Kenzie di bawa ke dalam ambulans. Dia terluka parah dengan kepala dan kakinya yang terus mengeluarkan darah. Pria itu tidak sadarkan diri saat dibawa ke rumah sakit. Dia pingsan diperjalanan.
Tepat sebelum pingsan. Kenzie mengatakan satu permintaan padaku. Permintaan yang membuatku semakin yakin kalau pria itu memang sengaja menabrakkan mobilnya ke pembatas jalan.
"Bilang pada Rania. Aku baik-baik saja." Kata-kata Kenzie terngiang di kepalaku.
Dalam kondisinya yang lemah dan setengah sadar, Kenzie memintaku menyampaikan kata-kata itu pada istrinya. Akan terdengar lucu jika aku benar-benar menyampaikannya. Aku yakin, Rania pun tidak akan percaya. Karena pada kenyataannya, keadaan Kenzie tidak baik-baik saja.
Saat ini, Kenzie masih ditangani di ruang tindakan. Sudah hampir satu jam dia berada di sana, tapi dokter belum juga keluar dari ruangan itu.
Perhatianku teralih saat mendengar suara langkah kaki yang mulai mendekatiku. Nampak, Rania dan kedua pengawalnya tengah berjalan ke arahku. Wajah wanita itu berlinang air mata. Rania datang dalam keadaan menangis.
"Kenzie ... ba-bagaimana keadaannya?" tanya Rania seraya terisak. Nampak, bibirnya bergetar dengan sorot mata yang menatapku penuh kekhawatiran.
"Dokter masih melakukan tindakan. Mereka belum memberi kabar," jawabku.
Rania melangkah mundur. Hampir saja, tubuhnya roboh. Tapi, salah seorang pengawalnya dengan sigap menyangga tubuh Rania, lalu membantunya duduk di atas kursi tunggu.
"Bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi? Aku dengar Kenzie menabrak pembatas jalan?" Rania menatapku meminta penjelasan.
Aku menghampiri Rania, kemudian duduk di sampingnya. Tatapan wanita itu mengekori setiap gerak-gerikku. Nampak, ketidaksabaran dalam sorot matanya.
"Supir kami sakit perut. Jadi, Kenzie menggantikannya menyetir mobil," jawabku berbohong.
Rania mengerutkan alisnya. Nampak kebingungan dalam raut wajahnya. Wanita itu memperhatikan aku lekat-lekat.
"Jika Kenzie menggantikan supir. Kenapa hanya Kenzie saja yang terluka? Katakan yang sejujurnya. Apa yang terjadi?" Rania memberondongku dengan banyak pertanyaan.
Aku terkesiap. Ternyata, Rania lebih peka dari dugaanku. Dia menyadari jika aku tidak mengalami luka sedikitpun.
"Sebenarnya ..." ucapku terpotong karena pintu ruangan terbuka. Nampak, seorang dokter dan beberapa perawat keluar dari ruangan tersebut.
"Dokter ... bagaimana keadaan suami saya?" tanya Rania dengan suara bergetar. Nampak, kecemasan dalam raut wajahnya.
"Suami anda sudah siuman. Dia mengalami luka di kaki dan kepalanya, tapi tidak terlalu serius. Untuk sementara, tuan Kenzie tidak bisa melakukan aktifitas berat. Dia harus istirahat," jawab dokter.
Aku dan Rania lega mendengar pernyataan dokter. Ternyata, keadaan Kenzie tidak seburuk yang aku bayangkan.
"Apa saya boleh menemui suami saya?" tanya Rania.
Dokter mengangguk. "Silahkan! Tapi sebentar lagi tuan Kenzie harus dipindahkan ke ruang perawatan."
"Baik dok!" ujar Rania.
Tanpa mengajakku yang berada dibelakangnya, Rania masuk begitu saja ke ruang tindakan. Aku pun ikut masuk membuntutinya.
"Rania ..." lirih Kenzie saat melihat istrinya. Pria itu sama sekali tidak melirikku sedikitpun.
Rania duduk di samping tempat tidur Kenzie. Dia memeluk suaminya, lalu menangis dalam d**a Kenzie. Nampak, tangan Kenzie mengelus punggungnya.
"Maaf ... Aku sudah membuatmu khawatir," ujar Kenzie.
Berkali-kali, Kenzie mengecupi kepala istrinya. Membuatku memalingkan muka karena malu melihatnya. Aku merasa jadi nyamuk diantara dua orang yang sedang melepas rindu.
"Syukurlah kamu baik-baik," isak Rania. Wanita itu terdengar sangat mencemaskan suaminya.
"Aku baik-baik saja. Hanya luka kecil," ujar Kenzie.
Sekilas, aku melirik Kenzie dan Rania. Tanpa sengaja, tatapanku bertemu dengan netra hitam Kenzie yang pekat. Ekspresi wajah pria itu berubah dingin saat melihatku.
"Tolong! Tinggalkan kami berdua!" pinta Kenzie dengan nada suara dingin. Kata-katanya lebih mirip perintah dari pada pemintaan.
Aku tersentak. Kenzie bersikap seakan aku pengganggu saja. Walau pada kenyatannya memang begitu. Aku menganggu dirinya dan Rania yang tengah berpelukan.
"Baiklah. Kebetulan aku ingin berganti baju. Aku akan pulang lebih dulu," ujarku.
Kenzie mengalihkan tatapannya dariku. Dia tidak mengindahkan perkataanku. Hatiku teremas karena di acuhkan. Pria itu lebih memilih menenangkan istrinya yang masih menangis dari pada menimpaliku.
Air mataku menggenang. Diacuhkan bukan hal yang menyenangkan. Aku sakit hati dengan sikap dingin pria itu. Padahal, aku juga mengkhawatirkan keadaannya.
Tanpa berkata apapun lagi, aku pergi meninggalkan Kenzie dan Rania. Sulit bagiku melihat mereka berdua berpelukan sementara aku teracuhkan.
"Aku harus menyelesaikan perjanjianku dengan Rania secepat mungkin. Aku tidak mau berlama-lama terlibat dengan mereka," gumamku.
kakiku berjalan dengan cepat meninggalkan ruang tindakan tempat Kenzie berada. Tatapanku memburam, air mataku luruh. Aku berhenti di lorong ruang sakit, lalu duduk di kursi panjang yang terdapat di lorong itu.
Tangisku pecah. Aku merasa tidak akan mampu bertahan diantara Kenzie dan Rania. Baru satu hari saja, aku merasa sudah sangat tersiksa. Sikap Kenzie yang menolakku mentah-mentah membuatku terluka.
"Aku juga tidak ingin seperti ini. Aku tidak mau menjadi duri untuk kalian berdua. Aku tidak mau menjadi istri kedua. Kenapa kamu tidak memahamiku?" ucapku lirih. Teringat dengan sikap Kenzie yang dingin kepadaku. "Satu hari bersama kalian saja sudah membuatku cengeng seperti ini. Aku benci."
Sisi gelap batinku mencemooh. Menyebutku cengeng hanya karena diacuhkan oleh pria yang menjadi suami kontrakku. Aku ingin menyangkal. Tapi pada kenyataannya, aku memang sakit hati di acuhkan oleh pria itu.
Kenzie Mahardika. Dia pria tidak berperasaan. Aku tidak menyangka kalau hatiku akan mudah terpengaruh olehnya. Baru sehari saja, hatiku sudah condong kepadanya. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kedepannya.
"Bodoh! Untuk apa kamu mempedulikan orang yang bahkan tidak melirikmu," cibirku pada diriku sendiri. "Lebih baik aku pulang."
Aku mengusap air mataku, lalu bangkit dari kursi. Dengan langkah tegas, aku pergi meninggalkan rumah sakit. Sekilas, ku lirik jam tangan yang menunjukkan pukul 23.00. Aku tidak tahu apakah akan mendapatkan taksi untuk mengantarku pulang.
"Silahkan nyonya! Mobil berada di sebelah sana."
Aku terkesiap saat seorang pria menghampiriku. Dia menunjuk ke sebuah mobil sedan berwarna hitam. Hampir mirip dengan mobil yang Kenzie tabrakan.
kakiku melangkah mundur. Mataku memperhatikan pria berjas hitam di hadapanku. Aku tidak mau pergi dengan sembarang orang yang tidak aku kenal.
"Perkenalkan, saya Karman. Supir pribadi nyonya Rania. Beliau meminta saya untuk mengantar anda pulang ke rumah," tutur pria itu. Seakan tahu keraguan yang aku rasakan terhadapnya.
"Rania? Kamu yakin Rania yang memintamu untuk mengantarku pulang?"
Aku membungkam mulutku dengan telapak tangan. Merutuki bibirku yang berkata tanpa berpikir. Sisi gelapku mencibir, karena sebagian diriku berharap Kenzie yang mengutus supir itu untukku. Bukan Rania.
Pria berjas itu tersenyum ramah. "Saya hanya menerima perintah dari nyonya Rania. Beliau meminta saya untuk memastikan Anda pulang dengan selamat. Mari!" jawab pria itu seraya mengangkat telapak tangan, menunjuk kearah mobil.
Hatiku menciut. Aku malu. Bibirku tersenyum kecut. "Jangan bodoh! Apa yang kamu harapkan dari seorang pria beristri yang jelas-jelas sangat mencintai istrinya."