Chapter 5

612 Kata
Alfiandra Brilliant, laki-laki tampan dengan jabatan ketua OSIS SMA Galaksi tiga. Laki-laki dingin dan jarang berinteraksi dengan yang lain. Tidak pernah menunjukkan ekspresi apalagi emosi. Kemarin, laki-laki itu menunjukkan sesuatu yang belum pernah dilihat warga SMA Galaksi tiga sebelumnya. Untuk pertama kalinya—seorang Fian menunjukkan emosinya—bahkan ia tidak segan-segan mengancam seorang perempuan. Mata elang milik laki-laki itu berkilat tajam. Kilat marah yang ditunjukkannya terlihat sangat menakutkan bagi ketiga gadis di depannya. Rahang Fian menegang dengan gigi bergemelatuk, pertanda bahwa emosi laki-laki itu sedang berada di ujung tanduk dan siap untuk meledak. Tidak penting. Fian mengingatkan dirinya bahwa ketiga gadis di depannya ini tidak penting sekarang. Kekasihnya lebih penting, tidak ada yang lain. Kaki panjangnya melangkah lebar-lebar menuju ke ruang UKS. Tatapan tajamnya tidak berkurang sama sekali dan membuat setiap orang yang berpapasan dengannya memberikan jalan karena tidak ingin ikut terseret masalah. “s**t!!”  Fian menendang pintu ruang UKS dengan keras kala melihat pintu itu menghalangi jalannya. Berbagai u*****n ia lontarkan untuk melampiaskan emosinya yang sudah berada di ujung tanduk. Beberapa orang terlonjak kaget saat mendengar suara debaman pintu yang tiba-tiba terbuka. Mereka melihat ke arah pintu dan mendapati sang ketua OSIS menggendong seorang gadis dengan wajah memerah. Fian meletakkan Abby dengan rasa cemas yang kian memuncak. “Jangan cuma diliatin, b**o! Lo bisa kerja, nggak?!” bentak Fian kala seorang dokter dan dua siswi yang sepertinya petugas PMR yang bertugas di sana hanya memandang heran ke arahnya. Mata tajamnya mengintimidasi siapa pun yang melihatnya. Ketiga orang itu segera mendekat, kemudian sang dokter mulai melakukan tindakan dengan memeriksa keadaan Abby. Fian meninju dinding di samping di hadapannya dengan amat keras hingga buku-buku jarinya memutih. Lagi-lagi tiga orang yang ada di ruangan itu tersentak kaget saat mendengar tinjuan sang Ketua OSIS. Tubuh dua siswi petugas PMR itu gemetar hebat karena untuk pertama kalinya mereka melihat Ketua OSIS teladan SMA Galaksi tiga dalam keadaan murka sampai kalap begini. “Ngapain liatin gue? Lakuin tugas lo!” bentak Fian. “Fian.”  Suara lembut milik Abby terdengar di telinga Fian. Tangannya juga merasakan genggaman lembut tangan Abby. Mata yang semula berkilat tajam itu kini melembut kala melihat senyuman tipis milik gadisnya. Laki-laki itu menghembuskan nafas lega saat mengetahui gadisnya baik-baik saja. Nyaris saja ia melakukan hal yang tidak terduga jika gadis itu tidak kunjung membuka matanya. “Keluar.” Ketiga orang di ruangan itu paham dengan ucapan singkat yang terlontar dari mulut Fian. Mereka segera pergi keluar sebelum laki-laki itu kembali emosi. Sungguh bermasalah dengan Fian bukan sesuatu yang menyenangkan. “Aku nggak apa-apa, kamu jangan marah-marah lagi.” Suara lemah Abby terdengar sangat lembut. Fian tersenyum lalu menunduk dan mengecup kening gadisnya. Rasanya benar-benar melegakan. “Aku hampir hilang kendali. Maaf.” Abby tersenyum tulus pertanda bahwa ia tidak marah. Ia memaklumi sifat Fian yang akan berubah menjadi kejam saat menyangkut dirinya. Tapi, ia juga senang karena Fian masih menepati janjinya. Laki-laki itu hanya menunduk, rasanya seluruh beban di pundaknya terangkat. Senyum lemah gadisnya membuatnya tersadar. Ia akan membalas perbuatan Elena. Seorang laki-laki yang tengah duduk di kursi kebesarannya menatap tajam seseorang yang kini gemetar ketakutan di hadapannya. Mata elang itu terus mengawasi mangsanya, seolah jika dia lengah maka mangsanya ini akan kabur. “Maafkan Elena, Tuan, dia masih anak-anak. Jangan menghukumnya.” Pria paruh baya itu menjawab pertanyaan yang diajukan seseorang yang dipanggilnya ‘Tuan’ itu. Dia ketakutan, aura kelam laki-laki ini sangat mengerikan. Aura hitam mengelilingi laki-laki ini. Dengan terang-terangan terang-terangan ia memperlihatkan sisi kejam yang sebelumnya selalu ia redam. Pria paruh baya itu bisa melihat seberapa ‘hitam’ laki-laki yang bahkan jarang sekali berbicara ini. “Memaafkan? Anak-anak?” Laki-laki itu tertawa remeh. “Itu bukan tindakan anak-anak,” ucapnya dingin. “Selama ini aku membiarkan segala tindakan Elena, tapi ketika dia menyakiti kesayanganku maka tidak ada ampunan baginya. Jadi—”    Fian tersenyum sinis saat tubuh pria di depannya kembali bergetar. Sesuai perkiraan, tidak ada yang melenceng dari rencananya. Salah siapa membangunkan iblis dalam dirinya. “Putrimu atau hartamu?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN