Keinginan Kenzie tidak dapat dicegah. Sebanyak apapun aku membujuknya agar menetap di rumah sakit, pria itu tetap bersikeras untuk pulang. Aku bahkan sampai memanggil dokter untuk membujuk Kenzie agar tetap mau di rawat.
"Saya tetap akan pulang dokter. Silahkan tuliskan resep dan tetapkan jadwal kontrol. Saya akan berobat jalan," tutur Kenzie. Tetap bersikeras pada keinginannya untuk pulang.
Dokter Hasan berpaling padaku seakan meminta pendapat. Namun, aku hanya mengedikkan bahu. Aku sudah lelah membujuk pria itu. Jika dokter pun tidak bisa membujuk Kenzie, maka aku pun menyerah. Percuma memaksa pria keras kepala yang tidak peduli pada kesehatannya sendiri.
"Baiklah kalau Anda bersikeras untuk pulang. Saya akan meresepkan obat. Tapi, anda harus istirahat dengan benar. Demi kesembuhan Anda sendiri," tutur dokter Hasan. Menyerah pada keinginan Kenzie.
Tidak berbeda jauh denganku yang kesal pada Kenzie, pria paruh bayi itu pun terlihat kesal kepadanya. Mungkin, Kenzie satu-satunya pasien yang berhasil membuat dokter Hasan mati kutu karena tidak mempan di bujuk, bahkan dengan iming-iming kesehatan dirinya sekalipun.
"Terima kasih! Silahkan berikan resep itu pada wanita di sana. Dia yang akan menebusnya," sahut Kenzie seraya menatap kepadaku.
Hatiku berjengit mendengar sebutan yang kenzie tujukan kepadaku. Kata Wanita terdengar seakan aku ini orang asing, bukan istrinya.
Sekali lagi, sisi gelap batinku mencibir. Mengingatkan tentang hubunganku dengan Kenzie. Kami memang orang asing, kami baru saling mengenal selama dua hari.
Tapi, kata 'wanita' tetap terdengar keterlaluan. Mengingat statusku yang sudah menjadi istrinya. Walaupun aku hanya istri sementara saja.
"Baiklah! Kalau begitu, silahkan ikut dengan saya. Ada beberapa hal yang harus anda tandatangani sebelum membawa pasien pulang," ujar dokter Hasan kepadaku.
"Baik dok," sahutku menimpali perkataan dokter.
Aku pun beranjak keluar dari ruang rawat kenzie, mengikuti dokter Hasan yang menuntunku ke ruangannya.
Sebelum menutup pintu kamar, mataku melirik pria keras kepala yang tengah duduk di atas ranjang. Raut wajah Kenzie menyimpan kekhawatiran. Dia pun nampak termenung seraya menatap keluar jendela.
Rania, wanita itu berhasil mengambil alih perhatian Kenzie. Dia pusat kekhawatiran Kenzie saat ini. Rania membuat kenzie merasakan cinta buta hingga tidak peduli pada dirinya sendiri.
Hah! Tidak akan mudah mengalihkan perhatian Kenzie dari Rania. Dan jika aku tetap bersikeras menginginkan hati pria itu, maka yang akan aku hanya kekosongan. Aku yakin itu.
"Ini resep obat yang harus anda tebus. Kemudian, ini beberapa berkas yang harus anda tandatangani."
Dokter Hasan memberikan secarik kertas kepadaku, sedang perawat yang berdiri di sampingnya memberikan sebuah map.
Aku membaca tulisan dokter Hasan, bibirku berkedut melihat tulisan yang sudah tidak asing bagiku. Bentuk tulisan dokter itu seperti sandi rumput, tidak jauh berbeda dengan tulisan dokter di tempatku bekerja.
"Dengan menandatangani berkas ini, anda menyetujui kalau kami tidak ada sangkut-pautnya dengan kesehatan pasien setelah di bawa pergi dari rumah sakit. Jadi, tolong pikirkan baik-baik sebelum menandatanganinya. Saya harap, anda bisa membujuk tuan Kenzie agar tetap mau di rawat," tutur dokter Hasan saat melihatku akan menandatangani surat perjanjian kepulangan pasien.
Aku meringis. "Bukan hal yang mudah membujuk Kenzie dokter. Hatinya terlalu keras." Aku mencibir suamiku sendiri di depan dokter. Mengatakan kesimpulan tentang sikap Kenzie setelah mengenalnya selama dua hari ini.
Selesai menyelesaikan seluruh administrasi kepulangan Kenzie. Aku kembali kamar rawat pria itu setelah menebus obat. Nampak, Kenzie yang masih termenung sambil menatap ke luar jendela.
"Apa tidak sebaiknya kita memberitahu Rania tentang kepulanganmu? Dia akan kaget jika tiba-tiba melihatmu berada di rumah."
Tatapan Kenzie beralih padaku. Raut wajahnya terlihat datar. "Tidak perlu banyak bicara. Panggilkan santo untuk membantuku turun dari ranjang ini."
