“Bagaimana?” Jasmin langsung bertanya saat memasuki kamar Indah.
“Bagaimana apanya?” Indah pura-pura tak mengerti.
“Apa Kak Jay memujimu? Atau mungkin memujiku juga karena aku yang mempercantik dirimu?” cerocos Jasmin tampak semangat.
“Tidak ada pujian apa pun,” jawab Indah malas nan lesu.
Jasmin terdiam, melongo tak percaya. Apakah kakaknya itu benar-benar pria tidak normal? Sepertinya usahanya belum seberapa hingga Dhananjaya tidak terpaku sedikit pun. “Benarkah? Tapi ... semalam kalian bertemu, bukan?”
“Aku terlalu rendah untuk kakakmu.” Indah lalu menundukkan wajahnya yang terlihat cemberut.
Jasmin tertegun melihat raut wajah Indah yang jelas kecewa. Sepertinya harapan wanita itu sama tingginya seperti dirinya hingga merasakan kekecewaan yang mendalam. Namun, hal itu malah membuat Jasmin semakin bersemangat untuk menciptakan cinta di hati sang kakak untuk istrinya.
“Apa kamu menyukainya?” tanya Jasmin sungguh-sungguh.
Indah sempat menoleh sebentar, tapi ia tidak berniat untuk menjawab pertanyaan yang menurutnya tidak elegan untuk dibicarakan. Lagi pula, memangnya wanita mana yang tidak tertarik pada pria sesempurna Dhananjaya Abraham? Pria itu hanya memiliki satu kekurangan, yaitu cinta, pria tidak normal.
“Jawab saja.” Jasmin menyikut lengan Indah, merasa penasaran juga tak sabaran.
Indah menggeleng pelan, tak ingin menjawab apa pun. Wajahnya tampak malu, padahal ia tidak mengatakan isi hatinya tentang Dhananjaya.
“Indah, aku ingin mendengar jawabanmu,” desak Jasmin memaksa. “Ayolah, katakan bahwa kamu mencintai Kak Jay,” lanjutnya dengan nada rengekan.
“Itu tidak penting.” Indah tak ingin membahas hal itu lagi.
“Itu penting,” sahut Jasmin tegas.
“Untuk apa?” Indah jelas bingung.
“Jika kamu mencintai Kakak, artinya kamu jangan menyerah. Lakukan apa pun yang dapat membuatnya tertarik padamu. Kejar dia, buat dia nyaman dan yang lainnya.” Jasmin menasehati sok tahu.
Bukan hanya itu, Jasmin bagaikan seorang guru yang sedang mengajari muridnya, memberikan beberapa tips, trik, dan rencana agar Indah mau mempelajarinya. Tujuannya tidak lain adalah untuk menarik perhatian Dhananjaya dan membuat pria itu nyaman bersama istrinya.
Indah mendengarkan dengan saksama setiap kata yang terucap dari bibir Jasmin. Ia pun bertanya-tanya, mengapa Jasmin sangat mendukungnya untuk mendapatkan hati seorang Dhananjaya? Apa pun itu, ia merasa senang karena mendapat dukungan dari seseorang yang merupakan keluarga suaminya sendiri.
Hari itu, Jasmin menghabiskan waktunya di dalam kamar Indah. Ia mengajari caranya memakai skin care, make up, merawat tubuh juga rambut, memilih pakaian yang serasi dan masih banyak lagi. Bahkan, Jasmin memesan beberapa peralatan untuk mempercantik diri yang ia pesan melalui online.
Sejak hari itu, Indah belajar pelan-pelan. Dimulai dari memakai skin care, Indah sudah cukup pandai. Memilih pakaian pun tidak terlalu keliru. Namun, untuk memakai make up ia benar-benar menyerah. Ia paling tidak bisa melukis alisnya yang selalu berakhir sangat tebal yang malah membuatnya seperti tokoh kartun.
Perubahan demi perubahan Indah alami dari hari ke hari. Wajahnya tidak mungkin berubah banyak, tetap wajah biasa yang terlihat dari kalangan bawah. Namun setidaknya, kini wajah, tubuh dan rambutnya terawat, tidak seperti sebelumnya. Kepercayaan diri Indah pun kini stabil, tidak merasa sangat buruk jika disandingkan dengan suaminya sendiri.
Namun, untuk kondisi hubungannya bersama Dhananjaya masih sama, tidak ada perubahan. Meskipun begitu, Indah tidak ingin memaksa pria itu untuk mencintainya. Menjadi istri yang entah dianggap atau tidak, ia tidak peduli karena itu sudah cukup menjadi sebuah kebanggaan untuk dirinya sendiri.
“Jasmin, kamu mengagetkanku!” kesal Indah ketika ia membuka pintu kamar mandi, Jasmin tepat ada di depannya dengan seringai aneh.
“Kamu masih sering mual?” Jasmin penasaran.
Indah mengangguk. Jasmin lalu menyodorkan alat tes kehamilan, “Pakai ini. Beri Kak Jay kejutan,” pintanya, lalu tersenyum nakal.
Melihat benda itu, entah mengapa Indah ikut tersenyum. Ia baru menyadari sesuatu, telat datang bulan? Tanpa menunggu apa pun, ia langsung menggunakan alat tersebut, dan hasilnya tertera tidak lama kemudian, positif! Wajahnya berseri-seri mengingat program hamilnya berhasil. Namun, ia pun merasa sedih ketika membayangkan akan jarang bertemu dengan suaminya sendiri.
Seperti saat kehamilan pertama, Dhananjaya tidak pernah meminta Indah untuk melayaninya karena khawatir akan kandungannya. Jika itu terjadi lagi, artinya Indah akan jarang bertemu dengan pria itu, pria yang selalu ia rindukan di setiap harinya. Namun, cepat atau lambat ia pun pasti akan hamil lagi. Jadi, apa pun yang akan terjadi walaupun Dhananjaya akan menjauhinya, Indah harus bisa menerimanya.
“Pak Hendra, bisakah aku bertemu Pak Jay?” Indah meminta izin dengan sopan.
“Datanglah jika Pak Jay menginginkanmu,” jawab Hendra malas. Bahkan, ia tidak berniat untuk menatap Indah yang berdiri tak jauh darinya.
“Jadi ... aku tidak bisa menemuinya sekarang? Apa beliau sedang sibuk?” Indah ingin memastikan.
“Suasana hati Pak Jay sedang tidak baik. Kamu tahu sendiri, beliau akan lebih buruk lagi jika diganggu.” Hendra memberikan alasannya dengan nada malas.
“Baiklah.” Indah mengangguk lemah, mengerti dengan maksud Hendra. Ia sendiri tahu, sangat tidak baik mengganggu pria itu jika suasana hatinya sedang kacau.
Indah kembali ke kamarnya. Hatinya merasa sedih karena tidak dapat mengatakan tentang kehamilannya. Padahal, Dhananjaya sering mengatakan bahwa dirinya tak sabar ingin memiliki keturunan. Ia harap, suaminya itu akan memanggilnya nanti malam seperti malam-malam biasanya. Baiklah, Indah harus bersabar waktunya tiba.
“Kakak!” Jasmin berlari menaiki tangga saat melihat kakaknya sedang berjalan di lorong lantai tiga.
Sontak, Dhananjaya menghentikan langkahnya, merasa aneh dengan sikap adiknya yang terlihat senang.
Tepat di hadapan Dhananjaya, Jasmin memeluk kakaknya itu tanpa sungkan. Ia berkata antusias, “Selamat, aku ikut bahagia mengetahuinya.”
Dhananjaya tidak membalas apa pun, baik dari mulut ataupun tindakan. Jasmin merasa aneh. Ia melepaskan pelukan, menatap kakaknya itu dengan bingung. “Kakak tidak senang?” tanyanya kikuk.
“Atas apa?” Dhananjaya balik bertanya. Ia pun sama bingungnya.
“Istrimu belum memberitahunya?” Jasmin menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa malu sendiri dengan tatapan aneh Dhananjaya.
“Apa yang kamu maksud, Jasmin? Kenapa berbelit-belit?” tegur Dhananjaya tak suka basa-basi.
Jasmin semakin kikuk. Ia tidak ingin dan tidak mungkin memberitahu kehamilan Indah pada Dhananjaya. Yang ia inginkan adalah Indah memberitahunya sendiri. “Ti—tidak, Kak. Aku permisi,” jawabnya terbata, lalu pergi secepat kilat.
Dhananjaya masih berdiri di tempatnya, mencerna kata-kata Jasmin. Selamat? Dia terlihat bahagia? Dhananjaya memiliki firasat ke sana, kehamilan Indah? Kata 'selamat' yang terucap Jasmin sudah jelas sebuah kebahagiaan. Dhananjaya hanya ingin memastikan dugaannya. Oleh karena itu, ia masuk ke dalam kamar Indah. Namun, istrinya itu tidak ada. Suara gemercik air yang mengalir menandakan Indah sedang melakukan aktivitas di dalam kamar mandi.
Saat berjalan ke arah sofa, dari kejauhan sebuah benda kecil sudah berhasil menarik perhatian mata Dhananjaya yang tajam. Setelah didekati, Dhananjaya lantas meraih benda itu dan memeriksanya. Alat tes kehamilan yang menandakan positif. Wajahnya yang sudah muram sedari tadi, makin muram saja ketika berbagai pertanyaan hinggap di rongga kepalanya.
Tepat ketika Indah keluar dari kamar mandi, pandangannya bertabrakan dengan hazel Dhananjaya yang masih mematung di dekat sofa. Kini, keduanya saling tatap dalam diam. Indah menatap takut dengan wajah Dhananjaya yang tidak bersahabat, sedangkan Dhananjaya semakin geram melihat kegugupan Indah.
“Apa ini?” Dhananjaya mengangkat benda kecil di tangannya ke udara, sedangkan tatapannya tak sedikit pun teralih dari wajah Indah.
“Tes kehamilan,” jawab Indah pelan, tetap berdiri di dekat pintu.
“Milikmu?” Kini Dhananjaya melangkah mendekati Indah.
Indah mengangguk, kakinya mundur secara perlahan. Dhananjaya meraung kesal sambil terus melangkah, “Kenapa kamu tidak memberitahuku? Apa maksudmu ini, hah? Kamu ingin mengetahuinya sendiri? Lalu—”
“Aku sudah datang tadi. Tapi ..., ” potong Indah cepat, tetapi ia ragu untuk melanjutkan ucapannya.
“Tapi?” Dhananjaya meminta penjelasan.
“Pak Hendra bilang, Pak Jay tidak bisa diganggu.” Indah terpaksa menjawab jujur, padahal ia tak ingin Hendra mendapat masalah.
Tanpa mengatakan apa pun lagi, Dhananjaya keluar dari kamar Indah. Langkahnya yang tak santai, membawanya ke kamar Hendra yang tak jauh dari sana. Segera, ia masuk ke dalam kamar Hendra tanpa permisi.
Hendra yang sedang mengistirahatkan dirinya di sofa, sontak sangat kaget dengan kedatangan Dhananjaya yang tiba-tiba. Dengan cepat ia berdiri, lalu menghampiri tuannya yang terlihat tidak baik-baik saja.
“Beraninya kamu melarang Indah bertemu denganku! Apa kamu bosan hidup?!” murka Dhananjaya sambil mencekram pakaian Hendra tanpa peringatan.
“Pak Jay.” Hendra gugup dalam kebingungan.
Apa yang salah dengan keputusannya tadi? Belum sempat menjelaskan apa pun, Dhananjaya sudah meluncurkan pukulan tepat di perutnya. Hendra meringis, bersimpuh di atas lantai sambil memegangi perutnya yang terasa perih. Bahkan, rasa-rasanya ia ingin mengeluarkan apa pun dari perutnya yang terasa di obrak-abrik.
Di sisi lain, Indah yang memang menguntit Dhananjaya sejak tadi, berdiri di depan pintu, melihat dengan jelas saat Dhananjaya melakukan kekerasan pada Hendra. Seketika lututnya terasa lemas, ketakutannya begitu menyeruak dalam hatinya. Ia tidak menyangka reaksi Dhananjaya akan semarah itu hingga tidak ingin mengampuni Hendra. Indah takut, takut suaminya juga marah padanya. Juga, Indah merasa bersalah karena menyalahkan Hendra walaupun bukan niatnya untuk mengadu.
“Seharusnya kamu bertanya dulu, apa yang akan Indah sampaikan padaku! Apa itu penting, atau tidak!” teriak Dhananjaya tepat wajah Hendra.
“Pak, maafkan saya.” Hendra menunduk, tak berani untuk menatap hazel iblis majikannya yang sangat menghunus tajam.
Dhananjaya kembali mengoceh, “Kamu tahu, berita yang akan disampaikan Indah itu sangat penting untukku?! Kamu membuang waktu berharga—”
“Indah.” Ucapan Hendra berhasil menghentikan pidato Dhananjaya.
Di saat itu juga, kepala Dhananjaya mengikuti arah pandang Hendra yang tertuju pada Indah.
“Indah? Untuk apa kamu ke mari?” sentak Dhananjaya tak tenang, berjalan ke arah Indah.
Namun, Indah malah semakin ketakutan, takut jika Dhananjaya akan berlaku kasar juga padanya. Indah memperingati dengan nada tinggi tanpa sadar, “Jangan mendekat!”
Tangan Indah yang terangkat di udara, membuat Dhananjaya berhenti.
Indah semakin merutuki dirinya yang sudah lancang membentak manusia agung itu. “Maksudku ... tolong maafkan aku. A—aku tidak bermaksud mengintip,” ucapnya terbata, menatap Dhananjaya meminta ampunan.
“Kembali ke kamarmu,” pinta Dhananjaya sedikit lembut. Ia tahu, istrinya itu sangat ketakutan yang belum ia ketahui apa penyebabnya.
“Ba—baik.” Indah langsung mengangguk konyol.
Dhananjaya kembali menatap Hendra tanpa ingin menghampirinya lagi. Ia mengingatkan, “Lain kali, tanyakan apa yang ingin dia sampaikan. Mengerti?”
“Baik, Pak.” Hendra manggut-manggut dengan cepat, masih menundukkan kepalanya.
Sementara itu, Indah memaksakan kakinya untuk berjalan. Kakinya terasa lemas, jantungnya pun berdetak hebat saat mendengar langkah kaki di belakangnya. Tidak diragukan lagi, pria itu mengikutinya. Indah mempercepat langkahnya walau terlihat sangat kaku bagi pandangan Dhananjaya yang berada di belakangnya.
Merasa tidak kuat untuk berjalan lebih cepat lagi, Indah berbalik, berkata lirih sambil menunduk dalam, “Maaf, aku tidak sengaja melihat pertengkaran tadi. Aku—”
“Aku ingin kamu diperiksa secepatnya.” Dhananjaya tak ingin mendengar ucapan Indah hingga selesai.
Sore itu, Dhananjaya tak ingin menunggu waktu lagi, segera membawa Indah ke rumah sakit untuk memeriksa kandungannya. Seperti biasanya, pria yang bernama lengkap Dhananjaya Abraham itu sangat pandai menyembunyikan emosinya. Ekpresinya tetap datar, tak tahu apa pria itu sedang senang ataupun sedang dalam masalah.
Hanya Dhananjaya yang tahu, sebahagia apa hatinya mengingat akan adanya sosok kecil sebagai keturunannya nanti. Jika bisa, Dhananjaya ingin menghilang sekejap mata, membawa Indah ke rumah sakit guna mengetahui kondisi janinnya dengan cepat. Untung saja jalanan tidak terlalu macet karena hujan deras. Tampak banyak pengendara motor menepi untuk berteduh sehingga jalanan sedikit lenggang.
“Usia kandungannya menginjak minggu keenam. Sepertinya Tuhan ingin mengembalikan bayimu yang pertama sehingga sekarang menjadi berlipat. Bayinya kembar dua, selamat,” ungkap dokter menyampaikan dengan senang hati.
“Apa? Kembar?” Dhananjaya ingin memastikan bahwa pendengarannya masih berfungsi dengan sangat baik.
“Ya. Saya harap Pak Jay tahu apa yang harus Pak Jay dan Ibu Indah lakukan. Seperti beberapa bulan yang lalu, kondisi rahim Ibu Indah lemah. Kalian harus menjaganya dengan sangat hati-hati.”
Dokter memberikan banyak nasehat guna mempertahankan kedua janin yang sedang dikandung Indah. Seperti sebelumnya, kandungan Indah lemah walau saat ini dokter sudah memberikan penguat kandungan dan lain sebagainya. Namun, tetap tidak dapat menjamin kandungan akan kuat jika keadaan hati Indah masih sama seperti kehamilan pertama.
Saat pulang ke kediaman Abraham, Dhananjaya meminta semua pelayan untuk berkumpul. Ia memerintahkan para pelayan untuk melayani Indah, meminta mereka untuk masak makanan kaya serat dan gizi yang sangat baik. Bahkan, ia mencatat sendiri makanan apa yang harus mereka hidangkan untuk istrinya.
Sejak saat itu, para pelayan tidak lagi bersikap sinis pada Indah. Namun, mereka juga tidak bisa dikatakan menjadi ramah dan baik. Setiap kali mereka membawa makanan, pastilah makanan yang lezat dan bergizi tinggi.
Dari sikap Dhananjaya yang sangat berubah dari waktu ke waktu, Indah semakin terkagum-kagum terhadap suaminya sendiri. Walau terkesan kasar, tetapi pria itu melakukannya karena kekhawatiran yang tidak seharusnya atau bisa disebut sangat berlebihan. Apa pun itu, Indah sangat menikmati perhatian demi perhatian yang ditujukan sang suami padanya.