HMD - 7 (AYO KITA KAWIN LARI!)

1679 Kata
Ketukan pintu dari luar membuat Dara yang masih melamun sadar. Ia lihat wajah Kenan dipintu kaca dengan raut wajah khawatir. Dara segera berjalan dan membuka pintu. "Kamu baik-baik saja Ra?" tanya Mas Kenan. "I'm okay Mas...." ucap Dara sebisa mungkin tersenyum. "Mba Sheila hubungin saya, buat jemput kamu. Dia bilang, Gavin gak ada acara hari ini" ucap Mas Kenan, "Kenapa kamu kunci pintunya Ra?". "Gak apa-apa Mas. Hmm.... Apa saya boleh bicara sama Mas Kenan?" tanya Dara sambil meraih tasnya dan kotak make upnya. Kenan sigap membantunya membawa kotak itu. "Kamu mau bicara apa Ra? Bicara sekarang saja" ucap Mas Kenan mereka berjalan beriringan menuju parkiran mobil. "Hmm. Gimana ngomongnya ya, saya mau mengundurkan diri Mas" ucap Dara. "Mengundurkan diri? Dari kerjaan di Sun E apa di kantor saya?" tanya Mas Kenan mengernyitkan keningnya tidak paham. "Saya, mengundurkan diri kerja disini, dan di kantor Mas Kenan" ucap Dara mantap. Dara memutuskan untuk resign, banyak alasan yang harus ia ambil dan keputusannya ia resign dari K Art dan Sun Entertainment. Banyak ketakutan yang Dara pikirkan di masa yang akan datang, yang akan menjadi boomerang bagi dirinya serta kehidupannya. Cukup sudah lima tahun kemarin dunianya jungkir balik. Biarkan ia hidup tenang dengan kerjaan yang baru. Yang tidak ada Gavin lagi. Ataupun Kenan, dua manusia ini, sama-sama punya perasaan pada Dara. Dan Dara tidak ingin berharap kebahagiaan bersama mereka. Dara tau, Kenan akan men-treatnya seperti ratu, tapi apa setelah tahu masa lalu Dara, Kenan akan tetap men-treatnya layaknya ratu? Oke kalau memang Kenan tetap mempertahankan bersama Dara. Tapi.... bagaimana dengan pendapat keluarga besar Kenan?. Dara tidak ingin serakah, berbahagia bersama orang baru, namun keluarga pihak lelaki menentang dan membencinya. Dara tidak ingin menyakiti orang-orang hanya karena ke-egoisannya. Lebih baik hidup sendiri hingga tua dan mati nanti, daripada hidup menanggung banyak kebencian, dendam, dan umpatan kasar dari orang-orang. "Kamu gak suka kerja ditempat saya, Ra?" tanya Mas Kenan memasukkan tas rias Dara lalu membukakan pintu untuk Dara duduk disampingnya menyetir. Dara masuk dan ber-terimakasih, Kenan pun masuk ke mobilnya dan memasang seat belt. Kenanpun mulai menjalankan mobilnya pelan keluar dari kantor Sun Entertainment. Gavin memandang mobil Kenan yang keluar dari kantor Sun E, dari lantai gedung ke 3 yang memang menghadap parkiran luas dengan tangannya yang mengepal. Emosi, cemburu menjadi satu dalam hatinya ketika melihat Dara bersama Kenan. Gavin lihat Kenan men-treat wanita yang Gavin cintai itu layaknya Ratu, dan Gavin.... Cemburu. Kenapa harus Kenan? Kenapa bukan lelaki lain? Yang sudah pasti akan kalah jika melawan Gavin?. Gavin tahu, dari sorot mata atasan Dara itu, lelaki itu memiliki perasaan lebih untuk Dara. Gavin tahu, namun Dara yang polos tidak akan mungkin tahu, dia takkan peduli, bahkan tak akan ambil pusing memikirkannya. Tapi Gavin.... Peduli. Ia tak ingin wanitanya itu direbut lelaki lain. Bahkan Kenan sekalipun. Tak ingin melihat senyuman bahagia Dara untuk lelaki lain. Apalagi Dara jatuh ke tangan lelaki lain selain dirinya. Gavin tidak sanggup bahkan untuk membayangkannya. ~ Kenan dan Dara masih sama-sama terdiam, pertanyaan Kenan belum dijawab oleh Dara. Perihal Dara meminta resign dari kantornya dan pekerjaannya. "Gak masalah kalau Mas Kenan keberatan masalah gaji ataupun pesangon Mas Kenan. Saya belum sebulan kerja, saya.... Cuma minta resign dan Mas Kenan setuju saya resign" ucap Dara pelan. Kenan melirik Dara yang terlihat lesu dan tidak bersemangat. Otaknya masih bertanya-tanya kenapa Dara sebenarnya? Melihat hubungannya dan Gavin artis dari Sun E, yang tidak bersahabat. Apa Dara mantan Gavin?. "Ra, kamu jangan resign. Biar kerja dibagian lain. Biar saya minta besok yang lain gantiin kerjaan kamu di Sun E. Kamu tetap kerja sama saya" ucap Mas Kenan tegas menolak permintaan Dara untuk resign. "Tapi saya--". "Gak ada tapi-tapian, kamu jadi sekretaris saya saja kalau begitu" ucap Mas Kenan. "E, e, enggak Mas. Saya batalkan resign, tapi saya gak bisa jadi sekretaris Mas Kenan" ucap Dara. "Kenapa enggak bisa? Bukannya saya boss-nya di K Art? Kalo kamu lupa, saya ingatkan kamu Ra...." ucapan Mas Kenan men-skak mat Dara. "Gimana nasib Mba Hani? Saya seenaknya merebut posisi Mba Hani, padahal saya pegawai baru. Gak sopan sekali kalau saya menerima jabatan itu Mas. Saya gak bisa" ucap Dara. Kenan bos, dan berhak memberhentikan ataupun menerima pegawai. Jadi dia juga berhak memilih posisi untuk Dara. Meski menggantikan posisi Hani sekalipun. Kenan bisa melakukannya. "Hani bisa jadi asisten bawahan saya yang lain. Toh tugasnya sama, sekretaris juga. Bukan orang lapangan" ucap Mas Kenan santai. "Tetap saja saya gak bisa menerimanya" ucap Dara tetap pendiriannya. "Kenapa? Kamu kepikiran ucapan saya tadi pagi? Kamu enggak usah takut Ra. Saya kan enggak bilang mencintai kamu" dusta Mas Kenan pada Dara. Dara menatap Kenan penuh selidik. Seakan meneliti ekspresi Kenan untuk memastikan ucapan lelaki itu. "Dan kalau memang saya naksir kamu, emang kenapa? Ada larangan Papa Mama kamu yah Ra?" tanya Mas Kenan penasaran. "Saya yang ngelarang Mas Kenan, saya gak bisa terima lelaki. Siapapun itu" ucap Dara. "Lah, kalau saya serius datang sama Papa Mama saya ke rumah kamu. Dan keluarga kamu menerima saya, gimana kamu Ra? Masih mau nolak saya?" tanya Kenan terkekeh. "Percuma, nggak akan ada keluarga saya satupun yang menyambut kedatangan keluarga Mas Kenan" ucap Dara. "Kenapa? Kamu gak punya keluarga?". "Jangan tanya urusan pribadi Mas, saya kerja bukan untuk di-kepoin kehidupannya" ucap Dara. "Lah saya kan tanya Ra, gak masalah kan, toh saya gak maksa kamu buat jawab" ucap Kenan tak terima Dara melarangnya bertanya. "Tau aja kalau saya gak mau jawab" ucap Dara singkat. Dara ini, benar-benar membuat Kenan gemas. Bagaimana bisa Kenan melewatkan gadis ini? Tekadnya sudah bulat, suka tidak suka Kenan akan mencari tahu asal-usul Dara. Jangan salahkan Kenan jika ia tahu semuanya nanti. Karena apapun nanti hasilnya, Kenan akan tetap memperjuangkan gadis ini. Sesampainya di parkiran gedung K Art, Dara keluar tanpa menunggu Kenan membukakan pintu untuknya. Berdiri menatap Kenan yang keheranan melihat Dara yang terlihat aneh hari ini. "Kamu masuk duluan aja Ra, nanti dilihat yang lain. Kamu gak mau kan kalau orang-orang berpikir yang aneh-aneh soal kita?". "Ok Mas, terimakasih untuk tumpangannya, saya permisi" ucap Dara membungkukkan badannya sedikit lalu berbalik dan berjalan cepat menuju ke dalam kantor. Kenan memandang lekat punggung rapuh itu. Terlihat banyak beban yang ia pikul selama ini. Mengeluarkan ponselnya, Gavin menelpon David, orang kepercayaannya untuk mencari informasi. David, orang yang Gavin bayar juga untuk mencari tahu seorang Dara Valentina Oona. "Halo bro, bisa bantu gue gak? Tolong cari tahu cewek yang namanya Dara Valentina Oona, nanti gue kirim fotonya lewat chat. Tolong ya bro? Oke deh bro, thanks banget ya" ucap Kenan setelah basa-basi sedikit Kenan segera menutup telpon dan mengirimkan foto Dara yang masih ia simpan ketika wanita itu menyelipkan foto ukuran 4×6 dengan posisi setengah badan di dalam berkas lamarannya kala itu. ~ Keesokan paginya, Kenan segera berjalan menuju ke dalam kantor. Kenan lihat Dara berbincang dengan Erlin dan Via. Dan, ada Dimas juga disana. Bisa Kenan lihat, Dimas memang menatap Dara dengan perasaan lebih dari sekedar teman, senyumannya teduh pada wanita itu. Namun Dara tak memperdulikan Dimas, bahkan untuk sekedar bertatapan juga Kenan lihat Dara enggan. Kenan akui, badan Dimas tinggi dan atletis, lebih tinggi darinya beberapa centimeter. Tapi.... Kenapa Dara bahkan sama sekali tak juga menangkap sinyal perasaan Dimas? Apa memang benar Dara penyuka sesama jenis?. Kenan menggelengkan kepalanya berusaha untuk tidak berpikir yang aneh-aneh tentang Dara. Kenan melewati tempat Dara dan kawan-kawannya bergurau sebentar. Disapa Erlin, Via, Devan, dan Dimas, Kenan mengangguk sambil tersenyum tipis, ia melirik sedikit ke arah Dara. Namun gadis itu tak juga menatapnya, Kenanpun segera berlalu dari sana. "Dara gak lihat tuh Mas Kenan lirik kamu terus loh?" ucap Via heboh sendiri. "Lirik Dara? Waduh! Berat saingan, berat saingan!" Devan melirik Dimas. Dimas hanya memasukkan kedua tangannya ke kantung celananya. "Dara cantik, wajar banyak yang suka" ucap Erlin. "Saingan kamu dong Lin. Kamu kan naksir Mas Kenan" ucap Via blak-blakan. "Aku gak mau bersaing, lagi pula Erlin lebih cocok sama Mas Kenan...." ucap Dara menatap Erlin yang wajahnya memang cantik meski dia kurang berdandan. "Tapi pandangan lelaki kan beda Ra. Mungkin aja Mas Kenan lebih naksir yang mungil gini" ucap Via, "Kalau Erlin memang udah takdirnya berjodoh ama si Dimas". "Apaan sih Vi! Dibilangin gue sama Erlin gak bakalan pacaran" ucap Dimas berlalu dari sana. "Yah, marah si Dimas! Becanda Mas! Dimasss!" panggil Via, namun bukannya berbalik Dimas tetap melanjutkan langkahnya. "Aku nyusul sobatku dulu yah sayang. Jangan lagi jodoh-jodohin Dimas sama Erlin, nanti Dimas ngambek ke aku juga berabe tauuu" ucap Devan. "Ihh yaudah bujukin Dimas jangan marah sama Via yah? Terimakasih ayang, Bay bay" ucap Via. Devan segera menyusul sobatnya meninggalkan Via, Erlin, dan Dara. "Kamu punya pacar yah Ra?" tanya Via penasaran. "Enggak Vi, nggak punya" ucap Dara. "Kenapa gak pacaran sama Mas Kenan aja. Dia naksir itu sama kamu" ucap Via. "Itu cuman perasaan kamu. Aku gak ngerasa Mas Kenan naksir aku. Masih banyak wanita yang cantik dan yang pasti lebih baik dari aku" ucap Dara tersenyum. "Udah, jangan paksa Dara pacaran kaya kamu sama Devan, siapa tau dia masih mau ngejar kariernya. Masa kamu yang kepo dan sibuk Dara pacaran dengan siapa aja? Udah Via kerja aja, biar cepat kaya!" ucap Erlin menyeret tubuh Via seperti anak kecil. Setelah kepergian semua rekan kerjanya, baru membuka pintu, tangan Dara dicekal dua lelaki yang tidak dikenalnya. Dara memberontak, namun kekuatan dua lelaki itu tak bisa ia lawan sendirian. "Ikut kami sebentar" ucap salah satu lelaki itu. Mau tak mau Dara mengikuti kedua lelaki itu, dengan posisi kedua tangannya dipegang dua lelaki itu. Sebuah mobil mewah terparkir di depan gedung K Art. Tak perlu membuka kaca mobil untuk mengetahui siapa yang ada dalam mobil itu. Karena platnya sengaja memakai namanya 'G 4 VIN'. Dara dipersilahkan masuk ke dalam mobil. Sebenarnya ia enggan, namun melihat kedua lelaki yang sangar-sangar tadi membuat Dara takut juga. Mau tak mau Dara pun masuk ke dalam mobil tersebut, duduk disamping Gavin. Gavin duduk dikursi kemudi, dengan kacamata hitamnya. "Apa lagi sih, Gavin?" tanya Dara jengah karena sudah lima menit posisinya diam didalam mobil keren Gavin, dan lelaki ini tak juga bersuara. "Kita kawin lari aja kalau kamu gak bisa aku ajak nikah baik-baik" ucap Gavin membuka kacamatanya. ~BERSAMBUNG~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN