yang memisahkan aku dengan Kenzie.
"Aku mohon pergilah! Aku tidak bisa menerima kehadiranmu. Aku tidak mau ada orang lain diantara kami. Ambil apapun yang kamu inginkan, lalu pergilah. Jangan pisahkan kami."
Kesadaranku tersentak mendengar kata-kata Kenzie. Aku yakin, kata-kata itu ditujukan padaku. Hatiku teremas mendengar permintaannya.
"Tolong ... Pergilah!"