Sebuah Perhatian

1259 Kata
Keluar dari kamar mandi, Indah melihat Dhananjaya di depan meja riasnya, sedang menelisik sebuah skin care miliknya. Penasaran, ia pun mendekatinya dan melihat sendiri apa yang dilakukan suaminya itu. Ternyata, Dhananjaya sedang membaca kandungan apa saja yang ada di dalam produk tersebut. Di sisi kirinya, ada sebuah tong sampah yang sudah terisi banyak skin care dan make up Indah di dalamnya. “Apa yang Pak Jay lakukan?” Indah panik melihat barang-barangnya di dalam tong sampah. “Jangan sentuh.” Dhananjaya memberi peringatan saat Indah ingin mengambil kembali barangnya dari tong tersebut. Indah terdiam, tak mengerti untuk apa suaminya menyimpan barang miliknya di tong sampah. Produk-produk itu masih berisi cukup penuh, bahkan sebagian masih tersegel. Dhananjaya cukup peka dengan kebingungan Indah. Ia berkata tanpa menoleh sedikit pun, “Aku akan membuangnya.” “Apa?! Memangnya kenapa?” pekik Indah semakin tak mengerti. “Ada kandungan yang tidak boleh kamu pakai.” Dhanajaya lagi-lagi tak berniat untuk melirik ke arah sang istri dan malah sibuk menelisik tulisan di produk yang dipegangnya. “Tapi kenapa? Kenapa tidak boleh dipakai?” Indah tentu memprotes dengan nada lembutnya. “Karena kamu sedang hamil,” balas Dhananjaya tetap santai. Selesai membaca produk itu, Dhananjaya langsung melemparkannya ke dalam tong. “Pak, itu masih baru, jangan dibuang.” Indah tetap mengambil produk itu, tak peduli dengan larangan sang suami. Ia pun membela diri, “Lagi pula, aku baik-baik saja—” “Tutup mulutmu.” Dhananjaya menatap tajam, menghentikan ocehan Indah yang terdengar semangat untuk mengeluarkan pembelaan diri. “Itu ... Sebaiknya aku berikan pada Jasmin daripada dibuang. Itu sayang sekali. Produknya sangat bagus dan .... ” Indah tak bisa melanjutkan ucapannya setelah Dhananjaya kembali menatapnya jengkel. “Apa semua produk ini lebih penting dari keselamatan anak-anakku?” sindir Dhananjaya tak enak didengar. “Tidak.” Indah tentu membantah tuduhan. “Kamu ingin membahayakan mereka?” Dhananjaya kembali menyindir. Indah menggelengkan kepalanya. “Tidak, tapi ... biar—” Belum selesai bicara, seseorang membuka pintu begitu saja. “Indah, aku membawa—” Jasmin, wanita itu tak berniat melanjutkan teriakannya saat melihat kakaknya juga ada di sana, menatapnya kesal. Indah segera memberikan isyarat agar Jasmin pergi. Sayangnya, Dhananjaya tidak bisa dikelabui. Pandangannya yang tajam terus mengawasi adiknya, dan ia tahu Indah sedang meminta Jasmin pergi agar tidak terkena ocehannya. “Apa yang kamu bawa?” Dhananjaya melihat kantong plastik yang dibawa Jasmin. Dari luar saja, ia sudah yakin bahwa itu makanan pinggiran. “Apa aku mengganggu kalian? Baiklah, aku akan kembali nanti.” Bukannya menjawab, Jasmin malah mengabaikan pertanyaan kakaknya agar cepat pergi sesuai isyarat Indah. “Jangan pura-pura tidak mendengarku!” Dhananjaya berhasil menghentikan niat Jasmin untuk pergi. “Apa yang kamu bawa?” tanyanya ingin tahu. “Makanan keinginan Indah.” Jasmin menjawab jujur, tak mungkin mengelak. Demi mengusir canggungnya, ia tersenyum sumringah sebelum berkata, “Kedua keponakanku menginginkannya.” “Buang itu,” pinta Dhananjaya tegas. Jasmin ingin memprotes, “Kak—” “Mereka tidak menginginkannya,” tandas Dhananjaya tak ingin melanjutkan perbincangan. Jasmin cemberut, tak bisa menahan kekesalannya yang ia tampilkan di wajahnya. “Jangan pernah membawa makanan dari luar untuk Indah. Apa kamu dengar itu?” Dhananjaya memperingati. “Aku yang minta Jasmin membelikan makanan itu.” Indah menyela, tak tega melihat Jasmin terkena omelan karena keinginannya. “Jangan pernah makan makanan dari luar,” tegas Dhananjaya pada Indah. “Baiklah.” Tidak ada pilihan lain selain mengiyakan untuk saat ini. Sedetik kemudian, Indah baru ingat akan produk yang akan dibuang Dhananjaya. Dengan cepat ia mengambil tong sampah, membawanya kepada Jasmin. “Jasmin, sebaiknya bawa semua ini ke kamarmu. Aku tidak membutuhkannya lagi.” Tentu saja Indah memberikan isyarat agar Jasmin menerima tong itu tanpa banyak bertanya. “Baik.” Jasmin tak ingin berlama-lama lagi di sana, jadi ia segera mengambil tong itu dari tangan Indah. “Jika Kakak melihat ada barang itu lagi di sini, kamu yang akan berhadapan denganku.” Dhananjaya bersungut-sungut. “Aku permisi.” Jasmin pergi tanpa ingin menjawab celotehan kakaknya. Tepat saat pintu tertutup, Dhananjaya melanjutkan 'pekerjaannya', kembali meraih produk lain untuk ia periksa kandungan di dalamnya. “Apa kalian sedekat itu?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangan. “Ya.” Indah mengangguk pelan. “Sejak kapan?” Dhananjaya penasaran. “Sejak aku mengalami keguguran,” terang Indah jujur. “Jauhi dia,” pinta Dhananjaya setenang mungkin. “Apa aku seburuk itu? Pak Jay tidak ingin adikmu berteman denganku? Pak Jay tidak perlu memintaku menjauhinya. Aku tahu, aku tidak pantas menjadi temannya.” Indah salah paham. Dhananjaya mengangkat kepalanya, menatap wajah Indah yang terlihat ingin menangis. Jelas, wanita itu sakit hati jika benar Dhananjaya memintanya menjauhi Jasmin karena dinilai tak pantas untuk menjadi temannya. Indah salah paham! Dhananjaya tidak bermaksud seperti itu. “Dia memberikanmu pengaruh buruk. Aku tidak mengatakan kamu tidak pantas menjadi teman Jasmin. Kenapa kamu mudah sekali tersinggung?” decih Dhananjaya kesal karena Indah salah menanggapi. Indah yang masih tak mengerti segera menjelaskan sesuatu, “Apa? Tidak, Jasmin sangat baik padaku. Dia tidak—” “Dia tidak tahu apa yang dibelinya untukmu itu aman atau tidak. Dasar bodoh.” Dhananjaya geram, Indah tidak mengerti juga apa maksudnya. Indah dan Dhananjaya saling menatap satu sama lain. Indah terlihat cemberut, sedangkan Dhananjaya tetap tenang tanpa adanya ekspresi. Semenjak Indah dinyatakan hamil, wanita itu menjadi cerewet dan mudah tersinggung. Lagi pula, bagaimana Indah bisa mengerti maksud Dhananjaya, jika pria itu sangat irit bicara, tak ingin memperjelas ucapannya sehingga Indah sering salah paham? Dulu Indah tidak berani mengeluh dan memprotes, tapi sekarang ia memiliki kemajuan yaitu keberaniannya untuk melakukan itu. Pandangan mereka terputus ketika pintu terbuka secara tiba-tiba. Jika tadi Jasmin yang masuk, sekarang adalah seorang pelayan yang ingin mengantarkan makan siang pada Indah. Kaget melihat Dhananjaya ada di kamar Indah, pelayan itu merutuki dirinya sendiri yang membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu. “Pak Jay ... maaf saya lancang masuk,” ucapnya terbata, menundukkan wajahnya merasa bersalah. “Simpan di meja,” pinta Dhananjaya tegas, terdengar kesal pada pelayan itu tetapi ia tak ingin menyerukannya di depan Indah. “Baik.” Pelayan itu lalu berjalan ke arah meja, menyimpan nampan yang berisi beberapa hidangan. Pelayan itu membungkuk hormat, lalu berbalik meninggalkan kamar itu. “Makanlah, setelah itu tidur,” titah Dhananjaya tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya. “Pak Jay tidak makan?” tanya Indah basa-basi. Indah memiliki maksud terselubung, yaitu mengusir suaminya itu untuk makan siang di lantai dasar. Dengan itu, ia bisa membuang makanan yang sama sekali tidak membuatnya selera. Juga, ia ingin menyelamatkan produk-produk yang mungkin akan dibuang pria tak berperasaan itu. Dhananjaya tidak menyahuti membuat Indah cemberut. Dengan terpaksa ia mengambil piring, memainkan makanan di atasnya dengan asal. Dari tampilannya yang terlihat mewah dan enak, seharusnya Indah berselera untuk memakannya. Pada kenyataannya, ia hanya mencicipinya dan merasa makanan itu hambar, benar-benar tidak berselera untuk menyantapnya. Lama Indah memainkan sendok, Dhananjaya menoleh ke sampingnya. Seketika itu, ia kesal karena baru menyadari Indah tidak memakannya. Pantas saja tubuh Indah sangat kurus bagaikan kurang gizi, ternyata bukan karena kelaparan, tetapi memang Indah sulit makan. “Makanmu sangat buruk,” cibir Dhananjaya membuat sang istri menatapnya. “Aku akan makan nanti,” kata Indah ragu-ragu. Dhananjaya melempar tatapan tak setuju. Mulutnya memang diam, tetapi tatapannya mengandung protesan. “Aku ingin tidur siang.” Indah bangkit dari sofa, tak peduli dengan respons Dhananjaya, ia segera berbaring di atas ranjang. Indah tersenyum dalam hatinya. Lihatlah, suaminya itu sangat perhatian walau caranya berbeda dari manusia lainnya. Seharusnya Dhananjaya membujuk, mengucapkan kata-kata manis yang lembut. Namun, yang dilakukannya malah terkesan pemaksa dan tak ingin mendengar alasan apa pun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN