bc

Fake Nerd and Possessive Boy (BAHASA INDONESIA)

book_age12+
759
IKUTI
6.0K
BACA
billionaire
possessive
family
goodgirl
student
sweet
bxg
mystery
highschool
first love
like
intro-logo
Uraian

Abby, gadis cantik yang harus menyembunyikan kecantikannya dibalik dandanan Nerd atas perintah kekasihnya, Fian. Menurut Abby, Fian itu laki-laki posesif yang membuat ruang geraknya terbatasi. Dia akan sangat mengerikan jika ada yang menjauhkan Abby darinya.

Hingga rahasia besar terungkap, kesalahpahaman tidak bisa dihindari. Lalu kemunculan 'iblis pelindung' Abby yang selama ini bersembunyi dan mengancam akan membawa Abby pergi.

Lalu apa yang akan dilakukan tuan posesif agar gadisnya tetap disisinya? Rahasia apa yang membuat 'iblis pelindung' Abby akhirnya keluar? Apa pilihan Abby, tetap tinggal atau pergi?

chap-preview
Pratinjau gratis
Chapter 1
“s**l! Telat lima menit!” gumam seorang gadis pelan. Dengan ragu dia melangkah mendekati sosok laki-laki tampan yang duduk bersandar pada batang pohon dengan mata terpejam. Napas gadis itu ngos-ngosan karena berlari dari mansionnya untuk sampai di tempat ini.  “Telat lima menit,” ujar laki-laki itu dengan mata yang masih terpejam. ‘AKU TAHU s****n!’ batin gadis itu menjerit kesal. Bukan salahnya datang terlambat, kekasihnya ini saja yang terlalu mendadak memintanya datang saat dia sedang asik rebahan cantik di kamarnya. Mana bisa dia datang cepat, apalagi dia berlari bukan naik pesawat. Huft! “Capek,” keluh sang gadis. Dia mendudukkan diri di samping laki-laki itu dengan kepala bersandar pada bahunya. Matanya refleks terpejam saat merasakan rambutnya diusap lembut. Rambutnya yang dikepang dua itu terus diusap tangan besar laki-laki di sampingnya.  “Kamu lari, hmm?” tanya laki-laki itu sembari menatap sosok cantik yang bersandar di bahunya ini. Rambut dikepang dua dengan kacamata besar bertengger di hidungnya. Seperti seorang nerd memang tapi dia menyukainya, dengan begitu gadisnya tidak akan dilirik laki-laki lain. Hanya dia yang berhak menatap kesayangannya ini. Tanpa disadari sang gadis, laki-laki itu memelotot tidak suka saat melihat pakaian yang dikenakan gadisnya. Atasan berwarna biru dan rok pendek diatas lutut berwarna senada. Demi Tuhan! Ini tempat umum dan gadis itu malah memakai pakaian seperti ini? “Capek, Fi,” rengek gadis itu lagi. Bayangkan saja ia berlari dari mansion mewahnya menuju taman, tempatnya janjian dengan sang kekasih. Tidak jauh memang jaraknya, hanya 300 meter tapi baginya jarak itu memang melelahkan. Matanya menatap polos kearah kekasihnya, Alfiandra. Astaga! Kenapa dia baru sadar jika laki-laki itu tengah menatap tajam pakaiannya? Bagaimana ini? Apa yang harus dia lakukan? Ayo otak berpikirlah dengan cepat! “Minum dulu.” Fian memberikan sebotol air mineral untuk gadisnya yang saat ini sudah duduk di sampingnya.  “Udah tahu nggak kuat lari, masih bandel juga. Kan, kamu bisa pakai mobil.” “Rusak.” Gadis itu meminum air yang diberikan kekasihnya. Sedikit lega karena kekasih tampannya tidak membahas pakaiannya. “Rusak? Emang mobil kamu Cuma satu? Kan, kamu punya tujuh puluh enam mobil mewah di garasimu.” “Dikira mansion aku showroom mobil kali sampe punya mobil sebanyak itu. Bayar pajaknya mana kuat!!” ketusnya kesal. Kekasihnya itu malah tertawa mendengar gerutuannya. Gadis itu mengerucutkan bibirnya sesaat lalu kembali meminum air mineralnya hingga tiba-tiba sebuah jaket terlempar di pahanya. Tidak salah, pelakunya jelas-jelas laki-laki disampingnya ini. Rasa lega yang sebelumnya dirasakan kini hilang tanpa bekas. Kenapa masalah ini dibahas? Oh Tuhan! Selamatkan dia dari monster tampan ini. “Kenapa pake rok sependek ini? Mau pamer paha? Atau mau aku robek biar t*******g sekalian?” “Gampar nih mulutnya kalo jahat!” Gadis itu mendengkus kesal. Padahal roknya kan hanya beberapa centi di atas lutut. Lagi pula tempat ini juga dekat dari mansion. Jadi, sang kekasih tidak seharusnya marah. sekali-kali juga, bukan setiap hari. Tangannya meraih jaket yang dilempar dengan tidak berperasaan oleh kekasihnya itu untuk menutupi pahanya. Nasib memiliki pacar posesif ya gini, apa-apa dilarang, apa-apa nggak boleh. Padahal prihal roknya itu hanya masalah sepele saja. “Aku nggak suka berbagi. You’re mine, Baby.” “Yeah, Mr. possessive. I know it.” “Siap untuk hukumanmu, Sayang?” tanya Fian pelan yang sontak membuat gadis itu menelan ludah saat mendengar ucapan kekasihnya, dia benci hukuman mengerikan dari Fian. Hukuman yang tidak pernah terbayangkan oleh siapa pun. Tangan gadis itu memeluk erat lengan kekasihnya—bersikap semanja mungkin untuk membatalkan hukumannya. “Aku, kan, capek, Fi. Masa kamu mau bikin aku tambah capek, sih? Nggak sayang sama aku yah?”  “Fian.” Tidak ada jawaban. Huft terpaksa dia harus mengeluarkan jurus andalannya untuk meluluhkan si posesif ini. “Fian ihhhh, gitu terusin! Cuekin terus! Nangis nih!” rengek gadis itu. Tangannya menggoyangkan lengan kekasihnya. Masih dalam usaha merayu sang kekasih yang sedang marah mode on. “Kamu menang.” Sikap manja gadisnya memang jurus terampuh untuk menaklukan Fian. Laki-laki itu sangat menyukai gadisnya bersikap manja padanya—bersikap seolah-olah dia bergantung padanya—dan Fian tidak bisa menolak apa pun keinginannya. “Jangan pernah ragu pada rasa sayangku.” Gadis itu, Abby, tersenyum manis. Fiannya masih sama. Laki-laki yang akan mengalah dalam segala hal asal membuatnya bahagia. Tidak akan melakukan sesuatu yang membuatnya terluka. Laki-laki yang selalu memprioritaskan dirinya. Pandangan mereka terkunci ke arah depan, senja. Langit berwarna kemerahan, cahayanya memantul ke arah danau buatan di depan mereka yang membuatnya tampak lebih indah. Fian tersenyum menatap wajah cantik kekasihnya yang terlihat bahagia. Dia akan melakukan apa pun agar senyuman selalu muncul dari wajah sang gadis. Mata gadis itu menatap ke arah Fian yang juga sedang menatapnya. Alhasil mata mereka saling beradu. Senyuman manis Abby ersembahkan untuk kekasihnya. Betapa beruntungnya dia memiliki Fian di sampingnya. Terima kasih, Fian, aku sayang kamu. Pagi menyapa bersama sinar sang surya yang dengan gagah menyapa bumi. Seorang gadis terlihat sudah rapi dengan seragam sekolah barunya. Bukan! Gadis itu bukan seorang murid baru kelas satu SMA, tapi dia seorang murid baru kelas dua SMA yang menginjak pertengahan semester. Kenapa bisa begitu? Karena dia dikeluarkan dari sekolahnya yang sebelumnya. Tidak-tidak. Jangan salah paham dulu, dia bukan bad girl, troublemaker, atau sejenisnya. Hanya sedikit jiwa penindas dan rasa sedikit jahil. Dia dikeluarkan karena sudah membuat seorang guru masuk rumah sakit. Umm, sepertinya dia masuk kategori troublemaker?   Jika kalian bertanya kenapa bisa? Maka jawabannya karena dia membuatnya jatuh terpeleset dari tangga. Dia melakukannya karena tantangan konyol dari teman sekelasnya saat mereka bermain game TOD. Si gadis dengan jiwa penindas tentu saja dia dengan senang hati melakukannya. Tahu bagaimana caranya dia menjatuhkan gurunya? Dia meletakkan minyak pada salah satu tangga saat guru itu akan menuruni tangga. Selanjutnya? Kalian tahu sendiri. Antara sedih dan senang sebenarnya karena dia dipindahkan ke sekolah kekasihnya. sedihnya pasti laki-laki posesif itu akan selalu mengawasi ruang geraknya. Dengan begitu dia tidak bisa bebas seperti di sekolah lamanya. Senangnya? Mereka satu sekolah dan gadis itu bisa dekat dengan kekasih posesifnya lah. Apalagi memangnya? Takdir tidak suka memisahkan keduanya. “Morning, Ayah, Bunda!” seru Abby semangat. Semangat? Tentu saja dia semangat karena kedua orang tuanya baru saja pulang dari luar negeri untuk urusan bisnis. “Morning, Lovely,” sahut sang bunda. Beliau mengambil roti yang sebelumnya sudah diolesi selai berwarna biru yang menjadi kesukaan gadis itu. “Kita jadi liburan, kan, weekend ini?” tanya Abby dengan semangat seraya menerima roti yang diulurkan bundanya.  “Lovely maaf, Ayah sama Bunda harus pergi ke London selama seminggu ini. Kami berangkat dua jam lagi,” sesal tuan Joshepine, Ayah Abby. Ucapan sang ayah membuat Abby menghentikan pergerakan tangannya yang hendak memasukkan potongan roti ke dalam mulutnya. Sinar bahagia yang sebelumnya terlihat kini perlahan redup. “Again? Ayah ingat kan, ayah baru pulang kemarin?” “I’m sorry, Lovely. I’m so sorry. I’m promise, after that we’ll holiday together.” Abby tersenyum kecut mendengarnya. Tanpa menghabiskan makanannya, dia beranjak dari meja makan. Sudah tiga kali orang tuanya mengatakan hal yang sama, namun apa hasilnya? Tidak ada. Abby hanya mendapat kekecewaan saat janji itu tidak pernah terlaksana sama sekali. Sementara di belakangnya, kedua orang tua Abby memandang putri mereka dengan tatapan penuh penyesalan. Mereka mengerti seberapa kecewanya gadis itu, tapi mereka tidak bisa tinggal dan menghiburnya. Ini menyangkut dengan ‘nyawa’.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Perfect Revenge (Indonesia)

read
5.1K
bc

KISSES IN THE RAIN

read
58.1K
bc

Suamiku Bocah SMA

read
2.6M
bc

Super Psycho Love (Bahasa Indonesia)

read
88.6K
bc

Billionaire's Baby

read
285.9K
bc

Sak Wijining Dino

read
162.0K
bc

MANTAN TERINDAH

read
10.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook