Aku kembali masuk ke dalam ruang rawat Kenzie. Terlihat Rania yang sedang membantu Kenzie minum. Batinku berdecih melihatnya.
"Kenzie hanya haus jika ada Rania saja. Padahal, tadi aku juga menawarinya minum namun pria itu malah menolak. Kenzie menyebalkan!" cemoohku dalam hati.
Aku berjalan menghampiri mereka berdua. Kemudian berdiri di samping Kenzie, bersebrangan dengan Rania. Sekilas, ku lirik kedua mertuaku yang sedang duduk di sofa. Mereka terlihat membicarakan sesuatu, tapi aku tidak menghiraukannya.
Tatapanku tertuju pada Kenzie yang tengah memperhatikan Rania. Pria itu, tidak sedikitpun melepaskan perhatiannya dari Rania. Walau di ruangan ini ada aku dan orang tuanya. Tapi, tatapan mata Kenzie tetap tertuju pada istrinya.
"Rea ... bisakah kamu menemani Kenzie? Rania terlihat lelah, sepertinya dia butuh istirahat."
Aku menoleh pada ibu mertuaku yang berbicara seraya berjalan menghampiriku. Tidak masalah bagiku jika harus menemani Kenzie. Lagi pula, Rania memang terlihat kelelahan. Wajahnya nampak pucat.
Tapi yang aku herankan, kenapa tiba-tiba ibu mertuaku perhatian pada Rania? Padahal, tadi dia memperlihatkan rasa tidak sukanya dengan kentara.
"Biar Rania disini saja. Kenzie akan meminta perawat menyediakan satu tempat tidur lagi."
Belum sempat aku menjawab, Kenzie sudah lebih dulu menimpali. Aku pun diam, tidak berniat menjawab permintaan ibu mertuaku. Belum apa-apa, Kenzie sudah menolakku.
"Orang sakit tidak bisa merawat orang sakit. Nanti bukannya kamu sembuh, malah keadaanmu akan bertambah parah," tutur ibu mertuaku. Kemudian tatapannya tertuju pada Rania. "Rania ... kamu pulang saja! Biar Rea yang menjaga suamimu."
"Tapi mah-."
"Jangan membangkang Kenzie. Mamah tahu yang terbaik untukmu," tegas ibu mertuaku dengan setengah membentak.
Rania mengusap pundak suaminya. "Mamah benar. Aku sedang tidak enak badan. Kamu tahukan aku tidak suka rumah sakit, semalam aku tidak bisa tidur. Aku akan kembali setelah keadaanku membaik."
Kenzie terlihat ragu. Pria itu seperti enggan membiarkan Rania pergi. "Apa tidak sebaiknya kamu menemui dokter dulu? Aku akan meminta dokter kemari. Sepertinya kamu akan demam," ujar Kenzie. Dia begitu perhatian pada istrinya sampai bisa menebak keadaannya.
Rania menggeleng. "istirahat di rumah saja sudah cukup."
Sesuai dugaanku, Rania pasti menolak. Dia tidak pernah menghormati orang yang memperhatikannya. Aku merasa kasihan pada Kenzie.
"Kalau begitu, aku pulang," ujar Rania seraya mengambil tas dari atas nakas. Wanita itu menatap kearahku. "Rea ... jam sembilan dan jam sepuluh Kenzie harus minum obat, kemudian jam dua juga. Dan tolong panggil perawat untuk mengganti perbannya."
"Baik," sahutku.
"Terima kasih," ucap Rania. Wanita itu melepaskan pegangan tangan Kenzie yang dari tadi menggenggam tangan kirinya. "Aku pulang."
Tanpa malu, Kenzie menarik tubuh istrinya kemudian mengecup keningnya. Aku memalingkan wajah, begitu pun dengan ibu mertuaku. Kenzie bertindak seakan hanya dirinya dan Rania saja yang ada di ruangan ini. Dia tida mempedulikan kami.
"Memalukan!" cibir ibu mertuaku.
Sekilas, ku lirik ayah mertuaku yang duduk di Sofa. Dia nampak sibuk dengan ponselnya. Kenzie dan ayahnya benar-benar mirip, mereka sama-sama tidak peduli dengan sekitarnya. Terlalu acuh dan hanya fokus pada diri sendiri
Aku mengantar Rania. Begitu membuka pintu kamar, dua pengawal yang selalu membuntuti Rania segera menghampirinya. Mereka menunduk hormat. Rania pun hanya tersenyum tipis.
"Kita pulang," ujarnya pada kedua pengawalnya.
"Baik, nyonya!" sahut dua pria berjas hitam itu serempak.
Melihat Rania dan Kedua pengawalnya mengingatkan aku pada wanita-wanita kaya dalam film drama yang sering aku tonton. Wanita yang selalu mendapatkan pengawalan kemana pun mereka pergi. Sungguh tidak nyaman! Aku merasa kasihan pada wanita bernasib seperti itu.
"Tolong jaga Kenzie. Aku pulang dulu." Suara Rania mengagetkanku. Menyentak ku dari lamunan. Aku pun mengangguk.
"Biar aku antar," ujarku. Bermaksud mengantar Rania sampai parkiran. Namun, wanita itu malah menggelengkan kepalanya.
"Tidak perlu. Kembalilah ke dalam. Ada mereka yang menemaniku," tutur Rania seraya menunjuk bodyguardnya.
"Baiklah! Kalau begitu."
Suaraku terdengar melemah. Padahal, aku benar-benar ingin mengantarnya. Aku khawatir melihat wajah Rania yang terlihat semakin pucat.
"Aku akan menjaga Kenzie dengan baik," ujarku. Ingin membuat Rania tenang agar dia beristirahat tanpa mencemaskan suaminya.
"Aku tahu, terima kasih!"
Rania pergi bersama kedua bodyguardnya. Aku pun masih berdiri di depan kamar Kenzie. Memperhatikan kepergian Rania hingga punggungnya tidak terlihat lagi.
"Rea ... kami harus pergi sekarang. Mamah titip Kenzie, tolong jaga dia."
Aku tersentak mendengar suara ibu mertuaku. Kaget karena dia sudah berada di sampingku. "Baik mah."
"Terima kasih sayang. Kamu memang istri yang baik," pujinya.
Aku mengernyit. Baru beberapa jam dia mengenalku, tapi sudah melakukan penilaian. Aku rasa, kali ini aku harus menahan diri untuk tidak berbesar kepala. Karena sejujurnya, aku merasa tidak nyaman mendengar pujiannya.
"Oh ya! Kalau ada apa-apa tolong hubungi kami. Mamah sudah mengirim pesan pada ponselmu," ujar ibu mertuaku lagi.
Aku pun mengangguk. "Baik mah!"
Ayah dan ibu mertuaku pergi. Karena cemas dengan Kenzie yang sendirian, aku bergegas masuk ke dalam kamar. Nampak, pria itu tengah merebahkan punggungnya ke atas ranjang.
Sejenak, ku amati wajah Kenzie yang tengah terpejam. Dia benar-benar tampan. Alis tebal, hidung mancung dan rahangnya yang kokoh membuatku tanpa sadar terhanyut dalam ketampanannya hingga aku tidak sadar pria itu membuka mata.
"Jangan mengagumiku! Aku tidak suka diperhatikan wanita lain selain Rania," ujar Kenzie.
Suaranya membuatku terlonjak. Kaget dan malu dalam waktu bersamaan.
"Aku tidak mengagumimu. Jangan terlalu percaya diri," tukas ku seraya memalingkan muka. Menyembunyikan wajahku yang aku yakin sudah berubah merah.
"Pergilah ke bagian administrasi. Urus kepulanganku. Aku ingin pulang sekarang," pinta Kenzie.
Aku mendelik. Menatap pria itu dengan tajam. "Pulang? Kondisimu masih parah begitu mana bisa pulang? Jangan melantur!"
Kenzie balas menatapku dengan tajam. "Aku tahu apa yang terbaik untuk diriku sendiri. Pergi kebagian administrasi dan urus kepulanganku," titahnya. Tidak mau dibantah.
Ku perhatikan wajah Kenzie yang terlihat datar. Berkebalikan dengan sorot matanya yang menyimpan ke khawatiran. Aku mendengus saat menyadari alasan dibalik keinginan pria itu untuk pulang.
"Kamu mencemaskan Rania?" tebakku.
Kenzie memalingkan wajah. Menatap keluar jendela. "Keadaannya tidak baik. Aku khawatir sakitnya bertambah parah. Tidak ada siapapun di rumah yang bisa menjaganya."
Hatiku teremas mendengar jawaban Kenzie. Dia sama sekali tidak mengelak tentang rasa khawatirnya pada Rania.
"Ada Erni yang akan merawat Rania. Lagi pula, Rania bilang dia hanya butuh istirahat saja. Kamu tidak bisa pulang sekarang. Kondisimu masih belum baik. Lihat keadaanmu! Untuk berjalan saja kamu tidak bisa," ujarku. Mencoba menyadarkan Kenzie tentang keadaanya yang lebih mengkhawatirkan dari pada Rania.
Kenzie terdiam. Dia melirik kakinya yang di pasangi gift. "Sial!" umpatnya. "Seharusnya aku memastikan kakiku selamat sebelum menabrakkan mobil itu."
Ah! Benar dugaanku. Kenzie memang sengaja menabrakkan mobilnya. Tapi kenapa?