HMD - 14 (SATU TELEPON DAN PESAN MISTERIUS)

1513 Kata
"Ngelamun aja si Dara ihh!" ucap Erlin membuyarkan lamunan Dara. "Eh, maaf Erlin. Kenapa?" tanya Dara kebingungan. "Ini, ayo dimakan, Dimas bawa pisang keju" ucap Erlin sudah mengambil satu pisang. Via dan Devan juga menikmati pisang keju tersebut. Sementara Dimas sedang membuka camilan yang lain. "Ini Ra, martabak telur juga" ucap Dimas menyodorkan sekotak martabak telur yang masih kelihatan asap, masih hangat. "I, i, iya Lin, Dim. Terimakasih" ucap Dara, "Aku ambil piring dulu yah buat acar martabak". Dara berlalu dari sana. Sumpah, ia enggak nyaman. Dimas dengan segala perhatiannya. Sementara teman-temannya disana. Ia tidak ingin mereka semua salah sangka, atau jadi kesal dengan Dara. Dara gak nyaman. Erlin tiba-tiba datang, menepuk pundak Dara. "Kenapa sih?" tanya Erlin menaikkan alisnya sambil menatap Dara heran. "Oh, enggak apa-apa Lin" ucap Dara tersenyum. "Jangan ngerasa enggak enak kalau Dimas perhatian. Dimas emang kayak begitu. Tapi aku tahu kok dia naksir kamu Ra" ucap Erlin pelan. "Jadi gimana Lin? Aku enggak bisa, aku--". "Aku enggak naksir Dimas, jadi kalau kalian jadian pun aku enggak apa-apa. Mas Kenan lebih ganteng" ucap Erlin senyum-senyum sendiri, "Tapi Mas Kenan juga kelihatannya naksir kamu". "Aku enggak bisa terima kalaupun Dimas atau Mas Kenan bilang suka, aku enggak berpikiran kesana. Jadi.... Jangan marah yah Lin, aku enggak ada maksud caper ke cowok" ucap Dara. "Aduh Ra.... Santai. Suka belum tentu bisa memiliki kan?" tanya Erlin, "Aku cuma mengagumi Mas Kenan, masalah jodoh itu, siapa yang tau". "Aku enggak kepikiran kesana Lin, gak sama sekali pacaran atau bahkan menikah. Erlin, kamu dewasa banget, sebenarnya cocok banget sama Dimas. Serius Lin, aku enggak bohong" ucap Dara. "Aku yang enggak mau Ra. Dimas itu udah jadi sahabat aku udah berapa tahun" ucap Erlin terkekeh, "Jangan ngerasa enggak enak yah Ra, aku cuman kagum sama Mas Kenan, bukan berarti naksir". Dara segera memeluk tubuh Erlin yang lebih tinggi dirinya. Tak menyangka akan memiliki teman seperti Erlin. "Apaan sih, jangan gitu ah Ra, kayak pengen ditinggal jauh aja kamu" ucap Erlin geli. "Terimakasih yah Lin, kamu salah satu orang yang ngerti aku" ucap Dara melepas pelukannya. "Kamu teman aku, Dimas juga, jadi jangan kayak tadi okey?". Dara mengangguk menurut. "Ayo duduk lagi, kita makan bareng" ucap Erlin. "Aku ambil piring dulu sebentar" ucap Dara segera mengambil piring. Dara dan Erlin kembali ke ruang tamu. Via dan Devan sudah saling berebut kotak Martabak manis. Dimas sibuk memvideo mereka berdua sambil tertawa. Dara dan Erlin keheranan melihat tingkah sepasang kekasih ini, hari ini terlihat sangat aktif sekali, sampai berebut makanan. Seperti orang yang belum makan beberapa hari saja. "Ngapain sih kalian berdua!" bentak Erlin kesal melihat Via dan Devan tetap masih berebut martabak manis. "Ini Devan ngeselin banget" ucap Via. "Bagi atuh yang, aku pengen cobain" ucap Devan kesal, Via masih memegangi kotak Martabak manis. "Lucu banget ini orang berdua" ucap Dimas masih terus memvideo Devan dan Via. "Dibagi atuh Vi, aku juga pengen!" ucap Erlin, "Taruh dimeja!" perintah Erlin yang membuat Via menurut. "Suapin aku!" perintah Via pada Devan. "Iya iya sayang!" ucap Devan mengalah, diambilnya lalu disuapkannya ke mulut Via. "Gitu kan bagus, ngapain rebutan. Orang itu buat dibagi, bukan buat sendiri! Dara aja dari tadi belum makan, yang punya rumah!" ucap Erlin sedikit membentak. Erlin dan Dara kembali duduk disofa bersampingan, Via, Devan dan Dimas disofa satunya. "Ayo Ra, dimakan. Dim! Kamu enggak makan juga?" tanya Erlin. "Nanti aja, makan aja Lin kalian. Kenyang kenyang biar pulang tinggal mandi" ucap Dimas. "Dim, gaji kamu enggak habis-habis apa?" tanya Via, "Belanja banyak begini, kadang traktir kita juga nonton. Sekali-kali kita yang traktir dong!". "Iya boleh aja, ntar bulan depan kita semua nonton bareng, kamu yang bayar Vi" ucap Dimas. "Oke, ntar bulan depan Erlin, terus Devan! Baru Dara. Gimana?" tanya Via. "Oke, setuju!" ucap Devan dan Erlin. "Ra, ikut yah, kamu udah jadi geng kita!" ucap Erlin. "Ah, enggak. Aku bukannya enggak mau, enggak enak. Kalian aja, aku enggak usah ikut" ucap Dara yang tidak ingin mengganggu keakraban empat sekawan ini. "Aduh Ra, santai aja Ra, kita semua Wellcome kok" ucap Devan. "Dara enggak mau ya temenan sama kita berempat?" tanya Via mengangkat alisnya penasaran. "Mau kok, aku senang kumpul sama kalian. Cuman enggak enak aja" ucap Dara. "Pokoknya kamu ikut kita! Gak ada alasan!" ucap Erlin galak lagi. "Kamu gak ikut urusannya berabe Ra" ucap Via berbisik, "Erlin ini super galak". "Hmm.... Ya sudah, aku ikut" ucap Dara tersenyum kikuk. "Udah bahasnya nanti aja, dimakan dulu ini sampai kenyang" ucap Dimas menengahi. ~ Setelah cukup lama sekitar dua jam, Dimas mengingatkan temannya untuk segera pulang. Karena sudah hampir Maghrib. Setelah membantu Dara membereskan meja, Dimas dan kawan-kawan pun berpamitan pulang. Dara mengantar sampai depan rumah, melambaikan tangan ketika Via dan Erlin membuka kaca jendela dikursi belakang kiri dan kanan menyembulkan kepalanya dan melambai juga ke Dara. Dara masuk ke dalam rumah, mengunci pintu utama lalu masuk ke kamarnya. Ia membuka ponsel dan menemukan beberapa panggilan tak terjawab dari Kenan. Dara segera menelpon kembali Kenan. Takut ada hal penting yang mau dibahas Kenan. "Halo Mas Kenan? Maaf, tadi ada teman-teman dikerjaan mampir ke rumah" ucap Dara ketika ponselnya diangkat oleh Kenan. "Oh gitu, maaf Ra. Saya cuma mau pastiin aja, kamu udah gimana keadaannya?" tanya Kenan dari seberang telepon. "Udah aman Mas, besok saya masuk kok" ucap Dara, "Oh iya, tadi motor saya udah dibawa sama Dimas, Kak" "Ok tapi besok kamu tetap berangkat sama saya aja dulu beberapa hari yah Ra. Jangan sakit yah Ra, saya khawatir". Dara cukup kaget dengan ucapan terakhir Kenan. "Maaf, mungkin saya bikin kamu kepikiran sama ucapan saya tadi. Tapi, saya memang khawatir". "Terimakasih sudah khawatir sama saya Mas, udah mau direpotin juga" ucap Dara. "Gak apa-apa Ra, kamu enggak mau tanya kenapa saya khawatir Ra?". "Enggak Mas. Saya tahu jawabannya....". "Tapi kamu belum dengar dari saya Ra. Saya, mau jujur sama kamu. Dan tolong jangan larang perasaan saya. Saya--". "Jangan dilanjutkan Mas, saya enggak akan bisa--". Dara deg-degan. Tidak sanggup mendengar kelanjutan pembahasan Kenan. Ia tidak ingin baper, tolong dia ingin berhubungan baik saja dengan laki-laki disekitarnya. Tidak ingin memiliki hubungan apapun. Cukup sekali saja dia sakit hati, jangan lagi. "Kamu harus tetap tahu perasaan saya Ra. Saya, sayang sama kamu. Bukan sebagai rekan kerja, atau hubungan Kakak-Adek". "Maaf, tapi saya enggak akan pernah bisa menerima Mas Kenan, atau lelaki manapun" ucap Dara, "Maaf Mas, saya mau istirahat, saya tutup yah teleponnya?". "Saya enggak minta kamu terima saya. Saya cuma mau bilang jujur Ra. Bukan memaksa atau apapun. Saya cuma pengen kamu tahu perasaan saya. Jangan menjauh ataupun membenci saya. Sampai ketemu besok Ra, selamat malam". Kenan menutup teleponnya tanpa menunggu Dara berbicara. Dara menaruh handphonenya ke atas nakas lampu tidur. Dara merebahkan tubuhnya. Menggeleng membayangkan tiga lelaki menyukainya, memperebutkannya, dan saling bersaing untuk mendapatkan perhatian Dara. Tidak terpikir oleh Dara disukai tiga lelaki, Gavin, Kenan, dan juga Dimas. Ya kalau dulu Dara akan tersanjung jika Gavin mengatakan cinta dan mengajaknya nikah, tapi ini dimasa yang sudah lalu, ia sudah tidak berhak bahagia dimasa sekarang. Kenan dan Dimas, mendengar pengakuan mereka mungkin perempuan diluar sana yang tidak punya masa lalu menyakitkan pasti akan menerima mereka tanpa perlu menolak dan takut mereka tersakiti. Tapi ini Dara, Dara dengan masa lalu menyedihkannya. Masa lalu yang tidak akan mungkin bisa diterima Kenan, Dimas, atau bahkan mungkin keluarga besar mereka. Dara ingin menangis sekarang, bingung dengan hidupnya, kenapa? Kenapa harus begini? Dara cuma ingin bekerja, bertahan hidup, dan tenang. Bukan kebingungan dengan perasaan Dimas, atau juga Kenan. Gavin, mengingat nama lelaki itu yang membuat Dara sakit hari ini membuatnya gemas sendiri. Ingin sekali Dara menyakiti lelaki itu untuk membalas dendam masa lalunya. Tapi Dara tidak bisa. Dia masih punya hati, dia bukan wanita iblis. Atau bahkan wanita yang berusaha merusak karir Gavin dengan muncul dan membuat pengakuan mengejutkan pernah hamil dan keguguran anak Gavin. Tidak, Dara tidak akan pernah melakukan itu. Dara dikagetkan dengan dering telepon lagi, nomer telepon tidak dikenal, tanpa nama. Dara menimbang untuk mengangkatnya atau tidak. Takut takut, Dara mengangkat telepon tersebut. "Selamat malam, ini siapa?" tanya Dara. Tak ada jawaban, satu menit Dara menunggu suara dari seberang teleponnya tapi tak kunjung bersuara. "Halo? Ini siapa ya?". Tak kunjung menjawab telepon Dara, Dara pun mematuskan sambungan telepon. Keheranan dengan telepon tadi. Siapa sih? Gavin? Rasa-rasanya tidak akan mungkin. Kalau memang tadi Gavin dia akan langsung bicara. Tapi ini, sang penelpon tidak berbicara sama sekali. Dara penasaran sekali, ingin mengecek tapi ia sudah mengantuk, jadi Dara memutuskan untuk tidur lebih awal. Keesokan paginya Dara melakukan aktivitas seperti hari biasanya mandi dan sholat subuh, lalu menggunakan baju kerja dan berdandan seadanya. Lalu sarapan roti dan minum s**u uht dikulkas. Setelah cukup kenyang, ia kembali menata dua lapis roti selai kacang dan s**u. Serta sebotol s**u uht dan memasukkannya ke paper bag, setelah siap Dara bawa ke kamarnya dan ia memeriksa ponselnya. Masih jam 06.30 pagi, jadi Dara masih bisa bersantai. Ia hanya tinggal mengenakan Stiletto putih dan membawa tas serta paper bagnya. Kenan juga belum menjemputnya. Tapi Dara melihat ada notifikasi pesan. Penasaran, Dara membuka pesan itu. Betapa terkejutnya Dara ketika membaca pesan itu, nomer yang tadi malam meneleponnya tanpa suara. ~BERSAMBUNG~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN