"Ra, kamu bisa ikut aku sebentar?" tanya Mas Kenan dari luar ruangan Dara mengagetkan Dara. Ia segera bergegas membuka pintu.
"Iya Mas? Kenapa?" tanya Dara.
"Kamu pucat banget Ra, Sakit?" tanya Mas Kenan.
"Ah, enggak Mas. Saya baik-baik aja kok" ucap Dara.
"Enggak, ini kamu pucat. Kamu sakit, ya sudah kamu pulang Ra istirahat di rumah" ucap Mas Kenan.
"Enggak Mas, saya kerja aja, sayang udah di Kantor" ucap Dara.
"Jangan, pulang aja Ra. Saya yang antar kamu" ucap Mas Kenan segera masuk ruangan Dara mengambil tas, paper bag berisi roti lapis selai dan sebotol s**u uht, dan juga kunci motor Dara lalu keluar lagi "Ayo".
"Saya sehat kok Mas, enggak sakit" ucap Dara.
"No, saya gak mau kamu tambah sakit, gak usah pikirin potong gaji atau saya marah. Ini demi kebaikan kamu" ucap Mas Kenan, melepas jas kantornya lalu memasangkan ke tubuh mungil Dara, "Ayo".
Mau tak mau Dara mengikuti langkah Kenan, memang setelah kedatangan Gavin membuat tubuhnya berubah, gak nyaman dan darahnya mendidih emosi dengan sikap Gavin.
Langkah Dara mulai melemah, pelan-pelan pandangannya berputar dan kabur, namun ia tahan-tahan, sebentar lagi ia akan keluar dari lobby Kantor dan menuju parkiran. Dara kuat Dara yakin ia bisa.
Namun sayang, hampir di lobby kantor, tubuh Dara luruh ke lantai, ia pingsan.
Beberap karyawan kantor berteriak, Kenan yang memang sedikit lebih di depan tak melihat Dara pingsan, langsung saja ia berbalik, menjatuhkan tas, dan paper bag Dara ke lantai, segera ia menggendong tubuh Dara ala bridal style.
Dimas yang kebetulan hendak masuk kantor bergegas membantu Kenan, dengan membantu membawa tas dan paper bag Dara.
"Pak, Dara kenapa?" tanya Dimas khawatir.
"Pingsan Dim, saya juga baru tau dia pucat terus pingsan. Tolong bantu bawakan tas-nya sampai mobil saya ya" ucap Mas Kenan pada Dimas.
"Ok Pak" ucap Dimas.
Kenan dan Dimas bergegas menuju parkiran mobil Kenan.
"Di rumah Dara gak ada orang Pak, apa saya sama Bapak ngantar Dara? Biar bawa teman wanita buat bantu Dara nanti ganti baju di rumah?" tanya Dimas sambil meletakkan tas dan paper bag Dara di kursi depan samping Kenan menyetir.
"Boleh Dim, ajak teman kamu wanita satu ya, cepat ya Dim" ucap Mas Kenan yang segera merebahkan tubuh Dara di kursi tengah mobil.
"Ok Pak, tunggu sebentar saya cari Erlin sebentar" ucap Dimas hendak bergegas, Hani datang menghampiri Kenan dan Dimas.
"Pak, Dara kenapa? Baik-baik aja kan Pak?" tanya Hani.
"Dimas, ini ada Hani, biar saya sama Hani aja. Kamu tetap disini" ucap Mas Kenan.
Dimas yang ingin mencari Erlin mengangguk, menurut dengan ucapan sang atasan, "Ok Pak Kenan, saya nanti minta kabar yah Pak. Kalau Dara udah sadar?".
"Ok Dim, kami berangkat dulu ya" ucap Mas Kenan.
"Hati-hati Pak" ucap Dimas membungkukkan sedikit badannya.
"Hani, kamu ikut saya" ucap Mas Kenan segera menyuruh Hani duduk dikursi belakang memangku kepala Dara.
"Baik Pak, ditinggal dulu ya Dim" ucap Mba Hani pada Dimas sambil tersenyum.
"Ok Mba, hati-hati" ucap Dimas membalas senyuman Mba Hani.
"Oh iya Dim, ini kunci motor Dara, tolong suruh siapapun bawa motor Dara ke rumahnya ya, nanti pulang ke Kantor ikut saya" ucap Mas Kenan menyerahkan kunci motor pada Dimas.
"Ok Pak" ucap Dimas.
Setelah memberikan kunci motor Dara pada Dimas, Kenan bergegas masuk ke mobilnya memasang seat belt, lalu menyetir mobilnya dengan kecepatan lumayan kencang.
"Hani, tolong telepon Dokter Arya di kontak hape saya" ucap Mas Kenan menyerahkan ponselnya pada Hani.
"Baik Pak. Yang bicara saya apa Bapak?" tanya Hani.
"Saya, kamu tolong telepon kan saja" ucap Mas Kenan.
"Baik Pak Kenan" ucap Hani segera menelpon kontak yang diminta Kenan.
Tut~ tutt~
"Halo selamat pagi Kenan, dengan Dokter Arya disini. Ada yang bisa saya bantu Ken?" tanya suara dari sebrang Hani me-loudspeaker handphone Kenan.
"Pagi Dokter Arya, tolong segera datang ke Kompleks Perumahan Surya regency nomor 7 ya. Segera saya tunggu" ucap Mas Kenan.
"Ok, saya berangkat sekarang Kenan" ucap Dokter Arya.
"Siap Dok, terimakasih ya" ucap Mas Kenan.
"Siap Kenan, no problem" ucap Dokter Arya.
Telepon ditutup. Kenan masih fokus dengan jalanan.
"Ini Dara sakit Pak? Kok bisa pingsan begini?" tanya Hani memandangi wajah tenang Dara yang masih pingsan.
"Tadi dia pucat, sudah saya paksa pulang tadi. Awalnya dia enggak mau, baru di lobby kantor dia sudah pingsan begini" ucap Mas Kenan.
"Pak Kenan kelihatan perhatian sekali sama Dara" ucap Hani keceplosan.
"Wajar kan, dia rekan kerja saya" ucap Mas Kenan sedikit gugup.
"Beda Pak, saya bisa lihat perhatian Pak Kenan itu beda sama Dara. Bukan saya cemburu sebagai karyawan Bapak. Cuman penasaran aja Pak, Bapak naksir sama Dara?" tanya Hani penasaran.
"Ya siapa yang enggak tertarik sama wanita yang sopan, ramah, dan cantik seperti Dara. Dia tipe saya" ucap Mas Kenan.
"Jadi Bapak beneran naksir Dara?" tanya Hani.
"Iya saya suka Dara, tapi Dara gak suka saya" ucap Mas Kenan terkekeh.
"Dara suka Pak, kelihatan dia malu-malu sama Bapak" ucap Hani asal.
"Gak lah, Dara udah bilang dia gak akan pdkt, pacaran, apalagi menikah" ucap Kenan.
"Berarti dia udah punya pacar Bapak! Jangan jadi PHO yah" ucap Hani.
"Gak punya pacar Dara Han.... Dia single" ucap Mas Kenan.
"Lah kenapa Dara enggak mau pdkt, pacaran, sama nikah? Apa dia menyimpang? Wah jangan sampai Dara salah jalur ini Pak" ucap Hani tiba-tiba.
"Dara normal, cuman enggak tau dia kenapa. Saya juga penasaran sama masa lalu dia. Ada yang bikin dia trauma, saya yakin ada yang dia simpan dan gak mau diumbar ke massa sekarang. Dia memang sengaja menutup rapat-rapat cerita yang lalu itu" ucap Mas Kenan.
"Kalau begitu, Pak Kenan harus ketuk hati Dara Pak, biar Dara buka hati" ucap Hani.
"Kasih saran yang banyak yah Han, nanti kamu kan makin dekat sama dia, cari tau kesukaannya apa atau dia mau apa langsung lapor ke saya yaa" ucap Mas Kenan.
"Wah siap saya akan bantu Bapak" ucap Hani, ia orang pertama yang akan mendukung hubungan Dara dan Pak Bos Kenan.
Sesampainya dirumah Dara Kenan meminta Hani mengambil kunci rumah Dara, dan membuka pintu rumah Dara. Hani melakukannya dengan gesit.
Kenan segera membawa tubuh Dara ke dalam rumah, ke kamar Dara lebih tepatnya. Ia rebahkan dengan posisi nyaman diatas kasurnya.
"Han, tolong gantikan baju Dara. Baju tidur aja biar nyaman, ini bajunya udah ada keringat Dara mungkin. Tolong yah Han" ucap Mas Kenan.
"Siap Bapak" ucap Hani memilih baju dalam lemari Dara sambil berucap 'Maaf' untuk meminta izin. Pilihannya jatuh pada baju tidur lengan pendek dan panjang selutut berbahan satin warna hitam.
Kenan keluar dari kamar Dara menutup pintu kamar itu, menunggu kedatangan motor Dara dan juga Dokter Arya. Baru disebut, Dokter Arya datang diantar supir pribadinya. Ia bergegas menghampiri Kenan dan menyalami Kenan.
"Siapa yang sakit Ken?" tanya Dokter Arya.
Kenan dan Arya seumuran. Teman semasa SMA namun masih berkomunikasi sekarang meski mereka tidak satu kampus universitas.
"Calon pacar saya, Dok" ucap Mas Kenan tersenyum nakal.
"Wah calon pacar, bentar lagi undang-undang yah Ken" ucap Dokter Arya meninju pelan lengan kanan Kenan.
"Gampang itu Dok, do'ain cepat resmi yah hubungan saya sama dia" ucap Mas Kenan.
"Siap Boss K Art, di do'akan biar cepat resmi, cepat halal, biar reunian ini teman SMA di acara Nikahan nanti" ucap Dokter Arya tersenyum.
"Amin amin, terimakasih Dok" ucap Mas Kenan, "Tunggu sebentar yah, dia lagi diganti baju. Takut kepanasan, bajunya lumayan tebal".
"Santai Bro" ucap Dokter Arya.
Kenan dan Dokter Arya duduk di sofa ruang tamu Dara berbincang sebentar. Tak lama kemudian Hani keluar, ia sempat saling berpandangan dengan Dokter Arya, kemudian saling melempar senyum.
"Sudah Han?" tanya Mas Kenan.
"Sudah Pak, silahkan masuk aja Dokter Arya" ucap Hani tersenyum.
"Kamu tahu nama saya?" tanya Dokter Arya tersenyum.
"Tadi yang bantu Pak Kenan telepon Dokter itu, saya" ucap Hani.
"Oh, salam kenal ya hmm...." Dokter Arya menatap Hani.
"Hani Dok, Hani Cecilya" ucap Hani.
"Oke Hani, salam kenal saya Dokter Arya. Ayo kita periksa yang sakit dulu" ucap Dokter Arya.
Kenan dan Dokter Arya bergegas masuk ke kamar, Dara masih betah pingsan, Dokter Arya pun segera memeriksa kondisi Dara dengan stetoskopnya.
Hani yang terbiasa juga hidup sendiri meminta izin kembali masuk ke dapur membuatkan es sirup jeruk tiga gelas untuk Dokter Arya, Pak Kenan, dan dirinya yang juga kebetulan haus. Ia juga mencari kue kering yang bisa disuguhkan di ruang tamu.
Setelah mendapat kue kering di dua toples, ia segera membawa tiga gelas berisi es sirup dan dua toples berisi kue kering tadi di atas meja sofa ruang tamu Dara.
Nanti ketika Dara sadar ia akan meminta izin dan maaf karena lancang masuk ke dapurnya sembarangan.
Ia duduk di sofa menunggu Dokter Arya dan Kenan keluar kamar Dara.
"Gimana Dok?" tanya Mas Kenan khawatir.
"Aman Ken, dia cuman banyak pikiran dan kelelahan aja kok. Mau saya kasih resep vitamin?" tanya Dokter Arya, "Sebenarnya dia gak perlu obat, cukup istirahat sama makan juga teratur".
"Kalau memang perlu vitaminnya boleh dicatat aja Dok, biar nanti saya yang tebus sekalian ngantar Hani ke kantor terus balik lagi kesini" ucap Mas Kenan.
"Nama calon kamu ini siapa, Ken?" tanya Dokter Arya.
"Dara Dok. Dara Valentina Oona" ucap Mas Kenan.
"Namanya bagus, cocok kalian berdua. Semoga berjodoh yaa" uca Dokter Arya tersenyum menuliskan resep untuk Dara.
"Amin, semoga beneran berjodoh yah Dok" ucap Mas Kenan.
"Udah pasti ini berjodoh" ucap Dokter Arya kembali tersenyum.
"Itu yang diluar Hani, kalau mau ajak kenalan boleh. Dia baik, dan sopan juga. Mau saya jodohkan?" tanya Mas Kenan mengusik Dokter Arya.
"Jangan, nanti dia bosan sama saya, sibuk sama pasien, enggak banyak waktu sama dia" ucap Dokter Arya.
"Nanti saya kasih nomer Hani ya" ucap Mas Kenan yang bisa membaca gestur Dokter Arya yang tertarik apda Hani.
"Dikira saya enggak laku nih dijodoh-jodohin sama pegawai kamu Ken?" ucap Dokter Arya pura-pura kesal sambil memberikan resep yang ditulisnya tadi pada Kenan.
"Ya siapa tau kalian memang cocok dan berjodoh. Saya kan perantara saja" ucap Mas Kenan terkekeh memasukan resep itu ke dalam saku kemeja putih lengan panjangnya. Jasnya masih berada diatas kasur Dara.
"Biar Dara istirahat dulu, kita duduk di sofa dulu yuk" ucap Dokter Arya.
"Oke" ucap Mas Kenan.
Dokter Arya dan Kenan keluar dari kamar Dara, mereka lihat Hani sudah duduk dengan sajian minuman dan kue kering diatas meja.
"Gimana Dara, Pak?" tanya Hani pada Kenan.
"Baik-baik aja Han, aman, kita tunggu Dara sampai siuman dulu ya, biar nanti saya antar kamu ke Kantor lagi. Kasian atasan kamu ditinggal" ucap Mas Kenan pada Hani.
"Siap Pak. Ini saya bikin minuman, tapi tadi saya sudah izin, nanti saya juga ngomong sama Dara kok. Ayo silahkan diminum Dokter Arya, Pak Kenan" ucap Hani mempersilakan.
Dokter Arya dan Kenanpun segera duduk dan meminum minuman yang dibuatkan Hani. Minuman dingin dari kulkas memang menyegarkan.
Hani juga ikut minum, dan tenggorokannya segar sekali setelah minum sirup jeruk ini. Tapi ia teringat Dara, ia bergegas pamit dari hadapan Dokter Arya dan Kenan untuk melihat Dara.
Dan benar saja, Dara sadar, tapi memegangi kepalanya dan masih mengerjap kebingungan.
"Ra, kamu pingsan tadi. Kamu mau minum?" tanya Hani.
Dara mengangguk lemah dan Hani segera bergegas mengambil air putih ke dapur, dan kembali ke kamar Dara.
"Ini Ra" ucap Hani membantu Dara minum.
"Terimakasih Mba Hani. Ini saya dirumah?" tanya Dara kebingungan.
"Iya, saya sama Pak Kenan yang gendong kamu kesini. Kamu pingsan di lobby kantor, kamu kenapa? Baik-baik aja kan Ra?" tanya Hani.
"Lagi pusing aja Mba, sekarang sudah baik-baik aja kok" ucap Dara lemah.
"Ya sudah, kamu istirahat dulu Ra, hari ini" ucap Hani meletakkan gelas ke atas meja rias Dara, "Kamu bisa bangun?".
"Bisa Mba, bisa kok" ucap Dara.
"Apa kamu mau makan? Kamu punya nasi? Oh iya Ra, tadi aku bikin es sirup, buat Dokter sama Pak Kenan, sama aku juga. Maaf yah Ra, oh iya, kue kering kamu di toples juga aku taruh di ruang tamu" ucap Hani panjang lebar.
"Gak apa-apa kok Mba, dimakan aja, kalau mau Snack di dalam kulkas ada kayaknya masih" ucap Dara.
"Gak usah Ra, itu aja aku udah gak enak. Di rumah orang gak sopan. Habis aku kebingungan, sama haus juga Ra hehehee".
"Ra, udah bangun?" tanya Mas Kenan di depan pintu.
"Sudah Mas, terimakasih ya Mas Kenan sama Mba Hani udah tolongin saya" ucap Dara lemah.
"Gak apa kok Ra, santai aja. Ini temen saya Dokter Arya mau pamit" ucap Mas Kenan.
"Oke Mas, tolong sampaikan terimakasih banyak buat Mas Dokter Arya" ucap Dara.
"Siap Ra, sehat terus yahh, semangat jangan banyak pikiran" ucap Dokter Arya juga nyempil di pintu.
"Iya Dok terimakasih banyak" ucap Dara.
Dokter Arya pun berpamitan dengan Hani dan juga Kenan. Karena ia harus berangkat ke rumah sakit.
"Ra, bisa ditinggal sebentar? Saya antar Hani dulu, baru nanti kesini lagi bawa vitamin resep dari Dokter Arya" ucap Mas Kenan.
"Bisa kok Mas" ucap Dara mengangguk lemah.
"Oke, kita tinggal dulu yah Ra" ucap Mas Kenan.
"Saya tinggal yah Ra, cepat sehat yah, jangan banyak pikiran" ucap Hani.
"Terimakasih Mba Hani, hati-hati yah dijalan Mas Kenan, Mba Hani" ucap Dara tersenyum lemah.
"Ok Ra, nanti saya kesini lagi" ucap Mas Kenan.
Dara mengangguk. Segera Kenan dan Hani bergegas pulang setelah menutup pintu rumah Dara. Dara kembali sendirian. Ia pun mencoba bangun dan mengunci pintu utama rumah ia takut kalau rebahan di kamar tidak mengunci pintu.
Setelah itu ia pun kembali rebahan untuk beristirahat.
"Pak, nanti pas ke rumah Dara beliin nasi Padang atau nasi pecel Pak, biar Dara makan. Kayaknya dia belum makan" celetuk Hani.
"Oh oke Han, kamu mau nasi Padang juga gak?" tanya Mas Kenan masih fokus dengan jalanan.
"Kalau dibeliin saya mau Pak. Enggak Pak, bercanda saya" uca Hani terkekeh.
"Kamu yang beli yah, beli tiga bungkus, buat kamu satu, saya sama Dara jadikan satu plastik aja" ucap Mas Kenan memarkirkan mobil ke rumah makan Padang dekat kompleks rumah Dara, diberikannya uang ratusan ribu pada Hani.
"Ok Pak" ucap Hani segera keluar dari mobil dan membeli nasi sesuai pesanan Kenan.
~
Setelah mengantar Hani kembali ke Kantor, Kenan bergegas membeli vitamin yang diresepkan Dokter Arya padanya, lalu kembali ke rumah Dara.
Setelah sampai di rumah Dara, Kenan mengetuk pintu rumah, tak menunggu waktu lama, Dara membuka pintu, wajahnya sudah tidak terlalu pucat lagi.
"Maaf Ra...." ucap Mas Kenan memegang kening Dara memeriksa apakah Dara panas atau normal.
Dara sedikit kaget dengan perlakuan Kenan padanya. Lelaki ini perhatian sekali padanya beda jauh perlakuannya dengan Gavin.
~BERSAMBUNG~