Orang tua Kenzie menoleh. Mereka tersenyum lebar kepadaku. Wanita paruh baya yang tadi aku lihat memarahi Rania, berjalan menghampiriku lalu memelukku dengan erat. Membuatku hampir tidak bisa bernapas.
"Akhirnya kita bertemu Nak. Mamah senang bisa melihatmu secara langsung," ujar wanita itu seraya melepaskan pelukannya kemudian menatapku dengan senyum hangatnya.
Aku terkesiap mendengar perkataan wanita itu. Pelukan hangatnya membuat perasaanku nyaman. Wanita itu mengingatkan aku pada ibuku.
Sudah lama sekali, sejak terakhir kali aku mendapatkan pelukan hangat dari seorang ibu. Mataku berkaca-kaca mengingat mendiang mamah. Tanpa sadar, setetes air bening meluncur dari pelupuk mataku.
"Hey! Kenapa kamu menangis? Kamu pasti kaget bertemu kami," tebak wanita itu seraya menghapus air mata yang membasahi pipiku.
"Maafkan saya nyonya. Saya hanya teringat mendiang ibu saya," ucapku seraya menundukkan wajah menghapus air mata yang kembali turun.
Aku merutuki kecengenganku hari ini, biasanya aku tidak mudah menangis. Tapi, hatiku selalu sedih setiap kali mengingat mendiang ibuku.
Wanita itu meraih wajahku. Dia menatapku dengan tatapan yang sulit aku artikan. Wanita itu seperti mengasihaniku, tapi juga nampak rasa sayang dalam sorot matanya.
Aku mencibir diriku yang terlalu percaya diri dengan penafsiranku. Mana mungkin ibu Kenzie langsung merasakan sayang pada pertemuan pertamanya denganku.
"Tidak perlu bersedih. Ada kami yang akan menjadi orang tuamu. Mulai hari ini, panggil aku mamah. Anggap aku sebagai ibumu sendiri," ujar wanita itu. Hatiku menghangat mendengar ucapannya.
"Istriku benar. Mulai sekarang, kamu adalah anak kami. Jadi, anggap kami sebagai orang tuamu."
Pria paruh baya yang aku yakini sebagai ayah Kenzie mengusap kepalaku. Membuat air mataku luruh tak terbendung. Sudah lama sekali, sejak terakhir kali aku mendapatkan belaian dari seorang ayah. Tangisku pun pecah dihadapan mereka.
"Terima kasih," ujarku.
Sungguh! Aku tidak percaya dengan hal yang aku alami saat ini. Kedua orang tua Kenzie menerimaku dengan baik. Padahal, aku hanya istri kontrak putra mereka. Aku sangat bersyukur, mulai hari ini hidupku tidak akan kesepian lagi. Aku tidak sendirian. Ada orang-orang yang menganggapku sebagai keluarga.
"Sudah nak. Tidak perlu menangis. Kamu membuat mamah sedih," ucap wanita itu. Suaranya terdengar bergetar. Nampak, air mata meluncur dari pelupuk matanya.
"Rania ... Aku haus."
Kesadaran ku tersentak saat mendengar suara berat Kenzie. Karena keharuan yang aku rasakan, Aku sempat lupa pada Kenzie dan Rania. Hatiku mencelos melihat tatapan Rania yang tengah memperhatikan aku dan kedua mertuanya.
"Rania ... Aku haus," ujar Kenzie lagi, dengan suara yang lebih keras.
Rania terperanjat. Nampak kaget mendengar panggilan dari suaminya. Dia pun buru-buru menghampiri Kenzie.
"Aku ambilkan dulu," ucap Rania. Dia meraih gelas dari atas nakas. Namun, suara pecahan terdengar.
Prang!
Rania menjatuhkan gelas yang dipegangnya. Nampak, tangan Rania bergetar.
"Ma-maaf! Aku tidak sengaja" ucapnya seraya berjongkok. Hendak membereskan pecahan gelas yang dijatuhkannya.
Buru-buru, aku menghampiri Rania untuk membantunya.
"Tidak perlu! Biar aku saja. Nanti kamu terluka," ujar Rania. Melarangku yang hendak mengambil pecahan beling di lantai.
"Dasar ceroboh! Mengambil minum untuk suami saja tidak becus," ujar ibu mertuaku. Aku mendongak menatap Rania. Nampak, air mata menggenang memenuhi pelupuk matanya.
"Rea ... tolong ambilkan minum untuk suamimu nak," pinta ibu mertuaku dengan suara lembut.
Aku menoleh. Melirik ibu mertuaku yang tengah berdiri di samping putranya. Sekilas, aku melirik Rania. Dia tersenyum seraya menatapku dengan wajah datarnya.
"Tolong ambilkan! Aku harus membersihkan pecahan gelas," pinta Rania. Suaranya terdengar bergetar.
"Baiklah!" ucapku. Kemudian bangkit, lalu berjalan menuju dispenser.
"Rania ... Biarkan saja pecahan beling itu, biar nanti perawat yang membereskannya."
Aku menoleh saat mendengar suara Kenzie yang berbicara pada istrinya. Nampak, raut kekhawatiran dalam wajah pria itu.
"Tidak apa-apa. Aku takut ada orang yang akan celaka jika tidak buru-buru dibersihkan," sahut Rania. Wanita itu berdiri, lalu berjalan menuju tempat sampah. Dia pun keluar dari ruang rawat Kenzie.
"Mamah tidak habis pikir dengan istri kamu. Tidak ada satupun tugas yang bisa dia kerjakan dengan benar. Memberi anak tidak bisa, mengurus kamu pun tidak becus. Mamah heran, ada wanita tidak berguna seperti itu."
"Cukup mah! Jangan bicara seperti itu tentang Rania. Dia hanya melakukan kesalahan kecil. Jangan terlalu menyalahkannya," bela Kenzie.
Aku meringis mendengar perdebatan ibu dan anak itu. Melihat air yang aku tampung sudah penuh. Aku pun segera menghampiri Kenzie.
"Mamah tidak menyalahkan. Mamah hanya mengatakan kenyataan. Dia memang tidak berguna, tidak bisa memberimu anak. Untuk ada Rea yang bersedia menjadi istri keduamu."
Aku terkesiap saat mendengar namaku disebut. Tatapanku tertuju pada Kenzie. Nampak, dia menatapku dengan tatapan tajamnya. Sepertinya dia tidak suka mendengar ibunya memujiku.
"Ini air minumnya," ujarku seraya memberikan gelas yang aku pegang pada Kenzie.
Bukannya menerima gelas yang aku sodorkan. Kenzie malah memalingkan wajahnya dariku. Tatapannya tertuju pada pintu ruang rawatnya. Dia pasti sedang menunggu Rania.
"Minumlah! Kamu bilang tadi haus," ujar ibu mertuaku dengan nada suara yang lebih lembut. Dia mengelus kepala putranya yang terlilit perban.
"Tadi haus, sekarang tidak," lirih Kenzie. Tanpa mengalihkan pandangannya.
"Kalau begitu, aku simpan di sini supaya kamu bisa meraihnya jika haus lagi," ucapku seraya menyimpan gelas yang aku pegang ke atas nakas.
"Terima kasih, nak!" ujar ibu mertuaku.
Aku tersenyum ramah padanya. Sekilas, aku melirik Kenzie. Pria itu sama sekali tidak menghiraukan ku. Dia terus menatap pintu kamar tanpa berkedip. Aku pun bertanya-tanya kenapa Rania pergi lama sekali. Sebenarnya, dia pergi kemana.
Senyum di wajah Kenzie muncul saat melihat Rania memasuki kamar. Nampak, Rania membawa sapu dan pengki ditangannya. Aku baru paham, ternyata dia pergi mencari kedua benda itu.
"Sapu yang bersih. Jangan sampai orang lain celaka karena perbuatanmu," ujar ibu Kenzie. Nada suaranya terdengar ketus.
"Iya mah," sahut Rania.
Aku memperhatikan Rania yang sedang menyapu lantai. Aku kagum kepadanya. Walaupun Ibu mertuanya memperlihatkan rasa tidak sukanya dengan sangat kentara, tapi Rania tetap terlihat tenang. Wajahnya yang cantik terus dihiasi senyum seakan ingin menutupi wajahnya yang kadang berekspresi datar.
"Biar aku saja yang buang," ujarku saat Rania hendak pergi membuang serpihan gelas. Aku pun mengambil sapu dan pengki yang Rania pegang tanpa sempat memberinya waktu untuk menolak.
"Terima kasih."
Lagi, aku melihat Rania menampakkan senyumnya. Aku pun balas tersenyum sebagai jawaban atas ucapan terima kasihnya.
"Kamu harus bersyukur Rania. Mempunyai madu yang baik seperti Rea. Dia tidak hanya menutupi kekuranganmu. Tapi, dia juga rela menjadi istri kedua suamimu."
Hatiku berjengit. 'Rela? Siapa yang rela menjadi istri kedua? Kalau bukan karena hutang papah. Aku tidak mau menikah dengan suami orang,' batinku.
Aku pun buru-buru keluar dari ruang rawat Kenzie. Tidak mau mendengar ibu mertuaku, yang entah mengapa selalu menyanjungku. Membuatku merasa tidak enak hati pada Rania.
Kepalaku melirik ke kanan dan kiri mencari tempat sapu dan pengki. Aku tertegun saat melirik ke samping kiriku. "Ternyata tempat sapu di sini. Lalu, kenapa tadi Rania pergi lama sekali?"
Sekilas, aku melirik ke pintu kamar yang hanya berjarak beberapa langkah dari tempatku berdiri. Terdengar suara ibu mertuaku yang tengah berbicara pada Rania dan Kenzie. Suaranya terdengar sangat jelas.
"Apa tadi Rania mendengar semua ucapan mamah?"