HMD - 16 (RINDU PELUKAN DARI PAPA)

1601 Kata
"Mama sudah makan?" tanya Dara. "Dari tadi malam Mama kamu belum makan Ra" ucap Tante Sarah. "Mama kok enggak makan sih?" tanya Dara. "Mama enggak lapar Ra" ucap Mama Revi. "Mama, Tante, sama Om sekarang makan dulu, itu Dara bawa Nasi Padang, dijamin enak" ucap Dara, "Biar Dara yang jaga Papa sebentar". "Kamu sudah makan Ra?" tanya Om Rudy. "Dara gampang Om, sebelum berangkat kesini sudah sarapan roti" ucap Dara. "Ayo makan bareng aja Ra, gapapa Papa kamu di dalam kita sarapan sebentar" ucap Tante Sarah, "Kamu pasti lapar juga kan?". "Gak apa-apa Mama, Tante, sama Om duluan aja, udah makan dulu sana. Tadi Dara cuman beli kopi dingin buat Om. Mama sama Tante ada air minum gak?". "Ada air botol tuh Ra, tadi Tante ke Kantin" ucap Tante Sarah. "Ya sudah, makan yang kenyang yah, Dara jaga Papa dulu" ucap Dara segera masuk ke dalam ruangan Papa. Sebenarnya Dara deg-degan. 5 tahun tidak bertemu Papanya, dan mungkin rasa benci itu masih ada. Dara takut ketika Papanya sadar yang dilihatnya adalah Dara, dan pengusiran itu kembali terjadi. Dara takut, sangat takut. Tapi ia harus berani melawan ketakutannya, Papanya sedang sakit, Papanya sedang memerlukan dirinya juga. Dara duduk di kursi Mamanya duduk tadi, diraihnya tangan yang mulai keriput itu digenggamnya, sambil diciumnya tangan lelaki ini, cinta pertamanya. Dara telah melukai perasaan lelaki ini, membuatnya dibenci oleh lelaki ini hingga tidak dianggap anak. Dara menyesal, sangat menyesal. Ingin sekali ia meminta maaf lagi atas semua kesalahan dan dosanya, tapi lelaki ini takkan mungkin bisa memaafkannya. Kesalahan Dara itu fataal. "Maafin Dara Pa.... Maaf" ucap Dara menangis. "Dara tau Dara salah, tapi Dara minta maaf Pa. Maaf untuk semua luka yang Dara buat. Tolong bangun Pa demi Mama, dan.... Dara" ucap Dara pelan ketika menyebutkan namanya sendiri. Bahu Dara berguncang karena menangis jadi pandangan 3 orang di luar ruangan, mereka makan dalam diam berjejer duduk di kursi yang menghadap ruangan langsung karena pintu tidak tertutup. Mama Revi sudah kembali menangis dalam diam ketika melihat bahu rapuh Dara berguncang. Anak semata wayangnya itu menangis, pasti meminta kesembuhan Papanya. Betapa berdosanya Revi karena menyia-nyiakan anak semata wayangnya yang kuat ini. Revi tahu, suaminya itu memang keras kepala, apapun yang dia ucapkan harus dituruti. Dan ketika mengusir Dara dari rumah pun, Revi tidak bisa menentangnya. Revi tahu Arga juga sebenarnya merindukan Dara, sama seperti dirinya. Tapi egonya lebih besar, tak bisa mengucapkan dia merindukan Dara, padahal Revi tahu Arga sangat merindukan anak semata wayang mereka itu. Pernah ia menemukan Arga tengah malam duduk di ruang tamu sambil memegangi foto Dara. Bahkan tertidur di kamar Dara hingga pagi hari, dan beralasan sudah tidak bisa menahan kantuk dan takut membangunkan Revi yang sudah tertidur di kamar utama mereka, karena malam itu Arga lembur di kantor. Revi tahu Arga merindukan Dara, sudah jelas. 5 tahun tidak bertemu, 5 tahun hari raya idul Fitri hanya berdua dengannya, hari libur hanya berdua dengannya. Tidak ada celotehan bawel Dara selama 5 tahun di rumah mereka, hanya ada sunyi dan sepi. ~ Setelah Mama Revi, Tante Sarah, dan Om Rudy selesai makan, Om Rudy meminta Dara untuk segera sarapan. Dara menurut, Om Rudy menggantikan Dara untuk menjaga Papanya. Dara segera mengambil nasinya lalu mengambil piring plastik yang baru dipakai Mamanya untuk ia pakai. Dara pamit sebentar ke sudut ruangan untuk mencuci tangan, karena ia ingin makan tanpa sendok, lebih afdhol jika memakai tangan. Setelah itu ia duduk diantar Tante Sarah dan Mamanya. Menawari Mama dan Tantenya makan lagi dan pasti mendapat penolakan karena sebungkus nasi Padang yang full sudah membuat mereka berdua kenyang sekali. Dara pun segera memakan makanannya. Mama Revi pamit untuk masuk menjaga Papa, Dara mengangguk sambil mengunyah makanannya, Om Rudy pun keluar dari ruangan sambil menutup pintu. "Ma, Mama pulang aja, kasian anak-anak nanti kalau Mama enggak masak" ucap Om Rudy pada Tante Sarah. "Ok, nanti sore aku kesini lagi sama anak-anak Mas" ucap Tante Sarah melihat arloji dipergelangan tangannya. "Om Rudy enggak ngantar Tante Sarah?" tanya Dara. "Enggak Ra, Tante tadi sebelum makan udah telepon supir di rumah buat jemput" ucap Tante Sarah. "Maaf yah Tante, jadi ngerepotin Tante sama Om" ucap Dara. "Ngerepotin dari mana sih Ra? Kita kan keluarga. Gak masalah bagi Tante, toh kalian semua baik sama Tante sama anak-anak juga" ucap Tante Sarah mengusap bahu Dara. "Pokoknya terimakasih ya Om, Tante, terimakasih banyak" ucap Dara tersenyum. "Tante yang terimakasih, pulang-pulang kekenyangan nasi Padangnya mantul banget lagi. Nanti sore kamu pulang Ra?" tanya Tante Sarah. "Belum tau Tante, Dara enggak bawa baju ganti" ucap Dara. "Mau nginap di sini Ra?" tanya Tante Sarah. "Besok kayaknya deh Tan, Dara mau ambil baju dulu. Biar Mama beberapa hari istirahat tidur dirumah dulu, biar Dara yang jaga malam disini. Yang jaga pagi sampai sore Mama, biar Dara bisa kerja juga, ini Dara udah 2 hari enggak masuk". "Oh gitu, ya udah kalau gitu. Kalau kamu sore masih disini, Tante mau bawain masakan Tante aja, nanti bikin sambal bawang sama ayam goreng temannya lalap sayur, pasti mantap" ucap Tante Sarah. "Enak banget pasti Tan, tapi Dara belum tau ini" ucap Dara. "Kamu pulang aja Ra, biar malam ini Om aja yang jaga Papa, Mama kamu biar tidur di rumah Om, banyak temannya. Besok kamu kan harus kerja, jadi pulangnya aja kamu kesini" ucap Om Rudy. "Oh berarti sore aku jemput Mba Revi aja yah, Mas disini?" tanya Tante Sarah memastikan. "Iya sayang, kamu jemput Mba Revi aja buat tidur di rumah, bawain masakan yah buat aku makan malam. Jangan lupa alat mandi aku sama baju ganti yah satu. Besok pagi juga jangan lupa bawain baju kerja aku pas ngantar Mba Revi kesini" ucap Om Rudy. "Siap sayang, ya sudah kalau gitu, ini Pak Ujang udah miscall Pa, aku pulang dulu yah?". "Hati-hati yah Tante, maaf gak bisa salim ini tangan Dara kotor" ucap Dara menunjukan tangannya yang masih kotor, nasinya masih banyak, ia makan sambil berbicara. "Gak apa-apa sayang, nanti kamu pulang juga hati-hati di jalan" ucap Tante Sarah, "Besok Tante masakin buat kamu besok sore, sampai ketemu besok ya sayang". "Ok Tante siap!" ucap Dara tersenyum, Tante Sarah memang baik sekali padanya. Tante Sarah mengetuk pintu lalu membukanya, "Mba, aku pulang dulu ya Mba, mau masakin anak-anak, nanti sore aku kesini lagi Mba". "Hati-hati Sarah, terimakasih banyak yaa" ucap Mama Revi dari dalam ruangan. "Siap Mba" ucap Tante Sarah lalu menutup pintunya kembali. "Udah sana pulang, hati-hati yah sayang" ucap Om Rudy mencium kening istrinya, Tante Sarah mencium tangan suaminya berpamitan, lalu berlalu dari sana. Tinggal Om Rudy dan Dara yang duduk di kursi itu, duduk bersebelahan. "Om mau lagi gak?" tawar Dara. "Habisin Ra, kamu beli loh. Om kan sudah kenyang" ucap Om Rudy, "Mau bikin Om gendut yah kamu?" canda Om Rudy. "Ihh bukan gitu Om" ucap Dara melanjutkan kembali makanannya. Setelah habis Dara mengacak bungkusnya dan berjalan ke wastafel, bungkus nasi tadi ia buang di tempat sampah samping wastafel. Lalu ia mulai mencuci tangannya dengan sabun cair hingga bersih, lalu ia kembali duduk disamping Om-nya. "Gimana kabar kamu Ra?" tanya Om Rudy membuka percakapan. "Alhamdulillah Om Dara baik kok" ucap Dara tersenyum. "Apa Om bakalan dengar kabar baik nih? Kamu tunangan misalnya?" tanya Om Rudy bercanda. "Nggak ada Om, kabar Dara udah bisa mandiri baru betul" ucap Dara. "Kalau itu Om tahu Ra, Om tahu semuanya" ucap Om Rudy. "Om tahu semuanya? Maksud Om Rudy apaa?" tanya Dara penasaran. "Om punya mata-mata, yang ikutin kamu, cari tahu keadaan kamu, dan.... Baby kamu meninggal pun Om tahu Ra" ucap Om Rudy, "Bahkan nomer telepon kamu. Om melakukan semua ini diam-diam, sebetulnya Om menentang keputusan Papa kamu. Tapi Papa kamu dengan sifat keras kepalanya, kamu tahu kan?". Dara mengangguk. Sangat tahu Papanya seperti apa. "Om baru bisa telepon kamu ya karena ini, Om gak tahu kenapa feeling Om besar, Papa kamu kangen sama kamu. Jadi Om ambil inisiatif buat telepon kamu. Dan benar, hati kamu baik, kamu bersedia datang buat temuin Papa kamu, bahkan bersedia membantu merawat Papa kamu" ucap Om Rudy, "Padahal, Papa kamu dulu mengusir kamu, dan menganggap kamu enggak ada, bukan anaknya. Kalau Om diposisi kamu, mungkin Om akan berpikir dua kali untuk datang kesini". "Tapi kami datang, dengan keberanian kamu, enggak takut diusir Papa kamu lagi ketika sadar, kamu enggak berpikir kesana. Dan Om salut Ra, Om bangga sama kebaikan hati kamu". Dara meneteskan air mata mendengar ucapan Om Rudy yang memujinya. Yang bangga dengannya, meski Dara pernah melakukan Dosa besar dan mempermalukan keluarga, Om-nya tetap bangga dengannya. Dara terharu. "Bahkan, Om tahu Ra.... Kamu bekerja sama dengan lelaki berengsek itu!" ucap Om Rudy dengan matanya yang penuh dendam menyebut kata 'Lelaki'. "Om? Om tahu?" tanya Dara kaget. "Om tahu Ra, mata-mata yang Om sewa yang memberi tahu Om. Tapi tenang, mata-mata itu sudah selesai tugasnya untuk memata-matai kamu. Om juga tahu privasi kamu, jangan khawatir soal itu" ucap Om Rudy. "Tapi Dara udah enggak kerja sama lagi sama dia Om, Dara udah resmi kerja di Kantor Dara kerja, bukan kerja lapangan kesana lagi" ucap Dara. "Om tahu itu. Tapi Om gak akan tinggal diam Ra, Om gak rela kamu begini dan dia baik-baik saja" ucap Om Rudy, "Dia harus membayar apa yang sudah dia lakukan sama kamu. Om janji sama kamu, Om yang akan membalaskan dendam kalian sama lelaki itu". "Gak perlu Om, biar hukum karma yang balas. Dara sudah gak apa-apa kok Om" ucap Dara. "Sudah gak apa-apa? Kamu enggak mau pacaran, enggak mau menikah, ini semua gara-gara dia Dara. Dia yang bikin kamu menutup diri dari laki-laki" ucap Om Rudy. Dara genggam tangan Om-nya. Seakan-akan menyalurkan sinyal bahwa Dara baik-baik saja. Tapi Om Rudy tahu Dara tidak baik-baik saja sampai sekarang. ~BERSAMBUNG~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN