"Bahagia terus yah sayang" ucap Mama Revi.
"Mama enggak benci Dara kan Ma?" tanya Dara dengan wajah meminta jawaban.
"Benci? Benci sama takdir kamu? Mungkin waktu itu Mama kecewa. Mama lebih kecewa dengan diri Mama sendiri, enggak bisa jaga kamu sepenuhnya. Sampai kita semua kebobolan. Malu sama omongan orang? Mama lebih malu kalau sampai anak itu kita gugurkan" ucap Mama Revi.
"Nyatanya Dara keguguran Ma, anak itu enggak mampu hidup dengan keadaan Dara yang begitu" ucap Dara melepaskan pelukan.
"Mama tahu dari Om Rudy. Kamu keguguran. Mama terpukul waktu itu. Tapi semuanya takdir Ra, kita enggak bisa menyangkalnya" ucap Mama Revi.
"Papa tahu Ma? Papa tahu enggak kalau Dara keguguran?" tanya Dara.
"Papa tahu, Mama padahal sudah bujuk Papa buat jemput kamu saat itu. Kamu pasti terpuruk banget. Tapi Papa belum bisa, belum mampu terima kenyataan tentang kamu Ra. Papa enggak membenci kamu" ucap Mama Revi.
Dara mengeluarkan ponselnya memberikan pesan w******p pada Mas Supir setengah jam lagi untuk menjemputnya di rumah sakit. Dara menutup ponselnya setelah mendapatkan balasan pesan dari Mas Supir.
"Dara mau pulang?" tanya Mama Revi.
"Iya Ma, setengah jam lagi" ucap Dara.
"Ya sudah gak apa-apa kok Ra, besok kan kerja" ucap Mama Revi.
"Mama jangan capek juga ya? Makan-nya juga jangan lupa" ucap Dara
"Mama enggak lupa kok sayang" ucap Mama Revi tersenyum.
"Sehat-sehat yah Ma, Dara belum bisa banggain dan bahagiain Mama" ucap Dara.
"Mama bangga, Mama bahagia kok sayang. Ketemu kamu lagi tuh Mama rasanya kayak hidup kembali" ucap Mama Revi merapikan rambut lurus hitam Dara.
Setelah setengah jam, Mas Supir memberi tanda miscall, Dara mengerti, Mas Supir itu sudah di depan Rumah Sakit.
Dara segera berpamitan dengan Mamanya, serta takut-takut mencium tangan Papanya juga, lalu Dara berpamitan juga dengan Om Rudy yang ingin mengantar Dara sampai depan Rumah Sakit.
"Gak usah diantar juga gak apa-apa kok Om, Dara--" ucapan Dara terhenti karena Om Rudy memberikan amplop coklat lumayan tebal pada Dara, "Ini apa Om?".
"Simpan, simpan buat kamu" ucap Om Rudy, "Sudah sana, hati-hati dijalan ya Ra, besok kita ketemu lagi".
"Terimakasih Om. Tapi Dara enggak tau ini apa dalamnya. Om gak mau bilang?" tanya Dara menuntut jawaban.
Belum sempat Om Rudy menjawab, dering handphone Dara dari Mas Supir membuat Dara kaget, segera Dara berpamitan pada Om-nya dan berjalan cepat menuju mobil Mas Supir.
"Maaf Mas, nunggunya lama. Saya tadi masih bicara sama Om saya...." ucap Dara tidak enak karena takut Mas Supir sudah menunggu.
"Harusnya saya yang minta maaf Kak, bikin Kakak gak bisa lama bicara sama Om-nya. Maaf yah Kak, kalau mau bicara lagi--".
"Gak usah, kita pulang aja Mas"ucap Dara memasukan amplop coklat yang lumayan tebal itu. Dara keheranan sebenarnya, apa isinya?.
Mobilpun melaju dengan kecepatan sedang.
"Kakak, kenapa enggak berangkat sama Suaminya?" tanya Mas Supir kepo.
"Suami saya kerja Mas" ucap Dara tersenyum geli.
"Oh gitu. Maaf, Kakak sudah punya baby?" tanyanya lagi.
"Belum Mas" ucap Dara, "Masih ditunda dulu".
"Wah sayang Kak, kenapa ditunda? Kan lucu kalau punya baby dirumah, bisa diajak main, kalau cewek baby-nya bisa di dandanin" ucap Mas Supir lagi.
"Mas sudah nikah yaa? Jadi nanya begini?" tebak Dara.
"Alhamdulillah sudah Kak, istri saya baru satu" ucap Mas Supir tertawa pelan.
"Jangan nambah atuh Mas, kasian Istrinya. Udah setia malah dikecewakan" ucap Dara.
"Enggak lah Kak, saya setia sama Istri" ucap Mas Supir, "Tadi saya bilang pacar cuman bercanda Kak, kan Kakak sudah menikah, jangan dianggap betulan yah Kak".
"Mas udah punya baby?" tanya Dara.
"Alhamdulillah sudah Kak, anak saya cewek, baru umur 9 bulan, bulan ini" jawab Mas Supir.
"Masih asi eksklusif gak Mas?" tanya Dara.
"Sufor bisa, asi bisa Kak. Soalnya Istri saya juga masih kerja juga, katanya buat tambahan pemasukan. Dia kerja di Market, jadi baby ditinggal sama Eyang-nya" jawab Mas Supir.
"Nama Mas siapa? Biar saya enak panggilnya" tanya Dara.
"Nama saya Galif Andika Kak, bukan Andika Kangen Band itu loh ya, saya mah kalah gantengnya sama Babang Tamvan" ucap Mas Galif.
"Oke, Mas Galif, sufornya merk apa si Adek?" tanya Dara penasaran.
"Merk apa yah? Kotaknya merah Kak. Iya kotak merah" ucap Mas Galif, "Merknya s**u-ku".
"Oke, temenin saya mampir ke Supermarket tadi yah, saya mau belanja buat di rumah" ucap Dara.
"Siap Kak, siap laksanakan!".
Setelah sampai di pelataran Supermarket Dara turun dan masuk ia mengambil troli, lalu berjalan santai.
Dara berniat untuk membelikan s**u dan beberapa keperluan baby untuk anak Mas Galif. Mas Galif orangnya ramah dan baik, Dara senang dengan kegigihan lelaki itu mencari uang. Jadi ini sedikit apresiasi untuknya.
Dara mengambil sepaket sabun mandi baby cair, shampoo baby cair, minyak telon baby, minyak rambut baby, bedak baby, serta s**u formula yang disebutkan Mas Galif tadi, Dara mengambil susunya 3 kotak, serta Pampers baby 2 packs. Tak lupa Dara juga membeli mie instan, minyak goreng, gula, s**u kental manis, beberapa camilan, dan minuman rasa buah untuk Mas Galif dan Istrinya.
Setelah selesai, Dara pun ke kasir, membayar tagihan dan membaya 4 kantong plastik, Mas Galif sigap membuka jok belakang mobil dan membantu Dara membawa barang belanjaannya.
"Ini semuanya buat Mas Galif sama Istri, terutama ini ada buat baby-nya ya" ucap Dara.
"Ya ampun ini buat saya? Katanya buat belanja Kakak di rumah? Ini kebanyakan Kak" ucap Mas Galif matanya berkaca-kaca.
"Enggak banyak Mas, cuma segini. Terimakasih ya, sudah baik banget sama saya, sudah mau direpotin mampir kesana kemari" ucap Dara, "Saya tidak ada maksud buat dicap yang baik-baik, niat saya tulus banget. Saya tahu ini enggak seberapa tapi pasti Mas menghargai ini. Do'akan Papa saya bisa sembuh aja yah Mas. Sampaikan salam saya juga buat Istri dan baby".
"Saya tahu Kakak baik banget, saya tahu Kakak gak ada maksud cari muka atau apapun itu. Saya tahu, tapi saya ngerasa gak seharusnya saya terima ini semua. Saya kan cuma nemenin dan mengantar Kakak, enggak minta balasan yang lain-lain".
"Ini rezeki Mas Galif. Jadi tolong di terima ya, atas nama Papa saya" ucap Dara.
"Terimakasih yah Kak Dara, semoga Allah membalas kebaikan Kakak" ucap Mas Galif.
"Amin aminn, ayo kita pulang Mas. Saya mau nyiapin baju kerja sama baju buat jaga Papa besok malam" ucap Dara.
"Ayo Kak" ucap Mas Galif segera menutup jok mobil belakang.
Bergegas mereka pulang ke rumah Dara.
"Harusnya saya juga punya Baby Mas.... Tapi saya keguguran di usia 3 bulan kandungan. Mungkin kalau dia masih hidup, umurnya sudah 5 tahun" ucap Dara menerawang ke luar jendela mobil.
"Kakak keguguran? Innalillahii, maaf yah Kak. Saya bikin Kakak keingat Anaknya" ucap Mas Galif.
"No, Mas enggak salah. Saya ngerasa tadi saya belanja keperluan buat baby saya, senang banget ya rasanya" ucap Dara mengusap air matanya.
"Jangan nangis Kak Dara, maaf ya, saya bikin Kakak sedih" ucap Mas Galif melihat Dara menangis lewat spion di dalam mobilnya.
"Enggak Mas, saya gak apa-apa kok" ucap Dara mencoba tersenyum, ia baik-baik saja.
Sesampainya di depan rumah Dara, Dara pun mengucapkan terimakasih kepada Mas Galif sang supir taksi online lalu turun dari mobil tersebut. Mas Galif berpamitan sopan sambil terus mengucapkan terimakasih banyak untuk semua kebaikan Dara.
Dara tersenyum menanggapi ucapan Mas Galif. Setelah mobilnya pergi Dara berbalik, air matanya tak bisa ia tahan lagi. Ia menangis sambil berjalan menuju pintu utama rumah.
Tangisnya pilu. Siapapun yang mendengar tangisan ini pasti ikut menangis. Setelah pintu terbuk Dara pun masuk kedalam sambil kembali mengunci pintu utamanya. Dara masuk ke kamarnya.
Banyak kata seandainya yang ada dalam benak Dara saat ini.
Seandainya ia tidak keguguran, mungkin Anaknya sedang dalam fase pintarnya, berlarian mengejarnya ketika pulang dari kantor, Dara akan sibuk mendongeng sebelum Anaknya tidur. Dan, rumah ini pasti tidak akan sesepi ini.
Ingin sekali Dara kembalikan waktu, Anak itu tetap ada dan berada disisinya rasanya sudah cukup. Ia hidup bahagia dengan Anaknya. Itu harapan Dara.
Tapi, takdir tidak mengizinkannya untuk berbahagia bersama calon bayinya.
~BERSAMBUNG~