"Mas Kenan salah. Saya baik-baik saja, saya sehat gak ada yang salah sama saya, ataupun masa lalu saya" ucap Dara tenang, berusaha meredam semuanya agar Kenan percaya.
"Saya enggak percaya Ra, kamu jujur saja sama saya. Saya bantu jika saya bisa bantu" ucap Mas Kenan menatap Dara tajam.
"Saya enggak apa-apa Mas. Jadi stop peduli sama saya" ucap Dara segera masuk ke dalam lift dan meninggalkan Kenan yang meninju angin.
Kenan kesal, entah karena apa. Ia kesal melihat Dara yang berpura-pura baik-baik saja, ia kesal tak bisa memaksa Dara untuk jujur padanya, tentang apa yang membuat Dara seperti itu.
Kenan bukan tak tau Dara trauma, penolakan terhadap sentuhan kecil meski hanya dibagian tangannya yang tersentuh, ia trauma dengan laki-laki. Kenan tau itu.
Apa ia harus mencari tau sendiri jika Dara tak memberi taunya? Kenan masih tau privasi Dara, ia tidak berhak ikut campur, tapi ia tulus menolong Dara jika gadis yang ia suka itu dalam kesulitan.
Dara masuk ke dalam ruangannya, menopang wajahnya ke meja, bertumpu dengan kedua tangannya. Napas Dara ngos-ngosan, emosinya membuncah.
Kenan sudah keterlaluan, berusaha memposisikan dirinya terlalu dalam pada kehidupan Dara, ikut campur tentang dirinya. Dara tidak suka jika sikap Kenan malah lebih ikut campur dalam urusan pribadi Dara sendiri.
~
Gavin menggenggam ponselnya, ia duduk di lobby kantor, menunggu kedatangan Dara ke kantor Sun E. Ia harus bicara dengan Dara.
Pantas saja Dara menatap Gavin dengan penuh kebencian setelah 5 tahun Gavin meninggalkannya. Setelah mendapatkan informasi lengkap yang Gavin dapat dari Mas David, tak ada lagi alasan untuk menyakiti wanita yang ia cintai lebih dalam.
Cukup sudah selama 5 tahun ia meninggalkan Dara, tidak benar-benar mencari Dara sampai ketemu, dan.... Membiarkan buah hatinya, buah cintanya bersama Dara meninggal. Dan, Dara harus menanggung malu, diusir dari rumah Orang tuanya, luntang-lantung sendirian di Ibukota.
Gavin tau ini terlambat, tapi Dara harus tau, Gavin juga tersiksa dengan pilihannya ketika ia harus dihadapkan dengan impiannya menjadi Artis, atau merajut mimpi bersama Dara. Ia hanya bisa memilih salah satu diantaranya.
Awalnya Gavin pikir, setelah berhasil masuk casting ia bisa memboyong Dara, rupanya ia lupa dengan kontrak management. Alhasil, Gavin biarkan Dara tanpa mengabarinya sekalipun.
Gavin salah, ia memilih meraih impiannya, tapi tidak berusaha merajut mimpi bersama Dara, ia membiarkan wanita itu berjuang sendirian.
Harusnya, ia dan Dara menikah, mungkin ditahun ini sudah memiliki dua atau bahkan tiga anak, dan ia masih bisa berkarir menjadi artis tanpa harus menutupi masa lalunya yang mungkin cukup bebas bersama Dara. Ia tidak peduli selama Dara disisinya. Harusnya dan seharusnya yang sejak tadi ada dalam benak Gavin.
Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Dara datang dan berlalu begitu saja melewatinya, tanpa peduli ada Gavin yang sejak tadi menunggunya. Wanita itu berlalu menuju ruangan kerjanya, Gavin membuang napas kesal perlahan, lalu beranjak dari kursi tempatnya duduk, menyusul Dara.
Wanita itu sudah sibuk dengan kotak riasnya, bisa Gavin lihat dari pintu depan yang memang ada kacanya sedikit Gavin lihat Dara sudah duduk bersila di sofa sudut ruangan. Gavin masuk tanpa perlu mengetuk pintu. Dara terkejut sambil mengusap dadanya.
"Kita perlu bicara" ucap Gavin mendekati Dara yang sudah menatap antisipasi pada lelaki ini.
"Silahkan" ucap Dara singkat.
"Bukan disini" ucap Gavin, "Ke balkon atas gedung".
"Cukup disini, gak usah ke tempat lain. Aku lagi sibuk, tugas aku kerja, bukan bicara terus" ucap Dara sibuk merapikan kotak riasnya.
Gavin yang tak peduli dengan sikap Dara yang judes, dan sinis padanya, segera menarik tangan Dara, membawa wanita ini ke lift dan menuju balkon atas, Dara sudah berontak sejak tadi, namun cengkraman Gavin keras meski tidak kasar. Jadi Dara biar kan lelaki ini menyentuhnya, untuk sekali ini saja. Tidak akan lagi lelaki ini bisa menyentuhnya sembarangan.
Gavin duduk-kan Dara dikursi balkon. Lalu Gavin keluarkan ponselnya, membuka ponselnya itu untuk mencari foto yang ingin ia tunjukan pada Dara. Setelah dapat, ia hadapkan ke depan wajah Dara.
"Ini.... Anak kita?" tanya Gavin to the point.
Mata Dara melotot tajam, berdiri dan menepis tangan Gavin yang menampilkan foto gundukan tanah tanpa nama, tapi bertuliskan '---- anak dari Ny. Dara Valentina'. Dara tau ini adalah, makam buah hatinya.
"Jangan sebut itu Anak kamu, Gavin!" bentak Dara emosi.
"Aku cuma perlu jawaban Ra, ini anak kita? Iya atau bukan?" Gavin bertanya dengan nada lembut.
"Dia bukan anak kamu!" ucap Dara hendak berlalu dari sana, namun Gavin sigap memegangi tangannya.
"Kita nikah ya Ra?" tanya Gavin tenang.
"Apa? Apa kamu bilang? Nikah? Sama kamu?" Dara tertawa sumbang ketika ia mengucapkan kata menikah pada Gavin.
"Nikah sama aku Ra, aku akan tanggung jawab. Aku memang salah dulu, dan sekarang aku mau tanggung jawab. Aku mau nikah sama kamu" ucap Gavin.
Dara masih tertawa sumbang mendengar ucapan Gavin, air matanya sudah hampir menetes, namun segera ia usap, tidak sudi menangis di hadapan Gavin seperti sekarang.
"Dulu.... Mungkin aku akan bahagia ketika kamu bilang begini ke aku Gavin" ucap Dara memperbaiki poninya yang sedikit berantakan karena diterpa angin di atas balkon gedung Sun E ini.
"Tapi sekarang, setelah 5 tahun kamu pergi dari aku, dan aku kehilangan SEMUANYA, kata menikah dari kamu ini seperti lelucon Vin. Aku gak akan menikah sama kamu" ucap Dara.
"Jangan nolak Ra, aku benar-benar ingin memperbaiki semuanya, aku akan lamar kamu di hadapan Papa Mama kamu, kita berangkat kesana bareng-bareng kita hadapin semuanya, berdua Ra.... Bukan kamu sendirian lagi" ucap Gavin meraih kedua tangan Dara, namun segera Dara tepis pelan.
"Jangan harap kamu bisa memperbaiki semuanya, setelah semua yang udah terjadi Gavin. 5 tahun aku sendirian, orang tua aku buang aku, dan kamu sibuk dengan dunia kamu. Bahkan, saat aku hamil, dan keguguran.... Kamu gak tau gimana susahnya aku menanggung semuanya sendirian" ucap Dara, kali ini, ia biarkan air matanya mengalir di hadapan Gavin.
"Please Ra, aku minta maaf, dan maafin aku Ra" ucap Gavin berlutut dihadapan Dara, membuat Dara semakin terisak.
"Cukup Gavin, cukup!" bentak Dara berjongkok dihadapan Gavin memukuli d**a bidang Gavin sekuat tenaga, Gavin tidak perduli sakit yang sebentar ini ketika dipukul Dara, atau bahkan nanti ada memar disana ia biarkan Dara memukulnya, asal setelah ini, wanita ini bisa menerimanya kembali.
Gavin masih mencintainya, rasa ini tak akan pernah pudar sekalipun banyak gadis yang mendatanginya dan menyerahkan dirinya sekalipun Gavin tak akan terpikat. Hanya seorang Dara Valentina Oona yang bisa membuatnya jungkir balik dengan perasaan bersalah yang lebih dalam sebetulnya.
Gavin rengkuh tubuh mungil itu kedalam dekapannya. Dara menangis disana, terduduk didepan Gavin. Tangisnya kencang, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam ia memang memaafkan Gavin, tapi rasa benci itu masih ada dalam dirinya. Untuk kembali bersama? Dara tidak membayangkannya lagi. Dunianya sudah cukup hancur sekarang, ia tidak ingin menambah beban pada bahunya lagi.
Apalagi Gavin, banyak fansnya. Dan jika ia membiarkan perasaan yang sudah lebur ini kembali tumbuh. Dara tidak mau.
Cukup Gavin bersamanya dimasa lalu, dan sekarang, Dara biarkan Gavin memilih yang lebih baik. Lebih baik darinya pastinya.
Ia tidak ingin memanfaatkan masa lalunya yang hancur untuk Gavin tanggung jawab-i, meski ia tahu Gavin harusnya berkewajiban untuk bertanggung jawab.
"Izinkan aku tebus semuanya Ra. Aku mau kita balik lagi. Aku udah punya semuanya, dan kita berhak bahagia" ucap Gavin.
"Tapi aku enggak bahagia Gavin. Rasa benci aku masih ada disini, sampai kapan pun" ucap Dara menunjuk bagian hati dan jantungnya ketika mengucapkan 'masih ada disini', "Meski.... Aku memaafkan kamu" lirih Dara.
"Aku masih mencintai kamu Ra.... Selama ini, kamu gak tau, aku berusaha keras cari kamu. Berusaha mendapatkan informasi tentang kamu, sekecil apapun info yang aku dapat pasti akan aku susul kesana. Tapi hasilnya enggak ada. Aku gak bisa menemukan kamu" ucap Gavin mengusap rambutnya kasar.
"Buat apa mencari kalau kamu tinggalin aku begitu saja waktu itu?" tanya Dara.
"Apa pernah kamu kasih tau soal kehamilan kamu? Kamu malah....".
"Gimana bisa aku bicara kalau mimpi kamu bukan tentang kita berdua Gavin!" Dara mengencangkan suaranya berdiri memandang kesal pada Gavin, air matanya dihapus kasar, Gavin lihat sorot mata itu memang tak berbinar setelah 5 tahun yang lalu.
"Makanya Ra, kita menikah aja" ucap Gavin masih berlutut meraih tangan Dara.
Dara menepis kembali pegangan Gavin dari tangannya. Ia benci disentuh.
"Kamu gak bisa kasih kesempatan ke aku sekali aja Ra? Buat perbaiki semuanya? Buat kita Ra, dan Baby kita yang udah....".
"Jangan sebut dia baby kita! Dia anak aku. Bukan, anak kamu Gavin!" Dara melotot marah pada Gavin, "Aku yang menjaga dia, mempertahankan dia, sampai diri aku sendiri hampir meninggal karena enggak kuat menanggung beban sendirian".
"Oke! Oke! Kasih aku kesempatan untuk perbaiki yang pernah aku rusak" ucap Gavin.
"Duniaku emang sudah hancur Vin, dan mungkin selamanya aku gak akan menikah. Ini keputusan aku".
"Kenapa? Kenapa Ra? Ada orang yang sangat mencintai kamu, kamu tolak?" tanya Gavin, "Apa kamu takut orang-orang tau masa lalu kamu? Gak terima masa lalu kamu Ra?".
"Itu alasan aku dulu, tapi setelah sadar, dunia ini bukan untuk seorang pendosa seperti aku" ucap Dara, "Kamu gak usah merasa bersalah, cukup jadi orang yang profesional Gavin, kita rekan kerja, dan gak akan lebih dari itu" ucap Dara bergegas berlalu dari sana sebelum ada orang yang melihatnya bersama Gavin sejak tadi.
"Ra! Dara!" panggil Gavin, namun Dara tak berbalik, dan memilih tetap berjalan makin cepat ke lift, dan menghilang setelah pintu lift tertutup.
Gavin meninju udara sambil mengacak rambutnya kasar.
Kenyataan beban yang dipikul Dara ketika ia meninggalkan wanita itu sendirian makin menyakitkan, dadanya terasa dicubit dan dilukai, kemudian luka itu disiram dengan garam. Perih sekali.
Seandainya waktu itu ia tetap disisi Dara dulu, Gavin menyesal. Dan rasa cinta itu, memang makin bertambah besar seiring waktu berjalan.
~
Dara kembali ke ruangan kerjanya di Sun E. Menangis tersedu-sedu disana, dan sengaja mengunci ruangan itu agar Sheila dan Gavin tidak masuk dulu kesana.
Setelah puas menangis, dan emosinya mereda Dara biarkan dirinya duduk bersila diatas sofa sudut ruangan dengan tubuh bersandar di tembok.
Hatinya makin perih mengingat masa lalunya. Dara gadis polos, tapi karena bujukan Gavin, dan membiarkan lelaki itu mengambil mahkotanya, ia yakin Gavin makin mencintainya. Katakanlah ia bodoh waktu itu, tapi mana bisa dia menolak ketika Gavin suguhkan kenyamanan untuk dirinya?.
Hanya 2 kali mereka melakukannya, tanpa pengaman, alhasil benih itu tumbuh dalam perut Dara.
Dara tau ketika itu ia sudah hamil, tapi kala itu Gavin tengah sibuk ikut Audisi bahkan mendaftar ke Agensi-agensi. Dara ingin memberitahu kekasihnya itu. Namun mendengar Gavin yang lolos dan bisa ikut casting serta trainee di agensi, Dara mengurungkan niatnya untuk memberitahu Gavin ketika ia hamil.
Gavin pamit tanpa kabar, kehamilan Dara pun diketahui Papa dan Mamanya ketika menemukan tespek di kamar mandi Dara.
Ditampar Papanya, hingga Dara diusir dari rumah. Meski Dara meminta ampun dan maaf pada Papanya, Papanya tetap tega melepas anak semata wayangnya itu pergi.
Papanya tahu tidak sepantasnya ia mengusir Dara, namun semua sudah terjadi.
Dara pergi tanpa membawa apapun, kecuali dompet dan hapenya.
~BERSAMBUNG~