HMD - 15 (PAPA DARA SAKIT)

1597 Kata
Pesan itu ternyata dari Om Rudy, adik satu-satunya dari Papanya Dara, Papanya dua bersaudara. Beliau lah yang mengabari Papa Dara sedang sakit. Di rumah sakit, dan keadaannya tidak sadar. Beliau mengirimkan alamat rumah sakit Papanya dirawat pada Dara. Soal kemarin beliau tidak berbicara saat Dara bersuara, beliau tidak sanggup berbicara. Jujur, Dara keponakan yang paling ia sayangi keponakan satu-satunya yang ia miliki, ketika Dara diusir dari rumah, ingin sekali ia membawa Dara ke rumahnya, untuk tinggal dengannya bersama Sarah istrinya, dan kedua anak perempuan dan lelakinya. Tapi ia tidak diizinkan Papa Dara untuk merawat dan menjaga Dara. Mau tidak mau ia membiarkan Dara pergi sendirian. Sudah lama sekali ia membuntuti Dara, tahu segalanya. Dara keguguran, Dara hidup luntang-lantung mencari pekerjaan, sampai Dara bertemu lagi dengan lelaki berengsek itu Rudy tahu. Bahkan nomer telepon Dara ini juga ia tahu. Jangan tanya dapat darimana, karena ini rahasia. Tapi baru sekarang ia bisa bertindak. Kali ini, biarkan ia egois, ia ingin mempertemukan Kakak Iparnya (Mama Dara) dengan Dara karena Kakak Iparnya kadang menangis sambil memandangi foto anak semata wayangnya. Sementara Kakak kandungnya (Papa Dara) dengan egonya yang tinggi tetap dengan pendiriannya. Membiarkan anaknya kesusahan diluar sana, karena telah mempermalukan keluarga mereka. Rudy tahu ini memalukan, tapi siapa yang bisa melawan takdir? Rudy mengerti dengan keponakannya, umurnya masih 21 tahun kala itu, wajar jika dia masih labil, dan rasa keingintahuannya juga besar. Meski salah, tapi Dara adalah keponakannya, tetap selamanya akan menjadi keluarganya. Pemikiran Kakaknya itu yang membuat Rudy geleng-geleng kepala. Tak habis pikir dengan jalan pikiran sang Kakak yang membiarkan Anaknya hidup sendirian diluar sana, tanpa kabar, dan tanpa tahu keadaannya seperti apa. ~ Dara kebingungan, menimbang apakah ia harus ke rumah sakit yang disebutkan Om Rudy, atau tidak usah. Tapi 5 tahun sudah ia pergi, apa tidak ada sedikitpun perasaan Papanya merindukan dia?. Dara segera mengetikkan pesan pada Kenan, untuk tidak usah menjemputnya sekarang. Ia meminta izin lagi sehari untuk pergi ke suatu tempat. Setelah mendapat balasan dari Kenan yang mengizinkannya untuk izin lagi sehari membuat Dara segera bergegas untuk memesan taksi online. Dara tidak berani mengambil resiko untuk naik motor dulu. Lebih baik dan aman jika ia disetiri seseorang. Dara segera mengganti pakaiannya dengan memakai dress kerut lengan pendek selutut berwarna navy, ia biarkan bagian bahunya terekspose. Setelah selesai ia memakai Stiletto 7 cm berwarna navy juga. Dara mendapat telepon nomor yang tidak dikenal dan simpan di handphonennya, segera ia mengangkatnya, ternyata supir Taksi online sudah mengabarkan sudah masuk kompleks. Dara bergegas mengambil tas navy dan memasukan dompetnya ke tas, ia bergegas mengunci pintu utama dan berjalan ke jalan utama kompleks sambungan telepon masih berjalan, Dara memberi tahu supir tersebut jika ia sudah dijalan kompleks memakai baju biru. Tak lama, Dara lihat sebuah mobil mendekat ke arahnya, Dara tersenyum lalu masuk ke mobil di kursi belakang. "Kak Dara yah?" tanya sang Supir ramah, lelaki itu terlihat seumuran dengan Dara. "Iya Mas, saya Dara" ucap Dara mematikan sambungan telepon yang masih berlangsung. "Tujuan ke Rumah Sakit Harapan Kasih ya Kak?" Supir itu memastikan lagi. "Betul Mas" ucap Dara. "Ok kita berangkat yah Kak, mau santai aja apa buru-buru nih Kak?". "Santai aja Mas, aku saya lagi enggak dikejar waktu kok" ucap Dara, "Oh iya, nanti bisa berhenti sebentar ke Supermarket Mas?". "Boleh banget Kak, gak masalah" ucap sang Supir. "Ok Mas, terimakasih ya?". "Sama-sama Kak, kita berangkat yah". "Ok Mas" ucap Dara tersenyum, sang supir ramah, dan gak menyebalkan. Mobilpun berjalan dengan kecepatan sedang, Dara mensave nomer Omnya, dan segera menelepon sang empunya nomer. Tersambung. Tapi belum diangkat. Tak menunggu lama, telepon diangkat. "Assalamu'alaikum Om, Om di rumah sakit?" tanya Dara. "Wa'alaikumsalam Ra, iya Ra Om di rumah sakit, sama Tante Sarah juga. Kamu kesini?" tanya Om Rudy. "Iya Om, ini Dara lagi dijalan. Om, Tante, sama Mama udah pada makan?" tanya Dara, "Mama dimana Om?". "Gak usah bawa apa-apa yah Ra, kamu datang aja Mama kamu pasti udah senang banget. Udah kamu langsung kesini aja. Mama kamu di dalam ruangan, karena Papa kamu boleh dijaga satu orang aja" ucap Om Rudy. "Ya udah kalau gitu, Dara meluncur kesana. Dara tutup teleponnya ya Om, Assalamu'alaikum". "Wa'alaikumsalam, hati-hati yah Ra...." ucap Om Rudy pelan. "Siap Om, siap" ucap Dara segera menutup telepon. ~ "Oh iya Mas, sama ke Nasi Padang yah Mas, saya mau beli sarapan buat yang jagain Papa saya di Rumah Sakit" ucap Dara. "Siap Kak, beres" ucap sang Supir. Dara diantar menuju ke Supermarket Dara segera turun dan bergegas membeli beberapa buahan, dan juga beberapa pack roti tawar, Dara juga mencari beberapa Snack yang mungkin akan jadi teman Mamanya ketika bosan hanya duduk dan memandangi Papanya yang belum sadar. Tak lupa Dara membeli beberapa botol kopi s**u di kulkas. Setelah selesai, Dara pun membayar belanjaannya. Setelah di bungkus paperbag tebal berlogo Supermarket, Dara bergegas kembali ke mobil. Mobil pun kembali berjalan, Dara memberikan 2 botol kopi s**u dingin tadi pada Mas Supir. Supir mengucapkan terimakasih dan meminta maaf karena merepotkan Dara, Dara menggeleng dan mengucapkan tidak merepotkan sama sekali. Justru Dara yang merepotkan karena meminta Mas Supir untuk mampir-mampir. Setelah hampir sampai ke Rumah sakit yang dituju, Mas Supir tak lupa menepikan mobil untuk Dara membeli Nasi Padang. Dara bergegas kembali membeli 5 bungkus Nasi Padang. Makanan favorit keluarganya. Dara minta 1 bungkus dibedakan plastiknya, setelah membayar, Dara masuk ke mobil dan menyerahkan lagi sebungkus Nasi Padang kepada Mas Supir. "Pasti Mas belum sarapan, ini sarapannya" ucap Dara tersenyum. "Ya Allah Kak, saya ikhlas ngantar Kakak kesini kenapa malah dibeliin juga. Harusnya enggak usah atuh Kakak" ucap Mas Supir sungkan. "Rezeki Mas, enggak boleh ditolak loh" ucap Dara. "Ya Allah Kak, udah cantik, baik hati banget. Mau jadi pacar saya enggak Kak?" canda Mas Supir. "Bisa aja pujiannya Mas" ucap Dara terkekeh. Mobil kembali dijalankan. "Beneran Kak, Kakak cantik, baik banget, paket komplit. Andai jadi jodoh saya" ucap Mas Supir, "Kakak sudah nikah?". "Sudah Mas" ucap Dara berbohong. "Waduh, saya kalah waktu sama Suami Kakak berarti" canda Mas Supir. Dara hanya tertawa mendengar candaan sang Supir. Tak berapa lama, merekapun sampai di rumah sakit. "Mau saya bantu ini bawain barangnya ke dalam Kak? Lumayan banyak loh" tawar Mas Supir. "Gak usah Mas, saya bisa kok" ucap Dara membuka pintu mobil, "Oh iya Mas, saya bayar lewat aplikasi tadi yah. Boleh dicek dulu" ucap Dara, sambil memegangi barang bawaannya. Mas Supir mengecek dan kaget melihat Dara masih juga memberikan uang tip untuknya. "Jangan atuh Kak dikasih tip. Ini udah lebih dari cukup" ucap Mas Supir. "Saya ikhlas Mas, do'ain aja Bapak saya cepat sembuh yah" ucap Dara tersenyum. "Saya do'akan Kak, tapi nanti Kakak telepon saya kalau mau pulang, saya antar sampai rumah lagi" ucap Mas Supir. "Enggak apa-apa Mas. Saya bisa nanti diantar Om saya pulangnya. Gak usah" ucap Dara menolak, "Mas narik lagi aja, semoga hari ini rezekinya tambah banyak". "Aminn, tapi saya enggak terima penolakan. Kalau Kakak enggak janji telepon saya pas sudah mau pulang saya bakalan disini tunggu Kakak pulang" ancam sang Mas Supir. "Mas, saya aman kok. Enggak apa-apa, jangan gini saya enggak enak. Itu tadi rezeki, udah buat ditabung. Enggak usah dijemput saya" ucap Dara turun dari mobil sambil menutup pintu. Tapi sang Supir keluar dari mobil juga. "Janji dulu Kak, saya juga ikhlas, Kakak kan tadi bilang kalau rezeki jangan ditolak?". "Ya sudah oke, saya janji nanti saya telepon 20 menit sebelum saya pulang. Sudah Mas keliling dulu" ucap Dara tidak ingin berdebat lebih lama. "Oke Kakak cantik, saya siap menjemput kembali" ucap sang Mas Supir masuk ke dalam mobil, "Saya cari customer dulu yah Kak. Jangan lupa teleponnya assalamu'alaikum". "Wa'alaikumsalam" ucap Dara. Mobil pun melaju Dara geleng-geleng kepala dengan sikap sang Mas Supir tadi. Ia cukup kagum dengannya, dapat rezeki tapi tetap juga ingin menebar kebaikan juga. Semoga rezekinya lancar, do'a Dara dalam hati. Segera Dara masuk ke dalam rumah sakit. Dara diantar seorang Suster ketika menanyakan ruangan Papanya, dari 20 meter terlihat Om dan Tantenya sedang duduk di depan ruangan. Ia berterimakasih pada suster yang mengantarnya dan memberikan sebotol kopi dingin juga pada suster, suster berterimakasih dan mendo'akan kesembuhan Papa Dara. Lalu pamit undur diri. Dara meletakkan belanjaannya di kursi panjang itu dan bergegas mencium tangan Om dan Tantenya. Tante dan Omnya menangis dan memeluk Dara kencang. 5 tahun sudah setelah kepergian Dara, mereka tak melihat keponakannya ini. Ternyata sekian tahun berlalu keponakannya ini makin cantik. Dara juga menangis sesenggukan. Matanya tertuju pada pintu yang ada kacanya sedikit, Dara berjalan dan berdiri mengintip ke dalam ruangan. Terlihat Mamanya duduk membelakanginya, dan Papanya yang terbaring dan masih dengan mata terpejam. Dara memberanikan diri mengetuk pintu. Mamanya berbalik, dan melihat wajah seseorang dari kaca kecil pintu bergegas membuka pintu. Mamanya cukup histeris melihat Dara, segera ia memeluk Dara erat, menangis sambil menggunakan kata 'Mama rindu banget sama Dara'. Dara mengusap-usap punggung Mamanya. Ia juga menangis hatinya rapuh sekarang. Ia merindukan momen ini. Om Rudy dan Tante Sarah juga bergabung mengusap pundak Dara. "Rudy, kamu yang kabarin Dara, kita disini?" tanya Mama Revi. "Iya Mba, maaf aku lancang, tapi aku enggak bisa diam saja. Dara keponakan aku satu-satunya Mba. Dia berhak tahu Papanya sakit. Mungkin Mas Arga bisa sadar setelah kedatangan Dara, Mba" ucap Om Rudy. "Maafin Mama, maafin Papa yah Ra. Mama pengen banget kita kumpul, tapi Papa--". "Gak apa-apa Ma, setidaknya Dara belajar mandiri. Dara yang harusnya minta maaf, enggak bisa jadi anak yang Papa dan Mama inginkan. Bukan anak yang membanggakan Papa dan Mama" ucap Dara. "Mama bangga Ra, Mama bangga sama Dara. Dara anak yang kuat" ucap Mama Revi mengurai pelukan mereka sambil mengecup kedua pipi anaknya ini, "Dara anak Mama makin cantik, makin cantik banget sekarang". ~BERSAMBUNG~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN