Bertemu Mertua

1011 Kata
Pagi ini, aku sarapan sendirian. Walau banyak makanan lezat di hadapanku, tapi aku menyantapnya dengan tidak bersemangat. Aku teringat Rania dan Kenzie, rumah ini sepi tanpa kehadiran mereka. Selesai sarapan, aku bersiap pergi ke rumah sakit. Walau aku tahu Rania sudah ada untuk merawat Kenzie, tapi aku tetap ingin menjenguk pria itu. Aku mencemaskan keadaannya. Semalam, aku bermimpi buruk. Bayang-bayang saat Kenzie menabrakkan mobilnya ke pembatas jalan menghantui tidurku. Membuatku mau tidak mau peduli pada pria itu. "Tolong antar saya ke rumah sakit," pintaku pada Santo, supir yang Rania sediakan untukku. "Baik nyonya. Saya akan memanaskan mobil lebih dulu," sahut pria paruh itu. Kemudian pergi meninggalkan aku yang masih berdiri di teras rumah. Ku lirik jam di tanganku. Waktu menunjukkan pukul 07.30. Setelah menjenguk Kenzie, aku berencana pergi ke rumah sakit tempatku bekerja. Aku ingin menemui dokter kandungan Rania. Ingin mendiskusikan tentang embrio Rania yang mungkin bisa berkembang dalam rahimku. Aku tidak mau mengulur waktu lagi, semakin cepat aku hamil, semakin aku pergi dari kehidupan Rania dan kenzie. "Mari nyonya!" Suara Santo mengagetkanku. Menyentak ku dari lamunan yang entah sejak kapan menghinggapiku. "Terima kasih, pak!" ucapku seraya berjalan menuju mobil. Kemudian, Santo menutup pintu mobil dengan hati-hati. Mobil yang dibawa Santo pun melaju. Pergi meninggalkan rumah besar yang sejak kemarin sudah menjadi tempat tinggal baruku. Sejenak, ku amati mobil mewah yang membawaku. Aku merasa nyaman berada dalam mobil ini, tidak kepanasan dan tidak juga harus berdesakan. Membuatku kembali teringat dengan kehidupan mewahku yang sebelumnya. 'Apa aku mampu meninggalkan semua kemewahan ini setelah melahirkan anak untuk Kenzie dan Rania?' Sisi gelapku berbisik. Mempengaruhiku untuk mempertahankan kemewahan yang saat ini aku nikmati. Tidak mudah menjadi kaya dalam waktu singkat, yang perlu aku lakukan hanya bertahan di samping Kenzie. 'Kesempatan hanya datang satu kali. Jangan sampai kamu menyesal seumur hidup,' batinku kembali berbicara. Merayuku dengan kemewahan yang selama ini aku dambakan. 'Ingat! Kenzie pria beristri. Bagaimana pun keadaan rumah tangganya, kamu tetap tidak boleh menjadi orang ketiga.' Sisi batinku yang baik mengingatkan. Membuat sisi jahat dan baikku berperang dalam Kepalaku. "Cukup hentikan!" gumamku seraya menggelengkan kepala. Merasa bodoh dengan diriku sendiri. "Saat ini, aku harus fokus untuk hamil. Bukan meributkan harta dan kemewahan," ujarku pada diriku sendiri. "Apa ada yang salah nyonya?" Aku mengalihkan perhatianku pada Santo. Terlihat, pria paruh baya itu sedang memperhatikanku melalui kaca spion. Wajahku meringis, mungkin pria itu menganggapku gila karena dari tadi aku berbicara sendirian. "Tidak apa-apa. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu," ujarku beralasan. Tidak mau di pandang aneh oleh supir pribadiku sendiri. Aku bernapas lega saat melihat Santo kembali mengalihkan perhatiannya pada jalanan. 'Bodoh! Seharusnya kalian bersikap tenang. Hampir saja, aku dianggap gila karena kalian,' gerutuku pada kedua sisi batinku yang selalu bertentangan. "Kita sudah sampai nyonya, silahkan!"Santo membukakan pintu mobil. Ku langkahkan kaki menuruni mobil. Kemudian meminta Santo untuk tetap menunggu di parkiran. Aku berjalan masuk menuju rumah sakit, lalu pergi menaiki lift untuk sampai di lantai 6, tempat Kenzie di rawat. Sebelumnya, Rania sudah memberitahuku letak kamar tempat Kenzie dirawat melalui pesan teks yang dia kirimkan. "Semua ini gara-gara kamu! Putraku tidak akan celaka kalau bukan karena mu." Begitu sampai di lorong yang menuju kamar kenzie. Langkahku terhenti, ketika melihat seorang wanita paruh baya yang sedang memarahi Rania. Nampak, Rania tertunduk di hadapan wanita itu. "Kamu tahu apa yang Alvin bilang? Dia bilang Kenzie sendiri yang menabrakkan mobilnya ke pembatas jalan. Kejadian itu bukan kecelakaan," berang wanita itu seraya mencengkram bahu Rania. Aku terpaku melihat kemarahan wanita itu. Dia menyalahkan Rania atas kecelakaan yang menimpa Kenzie. Mataku menatap Rania yang tergukguk menangis di hadapan wanita itu. Aku merasa iba kepadanya. "Sudah mah! Nanti Kenzie bisa dengar. Lebih baik, kita temui Kenzie lebih dulu," tutur pria paruh baya yang aku yakini adalah ayah Kenzie. Wajah mereka mirip, karena itu aku bisa menebak dengan mudah hubungan pria itu dengan kenzie. "Mamah tidak mau tahu. Pikirkan cara untuk pergi. Sadarlah! Kamu hanya membuat Kenzie menderita saja." Aku mengernyit mendengar penuturan wanita itu. Tidak paham dengan maksud perkataannya pada Rania. Aku hanya bisa menebak, hubungan Rania dengan ibu mertuanya tidaklah baik. Setelah dua orang yang aku anggap sebagai orang tua Kenzie meninggalkan Rania. Aku menghampirinya. Tangisnya semakin terdengar. Membuat perasanku pilu. "Kamu kenapa?" tanyaku seraya menyentuh bahu Rania yang membelakangiku. Tiba-tiba, tangis Rania berhenti. Tangannya bergerak ke depan wajah. Kemudian, Rania berbalik menghadapku. Nampak, senyum manis tersungging di bibirnya. "Rea ... Kamu sudah sampai," ujarnya seakan tidak pernah terjadi apa-apa. Rania benar-benar ahli menyembunyikan emosinya. "Kamu menangis?" tanyaku. "Menangis?" Rania mengernyit, kemudian bibirnya tersenyum lebar. Tangannya mengusap-usap hidung. "Aku tidak menangis. Hanya sedikit meler karena semalam kedinginan. Aku lupa mematikan AC saat tidur," ujarnya beralasan. Tentu saja aku tidak percaya. Aku hendak memberondongnya dengan banyak pertanyaan. Tapi, Rania lebih dulu berbicara. "Kebetulan kamu disini. Ayo masuk! Aku kenalkan dengan mertuamu. Mereka baru saja sampai," tutur Rania mengagetkanku. Aku kira, Rania tidak akan pernah memperkenalkan mertuanya kepadaku. Dalam perjanjian juga tidak disebutkan kalau aku harus mengenal orang tua Kenzie. "Mertua? Haruskah aku menemui mereka? Bukankah lebih baik mereka tidak mengetahui apa-apa tentangku?" Rania tersenyum tipis. "Mereka orang tua Kenzie. Tentu kamu harus bertemu mereka. Ayo! Mereka baik, tidak akan menggigit." Aku meringis mendengar ucapan Rania. 'Kalau memang mereka baik, lalu kenapa tadi kamu menangis,' cibirku dalam hati. "Rania ... Aku belum siap bertemu dengan mereka. Lagi pula, kamu tidak pernah mengatakan apapun tentang orang tua Kenzie. Aku pikir, sebaiknya mereka tidak perlu tahu tentangku. Lagi pula, aku hanya istri kontrak Kenzie saja," ujarku. Menolak ajakan Rania. Rasanya, dadaku kini berdegup kencang. Membayangkan akan bertemu dengan mertua membuat perasaanku tidak karuan. Aku gugup. Aku belum siap untuk menjadi seorang menantu. Karena itu, menyembunyikan diri dari orang tua Kenzie adalah keputusan terbaik untukku. "Kamu istri Kenzie. Kamu berhak mengenal mertuamu. Lagi pula, mereka juga ingin bertemu denganmu. Aku sudah menceritakan tentangmu kepada mereka. Jadi, kamu tidak perlu takut. Temui mereka dan perkenalkan dirimu. Biarkan mereka mengenalmu," timpal Rania. Aku hendak menolak. Namun, Rania lebih dulu menarik tanganku, lalu menyeretku masuk ke dalam ruang rawat Kenzie. "Mah, pah! Perkenalkan ini, Rea. Istri kedua Kenzie." Aku terkesiap mendengar Rania yang langsung memperkenalkan aku kepada mertuanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN