HMD - 11 (APA GAK BISA KITA SEPERTI DULU LAGI DARA?)

2045 Kata
"Dimas tipe banyak cewek diluaran sana Mas, tapi Dara nggak berani. Banyak saingannya" ucap Dara bercanda. "Tapi kan kamu yang nolak aku" ucap Dimas pelan. "Ihh Dimas nembak tapi ditolak ya, hahaa" Mba Dian tertawa kencang. "Nyebelin banget nih Ibu satu yah!!" ucap Dimas kesal. "Berantem aja didepan makanan! Ini bagiin kuenya. Ini Dara, kue buat kamu. Spesial" ucap Tante Diana menyerahkan kue ukuran cukup besar ke tangan Dara, "Habisin". "Terimakasih Tante, tapi ini besar banget Tante, saya samaan sama Dimas aja ini berdua" ucap Dara gak enak. "Dimas mah gak doyan yang manis-manis, paling cuman makan dikit" ucap Mba Jihan. "Mba Jihan ini Kakak paling perhatian Ra, gak kayak yang itu tuhh!" ucap Dimas menunjuk ke arah Mba Dian. Mba Dian sudah hendak melotot dan mengeluarkan sumpah serapahnya pada Dimas, tapi Mas Galih sigap langsung menyuapkan kue ke mulut istrinya itu. Dimas mengambil dua sendok, satu sendok diberikannya pada Dara, dan Dimas mulai menyendok kue yang ada dipiring yang di pegang Dara. Dara juga mulai menyuapkan kue yang diberikan Tante Diana. Rasa kuenya memang tidak diragukan lagi, lembut, dan coklatnya bukan coklat murah. Coklatnya manisnya pas, lembut masuk kedalam mulut. Benar-benar kue mahal memang. "Kuenya mewah banget ini enak. Beli dimana Dim?" tanya Mas Galih. "Di Mall Mas, itu paper bag ya logo tokonya, kuenya emang enggak salah pilih sih beli disini, enggak mengecewakan" ucap Dimas. "Kuenya emang enak, pasti mahal yah Dim?" tanya Om Deddy. "Enggak juga Pa, ramah dikantong Dimas kok. Oh iya, sebentar" ucap Dimas bergegas pergi naik tangga, ke kamarnya. "Ngapain Mas Dimas, Pa?" tanya Tante Diana memandangi Dimas yang terlihat cepat-cepat. "Enggak tau Ma, oh iya, selamat ulang tahun ya Istriku tercinta" ucap Om Deddy mencium dahi Tante Diana lembut, Tante Diana segera mencium tangan suaminya hormat dan sayang. "Om sama Tante romantis banget" celetuk Dara, "Semoga sehat selalu, panjang umur, bahagia terus ya Om sama Tante". "Amin, amin. Terimakasih yah Ra, untuk do'a baiknya. Kamu juga ya, do'a terbaik buat kamu juga" ucap Tante Diana tersenyum, diusapnya poni Dara lembut. "Amin Tante, terimakasih. Selamat ulang tahun juga yah Tante" ucap Dara tersenyum. Dimas datang, lalu segera memberikan bungkusan kado pada Tante Diana. "Ini apa Mas? Hadiah?" tanya Tante Diana kaget. "Iya Ma, dari Papa, Mas Donny, Mba Dian, sama Dimas. Patungan Ma, kalau satu-satu kebanyakan ntar Mama" ucap Dimas bercanda. "Gapapa ini aja udah cukup, terimakasih ya Pa, anak-anak kebanggaan Mama. Mama senang banget" ucap Tante Diana, "Hadiah dari Dara Tante buka yah?". "Jangan Tante, nanti di kamar aja. Dara malu" ucap Dara. "Kenapa malu? Itu buka punya Jihan dulu Ma, sama punya Galih tuh juga, baru Dara, baru hadiah patungannya" ucap Om Deddy. "Jangan Ma, nanti aja punya Jihan" ucap Mba Jihan juga tak ingin kado darinya dibuka. "Yaudah punya Galih buka aja Ma" ucap Mas Galih mempersilakan Tante Diana membuka kadonya. "Oke, punya Mas Galih Mama buka ya" ucap Tante Diana segera membuka kado dari Mas Galih, dan kadonya berisi tas bermerk berwarna Navy. Harganya diatas sepuluh juta, "Ya ampun, Mama belum punya yang ini, terimakasih Mas Galih. Harusnya kadonya yang ramah dikantong aja. Mama pakek kok". "Jangan Ma, spesial ini buat Mama" ucap Mas Galih tersenyum. "Terimakasih yah Mas Galih" ucap Tante Diana. "Makin ciut aku Dim" bisik Dara pada Dimas. "Kenapa Ra?" tanya Dimas juga berbisik. "Kadoku gak nyampe lima ratus ribu" bisik Dara lagi. "Aduh, enggak masalah Ra. Mama mah kalau dikasih kado aja senengnya minta ampun" ucap Dimas pelan. "Aku gak enak" ucap Dara pelan. "Gak apa-apa Ra, santuy" ucap Dimas pelan. ~ Setelah makan malam bersama keluarga Dimas yang ramah dan menyambut kedatangan Dara dengan hangat, Dimas pun mengantarkan Dara pulang. Jam sudah menunjukan pukul setengah sepuluh malam. "Ra, jangan menjauh ya" ucap Dimas sebelum Dara turun dari mobilnya sedang melepas seat beltnya. "Kenapa Dim? Kenapa harus menjauh?" tanya Dara keheranan. "Karena aku bilang suka kamu, terus kamu ngerasa enggak nyaman kamu malah menjauh. Jangan ya, tetap kayak gini" ucap Dimas. "Tapi aku gak mau ngasih harapan Dim, aku enggak mau nyakitin perasaan kamu" ucap Dara pelan. "Enggak masalah, aku bakal tunggu kamu. Sampai kamu balik suka sama aku" ucap Dimas tersenyum ramah. "Aku enggak akan menjauh Dim, kamu rekan kerja aku. Kamu baik sama aku, tapi jangan paksa aku yah Dim. Aku enggak nyaman kalau dipaksa" ucap Dara. "Aku bukan cowok yang suka maksa Ra, tenang aja" ucap Dimas. "Ya udah, aku masuk ya, kamu hati-hati dijalan yah Dim. Terimakasih untuk malam ini, salam buat orang tua kamu. Mereka baik banget sama aku" ucap Dara. "Kalau nanti diajak makan malam sama keluarga aku lagi kamu mau kan Ra?" tanya Dimas. "Selagi aku bisa, aku mau kok Dim. Dan yang pasti enggak ngerepotin kamu" ucap Dara. "Enggak ngerepotin sama sekali Ra, aku malah senang kamu mau diajak ke rumah" ucap Dimas. "Di rumah kamu jadi ingat rumah sendiri Dim" ucap Dara pelan. "Nanti kapan-kapan aku juga ke rumah orang tua kamu yah Ra?". "Hah? Oh, iya Dim. Tapi aku enggak bisa janji yah" ucap Dara tersenyum kaku, "Ya udah, aku turun yah?". Dimas mengangguk, "Sampai ketemu besok Ra". "Siap Dim, hati-hati dijalan yah" Dara pun segera turun dari mobil Dimas. Setelah berpamitan, mobil Dimas pun berjalan meninggalkan pekarangan rumah Dara. Dara segera mengambil kunci rumah dalam tasnya, dan membuka pintu rumahnya. Dara segera mengunci pintu rumah dan masuk ke dalam kamar, menaruh tas, meroll poninya, mengganti baju tidurnya dengan baju tidur dress satin navy. Dara pun menuju kamar mandi, membersihkan wajahnya dan menyikat giginya, lalu mencuci tangan dan kakinya. Setelah selesai membersihkan tubuh, Dara pun segera menuju kamarnya dan merebahkan dirinya. Baju kotornya sudah ia letakkan di keranjang baju kotor. Dara mengambil handphonenya yang ada di dalam tas yang dia pakai pergi ke rumah Dimas tadi, lalu membuka galeri handphonenya. Ia membuka fotonya dengan Dimas. Baru kali ini Dara tidak malu ber-selfie dengan teman lelakinya. Dimas memang tipikal lelaki yang ramah, lembut, dan asyik diajak berbincang. Tidak salah jika Dara juga wellcome pada Dimas. Bahkan berfoto bersama dengannya tanpa jaga image. Dara ingin sekali meng-upload fotonya ini, tapi ia berteman dengan rekan kerjanya di K Art termasuk Kenan. Dara tidak ingin nanti mereka semua salah menilai. Apalagi jika sampai menganggap Dara kegatelan dengan Dimas. Atau menganggap mereka punya hubungan. Dan menyakiti hati Kenan yang juga terang-terangan mengaku tertarik pada Dara. Dara tidak ingin menyakiti hati orang. Memberi harapan pada mereka adalah hal yang salah, apalagi jika mereka sampai harus menunggu. Dara tidak akan menerima mereka siapapun itu. Karena Dara sudah bersumpah tidak akan berpacaran apalagi sampai menikah. Tidak akan ada lelaki yang mau dengannya yang sudah tidak berguna lagi. Tidak ada yang pantas ia banggakan untuk tubuh dan hidupnya. Dia sudah kotor, dan dosanya sudah banyak. Ia tidak ingin menambah dosa lagi dan lagi. Alhasil, foto tadi Dara hanya pandangi, lalu lama kelamaan mata itu menutup dan akhirnya tertidur. Alarm berbunyi pukul setengah 2 malam, Dara bergegas mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat tahajud. Setelah selesai berdo'a, Dara segera kembali tidur, dan bangun ketika adzan subuh. Mandi lalu melaksanakan sholat subuh, setelah selesai ia mengenakan baju kantor K Art. Dara biarkan rambut terikat tinggi dan poninya dibiarkan on. Setelah selesai berdandan Dara pun segera menyiapkan sarapannya, yaitu dua lembar roti ditumpuk jadi satu dengan selai strawberry campur s**u kental manis putih. Selesai sarapan, ia mengambil s**u kotak besar UHT dikulkas lalu menuangnya ke gelas. Menenggaknya hingga tandas. Dara kembali menumpuk dua lembar roti dengan selai kacang, dan dua lembar roti lagi dengan taburan s**u putih dan Meises coklat. Dara kemudian menaruh 2 roti itu ke dalam Tupperwarenya. Dara juga memasukkan s**u UHT dikulkas tadi ke dalam botol Tupperware. Dara takut kelaparan nanti dikantor sebelum jam makan siang, jadi ia antisipasi dengan membawa roti dan s**u. Yang langsung dimasukkannya kedalam paperbag. Setelah siap, Dara kembali mematut wajah dan baju kantornya. Sudah sempurna, Dara pun segera memasukkan handphonenya yang tadi ia charger sebelum mandi dan sholat subuh ke dalam tas hitam Selempangnya, dompetnya juga tak lupa ia masukkan ke dalam tas. Setelah itu, Dara memasang Pump shoes mocha mengkilat yang setinggi 7 cm. Dara melihat jam di dinding, pukul 06.45 pagi, sebaiknya Dara berangkat pagi, agar tidak terlambat. Segera ia ambil kunci motornya dan bergegas berangkat setelah mengunci pintu utama rumahnya. ~ Dara tiba di kantor K Art pukul 07.25, segera ia absen dengan kalung Id Card-nya. Lalu bergegas menuju ruangannya yang baru. Sebelum tiba di ruangannya, tangan Dara ditarik menuju ke sudut ruangan dekat pantry Kantor. Dan Dara kaget ketika melihat Gavin sudah berdiri di depannya sambil masih memegangi lengan Dara. "Apa lagi sih Gavin?" tanya Dara kesal, "Kita gak ada apa-apa lagi, bukan rekan kerja lagi". "Aku penasaran sama laki-laki tinggi yang sama kamu di mall waktu itu" ucap Gavin. "Hah? Siapa? Dimas? Itu rekan kerja aku Vin. Jadi yang kemarin aku tabrak itu kamu?" tanya Dara balik bertanya pada Gavin. "Namanya Dimas? Dia suka sama kamu Ra?" tanya Gavin penasaran memaksa Dara bercerita. "Apaan sih Vin! Bukan urusan kamu kan? Ngapain kamu kesini pagi-pagi repot-repot cuma buat nanya Dimas doang?". "Aku gak mau kamu sama orang lain. Kamu punya aku Ra" ucap Gavin segera merengkuh tubuh mungil ini kepelukannya. Dara berusaha melepas pelukan Gavin, namun Gavin dan kekuatannya sebagai laki-laki, otomatis Dara kalah dari segi kekuatan. Gavin juga mencium puncak kepala Dara, dan membisikan kata cinta terus menerus ditelinga Dara. Dara kesal sekali. Lelaki ini berani menyentuh bahkan mencium puncak kepalanya dengan memaksa. Dara mencari waktu yang tepat untuk mendorong tubuh Gavin, terlepas. Dara melotot pada Gavin. "Jangan seenaknya kamu giniin aku yah Gavin!" ucap Dara memeluk tubuhnya sendiri, dengan bersedekap kedua tangan ke dadanya. Antisipasi jika lelaki ini memeluknya kembali. "Aku harus ngapain Ra, biar kamu tau rasa cinta ini gak akan pernah luntur meskipun kamu tinggalin aku. Se-la-ma-nya Ra, selamanya rasa ini buat kamu!" ucap Gavin hendak meraih tubuh Dara lagi, tapi Dara sigap menghindar. "Tolong ngerti, jangan kaya orang bodoh Vin, aku dan kamu gak ada hubungan lagi! Selamanya gak akan kembali lagi! Jangan berharap apapun tentang kita berdua. Tolong ngerti Gavin Arion!" bentak Dara. "Aku cinta kamu Ra, kalau memang aku gak bisa memiliki kamu, lelaki lain gak akan juga bisa--" ucapan Gavin dipotong segera oleh Dara. "Iya Gavin! Iya! Gak ada lelaki manapun yang akan bisa miliki aku! Karena kenyataannya hidupku hancur, dan itu karena kamu! Aku gak akan ditakdirkan hidup bahagia lagi" ucap Dara. "Kamu bahagia kalau sama aku Ra! Buat apa cari kebahagiaan lain?". "Kata siapa kalau kita sama-sama bahagia? Tiap hari yang ada aku tersiksa. Kesiksa sama bayangan masa lalu! Cukup 5 tahun yang lalu hidupku jatuh Vin. Tolong jangan bikin hidup aku susah lagi" ucap Dara pelan. "Kamu enggak mau ngulang lagi, kita list mimpi kita sama-sama lagi Ra? Gak ada kah sedikit sisa rasa itu dihati kamu?". "GAK ADA! Yang ada rasa sakit dan terluka tiap hari, dalam 5 tahun itu aku mimpi buruk setiap hari!" ucap Dara, "Dan kalau kamu pikir rasa cinta itu masih ada.... Kamu salah Gavin!" ucap Dara. "Ra, please Ra.... Aku sayang kamu. Please maafin aku dan terima aku lagi, sekarang kita sama-sama selamanya, kamu gak perlu takut aku tinggal lagi. Aku bakalan sama kamu terus" ucap Gavin. "Aku gak mau Vin, jangan paksa aku! Aku bisa ya, minta security usir kamu sekarang. Jadi sebelum aku panggil security, kamu pergi sekarang!" ancam Dara. "Ra, please Ra. Jangan siksa aku gini. Aku udah kesiksa 5 tahun yang lalu gak bisa cari kamu. Please kasih aku kesempatan buat---". "Pergi Gavin! Pergi sekarang!" bentak Dara yang tetap kekeuh ingin Gavin pergi dari hadapannya. "Ra...." Gavin berujar pelan. "Pergiiiiiii!!!" teriak Dara sambil menghentakkan kakinya dengan jari telunjuk menunjuk pintu keluar. "Aku gak akan capek kejar kamu Ra, sampai kamu mau balik sama aku...." Gavin berbalik dan pergi dari sana. Napas Dara turun naik, emosinya sampai ke ubun-ubun, kepalanya sakit, darahnya mendidih, ingin sekali ia menangis. Ia lelah, capek, Gavin yang keras kepala seperti inilah yang membuat Dara semakin membencinya. Dengan langkah lemas, ia berjalan menuju ruangannya. Demi apapun Dara sebenarnya ingin pulang sekarang juga, tapi ia punya tanggung jawab sekarang. Tugasnya bukan lagi ecek-ecek, sekretaris seorang bos K Art, yaitu Kenan Mahardika. Dara duduk di kursinya dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, ingin sekali menangis, namun nanti dandanannya rusak. Rusak hanya karena seorang Gavin Arion, pria arogan, kasar, dan juga orang yang Dara sangat benci, seumur hidupnya. ~BERSAMBUNG~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN