HMD - 9 (MENJADI ASISTEN MAS KENAN)

2091 Kata
Gavin kaget melihat Dara dengan lelaki lain lagi sekarang. Siapa lagi lelaki ini?. "Kamu gak apa-apa kan Ra?" tanya lelaki itu pada Dara. "Gak apa-apa kok Dim" ucap Dara, kembali menatap lelaki yang ia tabrak ini, "Maaf ya Mas, saya enggak lihat tadi. Yuk, Dim?". Gavin hanya bisa mengangguk, karena jika bersuara, Dara akan mengenalinya. Dara pergi dari hadapannya berjalan beriringan dengan lelaki tinggi itu. Lelaki yang belum pernah Gavin lihat. Dan itu bukan Kenan, karena Gavin cukup ingat dengan wajah Kenan. Gavin penasaran sekali, tapi kalau ia mengikuti Dara, yang ada nanti wanita itu malah marah padanya. Gavin yang penasaran akhirnya mengikuti Dara dan lelaki tadi. Mereka masuk ke dalam sebuah restoran cepat saji terkenal, Gavin memilih memandang dari luar restoran ini. Karena restoran ini sisi kanan dan kirinya adalah kaca. Jadi mudah untuk Gavin melihat Dara dari sini. Terlihat Dara dan lelaki tadi duduk disudut ruangan sebelah kiri, mereka telah memilih pesanan ketika masuk tadi. Karena sistemnya antri ketika masuk dalam restoran. Pesanan mereka belum siap, mungkin akan diambil beberapa menit lagi. Gavin sebetulnya ingin masuk dan memesan makanan juga, karena tujuannya kesini memang ingin mencari makanan. Namun, niat makannya terhenti karena mengikuti Dara dengan lelaki tinggi yang membuat Gavin penasaran. Dara anak tunggal, jadi tidak mungkin lelaki ini Kakak atau Adik dari Dara. Sepupu? Bahkan Dara tidak mirip dengan lelaki tinggi ini. Apa lelaki ini salah satu orang yang menyukai Dara, sama seperti Gavin atau Kenan?. Banyak sekali saingan Gavin. Kenan saja sudah saingan berat, ditambah lelaki tinggi ini juga, semakin sulit saja Gavin mendapatkan Dara. Karena Gavin yang memang kelaparan, mau tak mau ia masuk juga dan memesan makanannya, ternyata ayam gorengnya belum matang, dan Gavin juga menunggu sama seperti Dara dan teman lelakinya yang juga belum memakan pesanan mereka. Gavin memilih duduk disudut kanan ruangan, ia duduk ditempat yang masih bisa menjangkau jarak pandang dengan Dara, dan Dara tidak memperhatikannya, karena Dara membelakanginya. Pesanan Dara ternyata dipanggil, lelaki tinggi tadi sigap mengambil pesanan tersenyum ramah menerima nampan berisi minuman pink lava ukuran besar dengan 2 ayam, 2 nasi berbungkus brand restoran ini, dan 2 cocolan saus keju. Lelaki itu meletakkan pesanannya diatas meja. Dan men-treat Dara dengan lemah lembut. Dara berterimakasih ketika makanannya disiapkan dan disusunkan oleh lelaki itu. Tiba pesanan Gavin yang dipanggil, ia segera mengambil sambil berterimakasih, lalu kembali ke mejanya tadi. Memakan dengan lahap makanannya. Setelah sekitar dua puluh lima menit, Dara dan lelaki itu bergantian mencuci tangan ke wastafel, merekapun keluar. Gavin yang juga sudah selesai bergegas mencuci tangan dan keluar dari restoran. Dara dan lelaki itu kembali berjalan beriringan, Gavin mengikuti mereka dengan jarak sepuluh meter. Dering telpon Gavin membuat Gavin mengumpat pelan dan mengangkat telpon tersebut. Gavin harus pulang, ada pekerjaan yang menunggunya. Gavin berbalik dan meninggalkan Dara, dengan rasa penasaran Gavin yang membuncah. Ingin mengikuti lagi tapi Gavin takut ketahuan, ingin mengikuti karena memang ia penasaran setengah mati. Tapi karena ini urusan pekerjaan yang harus cepat dikerjakan, mau tidak mau Gavin pulang. ~ Dara bertanya-tanya tentang lelaki yang ia tabrak tadi. Matanya tidak asing, Dara pernah menatap mata itu. Tapi.... Mata siapa?. "Mikirin apa Ra?" tanya Dimas penasaran melihat Dara yang sejak setelah makan tadi diam. "Yang aku tabrak tadi Dim. Aku kayak kenal dia, tapi lupa" ucap Dara. "Oh, tapi kalau kalian saling kenal, harusnya dia juga nyapa kamu Ra. Ini kan enggak, jadi mungkin kamu salah lihat aja Ra" ucap Dimas. "Iya juga yaa" ucap Dara, "Ini mau kemana lagi Dim?". "Masih lapar gak Ra? Aku mau ajak kamu makan es krim" ucap Dimas. "Kalau es krim kan gak bikin kenyang, perut aku masih cukup kalau es krim doang Dim" canda Dara, "Tapi aku yang traktir ya, tadi kan kamu udah bayarin aku makan". "Loh, enggak dong. Kan aku yang ajak kamu keluar, berarti aku yang traktir" ucap Dimas. "Kalau gitu aku enggak mau makan es krim" ucap Dara mengancam Dimas. Dimas sampai gemas dengan ancaman Dara yang memang tipikal wanita tidak ingin gratisan terus. Dara langka, dan Dimas makin makin mengaguminya. Dimas usap lembut rambut lembut milik Dara. Dara otomatis terlonjak mundur karena sentuhan Dimas. Membuat Dimas merasa bersalah dan gak enak dengan Dara. "Sorry Ra.... Aku bikin kamu gak nyaman yaa?" tanya Dimas hati-hati. "Eh, gak apa-apa Dim. Maaf aku refleks, aku--". "Aku yang salah Ra, maaf yah, maaf banget aku enggak bermaksud tadi" ucap Dimas. "Gak apa-apa Dim, jangan minta maaf" ucap Dara, "Mau makan es krim apa?" tanya Dara. "Emmm, es krim campur rasanya dengan taburan choco chips sama Meises" ucap Dimas. "Siap traktir nih Dim, yuk let's go!" ucap Dara. Setelah sampai di stand kedai es krim, merekapun es krim yang mereka inginkan, dan mengambil tempat duduk di depan stand kedai es krim. Menikmati es krim mereka sambil memfoto. Dimas mengambil bidikan es krim dan Dara, Dara mengajak Dimas selfie di handphonenya, bersama es krim mereka. Beberapa kali bidikan. Mereka tertawa dan bercanda bersama selagi menikmati makanan mereka. "Ra, besok malam kamu diundang Mama buat datang ke rumah. Kamu bisa kan Ra? Nanti aku jemput dan antar pulang dalam keadaan perut kenyang kok" ucap Dimas to the point, membuat Dara kaget. "Aku diundang?" tanya Dara kaget dengan mata membulat, "Kok bisa?". "Bisa lahh, tadi aku izin pergi buat cari kue, dan Mama tau kok besok mau dikasih kejutan, hadiahnya emang enggak tau, tapi kalau dapat kue beliau tau. Dan tadi aku bilang ngajak kamu buat cari kue. Jadi kata Mama aku ajak aja sekalian kamu besok. Gimana Ra? Mau kan?" tanya Dimas. Dara ingin sekali menolak. Lidahnya sudah ingin sekali mengatakan dia tidak bisa. "Mama aku antusias besok ulang tahun, dan kamu juga diundang karena udah baik banget mau temenin aku cari kue. Bukan ada maksud apa-apa kok Ra" ucap Dimas. "Hmm, aku, aku gak bisa Dim. Aku gak enak, aku bukan keluarga tiba-tiba ikut acara seenaknya. Aku gak bisa, maaf yaa" ucap Dara. "Gimana bilangnya ya, aku gak enak sama Mama. Udah bilang nanti aku ajak. Tapi kalau kamu gak bisa yaudah Ra, gak apa-apa" ucap Dimas tetap tersenyum. "Yaudah Dim aku kesana. Gak enak sama Tante, tapi sebentar aja yaa?" Dara tidak enak menolak, dan gak nyaman jika menyakiti perasaan Mama Dimas nanti. Beliau mengundang dengan senang hati, tapi Dara menolak datang dan mengecewakan orang yang sedang berulang tahun. Keterlaluan sekali Dara. "Kamu mau datang Ra?" tanya Dimas antusias. "Iya Dimas, nanti aku kesana, tapi aku cari kado dulu ya" ucap Dara. "Gak usah Ra, kamu datang aja udah suatu kehormatan" ucap Dimas. "Kaya orang penting ya aku" ucap Dara terkekeh. "Iya penting lah, kan sudah bantu aku" ucap Dimas tersenyum, "Terimakasih yah Ra". "Sama-sama Dimas. Gak masalah sama sekali" jawab Dara tersenyum ramah. ~ Dara dan Dimas sudah tiba di rumah Dara. Setelah melepas seat beltnya, Dara mengucapkan terimakasih lalu keluar dari mobil Dimas. "Ra, aku gak boleh mampir nih?" tanya Dimas memastikan pada Dara kalau dirinya boleh mampir. Kaca mobil tempat Dara duduk tadi ia buka untuk menatap wajah Dara dan suaranya terdengar Dara. "Eh, masalahnya aku tinggal sendiri Dim" jawab Dara. "Kamu merantau yah, Ra?" tanya Dimas. "Iya Dim, aku tinggal sendirian. Maaf ya, bukannya aku gak mau kamu mampir, cuman gak enak aja Dim sama tetangga. Maaf yah?" Dara gak enak sebenarnya, ingin mempersilakan Dimas masuk "Gak apa-apa Ra, tadi aku kira orang tua kamu di rumah, aku mau pamit, kan ajak kamu keluar ini malam-malam" ucap Dimas. "Gak masalah Dim, hati-hati ya dijalan" ucap Dara. "Siap Ra" ucap Dimas, "Sampai ketemu besok di kerjaan sama besok malam yah?". "Siap Dim" ucap Dara mengangguk sambil tersenyum. Dimas pun pamit meninggalkan pekarangan rumah Dara. Dara berbalik setelah mobil Dimas jauh dari pandangan matanya. Dan masuk ke dalam rumah. ~ Dara tiba di kantor K Art lebih pagi, ia segera absen dan menuju ke ruangannya. Di lobby ia berpapasan dengan Kenan, Kenan menginstruksikan Dara untuk mengikutinya. Dara yang kebingungan segera mengikuti Kenan yang ternyata berjalan melewati ruangan Dara, dan ternyata menuju ruangan Kenan. "Ada apa Mas?" tanya Dara setelah berada dalam ruangan Kenan. "Kamu dari hari ini jadi asisten saya Ra" ucap Mas Kenan to the point, "Ruangan kamu disamping kanan ruangan saya". "Saya gak mau Mas, Mba Hani gimana?" Dara kesal dengan keputusan seenaknya Kenan. "Hani jadi asisten Yudha, teman saya Ra. Dia juga setuju kok. Kamu mau saya pertemukan dulu sama Hani buat memastikan kah?" tanya Mas Kenan agar Dara bertemu dengan Hani, karena memang Hani baik-baik saja. "Saya enggak berpengalaman dibidang ini Mas. Bukan keterampilan saya untuk menjadi Asisten" ucap Dara. "Hani akan ngajarin kamu selama beberapa hari, ruangan Hani paling ujung sebelah kiri" ucap Mas Kenan, "Belajar sama dia ya". "Tapi--". "Gak ada penolakan Ra, saya enggak lagi pengen marah-marah ya" ucap Mas Kenan mengingatkan Dara. Dara segera pamit dan menuju ke ruangan Mba Hani. Sumpah dalam hati ia bersungut kesal karena sikap Kenan yang seenaknya hari ini. Mengetuk pintu, dari dalam Dara mendengar Mba Hani mempersilakannya untuk masuk ke dalam ruangannya. Dara masuk sambi tersenyum kikuk. Mba Hani tersenyum tulus menyapa Dara. "Dara, mau belajar soal menjadi Asisten yah?" Mba Hani sudah tahu tujuan Dara kesini. "Iya Mba. Tapi sebelumnya, saya mau minta maaf banget Mba. Saya enggak bermaksud merebut kerjaan Mba Hani, sumpah Mba. Saya--" ucapan Dara segera dipotong oleh Mba Hani yang tersenyum. "Udah Ra, gak masalah lah bagi aku. Toh, aku juga tetap kerja di K Art, beda cerita aku dipecat. Aku kan cuman pindah kerja dengan bos yang berbeda. Santai Ra.... Aku enggak masalah kok" ucap Mba Hani, "Sekarang aku mau ajarin kamu, yuk kita belajar sekarang". "Tapi, saya enggak enak Mba. Enggak nyaman, merasa bersalah. Maaf yah Mba, maaf banget" ucap Dara menangkupkan kedua tangannya dengan wajah merasa bersalahnya. "Udah Ra, santai Ra. Gak apa-apaa, ayo duduk kita belajar" ucap Mba Hani. Dara segera duduk di depan meja Mba Hani, dan Mba Hani menjelaskan poin penting yang akan dikerjakan seorang Asisten. Dara mendengarkan dengan sungguh-sungguh dan teliti. ~ Jam istirahat tiba, Dara dan Mba Hani segera keluar dari ruangan menuju kantin. Perut Dara sudah keroncongan sejak tadi, untuk saja bunyi perutnya tidak terdengar Mba Hani. Kalau sampai terdengar, muka Dara ditaruh kemana? Pagi tadi ia hanya makan dua lembar roti dengan selai kacang dan segelas s**u uht dari dalam kulkas. Wajar jika jam 11-an Dara sudah merasa lapar. Dara dan Mba Hani memesan nasi soto dan es teh. Lalu mereka memilih duduk di sudut kantin. Mba Hani orangnya humble dan lembut sekali. Dara dengan mudah mengerti yang dijelaskan Mba Hani tadi, wajar jika Mba Hani jadi kepercayaan Mas Kenan. Dan Dara juga harus sama cekatannya dengan Mba Hani, karena seorang Asisten itu harus cakap dan cekatan. Semoga Dara bisa melakukan pekerjaannya dengan lancar ketika bersama Kenan nanti. Itu saja harapan Dara. Panjang umur, baru dido'akan Dara tadi, Kenan sudah duduk dihadapannya dan Mba Hani. "Pak, makan Pak" ucap Mba Hani menawari Kenan. Makanan Hani dan Dara sudah ada di atas meja bersama 2 gelas es teh. "Iya Han, terimakasih. Dara, kamu belum makan kan?". "Belum Mas, kenapa yaa?" tanya Dara, perutnya sudah kelaparan sebenarnya. "Ini makanannya buat Hani aja. Kamu makan siang bareng saya ya?" Mas Kenan melihat raut wajah Dara yang berubah. "Saya udah kelaparan Mas, tadi udah bunyi perutnya" ucap Dara pelan. "Oh gitu, ya sudah, saya makan bareng kalian ya. Kamu makan duluan aja Ra, saya pesan dulu sebentar" ucap Mas Kenan segera berlalu dari sana menuju tempat pesanan. "Kamu panggil Pak Kenan dengan panggilan Mas, Ra?" tanya Mba Hani penasaran mulai memakan sotonya, "Ayo dimakan Ra, gak enak kalau dingin sotonya". "Iya Mba Hani, beberapa anak yang lain juga panggil Mas" ucap Dara takut-takut. "Jarang-jarang loh Pak Kenan makan di kantin. Baru kali ini aku lihat dia makan bareng se-meja sama aku. Kalau diluar sih pernah, kan sekalian meeting" ucap Mba Hani, "Jangan-jangan Pak Kenan naksir sama kamu Ra!!!". "Enggak Mba Han, Mas Kenan humble sama semua karyawannya kok. Bukan naksir" ucap Dara menyangkal. "Kalau nanti jadian aku minta pajak jadian lah ya, soalnya kelihatan Pak Kenan naksir ke kamu" ucap Mba Hani, "Sampai ngajakin makan siang ke luar lagi". "Jangan dibikin gosip ya Mba, saya takut diserang hatters. Orang-orang yang naksir Mas Kenan" bisik Dara bercanda. "Santai Ra, aku bukan tipikal yang begitu. Curhat aja kalau kamu enggak tau mau curhat sama siapa, aku siap dengerin dan menampung" ucap Mba Hani. "Terimakasih Mba Hani, Mba baik banget sama saya" ucap Dara terharu. "Jangan nangis atuh, hayuk dimakan ini nanti dingin enggak enak lagi!" ucap Mba Hani mengusap pundak Dara. Dara dan Hani pun menikmati makan siang mereka dengan santai. Sesekali Hani bercerita dan Dara juga bercerita hal-hal kecil yang membuat mereka nyambung ~BERSAMBUNG~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN