Part 5

463 Kata
Lastri duduk termenung di koridor rumah sakit, hatinya kerkecamuk ... ada rasa bersalah menyelinap di hatinya. Andai saja dia tak terlena hingga lupa waktu pasti kejadiannya tidak akan seperti ini, belum lagi nanti harus mendengar cibiran tetangga yang menyalahkannya atas musibah yang terjadi saat ini, hatinya lelah. Ingin rasanya menghilang dari peredaran untuk sementara waktu sampai semuanya kembali membaik dan tetangga melupakan kejadian ini. Nyatanya saat ini dirinya sedang menunggu Arif keluar dari ruang observasi setelah empat jam lamanya dimeja operasi. "Alhamdulillah ... Akhirnya sudah boleh kembali ke kamar rawat inap" Celoteh Lastri saat melihat Arif didorong oleh perawat keluar dari ruang observasi dan akan dipindahkan ke ruangan rawat inap biasa. Arif hanya diam membisu tanpa mengatakan sepatah katapun pada Lastri, dia sedang merasakan sakit disekujur tubuhnya karena saat ini obat biusnya sudah berangsur hilang. "Sudah sampai pak, sekarang bapak istirahat ya dan ini obat pengurang nyeri nanti diminum biar sakitnya berkurang soalnya efek biusnya sudah habis" Kata perawat pada Arif. " Ibu tolong nanti kalau ada apa-apa atau butuh sesuatu tinggal pencet bel saja nanti perawat akan segera kesini" Perawat itu memberitahu Lastri cara untuk memanggil perawat hanya dengan memencet tombol dan menggunakan mikrofon kecil diatas bed tempat tidur Arif. "Ya mba ... Makasih ya" Jawab Lastri sambil tersenyum. Perawat itu pun pergi setelah menyiapkan obat dan memberikannya pada Lastri agar diminum segera oleh Arif. "Apa kau tau ... Aku sangat cemas memikirkanmu, takut terjadi sesuatu padamu. Kenapa sampai maghrib belum juga pulang, kemana saja kamu saat itu bu" Arif membuka percakapan dengan Lastri, adasesuatu yang mengganjal dihatinya yang sudah tidak bisa lagi ditahan untuk ditanyakannya pada istrinya itu. "Eeeehmmmm " Lastri menghela nafas panjang melepas nafas yang begitu berat didada. Dia bingung mau memulainya dari mana, apa yang harus dijelaskan pada suaminya yang masih ia pertahankan demi anaknya. Dengan sedikit sisa cinta dihatinya ia mencoba bertahan, andai saja waktu itu Arif setuju untuk berpisah pasti kejadiannya tidak akan seperti ini. Dalam hati Lastri masih menolak atas apa yang terjadi saat ini, ia berharap ini hanya mimpi. "Aku ketemu sama temenku ... Kita ngobrol ngalor ngidul sampe lupa waktu maklumlah emak emak pengen ngadain arisan tupperware kan lumayan biar jadi punya barang gak kerasa karena belinya nyicil" Lastri mulai mengarang kebohongannya. Arif hanya diam mendengarkan apa yang dikatakan istrinya. "Lain kali kalau pergi hape jangan dimatikan jadi yang dirumah tidak khawatir karena tak bisa menghubungimu" Arif menimpali. "Iya ... Maaf aku lupa ngeces hapeku jadi lowbat dan buat kamu khawatir malah kamu yang jadi kayak gini". "Namanya juga musibah ... Mana ada yang tahu, untunglah aku masih diberi kesempatan hidup sama yang di atas" "Iya ... Pak kita harus banyak bersyukur harusnya. Kamu gimana pak apa yang dirasa sekarang? Besok pagi kalau ada dokter visite kita tanya kapan boleh pulang dari sini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN