“Selamat pagi,” sapa seorang guru di salah satu kelas. Siswa-siswi yang sebelumnya ramai itu sontak terdiam dan menjawab sapaan sang guru. Pandangan mata seluruh siswa-siswi di kelas mengarah pada seorang siswi yang berdiri di samping guru tersebut. Siswi dengan kacamata besar, rambut di kepang dua, baju longgar kebesaran, rok di bawah lutut, serta kaos kaki panjang yang mempertegas jika siswi itu seorang nerd.
“Silakan perkenalkan diri kamu.”
Abby mengangguk. “Abby—Abigail Ramaliel, salam kenal semuanya,” ucap Abby singkat. Senyum kecil muncul di wajah cantiknya.
“Silakan duduk di kursi kosong yang ada Abby.” Sekali lagi Abby mengangguk lalu berjalan santai menuju satu-satunya kursi kosong yang ada di kelas itu. Tepatnya di sebelah seorang gadis yang berpenampilan cupu. Sepertinya dia tipe cewek pendiam yang selalu menaati peraturan.
“Hai, gue Abby,” sapa Abby ramah. Dia tersenyum manis sambil mengajak gadis nerd itu bersalaman, kini tatapannya sudah kembali bersahabat. Gadis itu menatap uluran tangan Abby lalu membalasnya seraya tersenyum kecil.
“Fiona.”
Pelan sekali. Abby bahkan hampir tidak mendengar ucapan gadis itu. Gadis ini benar-benar seorang nerd sejati, tidak seperti Abby yang hanya dandanannya saja yang nerd tapi kelakuannya tidak mencerminkan demikian. Dan juga, sepertinya gadis ini benar-benar asyik dan Abby dengan senang hati akan menjerumuskan gadis pendiam ini agar menjadi seperti dirinya. Sedikit kejahilan tidak masalah, kan?
Bel tanda istirahat berbunyi. Guru Fisika yang sebelumnya mengajar segera mengakhiri pelajaran dan bergegas keluar kelas. Mungkin beliau lapar.
Seluruh murid di kelas Abby menyambut dengan antusias, karena setelah dua jam lamanya berperang dengan kumpulan rumus yang seolah membunuh mereka, akhirnya sekarang bisa beristirahat dan mengisi tenaga.
Begitu juga dengan Abby, wajah cantiknya menampilkan senyuman karena bisa terbebas dari rumus-rumus s****n itu. Abby sangat benci pelajaran Fisika. Gadis itu tidak bodoh, ia bisa mengerjakan setiap soal mata pelajaran lain, kecuali Fisika. Lebih baik lari mengelilingi lapangan daripada mengerjakan rumus itu.
Oke, Abby bercanda soal lari, tapi ia benar-benar membenci pelajaran tersebut.
“Ayo ke kantin, Na,” ajak Abby pada gadis di sampingnya. Fiona yang sedang menulis, tersentak kala tangan Abby memegang lengannya. Ia tersenyum kemudian menggeleng.
“Ayo dong, Na, gue nggak ada temen. Nanti kalo gue sendirian terus nyasar dan diculik gimana? Gue, kan, murid baru di sini.” Gadis itu berbicara sangat cepat tapi menggemaskan, membuat Fiona terkekeh pelan. Menurutnya, teman barunya ini sangat lucu.
“Na, cacing gue udah demo minta diisi.”
“Gue takut.”
“Takut? Takut apa?” Abby terheran-heran saat mendengar ucapan teman sebangkunya itu. Ia mengerutkan dahi seraya berpikir. Takut? Jangan-jangan ….
“Jangan bilang lo di-bully? Seriously? Masih zaman aja gituan. Udah yok nggak usah takut.”
Abby menarik paksa tangan Fiona agar berdiri. Gadis itu juga menarik—bahkan menyeret teman barunya agar ikut bersamanya ke kantin. Selama perjalanan Fiona hanya menunduk ke bawah dengan tangannya yang ditarik Abby.
Mata indah Abby menelusuri setiap sudut sekolah ini. Sekolah barunya ini memang lebih baik daripada sekolah lamanya. Jelas saja—sekolah ini, kan, sekolah elite—tidak semua orang bisa bersekolah di sini, kecuali kau memiliki banyak uang.
Karena sibuk melihat sekitar, Abby tidak melihat beberapa orang yang berdiri di depannya. Gadis itu terjatuh karena menabrak salah seorang siswi yang sepertinya merupakan kakak kelas.
“Iyuh ... Iyuhh ... si Cupu nabrak gue. Tisu! Ambilin gue tisu, gue takut kena virus.”
Abby mengangkat sebelah alisnya bingung. Virus? Memangnya Abby apa hingga bisa menyebarkan virus? Dia juga tidak terinfeksi virus yang sedang terkenal itu. Belum lagi dandanannya? Uhhhh seperti jalang yang sedang mengincar om-om tajir. Ewhh!!
“Heh, Cupu! Ngapain lo ke sini? Bawa temen lagi, gue, kan, udah bilang kalo virus kayak lo nggak boleh ke kantin.” Kakak kelas itu mendorong bahu Fiona hingga gadis itu terhuyung ke belakang. Abby segera berdiri dan merangkul bahu temannya itu.
Pantas saja gadis di sampingnya ini takut pergi ke kantin. Ternyata dia diperlakuin seperti ini di depan banyak orang. Abby berani bertaruh jika selama ini Fiona hanya diam saja saat ditindas seperti sekarang ini.
“Maaf, Kak, kantin buat siapa aja. Jadi siapa pun boleh ke sini. Lagian ini bukan sekolah milik Kakak. Kakak nggak berhak ngelarang siapa pun ke sini.”
Kakak kelas itu sontak tertawa keras. Tawa
gadis itu terdengar sangat meremehkan di telinga Abby. Gadis itu mendengkus kesal, dia siapa, sih? Sok berkuasa banget.
“Abby, Kak Elena itu putri kepala sekolah.”
Sepertinya Fiona bisa membaca pikiran Abby, karena ucapan gadis itu seolah menjawab pertanyaan yang sedang Abby pikirkan. Oh, putri seorang kepala sekolah toh pantas saja bersikap like queen begini. Tapi siapa pun itu, tidak sepantasnya ia melakukan hal menjijikkan seperti ini.
Bisikan-bisikan dari orang yang mengelilingi mereka terdengar. Rata-rata mereka memuji keberanian Abby, namun tidak sedikit juga yang mengatakan bahwa Abby akan menjadi korban bully Elena selanjutnya.
Walaupun sekolah gue yang dulu cuma sekolah swasta biasa tapi nggak ada yang begini. Mereka nakal tapi tidak sampai mem-bully begini, peraturan sekolah ditaati dengan baik, ketua OSISnya juga sangat tegas. batin Abby. Gadis itu segera menundukkan kepala. Bukankah ketua OSIS Galaksi tiga ini Fian?
“Ada apa ini? Elena ada apa?” tanya seorang siswa laki-laki yang tiba-tiba datang. Semua orang memberikan jalan pada laki-laki itu. Dia menghampiri Elena yang tepat berada di depan Abby.
Abby mengenal suara itu. Ia tahu siapa laki-laki pemilik suara ini tapi kenapa laki-laki ini menghampiri kakak kelas sok itu? Bukan dirinya? Apa laki-laki itu lupa jika dirinya sekolah disini? Abby masih tidak ingin mengangkat kepalnya, ia tetap menunduk.
“Sayang, mereka songong banget sama aku. Terutama si Cupu ini,” ujar Elena manja seraya menudingkan telunjuk ke arah Abby. Perlahan gadis itu mengangkat kepalanya. Pandangannya terkunci pada laki-laki yang saat ini lengannya tengah dipeluk oleh Elena. Tatapan Abby turun dan menajam saat melihat tangan Elena yang memeluk lengan kekasihnya.
Mata elang di depannya sedikit membulat. Sepertinya laki-laki itu terkejut melihat wajah gadis yang ada di hadapannya ini. Laki-laki itu—Alfiandra Brilliant Ferrour—laki-laki posesif yang akan selalu menghajar laki-laki yang mencoba mendekati Abby. Tapi apa yang dilihat Abby sekarang?
“Oh jadi gini kelakuan kamu selama di sekolah?” Abby melipat tangannya di depan d**a. Tatapan matanya datar ke arah laki-laki yang berstatus sebagai kekasihnya itu. Si posesif ini mencoba selingkuh, heh?! Berani sekali dia.
“Sa—"
“Maksud lo apa, Cupu? Tahu diri lo ngomong sama siapa!”
“Gue tahu gue ngomong sama siapa. Dia Alfiandra Brilliant, ketua OSIS Galaksi tiga yang nggak becus ngejalanin tugasnya. Dia kek—” ucapan Abby terputus saat Elena tiba-tiba maju dan menarik rambutnya dengan keras. Gadis itu sampai memekik karena tarikan Elena benar-benar terasa sakit. Namun, Abby tidak berniat membalasnya. Mari kita hitung sampai tiga dan lihat apa yang akan terjadi.
Satu ….
Dua ….
Ti ….
“Akhh—”
Bingo. Tarikan Elena di rambut Abby terlepas seiring suara pekikan kesakitan yang keluar dari mulut gadis itu. Fian melepaskan tangan Elena dengan kasar dari rambut kekasihnya. Matanya menatap tajam gadis yang ada di depannya ini.
“Fian kamu a—”
“Dengerin gue s****n! Sekali lagi lo nyentuh cewek gue dengan tangan kotor lo itu. Lo bakal mampus di tangan gue.” Fian berujar dingin. Tangannya mencengkram keras pergelangan tangan putri kepala sekolah itu hingga sang pemilik meringis kesakitan. Mata elang Fian berkilat, menadakan seberapa besar amarahnya.
Semua orang terkejut dengan tindakan Fian. Ketua OSIS yang terkenal dengan sifatnya yang dingin tak tersentuh, sekarang bersikap kasar pada perempuan hanya demi kekasihnya yang seorang nerd?
Oh My God!
“Fi-Fian lepas. S-sakit.” Elena merintih kesakitan dan berusaha melepaskan cengkraman Fian pada pergelangan tangannya. Cengkraman laki-laki itu tidak main-main. Meski Elena perempuan, tapi Fian tidak memedulikan hal itu.
Rasa iba muncul di dalam diri Abby. Gadis itu tahu bahwa kekasihnya tidak akan main-main membalas orang yang telah menyentuhnya. Abby memang kesal, tapi raut kesakitan putri kepala sekolah itu mengganggunya. Ah, menyebalkan.
“Terusin aja pegangan tangannya sampai mampus!” ucap Abby sarkas. Ia meraih tangan Fiona dan menariknya menjauhi kerumunan. Kakinya melangkah ke arah kantin, seperti tujuan awalnya.
Abby memejamkan mata saat sudah duduk di salah satu kursi yang ada di kantin. Gadis itu tidak peduli lagi akan banyaknya pandangan yang terarah padanya. Yang ada di pikirannya hanya satu—semoga Fian segera menyusulnya. Bisa gawat jika kekasihnya itu masih membalas perbuatan Elena. Kepalanya memang terasa sakit namun ia tidak bisa membiarkan Fian melakukan hal buruk, apalagi laki-laki itu adalah seorang ketua OSIS.
Ucapan Abby tadi hanya spontan, entah kenapa rasanya tidak rela saat melihat Fian menyentuh gadis lain. Selama ini Fian selalu menjaga jarak dari gadis yang berusaha mendekatinya, tapi tadi? Ada apa dengannya?
Mata indah Abby terbuka perlahan. Alangkah terkejutnya gadis itu kala melihat siapa yang duduk di hadapannya saat ini. Fian tengah duduk di depannya sambil menopang dagu. Laki-laki itu tengah menatap kearahnya dengan sorot lembut.
“Kenapa? Udah selesai mesra-mesraannya?” tanya Abby sinis, “jadi gini kerjaan kamu di sekolah selama nggak ada aku. Bagus!”
“Kamu cemburu?”
“Iyalah! Pakai nanya lagi! Emang kamu beneran minta digampar ginjalnya.” Abby menjawab apa adanya, namun nada ketusnya tidak berkurang. Ia memang terbiasa berbicara jujur tentang apa pun yang dia rasakan pada kekasihnya tanpa ada yang disembunyikan.
Abby memang cemburu saat melihat tangan Fian menyentuh—ralat mencengkram—tangan Elena. Ia tidak suka, apalagi sebelumnya Elena memeluk lengan kekasihnya. Putri kepala sekolah itu juga terlihat sangat menyukai Fian. Takutnya Fian tergoda dan berpaling nantinya.
“Tumben, biasanya kamu biasa aja pas aku belain kamu.”
“Gimana aku nggak cemburu kalo kamu mesra-mesraan gitu. Apalagi kakak kelas songong itu manggil kamu sayang.” Abby menjeda ucapannya. Ia mendekatkan wajahnya pada Fian. “Kamu … nggak selingkuh, kan, Fian sayang?”
Mendengar ucapan Abby, tawa Fian pecah. Laki-laki itu tertawa dengan keras tanpa peduli sekitarnya. Ucapan gadisnya ini sangat lucu. Ia bilang selingkuh? Mustahil!
“Aku selingkuh kalo kamu ada dua.”
Tawa geli Fian terdengar kembali. Abby menatap ciptaan Tuhan yang sedang tertawa ini dengan tatapan terpesona. Jarang sekali laki-laki itu tertawa bebas begini, biasanya Fian hanya menampilkan senyuman. Melihat tawa indahnya membuat Abby melupakan segalanya. Matanya hanya terpaku pada pemandangan indah di depannya ini.
“Eh?” ujar Abby saat tiba-tiba tangannya ditarik. Ia menatap tidak mengerti ke arah kekasihnya. Saking fokusnya melamun, ia tidak menyadari bahwa Fian sudah berdiri di sampingnya sambil memegang tangannya dengan lembut.
“Mau ke mana?”
“Udah ikut aja ayo!”
Seketika Abby memekik saat tubuhnya tiba-tiba digendong bagai karung beras.