Lagi-lagi, Kenzie memerintahku. Pria itu memperlakukanku seakan aku bawahannya saja. Andai pria itu tidak sedang sakit, aku mungkin tidak sudi menuruti permintaannya.
"Baik lah!"
Aku mengambil ponsel di atas nakas, kemudian menelepon Santo dan memintanya datang ke kamar rawat Kenzie. Tak lama setelah aku menelepon, santo datang. Kenzie pun segera meminta pria paruh baya itu untuk berpindah ke kursi roda.
"Tidak! Jangan sentuh aku," ujar Kenzie saat aku hendak menolongnya. "Menjauh dariku," tegasnya padaku.
Hatiku berdenyut karena penolakannya. Rasa sakit dan perih pun mulai menyusup menghiasi rongga dadaku. Kenzie tidak pernah menginginkanku.
Santo mendorong kursi roda yang Kenzie gunakan. Dia pun membantu Kenzie menaiki mobil. Sepanjang perjalanan. Kesunyian menghampiri kami. Tidak ada satupun dariku atau Kenzie yang bicara. Kami merasa nyaman dengan keheningan yang terjadi.
"Sial! Kenapa Rania tidak menjawab."
Aku terlonjak saat mendengar umpatan Kenzie. Nampak, wajah pria itu semakin terlihat cemas.
"Coba kamu hubungi Rania. Siapa tahu dia menjawab telpon darimu," pinta Kenzie.
Kalimat pertama yang keluar dari mulutnya setelah mengacuhkan aku hampir satu jam adalah permintaannya untuk menghubungi Rania. Kenzie membuatku kesal hingga ke ubun-ubun. Dia terlalu berlaku sewenang-wenang kepadaku.
"Oke."
Sisi gelap batinku merutuk mulutku yang malah mengiyakan permintaan pria itu. Bahkan, tanganku pun bergerak sendiri untuk mengambil ponsel.
Aku mencibir diriku sendiri. Dalam hati merutuk Kenzie, tapi pada kenyataannya aku tetap saja melakukan permintaannya.
"Tidak diangkat," ujar ku seraya melirik Kenzie yang tengah menatap lekat ke arahku.
Wajah pria itu terlihat panik. "Santo, melaju lebih cepat lagi! Aku ingin segera cepat sampai di rumah." Santo mengangguk. Dia pun menambah kecepatan mobilnya.
Dua puluh menit kemudian. Aku dan Kenzie tiba di rumah. Santo membantu Kenzie turun dari mobil, kemudian mendorong kursi rodanya memasuki rumah.
Aku mengernyit. Menyadari mobil Rania tidak ada di pekarangan rumah. Tanpa mengatakan apapun pada Kenzie, aku berjalan mengekori pria itu.
"Rania?" panggil Kenzie begitu memasuki ruang tengah.
Nampak, keadaan rumah yang sepi dan sunyi. Seperti tidak ada kehidupan di dalamnya.
"Rania ... Aku pulang," panggil Kenzi lagi. Suaranya menggelegar memenuhi penjuru rumah.
Karena tidak ada jawaban dari Rania. Kenzie hendak mencari Rania ke kamarnya. Namun, aku lebih dulu mencegahnya.
"Biar aku saja yang mencari Rania ke kamarnya," ujarku.
Tanpa menunggu persetujuan dari kenzie, aku berjalan menuju kamar Rania. Pintu kamar itu tertutup rapat. Aku yakin Rania sedang tidur, karena itu dia tidak mendengar panggilan suaminya.
Sekilas, mataku melirik jam di tangan. Waktu menunjukkan pukul 15.30. Mengingat Rania yang pulang dari rumah sakit pagi tadi, rasanya tidak mungkin wanita itu masih tidur sampai sore begini.
"Rania ..." panggilku seraya mengetuk pintu kamar.
Berulang kali aku mengetuk pintu dan memanggil nama wanita itu, Rania tidak kunjung membuka pintu kamarnya. Aku pun merasa cemas, segera kubuka pintu kamar Rania yang ternyata tidak terkunci.
"Rania ..." panggilku. Namun tidak kunjung ada sahutan.
Tatapanku tertuju pada tempat tidur yang masih terlihat rapi. Sepertinya, Rania tidak menggunakan tempat tidur itu. Aku pun bertugas mencari Rania ke kamar mandi, namun Rania tidak ada.
"Tunggu! Apa Rania belum pulang? Tapi, seharusnya ya sudah sampai dari pagi tadi," gumamku.
"Mana Rania?"
Aku terlonjak saat mendengar suara Kenzie yang sudah berada dibelakangku. Aku menoleh. Nampak, pria itu kebingungan mencari keberadaan istrinya.
"Ken ... sepertinya Rania tidak berada di rumah. Aku sudah mencarinya tapi tidak menemukannya," cicitku.
"Diam dan pergilah! Tanyakan pada Erni kemana istriku pergi!" bentak Kenzie.
Aku terlonjak. Tidak mau mendengar bentakan Kenzie lagi, aku pun pergi keluar dari kamar Rania.
"Dasar pria menyebalkan! Seenaknya saja memerintahku !" gerutuku seraya berjalan menuju dapur.