Amarah dan Kekhawatiran

1115 Kata
"Maaf nyoya ... Kami tidak tahu nyonya Rania pergi. Kami kira, nyonya berada di dalam kamar." Kata-kata Erni terngiang di telingaku. Kata-kata yang menyebabkan kegemparan di rumah Kenzie. "Bodoh kalian semua! Majikan kalian pergi tapi tidak ada satupun dari kalian yang tahu kepergiannya?" bentak Kenzie kepada orang-orang yang kini berdiri di hadapannya. "Dasar tidak berguna!" berangnya. Pria itu menatap tajam pelayan dan penjaga di rumahnya. Nampak, amarah dan kekhawatiran dalam raut wajahnya. Beberapa menit lalu, setelah mengetahui Rania tidak ada di rumah. Kenzie mengumpulkan semua orang yang ada di rumahnya. Kenzie membuat mereka berjejer hingga membentuk 3 barisan panjang yang terdiri dari 21 orang. Dia menanyai mereka tentang keberadaan Rania. Namun, tidak ada satupun dari mereka yang mengetahuinya. Termasuk dua pengawal yang selalu terlihat membuntuti Rania. "Kalian!" tunjuk Kenzie pada dua bodyguard istrinya. "Aku menugaskan kalian untuk selalu menjaga istriku dan mengikutinya kemanapun dia pergi. Tapi apa ini? Kalian lengah dan tidak tahu keberadaannya? b******k!" Amarah Kenzie meledak. Dia memukul dua pria berbadan besar itu dengan tongkat penyangga kakinya. Nampak, kedua orang itu meringis tanpa berani berucap satu patah katapun. Aku meringis melihat keadaan mereka yang mengenaskan. Bukan hanya mendapat tinju di wajah, pukulan tongkat di kaki, tapi Kenzie pun menghantam perut mereka dengan tongkat yang di pegangnya. Sungguh! Aku ngeri melihat kemarahan pria itu. Kenzie terlihat menakutkan. Hanya karena lalai menjaga istrinya, Kenzie sampai memukuli mereka berdua hingga babak belur. "Sekarang! Pergi dan cari istriku! Aku tidak peduli kalian akan mencarinya ke mana. Tapi, jangan harap aku akan membiarkan kalian hidup jika istriku tidak ditemukan!" bentak Kenzie. Suaranya menggelegar, nafasnya tersengal dan matanya memerah penuh amarah. Kenzie kehilangan kontrol, pria itu bahkan seperti lupa kalau saat ini dirinya sedang dalam keadaan sakit. Tidak. Kenzie memang tidak tidak mempedulikan dirinya, dia terlalu mengkhawatirkan istrinya. "Ba-baik tuan," sahut dua pria berbadan besar yang tadi Kenzie pukuli. Mereka pun bergegas pergi. Kenzie melirik para pelayannya. "Dengar baik-baik! Kalau sampai Rania tidak ditemukan malam ini, jangan harap kalian akan selamat. Aku akan memecat kalian tanpa pengecualian." Aku terperangah mendengar ancaman Kenzie. Hatiku iba melihat ekspresi para pelayan yang terlihat ketakutan. Mereka pasti cemas karena tidak ingin menjadi pengangguran. "Tenanglah! Siapa tahu Rania hanya pergi ke rumah saudaranya. Sebaiknya, kita tanyakan dulu keberadaan Rania pada orang-orang terdekatnya." Tidak tega melihat orang-orang yang menjadi sasaran kemarahan Kenzie, aku yang dari tadi diam pun membuka suara. Berusaha untuk menenangkan kemarahan pria itu. Namun, yang aku dapat malah bentakan. "Diam! Jangan ikut campur!" bentaknya. Kenzie menatapku dengan nyalang. "Pergi dari hadapanku! Aku tidak mau melihat wajahmu!" Aku terperanjat. Hatiku teremas mendengar kata-katanya. Kenzie mengusirku secara terang-terangan di hadapan semua para pelayannya. Dia mempermalukan aku. Rasanya, aku ingin pergi dari hadapan pria itu. Pergi jauh hingga tidak menemuinya lagi, tapi erangan kesakitan pria itu membuat niatanku untuk pergi kandas. "Kamu sedang sakit. Marah-marah hanya akan membuat kondisimu bertambah buruk," ujarku seraya mendekati Kenzie. Berusaha mengesampingkan rasa sakit karena kata-kata Kenzie sebelumnya. "Jangan sentuh! Pergi dari sini!" Kenzie mendorong tubuhku yang hendak menolongnya. Dia masih saja tidak mau menerima bantuan dari ku. Padahal, keadaan Kenzie terlihat semakin memburuk. Nampak, noda darah pada perban yang membungkus kepala Kenzie. Dan sebelah kakinya yang berdiri dengan bantuan tongkat terlihat tidak bisa menopang tubuhnya dengan baik. Kenzie kesulitan berdiri. "Baiklah, aku akan pergi. Tapi setidaknya, duduklah di sofa. Jangan berdiri seperti ini," ujarku seraya melangkah bermaksud untuk membantunya duduk. Tapi, pria itu malah menghempaskan tanganku. "Aku bisa mengurus diriku sendiri. Jangan pernah menyentuhku!" Tidak mau membuat suasana hati Kenzie semakin meradang, aku pun melangkah mundur. Menjauhi Kenzie dan membiarkan pria itu berjalan sendiri menuju sofa. "Pergilah! Siapkan makan malam. Jangan sampai tidak ada makanan saat Rania pulang nanti," titah Kenzie pada para pelayannya. "Baik tuan!" sahut pelayan Kenzie. Mereka pun pergi dari hadapan majikannya. Kenzie menatap tajam sisa penjaga yang masih berdiri di tempatnya. "Periksa rekaman CCTV! Cari tahu, jam berapa istriku pergi," titahnya lagi. "Baik Tuan." Tujuh orang penjaga pun pergi meninggalkan Kenzie. "Rania ...." lirih Kenzie. Dia mengusap wajahnya, lalu menatap meja disebelahnya. Perhatiannya tertuju pada ponsel Rania yang tergeletak di sana. Rania pergi tanpa membawa ponsel. Karena itu, baik aku ataupun Kenzie tidak bisa menelepon dan menanyakan keberadaannya saat ini. Satu-satunya orang yang mungkin bersama Rania sekarang adalah Karman. Namun, Kenzie dan aku tidak dapat menghubungi pria itu. Nomor ponselnya tidak aktif. Beberapa jam berlalu, nampak Kenzie yang masih resah mencari keberadaan istrinya. Dari tadi sore, dia duduk di sofa dan sibuk bertelpon. Kenzie bahkan tidak mengindahkan pesan dokter untuk beristirahat dengan baik. "Bagaimana? Kalian sudah menemukannya?" tanya Kenzie pada pria yang sedang di telponnya. Aku menghampiri pria itu seraya membawa nampan berisi makanan dan obat yang harus Kenzie minum. "Bodoh! Aku tidak mau tahu. Cari istriku sampai ketemu. Kerahkan seluruh anak buah kalian! Cari dia di hotel, rumah sakit, bandara atau dimana pun. Kalau perlu, susuri setiap jalanan yang mungkin Rania lalui. Aku ingin istriku kembali malam ini juga," bentak Kenzie. Tubuhku mendarat di sofa Kecil samping Kenzie duduk, lalu meletakkan nampan yang aku bawa. Sejenak, aku memperhatikan Kenzie yang masih memerintah anak buahnya untuk mencari Rania. Pria tampan itu terlihat mengerikan. Suara bentakan dan makiannya membuatku merinding. Aku salut pada Rania yang bisa bertahan hidup dengan pria bengis seperti itu. Sejujurnya, aku mulai memikirkan kembali tentang perjanjianku dengan Rania. Walaupun hanya kontrak, aku tidak mau menjadi istri dari pria kejam yang tidak segan mencelakai orang seperti Kenzie. "Makanlah! Kamu harus minum obat," ujarku saat Kenzie menutup sambungan teleponnya. Kenzie melirikku dengan tatapan tajamnya yang berhasil membuat buku kudukku meremang ketakutan. "Sudah aku bilang, pergi dari hadapanku. Aku tidak ingin melihatmu," usir Kenzie lagi. Hatiku berjengit. Sakit karena pengusiran Kenzie yang entah sudah keberapa kalinya. "Aku akan pergi setelah memastikan kamu minum obat," ujarku. Mataku membalas tatapan tajamnya. "Jangan berpikir aku ingin berada di dekatmu. Aku juga tidak mau. Tapi, aku sudah berjanji pada Rania akan menjagamu. Karena itu, aku masih berada disini untuk merawatnya." Air mataku luruh. Isakanku terdengar. Aku tidak bisa lagi membendung rasa sakit hatiku. Karena sikap Kenzie yang kasar. Tatapan Kenzie nampak bergetar. Dia menatapku dengan sorot mata datar. Aku kesulitan mengartikan tatapannya. "Aku tidak pernah ingin mendapatkan penjagaan atau perawatan darimu. Kamu tidak perlu melakukan itu. Aku hanya membutuhkan istriku, tidak yang lain." Hatiku berjengit. Sakit. Lagi-lagi, Kenzie menolakku secara terang-terangan. Aku hendak pergi dari hadapan pria itu, tapi Kenzie lebih dulu beranjak pergi dariku. Tepat ketika kami mendengar suara mobil yang terparkir di luar rumah. "Rania...." gumam Kenzie seraya tersenyum. Tanpa mempedulikan kakinya yang terluka, Kenzie berjalan menghampiri Rania yang batu memasuki rumah. Wanita itu nampak berjalan dengan tergesa-gesa. "Kenzie? Kenapa kamu pulang tanpa memberitahuku? Aku tadi mencarimu ke rumah sakit," ujar Rania seraya menolong Kenzie yang hampir jatuh. Kenzie memeluk Rania. "Syukurlah kamu pulang, sayang. Aku merindukanmu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN