HMD - 13 (DARA TUMBANG)

1787 Kata
"Enggak anget kok badan kamu. Aman" ucap Mas Kenan, "Yuk kita makan dulu, saya bawa Nasi Padang anget". "Tapi saya enggak lapar Mas...." ucap Dara. "Diisi Ra, biar sehatnya cepat. Kamu tuh sakit banyak pikiran" ucap Mas Kenan, "Saya izin masuk dapur ambil piring-sendok sama air minum dingin yah, kamu duduk aja". "Iya Mas, boleh kok, silahkan" ucap Dara. Kenan meletakkan obat vitamin dan tas plastik nasi tadi ke atas meja ruang tamu Dara. Dan bergegas pergi ke dapur. Dara merapikan gelas dan kue kering yang disiapkan Hani tadi, membawanya ke dapur biar nanti sekalian dicuci sama piring makan ini. Terlihat Dara Kenan sibuk mengambil piring dan sendok, juga sebotol besar air putih dingin di kulkas, juga menyambut gelas. Dara tersenyum, Kenan percis riweuhnya seperti Papanya ketika menyiapkan alat dapur. Dia jadi kangen Papanya. Lima tahun lebih ia tidak berjumpa dengan kedua orang tuanya, sehatkan beliau berdua?. Ingin sekali Dara berkunjung, dan memeluk mereka berdua, atau sekedar menumpang minum teh hangat dibelakang rumah, duduk bertiga, dan merasakan dekapan hangat Mama dan Papanya. Rasanya sangat sulit sekali, merindukan orang tua yang belum tentu merindukannya. Tak sadar, Dara menitikkan air matanya. Dan itu jadi perhatian Kenan, alisnya berkerut keheranan. "Kenapa nangis Ra?" tanya Mas Kenan. "Oh gak apa-apa kok Mas, cuma kelilipan" ucap Dara bergegas meletakkan gelas kotor, lalu membantu Kenan membawa botol minum. Kenan bukannya tak melihat Dara tadi meneteskan air mata, tapi Dara tidak mau bercerita, dan ia tidak ingin memperpanjang. Ia lapar, dan ingin makan juga sebenarnya. Setelah menata makanan ke piring, Kenan menyerahkan dulu makanan pada Dara. Melihat Nasi Padang yang menggiurkan Dara luluh juga. Ia segera memakan nasinya dengan lahap. Kenan juga memakan makanannya, dan tersenyum melihat Dara yang terlihat lahap makannya. "Dihabiskan yah Ra, biar cepat sehat. Sayang beli kan kalau dibuang-buang" ucap Mas Kenan. "Ini Mas Kenan beli di dekat kompleks sini?" tanya Dara dengan mulut penuh nasi. "Iya Ra, enak yah?" tanya Mas Kenan menaikkan alisnya. "Enak banget lah, ini langganan saya Mas. Kalau malas masak" ucap Dara. "Kamu tahu yah, masakan disana. Lidahnya tajam banget" ucap Mas Kenan. "Iya dong, kalau masakan enak saya gak bakalan lupa. Masakan di restoran Mas Kenan juga enak-enak" ucap Dara jujur. Kenan tersenyum. Ia menikmati makan hari ini bersama orang yang dia suka. Sebenarnya cinta lebih tepatnya, tapi ia tidak ingin cepat-cepat mengungkapkan. Melihat kondisi Dara yang memang pasti punya trauma soal cinta, dan juga ia tidak ingin buru-buru, biarkan berjalan seperti ini, toh Dara tidak membencinya atau mengusirnya ketika dekat. Jadi Kenan tidak masalah soal ini. Yang penting Dara nyaman dekat dengannya. Perhatiannya juga sudah cukup mewakili perasaannya. Dara bukan tipikal wanita yang gampangan, apalagi mata duitan. Kalau Dara memang mata duitan, mungkin dia akan sengaja juga membuat Kenan baper dan memporoti uang Kenan. Dara bukan wanita begitu, Kenan tahu Dara wanita seperti apa. Dara menghabiskan nasi Padang tersebut hingga tak bersisa. Ia segera meneguk tandas air putih dingin digelasnya yang disiapkan Kenan sebelum makan tadi. "Kenyang, enak bangetttt" ucap Dara memegangi perutnya, sambil memejamkan matanya. Kenan terkekeh, Dara melotot sadar ia sedang bersama bosnya, dan ia tidak sopan begitu. Dara malu bukan main. Gilaaaa!. "Astaga, maaf Mas. Aduh malu!" ucap Dara. "Gak apa-apa Ra. Saya senang kalau memang kamu kenyang, gak salah tadi beli nasi Padang berarti saya, saran dari Hani juga sih" ucap Mas Kenan. "Terimakasih yah Mas Kenan, saya sudah dibantu pas pingsan, dibelikan obat, dibawain makanan" ucap Dara, "Saya pegawai yang bikin Mas Kenan khawatir yah?" tanya Dara hati-hati. "Saya khawatir kalau kamu sakit. Kamu tanggung jawab saya Ra, kamu kan pegawai saya juga, sudah jadi asisten saya yang akan bantu saya sibuk ketemu klien, meeting segala macamnya. Jadi.... Wajar saya begini" ucap Mas Kenan menjelaskan. Dara terharu, ia jadi merasa makin gak enak dengan bosnya ini, ia banyak menyusahkan bosnya, merepotkan juga. "Minum vitaminnya Ra, biar cepat pulih" ucap Mas Kenan, "Diminum habis makan, 2 kali sehari yah, pagi sama sore" ucap Mas Kenan. "Ok Mas" ucap Dara mengambil satu biji vitamin lalu meminumnya. "Kamu sudah gak apa-apa kan?" tanya Mas Kenan memastikan keadaan Dara. "Saya sudah enakan Mas. Besok juga udah masuk kok" ucap Dara tersenyum. "Ok kalau gitu, saya mau pamit balik ke kantor, nanti besok kamu saya jemput aja ke kantor, motor kamu kayaknya belum diantar sama orang yang diminta tolong saya sama Dimas. Padahal tadi sudah saya kasih kunci motornya" ucap Mas Kenan. "Kalau enggak ngerepotin gak apa-apa Mas. Kalau enggak nanti saya naik ojek online juga gak apa-apa" ucap Dara. "No, saya jemput aja" ucap Mas Kenan menolak. "Ok Mas. Terimakasih banyak yah" ucap Dara. "Sama-sama, piringnya enggak saya cuci ya? Tolong sekalian" Mas Kenan terkekeh. "Gak apa Mas, cuma piring aja kok. Mas udah tolong saya udah beliin ini semua. Potong aja gaji saya yah Mas, buat beli vitamin sama nasi tadi" ucap Dara. "Udah Ra, sehat aja sekarang, gak usah banyak pikiran, kalau memang ada yang mengganjal cerita saja ke saya, jangan dipendam sendiri, oke". "Iya Mas iya...." ucap Dara tersenyum geli dengan perhatian bosnya ini. "Saya pamit Ra" ucap Mas Kenan segera berdiri. "Hati-hati Mas" ucap Dara. "Siap Ra" ucap Mas Kenan segera keluar menuju mobil. Dara berdiri di depan pintu rumah mengantar mobil Kenan hingga pergi, setelah mobil Kenan hilang dari pandangan, Dara segera masuk dan mengunci pintu utama rumahnya. Dan membawa piring kotor dan plastik sampah berisi bungkus nasi Padang tadi ke dapur. Dara melanjutkan pekerjaannya mencuci gelas dan piring, setelah selesai ia melihat stock Snack dalam kulkasnya. Ada kripik kentang ia segera membawa Snack itu dengan sebotol air dingin kecil dalam kulkas menuju kamarnya. Ia membuka handphonenya sambil duduk diujung spring bed empuknya. Ada notifikasi chat dari Dimas. Dara tersenyum dan segera membuka chat itu. From: Dimas K Art Ra, gimana keadaan kamu? Udah enakan?. Dara segera mengetikan pesan balasan untuk Dimas. Alhamdulillah udah mendingan Dim, udah bisa makan nasi sepiring kok hahaa. Tak lama pesan balasan dari Dimas masuk lagi. Sore ini aku kesana ya sama yang lain juga. Gak apa-apa kan?. Iya gak apa-apa Dim gak usah ngerepotin kalian ya, aku udah sehat. Gak ngerepotin sama sekali Ra, sampai ketemu pulang kerja nanti ya.... Ok Dimas, see you too. Dara segera menutup ponselnya dan membuka YouTube, ia ingin bermalas-malasan saja hari ini dengan nonton dan nyemil Snack. Setelah mengambil posisi rebahan, Dara membuka snacknya dan larut dalam tontonan horror favoritnya. ~ Dara tertidur dengan nyaman. Sebuah telepon mengagetkannya, Dara segera mengangkat telepon tersebut, ternyata Dimas dan teman-temannya sudah dijalan menuju ke sini, Dimas membawa motor Dara, mobilnya dibawa Devan bersama Via dan Erlin. Dan Dimas sedang berhenti karena akan membawakan buah dan juga beberapa camilan untuk temannya yang lain. Setelah Dara mengucapkan terimakasih dan hati-hati untuk Dimas, telepon pun ditutup. Tak berapa lama, Dara bergegas mengambil handuk dan mandi sebentar, mandi kepala agar segar, dan ia bergegas menggunakan lip tint agar wajahnya terlihat cukup segar. Pilihan Dara jatuh pada baby doll berwarna hitam lengan pendek se-siku, dan celana pasangan dari baju baby doll yaitu celana panjang diatas mata kaki juga warna hitam. Dara tak lupa juga mengenakan deodoran dan parfum, takut badannya bau. Memalukan jika sampai temannya datang dan Dara bau. Meski Dara memang tidak bau sebenarnya, tapi setidaknya ia harum. Kalau bau apek kan susah juga nanti. Deru mobil berhenti di pekarangan rumah Dara, Dara segera membuka pintu, dilihatnya Via dan Erlin berlari menghampiri Dara. "Dara, gimana? Udah enakan?" tanya Erlin. "Udah Lin, Alhamdulillah. Gak apa-apa nih kalian kesini? Gak ngerepotin kan?" tanya Dara memastikan. "Enggak lah Ra, eh ini Ra, kita bawa roti buat kamu. Roti doang loh Ra" ucap Via. "Gak apa-apa, ini aja udah lebih dari cukup, terimakasih ya. Maaf aku ngerepotin" ucap Dara. "Sama-sama Ra, besok bisa kerja kan? Semoga besok lebih vit yah Ra" ucap Erlin tersenyum. "Eh Ra, Papa Mama kamu ada? Boleh masuk Ra?" tanya Via. "Boleh Via, masuk yuk. Aku tinggal disini" ucap Dara membuka pintu lebih lebar. "Hai Ra" sapa Devan tersenyum ramah baru keluar dari mobil sepertinya sehabis bertelepon dengan seseorang karena ia memasukan hapenya ke saku baju di bagian d**a "Hai Van, yuk masuk" ucap Dara. "Ok Ra, makasih" ucap Devan. Erlin, Via, dan Devan segera masuk dan duduk di ruang tamu. Dara pamit untuk ke dapur, membuatkan minum untuk teman-temannya, Via yang memang kepo segera mengikuti Dara. "Ra, kamu merantau disini?" tanya Via. "Bisa dibilang begitu Vi" ucap Dara sibuk menata empat gelas ke nampan, mengambil teko plastik bening Tupperware, mengisinya dengan sirup jeruk, dan memasukkan beberapa balok es batu, lalu memasukkan air putih dan mengaduknya dengan sendok. Via masih setia memperhatikan gerak gesit Dara. "Orang tua kamu suka kesini gak Ra?" tanya Via kepo lagi. "Enggak Vi, jauh soalnya" ucap Dara menaruh teko yang sudah diaduk keatas nampan juga. "Oh gitu, habisnya aku enggak lihat foto keluarga kamu disini, jadi aku penasaran" ucap Via, "Biasanya kan paling enggak dua biji pigura foto keluarga ada di ruang tamu". "Aku, sebenarnya disini karena keadaan Vi" ucap Dara. "Keadaan? Kenapa Ra? Kamu enggak di usir Orang tua kamu kan?" tanya Via. "Jangan bahas itu Vi, aku takut nangis. Bahas yang lain aja yah?". "Sorry yah Ra, bikin kamu sedih, aku gak nanya-nanya lagi deh" ucap Via enggak enak karena melihat Dara sudah berkaca-kaca matanya. "Gak apa-apa Vi, wajar kok kalau nanya, cuman aku aja yang sensitif" ucap Dara membuka kulkas, mengeluarkan beberapa Snack. "Sini aku bantu bawain Ra" ucap Via membantu Dara membawa Snack yang dia keluarkan, "Kamu bawa itu aja, kalau aku yang bawa takut ntar pecah Tupperware kamu". "Ok Vi, terimakasih" ucap Dara tersenyum simpul. Dara dan Via bergegas menuju ruang tamu, ternyata Dimas sudah tiba dan membaur dengan Devan dan Erlin. Dara meletakkan minuman, dan Via meletakkan Snack. "Ini Ra" ucap Dimas menyerahkan sekeranjang buah beraneka macam buah, dan juga sekantong Snack yang bisa Dara tebak karena plastiknya putih, masih bisa ia baca. "Kok bawa beginian, ngerepotin banget" ucap Dara protes. "Udah gak apa-apa" ucap Dimas tersenyum, "Yang penting kamu sehat". Erlin dan Via saling tatap, membaca bahasa tatapan Dimas pada Dara. Ada percikan cinta disana. "Dim, kamu suka Dara?" tanya Via to the point. "Nggak perlu kepo! Dara kan teman kita juga udah" ucap Devan menasihati Via. "Aku kan nanya Dimas, bukan kamu!!!" ucap Via kesal. "Enggak perlu, aku yang bantu Dimas jawab!" ucap Devan. Via cemberut, kesal dengan Devan. Dimas hanya tertawa, dan Dara jadi tidak enak dengan Erlin dan Via. Harus melihat perhatian Dimas di depan mata mereka sendiri. Tapi memang Dimas dengan segala bentuk perhatiannya. Kadang Dara berpikir andai ia memang berjodoh dengan Dimas bagaimana? Apa Dimas akan menerima Dara dan masa lalunya?. Dengan Kenan, Dara tidak berani bermimpi, meski Kenan dan Dimas memang dua hal yang tidak perlu Dara impikan. Dara hanya butuh kerja dan bertahan hidup, tidak boleh serakah dengan memiliki cinta yang tulus. ~BERSAMBUNG~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN