Kegilaan Kenzie

1276 Kata
Kulirik jam yang menunjukkan pukul 18.15. Tidak terasa, tiga jam sudah aku mengurung diri di kamar yang sebenarnya bukan kamarku. Tadi, aku sempat bingung harus pergi kemana. Dan satu-satunya tempat yang aku tahu di rumah ini hanya kamar Rania dan Kenzie. Hatiku berjengit saat teringat pemilik kamar ini. Sebenarnya, aku sedikit aneh dengan keadaan kamar mereka. Tidak terlihat satu pun foto mereka berdua di kamar ini. Entah mereka memang tidak suka memajang foto atau foto-foto itu sudah di pindah. Tapi, kamar mewah dan megah ini terasa sepi dan sedikit menyeramkan. Aku sampai bisa mendengar suara deru nafasku dalam ruangan ini. Aku sedikit takut berdiam lama-lama dalam suasana kamar yang temaram. Tubuhku pun beringsut ke ujung tempat tidur, kemudian melangkah menuju stop kontak. Begitu Lampu kamar menyala, tatapanku langsung tertuju pada satu-satunya foto yang ada dalam kamar ini. Foto Kenzie. Pria itu terlihat gagah dengan pose menyaku tangan yang dilakukannya. Setelan abu yang dipakainya serta wajahnya yang terlihat datar membuat aura pria itu terkesan dingin namun berkharisma. "Kamu tampan. Andai kamu belum beristri, mungkin aku akan menyukaimu," gumamku. Aku tersentak dengan ucapanku sendiri. Batinku mencibir diriku yang mulai menaruh hati pada pria itu. Buru-buru, aku memukul pelan pipiku. "Bodoh! Setampan apapun pria itu, kamu tidak boleh menyukainya. Ingat! Pria itu sudah beristri." 'Istri?' Sisi gelap batinku menertawakan. Menyadarkan aku tentang status istri yang saat ini aku sandang. "Oke! Aku juga istri pria itu. Tapi, aku hanya istri kontraknya saja. Aku tidak boleh terlibat perasaan apapun padanya," tegasku pada diriku sendiri. Sejenak, aku teringat perkataan pria itu tentang perceraian yang membuatku tersinggung tadi siang. Aku pikir, Kenzie akan menyusulku dan meminta maaf. Aku berharap pria itu menyusulku dan meminta maaf karena sudah melukai perasaanku. Tapi, sepertinya Kenzie memang tidak peduli padaku. Dia tidak menemuiku, walau saat ini aku sedang berada di kamarnya. "Dimana pria itu? Apa dia dikamar Rania?" Lagi, sisi gelap batinku menertawakan. Tentu saja Kenzie berada di kamar Rania. Dia pasti lebih memilih menemui istri pertamanya dari pada repot-repot meminta maaf padaku. "Hah!" Aku menghela. Kehidupan poligami memang tidak mudah. Walau aku tidak mempunyai perasaan cinta pada pria itu, tapi membayangkannya berdua dengan istri pertamanya membuat dadaku sesak. "Kenapa aku harus memikirkan mereka?" gumamku. "Sudahlah! Lebih baik aku mandi." Tidak mau terlalu larut memikirkan Kenzie dan Rania. Aku pun beranjak ke kamar mandi. Melihat bathtub yang berukuran besar, aku tergoda untuk berendam. "Aku ingin memanjakan diri," ujarku seraya melepas pakaian, kemudian mengisi air ke dalam bathtub. Selesai mandi. Aku bergegas keluar kamar. Perutku terasa perih dan lapar karena tadi siang aku tidak menghabiskan makananku. Ketika aku hendak menuruni tangga, langkahku terhenti melihat sosok Kenzie yang berdiri di dekat tangga. Pria itu seperti sedang memperhatikan sesuatu. Saking fokusnya, dia sampai tidak menyadari kehadiranku. "Apa yang kamu lihat?" tanyaku saat berada di samping pria itu. Kenzie terlihat kaget. Dia menatapku sekilas, kemudian mengalihkan kembali pandangannya pada tempat semula. "Kamu memperhatikan Rania?" tanyaku saat melihat Rania yang sedang menata makanan di meja makan. "Bukan urusanmu," jawab Kenzie. Dia pun pergi begitu saja menuju kamar. "Dasar pria menyebalkan! Apa salahnya menjawab pertanyaanku," sungutku kesal. Sekali lagi, mataku memperhatikan sosok Rania di ruang makan. Hatiku berjengit mengingat ekspresi wajah Kenzie saat memperhatikan istrinya. Dia terlihat sangat memuja istrinya. "Pria bodoh! Untuk apa dia berdiri disini? Kenapa tidak melihat Rania dari dekat saja," cibirku. Aku pun beranjak menuruni anak tangga, kemudian pergi ke ruang makan menghampiri Rania. "Sudah bangun?" tanya Rania dengan senyum yang mengembang. Wanita itu melirikku sekilas, kemudian kembali sibuk menata meja makan. "Kita makan. Kalian harus bersiap pergi ke bandara." "Bandara?" gumamku. Rania mengangguk. "Sebaiknya kalian berangkat secepatnya. Aku takut kalian terjebak macet. Walau kalian pergi dengan pesawat pribadi, tapi tetap saja kalian harus berangkat tepat waktu." Aku meringis. Aku sempat lupa tentang bulan madu yang Rania rencanakan untukku dan Kenzie. "Rania ... bisakah kamu membatalkan bulan madu itu? Aku lebih nyaman tinggal di Indonesia dari pada bepergian ke luar negri," pintaku. Membayangkan berdua dengan Kenzie di Maldives membuatku takut. Aku takut akan terjadi hal yang tidak pernah kami harapkan di sana. "Tidak bisa. Kalian harus pergi. Aku harap, kalian membawa kabar gembira sepulang dari sana," jawab Rania. Suaranya terdengar bergetar. Mataku menatap lekat wanita itu. Terlihat, air mata menggenang di pelupuk matanya. Aku segera mengalihkan tatapanku saat Rania melirik ke arahku. "Apa Kenzie juga sudah bangun? Sudah jam tujuh," tutur Rania. Aku mengernyit. 'Bangun. Memangnya Kenzie tidur?' Aku tersentak saat sebuah pikiran menghinggapi kepalaku. 'Tunggu! apa tadi Kenzie tidak bersama Rania? Apa Rania pikir Kenzie tidur denganku?' Baru saja, aku akan menjawab pertanyaan Rania. Suara Kenzie lebih dulu terdengar. "Tentu saja. Kami akan pulang membawa kabar baik. Kamu tunggu saja, aku akan memberikan kejutan besar untukmu." Mataku mengekori Kenzie yang berjalan menghampiri Rania. Kemudian mengecup keningnya dengan lembut. Keningku mengernyit, tidak paham maksud perkataan Kenzie. "Maaf aku terlambat bangun. Tadi sangat panas jadi aku tertidur lelap." Rania tersenyum tipis. "Tidak apa-apa. Makanan sudah siap. Ayo kalian makan!" Kenzie menarik kursi untuk Rania, kemudian dia duduk di kursinya. Sejenak, aku memperhatikan Kenzie yang terus mengusap kepalanya. Dia melakukan itu seakan ingin memamerkan rambut basahnya. 'Apa Kenzie ingin membuat Rania cemburu? Dia ingin Rania mengira kami tidur bersama?' tebakku dalam hati. Aku mendengus menyadari tebakanku yang kemungkinan besar benar. "Ken ... kamu mau makan apa?" tanya Rania dengan suara parau. Wajahnya menunduk seolah menghindari suaminya. Aku mencibir saat Kenzie menjawab tanpa mengalihkan sedikitpun tatapnya dari Rania. "Apapun yang kamu berikan," jawab Kenzie. Makan malam berjalan dengan cepat. Kenzie memakan makanan yang Rania berikan dengan lahap. Aku pun melahap makananku sampai perutku terasa begah. Masakan Rania memang lezat. Tatapanku tertuju pada Rania yang belum menghabiskan makanannya. Ternyata, Rania termasuk orang yang lamban. Butuh waktu lama untuknya menghabiskan makanan. Padahal, dia hanya menyiduk sedikit makanan. Selesai makan, Rania mengantarku dan Kenzie sampai ke mobil. Semua yang aku dan Kenzie butuhkan selama di Maldives sudah Rania siapkan. Jadi, kami langsung bersiap pergi ke bandara. "Semoga perjalanan kalian menyenangkan. Aku harap, kalian tidak pulang dengan tangan kosong," ucap Rania saat aku dan Kenzie akan memasuki mobil. "Sudah aku bilang. Aku akan membawa kabar baik untukmu," tutur Kenzie. Dia mengecup kening istrinya. "Tunggu saja disini! Kamu akan senang dengan kabar yang kami bawa." Bulu kudukku meremang mendengar perkataan Kenzie. Jantungku berdebar. 'Apa kami akan benar-benar bulan madu?' pertanyaan itu terus berputar di kepalaku. Melihat raut wajah Kenzie yang serius saat mengucapkan kata-katanya. Membuat aku yakin akan terjadi sesuatu antara kami. "Hati-hati!" Rania melambaikan tangan saat mobil yang aku dan Kenzie tumpangi mulai melaju. Aku memperhatikan Rania yang masih berdiri di tempatnya sampai aku tidak bisa lagi melihat bayangannya dari spion mobil. "Berapa lama perjalanan ke Maldives?" tanyaku memecah keheningan. Nampak, Kenzie yang masih memperhatikan kaca spion mobil. "Tidak tahu," jawabnya singkat. Dia tidak melirikku sedikitpun. Aku ingin kembali bertanya, tapi melihat ekspresi wajah Kenzie yang datar dan muram membuat nyaliku menciut. Aku pun menahan diri untuk tidak bertanya apapun tentang perjalanan kami. Satu jam berlalu. Perjalanan kami begitu sepi. Kenzie diam sambil terus memperhatikan jam tangannya. Dia seperti sedang menunggu sesuatu. "Berhenti disini!" titah Kenzie. Aku mengernyit seraya melirik ke arahnya. Perjalanan menuju bandara masih jauh, tapi dia malah meminta berhenti. Belum sempat aku bertanya, Kenzie memintaku dan supirnya keluar dari mobil. "Cepat turun!" perintah Kenzie. "Kenapa menurunkan kami disini?" tanyaku heran. Namun, Kenzie tidak mengatakan apapun. Dia menyuruh kami turun dengan tidak sabaran. "Bilang pada Rania. Supir kita sakit perut sehingga aku yang harus menyetir," ujar Kenzie padaku. "Kenapa begitu?" tanyaku tidak mengerti. Kenzie tidak menjawab. Dia masuk ke dalam kemudian melajukan mobilnya. "Hey! Jangan tinggalkan kami," teriakku. Aku hendak berlari menyusul Kenzie. Namun, tubuhku terpaku karena kegilaan yang Kenzie lakukan. BRAK! Mobil Kenzie berhenti karena menabrak pembatas jalan. Pria itu menabrakkan mobilnya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN