HMD - 10 (KELUARGA DIMAS & UNGKAPAN PERASAAN DIMAS)

2152 Kata
Gavin masih penasaran dengan lelaki yang bersama Dara tadi malam. Siapa dia? Gavin penasaran setengah mati. Haruskah ia menyewa orang lagi untuk mencari tahu lelaki yang dekat dengan Dara siapa saja?. Ah, rasanya sangat tidak berguna jika ia berdiam disini dan tidak bergerak mendekati Dara. Dara resmi resign bekerja di Sun E. Dan itu membuat Gavin bertambah tidak bersemangat untuk bekerja. Rasanya seperti hambar jika tidak melihat Dara. Ia merindukan wajah itu, wajah yang selalu tersenyum padanya 5 tahun yang lalu, wajah yang selalu baik-baik saja meski Gavin melukai perasaannya. Wajah yang kuat meski hidup sendirian. Dan ditinggalkan buah hatinya dan Dara. Hidup se-menyedihkan itu. Gavin menyesal, sangat menyesal. Ingin sekali ia menebus kesalahannya. Tapi Dara menolaknya. Bahkan meminta terang-terangan untuk jangan lagi mendekatinya. Dara membenci Gavin itulah kenyataannya. Dan Gavin, hidup dalam lingkup rasa bersalah yang setiap hari semakin besar saja rasa bersalahnya itu. ~ Kenan kembali duduk dengan menu yang sama dengan makanan yang Dara dan Hani makan, nasi soto dan segelas es teh. Kenan ikut makan siang bersama Dara dan Hani. Banyak pasang mata yang memandang ke arah mereka, namun Kenan tak perduli. Hani dan Dara sudah gak nyaman dipandangi terus. Seakan-akan ada yang salah karena mereka makan bersama dengan seorang Bos tampan seperti Kenan. "Jangan pikirin omongan orang. Kita makan bareng karena memang lingkup kita kan sama" ucap Kenan membaca pikiran Dara dan Hani. "Tapi Pak, matanya semua ke sini. Gak nyaman saya Pak" ucap Hani pelan sambil masih menyuap makanannya. "Udah makan aja Han, Ra, ayo habiskan makanannya" ucap Mas Kenan memandangi Dara yang terus mengaduk makanannya sambil terus menunduk. "Berasa berdosa banget Pak, saya makan bareng Pak Kenan" ucap Hani lagi. "Yang ada malah saya yang berpikir begitu Han, saya makan siang bareng Karyawan seakan berdosa dan dilarang Karyawan saya yang lain" ucap Mas Kenan bergurau. ~ Dara berdandan seperti biasa, pensil alis tipis, eye liner, mascaara, bedak delicate cream, dan lipstick ombre. Dara mematut lagi bajunya yang sangat biasa, dress selutut berwarna mocha dengan pita dibagian pinggang. Rambutnya Dara ikat satu tinggi-tinggi lalu digulung dengan poni tetap on. Tak lupa Dara memakai tas hitam selempang, dengan Pump heels tahu hitam 7 cm. Dara juga tak lupa meletakkan paper bag mocha berisi hadiah untuk Mama Dimas. Hanya parfum merk lokal, tapi semoga Mama Dimas suka. Dara tidak mampu jika harus membeli hadiah perhiasan. Jadi ia lebih memilih parfum, karena parfum bisa dipakai setiap hari. Deru mobil berhenti di depan rumah Dara. Dara segera menyemprotkan parfumnya, lalu membawa dompet dan handphonenya. Tak lupa paper bag hadiah untuk Mamanya Dimas. Lalu Dara segera keluar dan bergegas mengunci pintu rumahnya. "Lama ya Dim?" tanya Dara begitu Dimas sudah berdiri di samping mobilnya sebelah kiri, membukakan pintu untuk Dara. "Enggak Ra, kamu tuh perempuan gesit. Aku gak perlu nunggu dikursi ruang tamu segala sampai puluhan menit" ucap Dimas. "Hahaa, makasih ya udah dibukain pintu" ucap Dara segera masuk ke dalam mobil Dimas. "No problem Ra" ucap Dimas yang sudah masuk mobil, memasang seat beltnya, begitu juga Dara. "Ini kita ambil kue dulu ya Dim?" tanya Dara. "Iya Ra" ucap Dimas menyalakan mesin mobilnya lalu menjalankan mobilnya pelan. "Oke" ucap Dara. Sesampainya di mall, Dimas meminta Dara untuk menunggu di mobil saja. Tapi Dara bersikukuh untuk ikut. Jadi Dimas mengizinkan. Dara berjalan dengan Pump heels 7 cm, jadi aman. Bukan heel diatas 10 cm yang kadang membuat kakinya sakit. "Kamu pakai heels Ra, gak apa-apa ke mall? Ntar lecet kakinya" ucap Dimas khawatir, mereka berjalan beriringan tanpa kontak fisik, karena mereka tidak punya hubungan. "Enggak Dim, santai aja. Kalau cuman 7 cm aku aman. Kalau heels tinggi sakit. Ini enggak kok" ucap Dara. "Kalau pegel dicopot aja Ra, nanti kita beli sepatu flat shoes aja" ucap Dimas. "No, aku juga kerja pakek heels 7 cm begini" ucap Dara. "Oke, tapi nanti kalau pegel bilang yaa" ucap Dimas. "Iya Dimas...." ucap Dara terkekeh karena Dimas yang membawelinya soal Pump heels. Sesampainya di toko kue kemarin, Dimas mengambil paper bag besar berlogo toko kue ini. Dara meminta Dimas menunggu sebentar, ia akan membawakan beberapa kue untuk mampir ke rumah Dimas. Setelah selesai membeli kue dan membayarnya, Dara mengajak Dimas bergegas berangkat. "Kue buat di rumah kamu Ra? Mau ada tamu kah?" tanya Dimas. "Bukan Dim, ini buat dirumah kamu" ucap Dara. "Ya ampun, segala dibawain kue, ini kan kue Ra. Gak usah harusnya" ucap Dimas, "Jadi kamu ngotot ikut tadi pengen beli kue juga?". "Iya hehehe" ucap Dara memegangi paper bag berlogo toko kue tadi. "Haduh, maaf jadi ngerepotin kamu nih Ra" ucap Dimas. "Gak ngerepotin Dim, aku yang malah ngerusak acara keluarga, malah aku diundang juga" ucap Dara. "No, kamu tamu spesial di rumah. Yang datang juga cuman keponakan, menantu Mama-Papa" ucap Dimas. "Kakak kamu ada berapa Dim?" tanya Dara penasaran. "Ada dua Ra, Kakak pertama cowok anaknya sudah dua cewek sama cowok, Kakak kedua cewek anaknya sudah satu cewek" jawab Dimas. "Udah tiga ya ponakan kamu" canda Dara. "Iya Ra, tinggal aku yang belum kasih cucu buat Mama-Papa" ucap Dimas begitu sampai di parkiran, ia membuka pintu tempat duduk belakang dulu, untuk meletakkan kue ulang tahun Mamanya, dan ia menaruh juga kue buah tangan dari Dara. "Kan kamu belum nikah Dim, cari calonnya dulu, ntar udah nikah gampang kok program hamil" ucap Dara, membuka pintu mobil untuknya masuk sendiri. Dimas berputar setelah memasukkan kue tadi ke kursi kemudi, memasang seat belt lagi. "Susah cari cewek Ra" ucap Dimas bercanda mulai mengemudikan mobilnya pelan. "Kenapa susah? Kamu ganteng, tinggi, baik, dan aku rasa juga menghargai banget sama Cewek. Erlin---" ucapan Dara dipotong oleh Dimas. "Erlin bukan tipe aku, dan dia gak naksir aku Ra. Kita berdua gak cocok" jawab Dimas. "Aku malah awal ketemu kalian ngira kalian pacaran loh" ucap Dara jujur. "Kenyataannya emang kita enggak pacaran Ra" Dimas melirik Dara sedikit. "Semoga kalian berjodoh ya, kalian berdua cocok banget" ucap Dara. "Aku maunya berjodoh sama Dara" ucap Dimas to the point. "Hah? Dara mana Dim?" Dara lemot. "Dara teman kerja aku lah" ucap Dimas. "Aku, gitu maksudnya? Ya enggak bisa lah Dim" Dara terkekeh. "Kenapa gak bisa? Kamu punya pacar Ra?" tanya Dimas. "Ya enggak bisa Dim" ucap Dara, "Kamu itu cocok banget sama Erlin". "Erlin enggak naksir aku Ra...." ucap Dimas sedikit ngotot. "Tapi matanya enggak bohong Dim, Erlin suka sama kamu" ucap Dara. "Kalaupun dia naksir, aku gak akan naksir dia" ucap Dimas. "Husssst! Gak boleh ngomong gitu, tau tau nanti kamu nikah sama dia. Jodoh enggak ada yang tau Dim" ucap Dara. "Tapi aku enggak akan berjodoh sama Erlin. Aku mintanya berjodoh sama kamu" ucap Dimas. Dara tidak berani lagi membahas, dia tidak ingin Dimas makin serius mengajaknya berhubungan lebih dari sekedar teman. Dara tidak bisa. Menyakiti dan menyakiti perasaan lelaki terus menerus. "Aku telat yah Ra? Bilang suka ke kamu?" tanya Dimas. "Bukan masalah telatnya Dim, aku belum berpikiran sampai kesana, pacaran atau nikah rasanya jauh dari pikiran aku" ucap Dara. "Aku paham Ra, tapi aku pengen kamu tau aku suka sama kamu, dari awal kamu datang ke Kantin dihari pertama kamu kerja" ucap Dimas. "Gimana bisa? Aku enggak ngapa-ngapain kan waktu itu?". "Aku juga enggak tau, pesona kamu yang bikin aku suka. Kamu sopan banget, lemah lembut, persis Mama aku. Makanya, aku ngerasa kamu tipe aku banget" ucap Dimas. Mereka sudah tiba disebuah kompleks perumahan megah, Dimas menyapa dua satpam kompleks yang kebetulan sedang asyik duduk di depan pos satpam. Satpam tersebut menyambut ramah sapaan Dimas. Dan tak lama, Dimas masuk ke pekarangan rumah besar dan bertingkat. Dimas anak orang kaya terbukti dari rumahnya yang sangat besar, dan elegan. "Kita sudah sampai Ra, yuk masuk" ucap Dimas melepas seat belt dan mematikan mesin mobilnya. Dara juga turun dari mobil dengan paper bag hadiah, serta membuka pintu mobil belakang, membawa paper bag kue yang ia beli tadi. "Yuk" ucap Dimas berjalan duluan membawa paper bag kue ulang tahun. Dara membuntuti Dimas dibelakang, pintu utama rumah sudah terbuka, dan Dara lihat beberapa mobil sudah berjejer rapi di garasi sebelah kiri rumah. "Assalamu'alaikum" ucap Dimas. "Wa'alaikumsalam" ucap banyak orang. "Mas, mana tamunya?" tanya seorang perempuan lembut, Dara menebak inilah Mama Dimas. "Assalamu'alaikum" ucap Dara lembah lembut. "Wa'alaikumsalam" ucap banyak orang. "Oh ini tamunya, Mas Dimas? Cantik banget" ucap Mama Dimas menghampiri, "Ayo silahkan duduk nak". "Iya Tante, ini buat Tante. Maaf kalau sederhana yah Tante" ucap Dara memberikan paper bag berisi kado untuk Mama Dimas. "Ya Allah, terimakasih yah. Repot-repot bawain Tante hadiah. Baik banget" ucap Mama Dimas. "Nama kamu siapa Dek?" tanya perempuan satu yang mirip dengan Dimas, ini Kakak kedua dari Dimas Dara sangat yakin. "Nama saya Dara Valentina Oona Kak, teman kerjanya Dimas. Panggil Dara aja" ucap Dara sambil tersenyum. "Ayo duduk Ra" ucap Dimas pelan menaruh paper bag kue ulang tahun diatas meja. Kakak perempuan Dimas membantu membuka paper bag. "Aku Kakak pertama Dimas, namaku Donny Panji ini Istriku Jihan Ayudia. Anakku dua yang pertama Hanny Panji Ayudia, dan yang kedua Doddy Panji" ucap Lelaki berumur 32 tahun, sambil memperkenalkan keluarganya. Dara segera membungkukkan badan lalu menyalami tangan keluarga Mas Donny. Dimulai dari Mas Donny, Mba Jihan yang mengusap pundak Dara lembut, dan kedua anaknya yang berumur 8 tahun dan 6 tahun yang mencium tangan Dara, anaknya cantik dan tampan. "Kalau aku Kakak keduanya Dimas. Namaku Diannita Panji Hermawan, ini suami aku Galih Hermawan, anak aku namanya Agata Hermawan" ujar Mba Dian yang berumur sekitar 30-an tahun memperkenalkan suaminya dan anaknya. Dara juga membungkukkan badan lalu menyalami tangan keluarga Mba Dian. Mba Dian juga mengusap pundak Dara lembut. Dan anaknya yang berumur 5 tahun mencium tangan Dara. "Saya orang tua Donny, Dian, dan Dimas, Kakek dari 3 cucu. Nama saya Deddy Panji. Ini istri saya yang cantik Ibu dari 3 anak saya, namanya Diana Nitami Panji" ucap Papa Dimas, Om Deddy "Salam kenal Om, Tante...." ucap Dara mencium tangan kedua orang tua Dimas sambil tersenyum. "Salam kenal juga Dara" ucap Om Deddy, "Ayo silahkan duduk". Dara duduk sambil meletakkan paper bag kue, Dara bersyukur membeli cukup banyak kue, karena orangnya cukup banyak. Jadi Dara tidak perlu merasa malu karena membawa kue sedikit. "Kamu bawa apa ini Ra? Repot-repot banget" ucap Tante Diana. "Itu kue Tante, sedikit" ucap Dara malu-malu. "Baru kali ini Dimas aja teman kerja ke rumah. Mana pernah dia ajak teman kerja yah Pa Ma?" tanya Mba Dian pada Om Deddy dan Tante Diana. "Iya, sekalinya bawa gadis cantik lagi yah?" ucap Tante Diana menimpali. "Jangan pada gosip. Ini nanti gak mau mampir ke rumah lagi ntar loh" ancam Dimas berbohong melirik Dara agar Mama dan Kakaknya ini berhenti berisik. "Idihh, bisa ngancam begitu yah si Mas Dimas" ucap Tante Diana. "Oma ayo potong kuenya!!!" rengek Agata, ponakan paling kecilnya Dimas. "Wah Agata udah enggak sabar yah, ayo kita pasang lilin dulu biar Oma tiup lilin terus potong kuenya yaa" ucap Mba Dian segera memasangkan lilin angka 50 tahun dan menyalakan dengan pemantik. "Ayo nyanyi buat Oma!" ucap Mas Donny. Semua menyanyikan lagu selamat ulang tahun, Tante Diana terlihat terharu, matanya berkaca-kaca, lagu dilanjutkan dengan lagu tiup lilin dan potong kue. Tante Diana segera mencium lilin tersebut, semuanya bertepuk tangan meriah. "Oma, selamat ulang tahun, ini hadiah dari Hanny sama Doddy" ucap Hanny menyerahkan gulungan kertas putih besar berpita. "Terimakasih cucu Oma yang cantik dan ganteng" ucap Tante Diana menerima. "Ayo dibuka Oma" ucap Mba Jihan lembut. Tante Diana membuka gulungan tersebut dan ia terharu, disana tergambar khas anak SD kelas 3, gak Diana, Deddy, Donny, Jihan, Dian, Galih, Dimas, Hanny, Doddy, Agata, semuanya tertera tulisan nama. Dengan tulisan khas anak 8 tahun, 'selamat ulang tahun Oma kami yang cantik'. Tante Diana terharu, meski gambarnya tidak sebagus pelukis, tapi ia terharu cucunya menyayanginya dengan sangat. "Terimakasih ya Cucu Oma Hanny, Oma suka hadiahnya, bagus banget!" puji Tante Diana. "Sama sama Oma ku yang cantik" ucap Hanny. "Ayo Oma potong kuenya, kuenya kelihatan mewah dan enak banget inii" ucap Mba Dian. "Makan aja taunya, disuruh beli enggak mau!" celetuk Dimas. "Aku kan sibuk Dim, yang bujangan kan beli enggak masalah" ucap Mba Dian terkekeh. "Masa iya alasan bujangan doang" protes Dimas. "Ya makanya cari calon Istri Dim, biar enggak disuruh Mba Dian melulu" ucap Mas Donny angkat bicara. "Nanti, masih nyari" ucap Dimas, "Udah punya calon khusus ditolak". "Siapa? Kok gak mau sama anak Mama yang ganteng ini!" ucap Tante Diana sambil memotong-motong kue. "Ada Mah, orangnya cantik" ucap Dimas melirik Dara yang juga menoleh ke arahnya memberi kode untuk jangan bicara yang aneh-aneh. "Sama Dara aja udah cocok!!!" ucap Mba Jihan. "Ehh, jangan Mba" ucap Dara lembut, "Udah ada Erlin calonnya Dimas". "Erlin? Teman se-geng kamu itu Dim? Yang tinggi itu?" tanya Mba Dian, "Kamu naksir dia?". "Enggak lah, dijodohin Via" ucap Dimas kesal. "Ya sama Erlin juga gak apa-apa, tapi sama Dara juga gak apa-apa" ucap Mas Donny, "Tergantung Dara sama Erlin ya mau enggak sama bocah tinggi begini". "Gini yang dicari banyak cewek, bukan cowok pendek" ucap Dimas sombong. "Dara, kamu enggak naksir Dimas nihh?" tanya Mas Galih buka suara. ~BERSAMBUNG~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN