"Mau sampai kapan Ra? Kamu berhak bahagia" ucap Om Rudy menatap keponakan cantiknya ini.
"Om, Dara enggak berhak bahagia. Cukup bertahan hidup, rasanya sudah cukup Om" ucap Dara air matanya kembali mengalir, "Dara enggak berani bermimpi punya pacar, apalagi menikah. Dara sudah kotor, sudah bekas orang".
"Kata siapa kamu kotor? Kamu bersih, hati kamu bersih Ra. Jangan insecure karena kamu bukan wanita sempurna sebelum menikah. Kamu punya sesuatu yang patut dibanggakan. Kamu cantik, kamu baik hati, kamu penyayang, siapa yang enggak tertarik sama kamu?" tanya Om Rudy, "Bahkan atasan kamu, rekan kerja kamu sudah jujur soal perasaan mereka, dan lelaki itu masih mencintai kamu".
"Tapi kamu yang enggak bisa menerima masa depan. Kamu stuck dimasa sekarang karena enggak berani bermimpi. Enggak berhak kan kata kamu? Padahal diluar sana, banyak yang mungkin memiliki pengalaman yang sama dengan kamu, tapi mereka enggak berhenti bermimpi. Kita enggak tahu ending kehidupan kita itu seperti apa Ra, gak salah kalau kita bermimpi tinggi, kalau kita berusaha mewujudkan itu hingga jadi menjadi kenyataan, itu wajib hukumnya Ra" ucap Om Rudy panjang lebar, "Sudah waktunya kamu bahagia. Dengan pilihan kamu".
"Dara enggak bisa Om, Dara enggak mau menyakiti perasaan salah satu diantara mereka. Kalau Dara memilih salah satu diantara mereka semua" ucap Dara.
"Kamu berhak memilih, dan mereka harus menerima keputusan kamu. Dan jangan lupa jujur, jujur sama pilihan kamu soal masa lalu kamu" ucap Om Rudy mengingatkan.
"Dia pasti enggak akan terima Om" ucap Dara menolak.
"Gimana kamu tahu dia enggak akan terima? Lelaki yang menerima masa lalu perempuannya dengan lapang d**a atau pun sebaliknya perempuan yang menerima masa lalu lelakinya dengan lapang d**a adalah orang yang patut kita jadikan teman hidup hingga mati. Dia orang yang mampu menerima kekurangan kita tanpa menghina masa lalu kita dia orang yang mampu mengimbangi kita Ra" ucap Om Rudy, "Masa lalu itu pasti enggak enak, namanya juga masa yang lalu, kalau mau enak ya masa depan cerah, hidup kaya, bahagia, menikah, punya anak, tua bersama, dan meninggal barengan, masuk Surga juga barengan".
"Om...." Dara makin menangis mendengar ucapan Om Rudy.
"Sudah waktunya kamu bahagia Ra. Berbahagialah. Umur kamu sudah cukup untuk menikah" ucap Om Rudy.
"Enggak akan ada yang terima Dara--".
"Ada Dara, ada. Om aja sudah tahu siapa kandidat terbesar yang akan mengerti keadaan dan masa lalu kamu" ucap Om Rudy pelan.
Dara mengusap air matanya, menatap Om-nya penasaran. Om Rudy tahu siapa yang akan menjadi jodoh Dara?.
"Siapa Om?" tanya Dara penasaran.
"Lelaki itu" ucap Om Rudy bercanda menahan tawanya yang akan meledak.
Bahkan menyebut nama Gavin saja Om Rudy tidak sudi.
"Gak mau!!!!" pekik Dara, "Dara benci sama dia, Dara benci banget sama dia!".
Om Rudy tertawa pelan, menepuk-nepun pundak Dara.
"Om bercanda. Bukan dia, ada satu kandidat, tapi Om gak mau ngomong dihadapan kamu, nanti pas kamu nikah sama dia Om bakalan bilang selamat paling pertama di resepsi" ucap Om Rudy berjanji.
"Sebut namanya atuh Om. Masa cuman bilang begitu. Dara juga bisa kalau cuman bilang begitu" ucap Dara.
"Dua lelaki itu kandidat paling keren, Om tahu. Mereka sama-sama serius sama kamu, tinggal kamu sregnya sama siapa" ucap Om Rudy, "Lagi pula mereka kan tinggal nunggu keputusan kamu tuh".
"Dara enggak berani Om. Biar waktu yang jawab. Yang Dara mau sekarang Papa sembuh, dan maafin Dara. Setidaknya Dara boleh main ke rumah suatu saat nanti itu aja cukup" ucap Dara.
"Kamu nurun siapa sih Ra? Jadi wanita tahan banting begini? 5 tahun loh, kamu sampai bisa punya rumah sendiri, ya meskipun nyicil. Om lunasin aja yah?" tanya Om Rudy.
Dara menggeleng menolak tawaran Omnya, tidak ingin merepotkan Omnya.
"Jangan nolak, anggap itu uang jajan 5 tahun kamu dari Om" ucap Om Rudy.
"Uang jajan apa sebesar itu" ucap Dara protes, "Dara bisa kok Om. Jangan dibantu, Dara mau mandiri sampai lunas".
"Om bangga sekali punya keponakan kaya kamu, tetap jadi pribadi seperti ini Dara. Papa kamu lama kelamaan pasti luluh, Om doakan" ucap Om Rudy.
"Terimakasih ya Om, untuk semuanya. Dara sayang Om Rudy" ucap Dara memeluk Omnya itu, bersender di d**a bidang Omnya ini.
"Om juga Ra, kamu keponakan Om satu-satunya kebanggaan Om" ucap Om Rudy.
Pelukan Omnya sehangat pelukan Papanya, memang, Papa dan Omnya bersaudara, jadi wajar jika sama.
Tapi biar bagaimanapun, Dara juga merindukan pelukan hangat dari Papanya. Sambil berucap bangga padanya.
"Ya sudah, kamu pulang sana" ucap Om Rudy.
"Tapi Om....".
"Besok kamu boleh kok kesini, gak ada yang ngelarang" ucap Om Rudy.
"Om, gimana kalau Papa sadar nanti Dara yang ada di samping Papa. Apa Papa bakalan maafin Dara? Atau kembali ngusir Dara Om?" tanya Dara.
"Papa kamu gak bakalan usir kamu, Om tahu Papa kamu sebenarnya juga kangen sama kamu. Tapi dia enggak bilang, kamu kan tahu Papa kamu bagaimana".
Dara mengangguk paham, "Dara satu jam lagi deh disini. Malam ini Dara siapin baju buat disini nanti beberapa hari".
"Jangan terlalu capek Ra, kamu sambil tiduran juga enggak masalah kok. Om juga kadang rebahan pas jaga Papa kamu" ucap Om Rudy.
"Papa sakit udah berapa hari Om? Kenapa baru tadi malam Dara dikabarin" tanya Dara menatap Omnya penuh tanya.
"Udah 4 harian Ra, sama hari ini. Om belum bisa bertindak, jadi baru tadi malam Om telpon dan kabarin kamu" ucap Om Rudy.
"Papa sakit apa Om? Papa pasti sembuh kan?" tanya Dara.
"Bisa Ra, bisa. Papa kamu kecapek-an aja".
"Kecapek-an tapi kenapa belum sadar juga? Ini sudah 4 hari Om. Papa gak mungkin cuma kecapek-an" ucap Dara.
"Papa kamu pasti sembuh kok, jangan banyak pikiran kamunya" ucap Om Rudy.
"Dara ke dalam sebentar ya Om? Bolehkan masuk sebentar?" tanya Dara.
"Iya sana masuk, gak apa-apa" ucap Om Rudy.
Dara segera masuk ke ruangan Papanya. Dan berdiri di hadapan Mamanya duduk.
"Papa sakit apa Ma? Kenapa 4 hari belum sadar juga?" tanya Dara to the point.
"Papa kamu kecapek-an Ra, banyak pikiran. Makanya belum sadar, kamu enggak usah berpikiran yang macam-macam yah, cukup do'akan Papa" ucap Mama Revi.
"Besok malam Dara aja yang jaga Papa yah Ma. Mama besok jaga Papa pagi aja" ucap Dara, "Biar Dara khusus jaga malam buat Papa. Mama tidur, istirahat yang cukup juga. Jangan sampai Mama juga sakit" ucap Dara.
"Enggak usah sayang, kamu kan kerja, pikirkan kerjaan kamu saja. Biar Mama sama Om Rudy gantian jaga Papa kamu" ucap Mama Revi.
"Enggak, pokoknya Dara yang khusus jaga Papa malam hari. Pulang dari sini Dara siapin beberapa baju buat disini nanti" ucap Dara.
"Kamu enggak capek Ra? Pagi kerja, pulang jaga Papa?" tanya Mama Revi memastikan.
"Enggak Ma, Dara ikhlas demi Papa sembuh" ucap Dara.
"Tapi kamu enggak takut kalau pas kamu jaga Papa sadar?" tanya Mama Revi.
"Enggak Ma, nanti kalau sadar Papa ngusir Dara, Dara bakalan keluar dari ruangan. Dan telpon Mama sama Om buat kesini" ucap Dara.
"Terbuat dari apa sih hati kamu ini Anak Mama?" tanya Mama Revi berdiri memeluk anaknya lagi.
"Kan anaknya Papa sama Mama, pasti keturunan dari Papa sama Mama lah" ucap Dara membalas pelukan Mamanya
"Mama kangen banget, kangen kamu yang bawel, kangen kamu minta masakin" ucap Mama Revi.
"Dara juga kangeeeen banget masakan Mama, kangen semuanya yang ada di dalam rumah" ucap Dara.
"Kamu tahu gak? Semua barang-barang kamu, baju, masih rapi di dalam lemari. Dan Papa kamu kadang ketiduran di kamar kamu" ucap Mama Revi.
"Tidur di kamar Dara?" Dara mengulang ucapan Mamanya.
"Iya, ngakunya sih enggak mau bangunin Mama karena Papa kamu kadang lembur pulang jam 12 malam, bahkan jam 1 pagi juga pernah. Pagi-pagi kepergok Mama tidur di kamar kamu. Papa kamu kangen banget, cuma enggak mau bilang" ucap Mama Revi tersenyum geli mengurai pelukannya.
"Papa kangen Dara beneran Ma? Beneran kangen?" tanya Dara tidak percaya.
"Iya, kangen, kangen banget. Mama tahu, meski Papa kamu enggak bilang. Jadi kalau Papa kamu sadar, Mama yakin Papa enggak bakalan ngusir kamu seperti dulu lagi. Percaya sama Mama" ucap Mama Revi merapikan rambut panjang hitam terurai milik Dara.
Dara tersenyum. Ia berhak mencoba untuk meminta maaf lagi pada Papanya. Ia akan mencoba itu, meski di usir lagi Dara tidak perduli.
"Kamu enggak pulang, sayang? Kamu besok kerja lagi loh" ucap Mama Revi mengingatkan.
"Satu jam lagi Ma. Dara masih mau sama Mama" ucap Dara, "Kita selfie sebentar yuk Ma".
"Foto sama Papa kamu dulu Ra. Mama duduk kamu selfie di depan kasur Papa. Biar nanti ada kenangan" ucap Mama Revi.
"Ok Ma. Ya sudah Mama duduk lagi Ma" ucap Dara.
Mama Revi pun segera duduk, Dara segera membuka ponselnya dan mengambil beberapa gambar dengan pose yang berbeda-beda. Setelah puas ia menyuruh Mamanya tetap duduk, karena Dara akan mengambil gambar dari posisi sebrang Mamanya duduk, setelah mengambil beberapa gambar, Mama dan Dara duduk di sudut sofa ruangan yang bisa dibuat rebahan juga. Ada nakas dan tempat charger juga disana.
Ruangan VVIP memang fasilitasnya cukup memuaskan.
Dara dan Mamanya berselfie mengambil beberapa gambar, cukup banyak. Setelah puas Dara memfoto Mamanya seorang diri. Wajah ayu Mamanya memang tidak pudar meski umurnya sudah hampir 50 tahunan. Tubuhnya masih segar, dan bugar. Wajah Dara sangat mirip sekali dengan Mamanya, versi muda Mama Revina Oona.
"Dara bahagia banget hari ini Ma" ucap Dara jujur memeluk Mamanya kembali yang dibalas juga dengan usapan hangat di punggungnya.
~BERSAMBUNG~