Setelah menunggu selama sepuluh menit, pesanan merekapun datang. Pelayan meletakkan pesanan dengan hati-hati, setelah Dara dan Dimas mengucapkan terimakasih, pelayan tersebut pamit dari sana.
"Yuk makan dulu Ra...." ucap Dimas.
Dara mengangguk sambil tersenyum manis. Bagaimana Dimas tidak klepek-klepek melihat gadis ini?. Melihat senyuman manisnya ini. Dimas rasa ia sudah kecanduan senyum manis gadis ini sekarang.
Merekapun makan dengan tenang, sesekali Dara mengajak Dimas bicara, agar suasana tidak canggung juga. Dimas juga tipikal orang yang irit bicara, hanya Devan sahabatnya yang mulutnya seperti wanita. Banyak bicara.
Dimas bukannya tidak laku, banyak wanita yang juga terang-terangan mendekatinya, tapi ia tak pernah menanggapi mereka. Baginya, kalau hanya ketampanan dan juga kecantikan yang jadi tolak ukur untuk jadi pacar, lebih baik wanita itu cari lelaki lain, Dimas bukan tipikal lelaki penilai seperti itu.
Dia bukan tipe pemilih apalagi, lelaki buaya. Meski ia tampan, dan juga berasal dari keluarga berkecukupan.
Via memang menjodohkannya dengan Erlin, teman satu circlenya di KbArt. Tapi ia tak merasakan chemistry apapun. Toh, Erlin juga tipikal perempuan cuek yang tak suka ganjen dengan lelaki. Jadi Dimas rasa, Erlin tak akan punya perasaan apapun pada Dimas.
Dimas memang belum punya kriteria wanita yang pas untuk ia jadikan pacar, apalagi calon Istri. Tapi melihat senyuman Dara, kriteria Istrinya 100% jatuh pada gadis sederhana ini.
Kalau bisa menjadikannya Istri langsung, untuk apa jadi pacar dulu? Toh habis menikah mereka bisa pacaran.
"Dimas? Dimas?" lambaian tangan diwajah Dimas membuyarkan lamunannya. Sejak tadi Dara sudah melambaikan tangan karena melihat Dimas senyum-senyum sendiri.
"Oh? Astaga.... Sorry Ra" ucap Dimas kembali menyendokkan nasinya lagi ke mulutnya.
"Aku bikin kaget ya? Maaf ya, Dimas...." ucap Dara merasa bersalah.
"Gak masalah Ra. Kamu suka nasi gorengnya?" tanya Dimas perhatian.
"Suka, enak. Pedasnya pas" ucap Dara.
Setelah selesai makan malam, Dimas mengajak Dara ke Bioskop di sebuah Mall, malam ini sedikit lengang karena bukan malam Minggu. Mereka memilih tempat duduk ditengah-tengah, dan kebetulan mereka menonton film romantis. Dimas juga dadakan membeli tiketnya, jadi ia sembarangan pilih judul saja, yang pas dengan jam pulang, agar Dara tidak pulang kemalaman.
Setelah mereka selesai menonton film, Dimas mengajak Dara untuk mampir ke Hypermart mall sebentar. Dimas membeli beberapa Snack, roti tawar, roti berisi selai, s**u kotak ukuran 1 liter, dan beberapa buah segar, dalam 2 troli yang isinya sama.
"Dimas, ini kamu beli kok banyak banget?" tanya Dara penasaran.
"Buat Mama aku Ra, sama buat kamu dirumah 1 ya" ucap Dimas mendorong troli 1, troli 1 nya Dara yang kekeuh membantu Dimas sampai kasir.
"Loh, gak usah aku gak usah Mas" ucap Dara.
"Gapapa Ra, aku ikhlas kok" ucap Dimas tersenyum mendorong troli sampai kasir.
"Aku gak usah Dim, udah biar aja. Mba, ini dibalikin aja ya Mba, maaf" ucap Dara.
"No Ra. Mba, ini juga ya. Saya minta kantongnya gapapa nambah billnya" ucap Dimas ngotot.
Mau tak mau, Dara kembali dengan 3 kantong berisi Snack yang dibelikan oleh Dimas.
"Buat kamu, salam buat Papa Mama kamu ya" ucap Dimas tersenyum manis.
"Oh, oke Dim. Terimakasih ya, maaf aku malah bikin kamu repot beli ini segala" ucap Dara gak nyaman.
"Gak apa-apa Ra. Aku pulang ya?".
"Hari-hati ya Dimas, terimakasih sekali lagi" ucap Dara.
"Oke Ra, gak masalah. Aku seneng kok. Ok aku pamit" ucap Dimas.
Dara mengangguk, ia berbalik hendak menuju ke pintu rumahnya, namun Dimas segera mengikuti langkah Dara.
"Ra...." panggil Dimas.
"Oh, iya Dimas? Kenapa?" Dara berbalik menatap Dimas dengan kening yang mengerut sedikit heran melihat Dimas sudah membuntutinya sampai teras rumah.
"Kalau nanti aku ajak keluar lagi, kamu gak keberatan kan?" tanya Dimas to the point.
"Hmm, gapapa Dimas. Cuman lebih baik kalau sama yang lain juga, aku takut Erlin salah-" ucapan Dara dipotong oleh Dimas.
"Aku sama Erlin gak ada hubungan apa-apa. Jadi.... Kamu jangan salah paham soal kami berdua" ucap Dimas.
Dara hanya terhenyak mendengar ucapan Dimas. Sesaat kemudian ia tersenyum.
"Gak apa-apa kok Dimas, nanti kalau diajak lagi aku ikut. Terimakasih sekali lagi untuk semuanya" ucap Dara.
"Oke, aku balik beneran kali ini" ucap Dimas terkekeh, berjalan mundur dengan masih menatap Dara yang keheranan melihatnya.
Bisa Dimas lihat, Dara tersenyum lebar, makin cantik saja gadisnya ini.
Dara pandangi Dimas yang sudah masuk kedalam mobil dengan mengklakson sekali mobilnya lalu berjalan meninggalkan rumah Dara.
Dara pun masuk ke dalam rumah, membawa 3 kantong belanjaan Dimas ke dapur, menyusun rapi semuanya didalam lemari dan lemari kulkas. Ia kebingungan sendiri melihat Snack dan makanannya yang banyak itu.
Sebanyak ini dia makan sendirian, seandainya tinggal sama Papa dan Mama mungkin sepupunya yang datang juga akan ia bagi-bagi makanan ini.
Dara jadi sedih sendiri mengingat kenangannya bersama Papa dan Mamanya.
~
Gavin sudah berada di lokasi tempat ia dan seorang detektif atau mata-mata terpercaya yang Sheila dapat kemarin mengadakan janji temu.
Ia duduk berhadapan dengan orang yang ia sebut Mas David ini. Umurnya beda beberapa tahun darinya, hampir 30 tahunan. Tapi pengalamannya dibidang mata-mata cukup membuat Gavin kagum.
"Saya mau minta Mas cek tempat tinggal gadis ini" ucap Gavin menunjukan foto seorang Dara yang dia ambil beberapa tahun lalu di album fotonya sewaktu mereka masih bersama, bahkan album itu masih tersimpan rapi dalam lemarinya, "Namanya Dara Valentina Oona".
"Ok, ada lagi?" tanya David sambil memasukkan foto Dara ke dalam sebuah plastik bening berklip yang ia tulisi nama panjang Dara.
"Saya juga mau Mas selidiki i********: upload-annya dia ini dimana, dan yang dia foto ini beneran makam. Kalau memang ia makam siapa?" ucap Gavin sudah memprint foto yang ia lihat di i********: milik Dara kemarin, "Berapapun yang Mas minta saya setuju aja. Tinggal urus keuangannya dengan Sheila ya, saya harap secepatnya Mas hubungi saya. Jangan lewat Sheila, karena ini saya minta privasi dia jangan sampai tau ya?".
"Ok, secepatnya saya akan hubungi anda" ucap David segera memasukan kertas print bergambar gundukan tanah itu beserta foto Dara ke dalam map coklat bertali.
"Kalau gitu, saya langsung permisi" ucap Gavin berdiri.
"Ok, saya akan dapatkan informasi secepatnya untuk anda, Gavin" ucap David.
Gavin mengangguk lalu memasang kacamata hitamnya. Dan keluar dari ruangan tersebut. Sheila yang melihat Gavin keluar segera menghampirinya.
"Yuk, berangkat" ucap Gavin.
"Ok yuk!" ucap Sheila tersenyum canggung lalu mengikuti langkah Gavin.
Mereka akan menuju kantor mereka, Sun Entertainment.
Bersama supir kepercayaan kantor untuk Gavin dan Sheila, Pak Tio merekapun segera tancap gas.
~
Dara berlari sekuat tenaga menuju K Art. Ia bangun kesiangan karena tadi malam asyik menonton drama Korea Selatan favoritnya yang tayang tadi malam.
Sambil merapikan rambut panjangnya dan poninya yang sedikit berantakan, akhirnya ia tiba disana.
Semua pegawai absen dengan barcode identitas yang mereka kalungkan dileher mereka. Termasuk Dara, setelah sukses menempelkan belakang kartu identitasnya yang tertera barcode khusus, di depan kartu Identitas itu berisi logo perusahaan K Art serta fotonya berseragam hitam lengkap dengan nama lengkap dan staff bagian apa Dara bekerja di K Art. Dara bernapas lega karena ia tidak benar-benar terlambat.
Nyaris kurang 1 menit sebelum terlambat masuk lebih tepatnya.
"Hayo, terlambat gaji kamu dipotong Ra...." suara yang Dara kenal adalah Via.
Dara berbalik dan didapatinya Via dan Erlin tersenyum menggoda Dara yang sudah sedikit berkeringat karena berlari tadi.
"Kamu ngagetin aku aja Vi" ucap Dara mengusap dadanya kaget.
"Kamu baik-baik aja, Ra?" tanya Erlin ramah.
"Enggak Papa Er, aku kaget aja" ucap Dara.
"Yuk bareng ke ruangan sama kita" ucap Erlin.
Mereka bertiga pun berjalan beriringan. Di sisi kiri Via, tengah Dara, dan di kanan Erlin.
"Dimas tadi malam kenapa gak ikut ya? Biasanya kalau diajakin ngumpul tuh orang gak pernah absen. Kenapa ya Lin?" tanya Via membuka percakapan bertanya pada sahabatnya, Erlin.
"Tanya sendiri sama orangnya, jangan sama aku. Aku bukan pacarnya" ucap Erlin cuek.
"Tapi kan kamu calon pacarnya" goda Via.
"Hmm.... Tadi malam kalian kumpul bertiga?" tanya Dara mengulang ucapan Via yang bilang Dimas tidak ikut kumpul.
"Iya Ra, biasanya Dimas kalau diajak kumpul mau aja kok. Tadi malam aja dia absen, bilangnya ada urusan" ucap Via.
Dimas bilang Via, Devan, dan Erlin ada urusan mendadak, dan sekarang Via yang bilang Dimas ada urusan mendadak. Jadi harusnya tadi malam Dimas kumpul sama mereka? Tapi kenapa dia malah pergi dengan Dara?.
Mencurigakan. Dara tidak bisa mentolerir lagi kalau Dimas ada maksud terselubung sampai mengajaknya pergi keluar tadi malam untuk jalan berdua. Dara gak akan menerima ajakan Dimas lagi. Ingatkan Dara jika nanti ia lupa.
Sesampainya di dekat ruangan Dara, bisa ia lihat Dimas sudah di sana bersama Devan. Sedang terlihat mengobrol serius.
"Ayang...." ucap Via manja memeluk Devan erat, Devan mengusap kepala kekasihnya itu lembut.
Bisa Dara lihat, pandangan Dimas padanya sumringah, dan ia lirik Erlin, Erlin terlihat santai saja. Tak merasa cemburu ataupun curiga dengan pandangan Dimas pada Dara.
"Yuk keruangan" ucap Via pada Dimas dan Erlin yang masih berada disana bersama Dara diantara mereka.
"Kalian duluan aja, gue ada yang mau ditanyain sama Dara sebentar" ucap Dimas.
"Ngomongin apaan?" Via penasaran dengan wajah menyelidik.
"Ada yang perlu dibahas, soal kerjaan. Udah kalian duluan aja" ucap Dimas santai.
Devan yang mengerti situasi dan kondisi segera menyeret Via dan Erlin duluan tanpa perlu mendengar ucapan Via yang kepo.
"Ra...." panggil Dimas buka suara.
"Kenapa Dim?" tanya Dara.
"Gak apa-apa, yaudah aku ke ruangan ya" ucap Dimas tersenyum.
"Dimas, aku pengen tanya sesuatu ke kamu" ucap Dara.
"Iya? Kenapa Ra?".
"Tadi malam kamu yang ada urusan, apa mereka sih?" tanya Dara.
"Hmm, sebenarnya aku Ra. Tapi...." ucapan Dimas terpaksa berhenti karena ada Kenan yang datang menghampiri dirinya dan Dara.
"Dara, bisa ikut saya?" tanya Kenan melirik sebentar ke arah Dimas. Dimas tersenyum kikuk sambil membungkukkan badan sedikit, Dimas membalas dengan anggukan kecil.
"Ok Pak. Dimas, bicaranya disambung nanti ya" ucap Dara yang mengikuti langkah kaki Kenan.
Dimas hanya bisa memandangi tubuh mungil Dara yang mengikuti langkah Kenan.
Mau tak mau Dimas pun berbalik menuju ruangannya.
Dara melirik atasannya ini yang ternyata membawanya menuju kantin, Dara agak sungkan karena banyak pasang mata menatap mereka berdua yang sekarang jadi pusat perhatian di Kantin Kantor.
"Yuk sarapan dulu" ucap Kenan mempersilakan Dara duduk.
"Saya udah sarapan kok Mas" ucap Dara canggung. Tak berniat duduk ditempat yang Kenan sediakan.
"Temenin saya. Kamu makan bubur ayam Bandung aja ya, porsi setengah, saya lagi mau sarapan bubur" ucap Kenan.
"Tapi saya udah-" ucapan Dara harus terhenti karena Kenan sudah memperlihatkan tatapan mengancam.
"Temenin saya" ucap Kenan lalu berlalu menuju meja pesanan, memesan bubur porsi full satu untuk dirinya dan porsi setengah untuk Dara. Ia juga minta teh botol dingin 3. Setelah membayar pesanan, ia berbalik duduk dihadapan Dara, menunggu pesanan mereka datang.
"Saya nggak enak kalau dilihat sama yang lain Mas...." ucap Dara sangat pelan. Kenan hanya bisa tersenyum lebar menanggapi ucapan Dara.
"Lagi pula kita gak ada hubungan apa-apa.... Jadi, jangan dipikirin" ucap Kenan santai.
Dara salah sangka, ia pikir Kenan menyukainya karena mengajaknya sarapan bersama di kantor. Harusnya ia tidak mengucapkan kata-kata tadi. Memalukan.
Itu sama saja Dara yang baper dengan sikap Kenan yang memang baik pada semua orang, bukan hanya dengannya saja.
Dara menyesal. Benar benar menyesal. Memalukan sekali dihadapan Bos-nya dia lancang seperti ini.
"Kamu.... Enggak baper beneran kan sama sikap saya?" tanya Kenan hati-hati.
"Semua wanita juga akan baper kalau Mas Kenan giniin. Bukan cuma saya" ucap Dara dalam hati.
"Jangan dianggap yah Ra yang tadi" ucap Kenan menyeruput teh botol dinginnya, "Tapi kalau mau pendekatan ke kamu saya siap kok, dan kalau diizinkan juga pastinya sama kamu".
"Saya bercanda Ra, tapi saya serius tertarik sama kamu, hanya.... Saya gak mau gegabah".
Dara mencerna ucapan bosnya ini. Tadi mengatakan jangan baper, lalu sekarang dia tertarik dengan Dara tapi gak mau gegabah. Yang mana yang benar?.
"Jangan dipikirin Ra" ucap Kenan, "Saya gak nyuruh kamu tertarik sama saya juga".
"Saya juga gak mau Mas Kenan tertarik sama saya" ucap Dara jujur.
"Kenapa?" tanya Kenan penasaran.
"Ya saya.... Saya nggak pantas buat Mas Kenan suka apalagi sampai jatuh cinta. Saya gak bisa" ucap Dara.
"Kasih alasan yang masuk akal. Emangnya kamu beneran sudah punya pacar?" tanya Kenan tertarik dengan status Dara sebenarnya.
"Saya gak punya pacar, dan nggak akan pernah punya pacar apalagi suami. Jadi, Mas Kenan anggap saya rekan kerja saja. Saya anak buah Mas Kenan, dan Mas Kenan Bos saya. Cukup itu saja" ucap Dara menekankan kata-katanya agar Kenan mengerti.
"Kenapa?" Kenan mendekatkan tubuhnya sedikit lebih condong ke hadapan Dara. Membuat Dara sedikit gak nyaman, "Kamu.... Enggak lesbi kan?".
"Kalau saya begitu saya bakalan bilang saya punya pacar cewek ke Mas Kenan. Bukannya malah bilang enggak punya dan emang gak mau punya pacar tadi Mas...." Dara memutar bola matanya jengah, karena bosnya, sedikit kurang paham dengan ucapannya.
Dan menuduhnya belok suka sesama wanita. Dara masih normal, masih tau lelaki tampan, baik hati, dan jadi lelaki impiannya di Drama Korea yang sering ia tonton.
Tapi untuk menjadikan mereka lelaki yang menyukainya lalu menjadi pacar untuk Dara rasanya gak akan pernah mungkin.
Dara gak sejahat itu, menyakiti lelaki yang menjadikannya pacar hanya untuk minta status, padahal dirinya sendiri sudah rusak dan gak berguna lagi.
Cukup bertahan hidup dengan bekerja, serta tidak hidup dalam lingkungan keluarga yang tahu masa lalu Dara. Dara sudah merasa sangat bersyukur.
Kadang Dara berpikir, kenapa dia tidak meninggal saja saat keguguran dan hampir bunuh diri kala itu. Tapi Tuhan masih memberinya kesempatan hidup untuk lebih menghargai hidup dan dirinya sendiri.
"Jangan ngelamun, saya gak minta kamu buat jadi Pacar atau Istri saya secara paksa Ra. Saya cuman bilang kalau saya tertarik. Jadi jangan berpikir yang jelek-jelek dulu" ucap Kenan, "Tapi jujur, saya gak suka lihat kamu dekat sama Dimas, Dimas suka kamu".
"Kalaupun dia juga suka, saya gak akan terima Mas, gak akan saya pacaran" ucap Dara.
"Kamu perlu memahami jatuh cinta deh Ra, saran saya" ucap Kenan, "Jatuh cinta itu indah, kalau sama orang yang tepat".
"Saya gak mau, gak peduli, dan gak pikirin itu. Yang ada dalam pikiran saya saat ini adalah kerja, jadi orang sukses, lalu membanggakan diri sendiri" ucap Dara.
Kenan hanya terkekeh mendengar ucapan Dara, ia segera memegang kening Dara. Membuat Dara membulatkan matanya kaget dengan sentuhan Kenan.
Ia segera menepis tangan Kenan. Dengan tangan bergetar.
"Maaf, tapi saya gak biasa kontak fisik Mas. Tolong jangan gini" ucap Dara.
"Maaf, saya gak bermaksud" ucap Kenan merasa gak enak dengan Dara yang sudah terlihat ingin menangis.
"Gak apa-apa Mas. Saya duluan ya, terimakasih untuk sarapannya" ucap Dara segera menyampaikan tali tas Selempangnya. Berdiri.
"Bareng saya Ra" ucap Kenan.
"Nggak usah Mas, saya duluan aja" ucap Dara.
Kenan menarik tangan Dara dan membawa Dara masuk ke lift, naik ke lantai atas yang merupakan taman kantor terawat rapi, disana ada tempat duduk dan rumah kaca. Dara sudah berusaha untuk tidak terlalu dekat dengan atasannya ini, ia ingin menjauh.
Tidak nyaman berada diposisi Dara sebenarnya, apa ia resign saja? Toh ia juga kerja dan bertemu lelaki b******k itu, dan ia tidak Sudi bertemu seorang Gavin.
"Kamu harus terapi Ra, ada yang salah di masa lalu kamu. Saya memang nggak berhak tahu, tapi saya bantu kamu tulus, bukan karena saya ingin terlihat baik dimata kamu. Benar kan, kamu punya masa lalu yang tiap hari menghantui kamu, yang bikin kamu begini sekarang?" tebak Kenan pasti.
~BERSAMBUNG~