"Jangan mimpi Gavin! Untuk apa? Menebus kesalahan dan dosa?" tanya Dara tertawa sumbang.
"Please Ra, aku bakalan perbaiki semuanya. Aku bakal bahagia-in kamu, kamu cukup dirumah aja, gak usah capek-capek kerja begini" ucap Gavin memegang kedua bahu Dara untuk bisa bertatapan dengan wanita yang ia cintai ini.
"Stop Gavin! Berhenti bermimpi tinggi soal aku ataupun kita. Kita sudah selesai, jauh di lima tahun yang lalu" ucap Dara melepas kedua pegangan Gavin dibahuya. Ia hendak membuka pintu mobil, namun tangan Gavin menahannya, "Lepasin Vin, udah gak ada yang kita bicarakan lagi kan?".
"Please Ra.... Aku, cinta sama kamu. Sampai kapanpun akan begini" Gavin memeluk tubuh Dara erat.
Dara sebenarnya tidak ingin berkontak fisik lagi dengan Gavin. Namun lelaki ini kelihatan kacau sekarang. Ia biarkan sisi baik dari dalam hatinya untuk sementara diam sebentar. Membiarkan tubuhnya diam dipeluk oleh Gavin.
Gavin tersenyum melihat Dara yang tetap membiarkannya memeluk tubuh Dara. Padahal Gavin tahu, Dara benci sentuhan fisik darinya.
Gavin benar-benar ingin kembali ke masa ia bersama Dara. Bahagia. Tidak merasa canggung apalagi memiliki perasaan benci yang mengakar kuat dalam hati. Gavin ingin Dara kembali mencintainya sepenuh hati. Tapi rasanya akan sangat sulit sekali.
Dara, bukan wanita polos seperti dulu lagi, ya Gavin tahu ini semua karena ulahnya, tapi Gavin ingin sekali Dara kembali mencintainya sepenuh hati. Dan.... Merajut kembali mimpi yang sempat terhenti karena Gavin harus meraih impiannya terlebih dahulu.
"Apa gak bisa kita balik kaya dulu lagi Ra?" tanya Gavin lemah.
"Enggak Vin, gak akan pernah bisa, selamanya" ucap Dara, "Aku bakalan resign dari K Art dan aku sudah minta orang lain yang bakal melanjutkan kontrak K Art sama Sun E".
"Kenapa kamu harus pergi lagi Ra? Kalau memang aku salah, seenggaknya kamu jangan resign dari K Art. Bukannya kamu yang minta aku profesional? Layaknya client. Kamu lupa?".
"Aku enggak bisa kerja bareng sama orang yang bikin hidup aku hancur berkeping-keping. Jadi tolong, ngertiin aku juga Gavin" ucap Dara memohon.
"Harus dengan cara apalagi biar kamu mau kembali sama aku Ra? Apa harus aku hamilin kamu lagi?" tanya Gavin.
"Jangan bikin aku makin benci sama kamu yah.... Gavin!" peringat Dara segera melepas genggaman tangan Gavin, "Tolong jangan berusaha temui aku lagi Gavin. Anggap kita enggak kenal!".
Dara segera keluar dari mobil Gavin, ia sengaja melirik sedikit ke bagian dalam mobil Gavin, dan ia lihat sorot penyesalan itu ada terpampang jelas di wajah Gavin, Dara sebenarnya tidak tega. Tapi ia harus melakukannya, semakin ia biarkan Gavin disisinya, ia takut perasaan ingin kembali bersama Gavin itu muncul.
Dan menghancurkan semuanya. Cukup lima tahun hidupnya luntang-lantung, jangan lagi. Apalagi jika sampai Dara jadi bulan-bulanan gossip dari penggemar Gavin, atau bahkan diserang sampai ke rumah Dara. Menakutkan! Membayangkannya saja Dara sampai pusing.
Dara segera berlalu dari sana masuk ke dalam Kantor K Art.
Belum berhenti jantung Dara berdegup kencang, kedatangan Kenan yang tiba-tiba di hadapannya membuatnya kaget dan makin menjadi-jadi degup jantung Dara.
"Saya cari diruangan kamu, kamu malah enggak ada. Kamu habis dari mana?" tanya Mas Kenan.
"Maaf, tadi ada urusan diluar sebentar Mas...." ucap Dara.
"Sudah selesai?" tanya Mas Kenan.
"Sudah Mas...." ucap Dara.
"Saya mau kamu tetap kerja disini ya Ra, jadi asisten saya" ucap Mas Kenan.
"Saya enggak bisa Mas, keputusan saya....".
"Jangan menolak rezeki yah Ra, saya gak berniat jelek, biar kamu enggak perlu lagi cari kerja susah-susah" ucap Mas Kenan yang mengusap puncak kepala Dara.
Dari mobilnya, Gavin melihat Kenan yang begitu perhatian terhadap Dara. Gavin mengepalkan kedua tangannya sambil memukul-mukul stirnya kesal.
Ia cemburu, ia marah, dan ia kecewa. Dara, tidak bisa lagi ia miliki.
Dan, Gavin tidak rela lelaki lain yang menjadi Lelaki penting dalam hidup Dara. Hanya Gavin yang bisa melakukan itu. Karena Gavin-lah yang memang harus bertanggung jawab atas hidup Dara.
~
Dara masih melamun di dalam ruangannya. Memikirkan kejadian Gavin ke kantornya, melihat kilat mata yang menatapnya dengan wajah bersalah, makin menyakitkan bagi Dara.
Jujur, sekarang ia merasa jauh lebih baik karena ia sudah bisa melewati 5 tahun menyakitkan dikala itu.
Tapi karena kehadiran Gavin yang mengusik, membuat Dara juga was-was, ia tidak ingin masa lalunya itu terkuak disini. Dan ia, harus kembali sakit hati lagi dengan omongan orang-orang.
Jangan sampai masa lalu itu terkuak. Dara hanya perlu meminta Gavin untuk tutup mulut dan jangan mengusik hidupnya lagi.
~
Dara memacu motornya dengan kecepatan normal, ia merasa tenang karena hari ini tidak pergi ke kantor Sun E. Hari ini jadwalnya untuk belanja mingguan, karena stock beras di rumahnya juga tinggal sedikit.
Dara sibuk memasukkan barang belanjaannya dalam troli. Dimas yang tak sengaja melihat Dara segera menghampiri Dara, dan menyapa Dara lebih dekat.
"Kebetulan banget Ra kita ketemu disini" ucap Dimas.
"Iya Dim, aku udah selesai, aku boleh duluan?" tanya Dara.
Dara tidak ingin berlama-lama karena jujur ia sangat menjaga jarak dengan laki-laki termasuk, Dimas. Ia tidak ingin menyakiti perasaan Dimas dan yang lainnya karena ia tidak ingin menjalin hubungan dengan lelaki manapun.
Dara sudah berpegang teguh dengan prinsipnya. Cukup bekerja, bahagia, dan hidup tenang. Itu saja yang Dara inginkan. Ia tidak perlu laki-laki, pacar ataupun suami.
"Kamu buru-buru yah Ra?" tanya Dimas hati-hati.
"Iya Dim, soalnya aku ada kerjaan lagi di rumah" ucap Dara berbohong, biar saja toh Dara berbohong demi kebaikannya dan Dimas.
"Aku mau minta temenin kamu sebentar Ra...." ucap Dimas.
"Temenin ngapain yah Dim?" tanya Dara.
"Aku mau cari kue ulang tahun sama hadiah buat Mama aku, lusa beliau ulang tahun" ucap Dimas, "Kamu kan cewek, jadi aku rasa selera kamu sama Mama mirip atau mungkin sama. Mau gak Ra?".
"Hmm, gimana yah.... Aku soalnya---" Dara pandangi Dimas yang memang sangat berharap Dara mau membantunya.
"Plisss...." ucap Dimas pelan dengan menangkupkan kedua tangannya memohon.
"Hmm, kenapa enggak ajak Erlin atau Via aja Dim? Aku kan orang baru diantara kalian?" tanya Dara.
"Erlin sama Via cewek yang berbeda dari Mama aku, kamu yang mirip Mama, makanya aku ajak kamu" ucap Dimas.
"Ya udah aku temenin. Tapi aku pulang antar ini dulu sama mandi. Nanti jam 7 malam kamu jemput aku lagi" ucap Dara.
"Ok Ra, nanti malam aku jemput yah? Thanks yah Ra?".
"Jangan terimakasih dulu Dim, kan aku belum bantu kamu. Yaudah, aku duluan yah Dim?".
"Aku bantuin sampai kasir Ra" ucap Dimas.
"Lah, kamu enggak belanja?" tanya Dara yang keheranan melihat Dimas tidak membeli apapun.
"Aku kesini cuman mau beli cemilan sama buah" ucap Dimas, "Nitip di keranjang kamu kan bisa Ra hehehe".
"Oh gitu.... Yaudah Dim" ucap Dara.
Dimas mengambil alih barang belanjaan pada troli Dara. Ia membeli beberapa Snack, dan buah pisang serta buah naga. Setelah selesai, ia pun membawa barang belanjaannya dan Dara.
Sesampainya di kasir, belanjaan pun diletakkan di meja kasir.
"Jadi satu?" tanya Mba Kasir ramah.
"Yang ini bedain Mba" ucap Dimas membedakan barang belanjaannya.
"Oke siap. Totalnya Dua ratus tiga puluh lima ribu, cash atau pakai kartu gesek?".
"Eh Mba, bayarnya ini dibedain Mba yang ini punya saya" ucap Dara.
"Cash aja Mba" ucap Dimas mengeluarkan uang Dua ratus lima puluh ribu.
Karyawan kasirpun kebingungan hendak menerimanya, karena Dara tadi protes ingin membayarnya sendiri.
"Ini aja Mba, saya aja yang bayar" ucap Dimas tersenyum ramah.
"Dimas, aku bisa bayar sendiri kok. Udah kamu bayar punya kamu aja" ucap Dara menggoyang-goyang bahu tinggi milik Dimas.
"Bayarnya nanti bisa diluar Ra, ini antri, gak enak sama yang belakang itu udah nungguin" bisik Dimas membuat Dara menoleh kebelakang, dan benar saja, ada lima orang yang mengantri dibelakang mereka.
"Ini angsulnya lima belas ribu dengan strucknya" ucap Mba Kasir sambil mem-packing belanjaan milik Dara serta milik Dimas.
"Terimakasih Mba" ucap Dimas menerima angsul dan strucknya, serta membawa tas kain berlogo Market tempat Dara dan Dimas belanja. Dimas mengajak Dara segera keluar dari Market ini.
"Punya aku berapa Dim?" tanya Dara.
"Ini belanjaan kamu, mana motor kamu?" tanya Dimas.
"Gapapa, aku bawa sendiri aja Dim. Punya aku berapa totalnya?" tanya Dara.
"Gak usah Ra.... Udah bawa aja" ucap Dimas.
"Kalau kamu gak mau aku ganti. Aku enggak jadi temenin kamu cari kado dan kue" ancam Dara.
"Ehhhh! Oke, oke. Total punya kamu seratus lima puluh ribu" ucap Dimas sambil berpura-pura melihat struck belanja mereka tadi, berbohong.
"Itu beneran totalnya?" tanya Dara memastikan.
"Ngapain aku bohong Ra...." ucap Dimas.
"Kali aja kamu bohong" ucap Dara memberikan uang seratus lima puluh ribu pada Dimas, mau tak mau Dimas menerima.
"Padahal enggak usah diganti juga gak apa-apa Ra, hitung-hitung kamu udah mau nemenin aku malam ini" ucap Dimas.
"No, aku belanja. Aku harus bayar lah" ucap Dara, "Yaudah Dim, aku duluan yah?".
"Mana motor kamu? Aku bawain sampai motor" ucap Dimas.
"Gak usah Dimas.... Aku bisa bawa sendiri" ucap Dara.
"No! Ini berat" ucap Dimas, "Ayo, dimana Ra?".
Dara pun mengajak Dimas yang membawa belanjaannya sampai motornya, setelah menggantungkan belanjaan Dara pada motornya, Dimas pun mempersilahkan Dara naik motornya.
Dimas membantu Dara memasang helm, Dara sungkan sebenarnya. Tapi Dimas memaksa.
Mereka terlihat seperti sepasang kekasih sebenarnya. Cocok. Bahkan Mba Kasir tadi masih curi-curi pandang pada Dimas dan Dara yang menurutnya sangat cocok, kasir itu pun mengira Dara dan Dimas adalah sepasang kekasih. Ya karena cocok.
Setelah memakai helmnya dengan rapi, Dara segera menyalakan mesin motornya, disisi kanan Dara Dimas masih setia menungguinya.
"Hati-hati Ra" ucap Dimas.
"Siap, kamu juga Dim. Aku duluan ya" ucap Dara.
Dimas mengangguk, setelah itu, Dara pun menjalankan motornya meninggalkan Dimas yang masih memandangi wanita itu sambil tersenyum.
~
Dara sudah tiba di rumahnya. Ia segera merapikan barang belanjaannya dan bergegas mandi.
Setelah siap ia menjalankan Ibadah Sholat Maghrib, lalu mulai memakai riasan. Ia memakai baju Sabrina kerut lengan panjang motif bunga bunga berwarna cream dengan celana pensil navy gelap diatas mata kaki.
Setelah dirasa siap, Dara mulai berdandan mengenakan bedak delicate cream, lalu mengenakan lipstik berwarna peach ombre dengan lipstik sedikit merah, lalu mascaara dan sedikit sentuhan pensil alis.
Dara biarkan rambutnya tergerai dengan capit rambut mutiara putih satu dibagian poninya.
Setelah menyemprotkan parfumnya, Dara segera meraih tas berwarna senada dengan bajunya, memasukkan dompet dan tasnya ia segera memastikan lagi dandanannya.
"Terlalu menor kah? Nanti dikira mau kencan lagi aku!" Dara mematut lagi dandanan-nya di depan lemari kaca riasnya.
Gaya khas umur 20-an tidak ada yang salah dari dandanan-nya. Deru mobil di depan rumah segera membuat Dara bergegas mengunci pintu rumah dan membuka mobil Dimas.
"Gak boleh mampir dulu Ra?" canda Dimas.
"Hmm, nanti aja Dim, takut kemalaman" ucap Dara.
"Oh okey, yuk kita berangkat sekarang?" tanya Dimas.
"Okey siap" ucap Dara segera memasang seat beltnya.
Mobil Dimas pun dijalankan ke tempat yang sudah Dimas tentukan.
Dimas membawa Dara ke Mall. Disana mereka berkeliling untuk mencarikan hadiah untuk Mamanya Dimas dahulu.
Dan pilihan bagus menurut Dara jatuh pada satu set perhiasan terdiri dari kalung, cincin, dan gelang Swarovski, yang motifnya memang cocok untuk Mamanya Dimas.
Harganya cukup mahal, tapi Dimas bilang untuk Mamanya gak masalah soal harga, lagi pula Dimas juga patungan dengan Papa, dan Kakaknya, cerita Dimas pada Dara.
Setelah selesai membungkus kado, merekapun kembali berkeliling mencari kue ulang tahun untuk Mama Dimas.
Pilihan jatuh pada sebuah kue coklat cantik ukuran besar dengan hiasan coklat putih bentuk Hati diatas kuenya.
Dimas meminta kue bentuk itu untuk besok, dengan tulisan 'Happy Birthday Mama Cantik'. Setelah membayar dan berjanji akan mengambil jam 7 malam lagi besok Dimas dan Dara pun keluar dari toko kue.
Dara bertubrukan dengan seseorang yang memakai jaket kulit hitam dengan topi, kacamata hitam, dan juga masker hitam.
"Maaf" ucap Dara refleks, tak memperhatikan lelaki yang dia tabrak.
Orang yang ditabrak itu kaget, karena melihat Dara pergi dengan lelaki baru lagi.
~BERSAMBUNG~