Di sebuah toko pakaian yang terletak di dalam mall, dua perempuan sedang sibuk memilih beberapa pakaian untuk dibeli. Namun, yang berbelanja hanya satu orang, yaitu Jasmin. Sedangkan satunya, Indah, hanya menemani putri bungsu Abraham berbelanja saja.
Mereka sudah memasuki beberapa toko pakaian dan membeli banyak segala jenis pakaian. Jasmin seolah tidak pernah puas dan terus mengajak Indah untuk memasuki toko lain. Seperti saat ini, mereka sedang berada di bagian pakaian tidur. Indah hanya membantu memilihkan pakaian yang menurutnya bagus, tapi terkadang Jasmin menolak jika pilihan Indah sangatlah pasaran.
Di antara pakaian yang berjejer, Jasmin sedang melihat-lihat pakaian tidur yang biasanya dipakai wanita dewasa atau lebih tepatnya sudah menikah. Lingerie, tepat. Indah yang merasa aneh melihat pakaian itu dari kejauhan, segera mendekatinya.
“Jasmin, apa kamu terbiasa memakai pakaian seperti itu?” Indah merasa malu sendiri melihat pakaian tersebut.
“Ini pakaian tidur.” Jasmin memberitahu. Siapa tahu saja Indah belum pernah melihatnya, bukan?
“Apa?” Indah tak habis pikir.
Pakaian tidur seharusnya terbuat dari kain tebal, berpotongan panjang baik di kaki maupun tangan. Tapi apa ini? Pakaian itu terlihat kurang bahan. Siapa pun yang memakainya, sudah dipastikan akan kedinginan. Mungkin memang selera Jasmin seperti itu, memakai pakaian yang sangat terbuka. Indah tidak ingin berkomentar, khawatir akan menyinggungnya.
“Pakaian ini untukmu.” Jasmin menyeringai nakal, tampak geli sendiri membayangkan Indah memakai lingerie.
”Apa?!” Indah melotot horor.
“Ayolah, tidak perlu berlebihan seperti itu.” Jasmin tak suka.
“Tapi aku tidak pernah memakai pakaian seperti itu.” Indah bergidik ngeri. Tanpa menolaknya secara langsung, ekpresinya sudah mewakilkan perasaannya yang tak ingin memakai pakaian itu.
“Kamu akan memakainya nanti malam,” kata Jasmin terkesan memaksa.
“Tidak.” Indah menggelengkan kepalanya dengan tegas.
“Harus!” Jasmin tidak ingin mendengar alasan apa pun.
“Jasmin—”
“Aku memaksa.” Jasmin tak tahu malu.
“Bagaimana aku bisa memakainya? Aku ... aku malu.” Indah masih saja melotot horor, merasa tertekan dengan permintaan absurd adik iparnya itu.
“Kak Jay adalah suamimu, untuk apa malu?” celetuk Jasmin dengan entengnya.
“Aku ... Bukan hanya kakakmu yang akan melihatku memakai pakaian ini, tapi orang-orangnya juga. Apa kamu lupa, aku dan kakakmu tidak satu kamar?” Indah mengingatkan. Nadanya bercampur kesal dan memohon.
“Bukankah kakak akan datang padamu?” Kali ini, Jasmin terlihat menyesali sesuatu.
“Tidak, aku yang menemuinya.” Indah menggelengkan kepalanya.
Jelas, Indah membantah tuduhan Jasmin karena memang ia yang selalu menemui sang suami di kamarnya. Jadi, jika Indah memakai lingerie dari kamarnya ke kamar Dhananjaya, sudah dipastikan ia akan menjadi pusat perhatian orang-orang Dhananjaya yang biasanya berdiri tak jauh dari ruangan majikannya itu. Satu lagi, kemungkinan Dhananjaya bukannya senang, tapi malah memakinya karena bertindak seperti orang gila.
“Astaga.” Jasmin menutup mulutnya, kaget karena baru mengetahui hal itu.
“Biarkan aku menyimpannya lagi.” Indah meraih lingerie dari tangan Jasmin untuk ia kembalikan ke tempat asalnya.
“Tidak, kamu harus memakainya. Itu keinginanku.” Jasmin segera mencegahnya.
“Untuk apa kamu menginginkannya?” Indah geram. Jika saja ia memiliki keberanian, ia ingin sekali memaki adik iparnya itu.
“Agar keponakanku cepat tumbuh di rahimmu,” jawab Jasmin diiringi cengiran aneh.
“Tidak masuk akal.” Indah lalu mendengkus kesal. Dirinya bisa hamil tanpa harus memakai pakaian itu.
“Aku akan merencanakan sesuatu agar Kak Jay yang datang padamu.” Jasmin masih memperlihatkan wajah konyolnya.
“Tidak perlu direncanakan. Kakakmu akan datang jika aku menolak menemuinya.” Indah tersenyum manis, senyuman menyanjung.
Namun, Jasmin malah kembali salah paham. Matanya berbinar, membayangkan kakaknya yang akan datang sendiri menemui Indah. Ia pun berkata, “Benarkah?”
Indah mengangguk sambil menjawab, “Untuk memakiku dan mungkin ... melakukan kekerasan padaku.”
Senyum Jasmin menghilang seketika. Sebagai gantinya, ia cemberut. “Apa Kak Jay sejahat itu?” tanyanya prihatin.
“Lupakan.” Indah menolak membicarakan tentang Dhananjaya. Walau bagaimanapun, ia tetap mencintai suaminya.
“Baiklah.” Jasmin manggut-manggut, tak ingin memaksanya lagi.
Jasmin memang tak tahu secara jelas tentang hubungan suami istri. Perihal lingerie, ia hanya pernah mendengar temannya yang sudah menikah membahas pakaian itu. Otaknya yang entah tercampur virus apa tiba-tiba saja berinisiatif agar Indah memakai lingerie di depan kakaknya, Dhananjaya.
Setelah mengantongi banyak belanjaan, mereka pun mengakhiri petualangannya di dalam mall. Namun, ternyata Jasmin tidak ingin langsung pulang, melainkan mengunjungi sebuah salon. Sebenarnya Indah sudah lelah, apa boleh buat ia tidak berani menolak.
Bukan hanya Jasmin yang merawat wajahnya di salon kecantikan itu, ia pun meminta Indah melakukan perawatan yang sama. Sempat menolak karena mengkhawatirkan soal biaya, akhirnya Indah ikut melakukan perawatan wajah setelah mendapat paksaan dari adik iparnya.
Tepat ketika karyawan meninggalkan Indah dan Jasmin, Jasmin berbisik, “Aku belum mengatakan sesuatu padamu.”
“Apa?” Indah penasaran.
Melihat tatapan Jasmin yang horor, Indah merasa panik sendiri. Indah menduga adik iparnya itu kehabisan uang. Mungkin saja Jasmin akan memintanya untuk membayar perawatan. Bukan biaya yang Indah khawatirkan, tapi masalahnya ia tidak membawa kartu bank pemberian Dhananjaya.
“Semua barang yang kubeli tadi, itu untukmu.” Jasmin lalu tersenyum senang, menatap Indah seolah sedang menunggu responsnya.
Bukannya terlihat senang, Indah malah membulatkan matanya dengan sempurna. “Apa?! Ma—maksudmu?” pekiknya tak percaya.
“Kamu adalah kakak iparku, menantu keluarga Abraham, istri dari seorang pemimpin hebat. Kamu pantas mendapatkan pakaian dan barang-barang berkelas.” Jasmin tidak bermaksud menyanjung, tapi memang itulah pikirnya. Indah berhak mendapat status tinggi, seperti yang seharusnya dia dapatkan sejak menjadi istri kakaknya.
“Jasmin—”
“Jangan menolak.” Jasmin menyela cepat sebelum Indah membual, malas mendengar penolakan yang terkesan susah diatur ataupun diberi pendapat.
Indah terdiam beberapa saat, membayangkan berapa banyak uang yang sudah Jasmin keluarkan untuk membeli banyak barang. Pakaian tidur hingga pakaian resmi, tas, jam tangan, berbagai jenis sepatu, parfum dan aksesoris. Bukan hanya itu, Jasmin juga membeli banyak produk skincare, make up, perawatan tubuh juga rambut.
Indah tahu beberapa harga dari barang-barang tersebut yang menurutnya sangat mahal. Merk-merk yang dibeli pun terkenal akan harganya yang fantastis. Untuk mentotalkannya, Indah tak ingin, tak sanggup menghitungnya. Sekarang, wanita yang merupakan adik iparnya itu membawanya ke salon kecantikan untuk melakukan perawatan.
Indah masih saja tak percaya dengan ungkapan Jasmin. Ia pun mengoceh, “Tapi ... apa maksudmu? Maksudku, aku tidak masalah dengan pakaian yang ada. Aku tidak menginginkan apa pun. Dan kamu ... kamu sudah meng—”
“Indah, sudah. Itu belum seberapa. Tenanglah.” Jasmin mencoba untuk membuat Indah tenang dari keterkejutannya.
Tapi tidak, Indah tetap saja tak tenang. Senang? Mungkin iya, tetapi kecemasannya lebih besar hingga menutupi rasa harunya diperhatikan sedemian rupa oleh Jasmin sebagai teman sekaligus adik ipar.
Indah membuang napasnya yang lelah. Ia berkata pelan dan penuh penyesalan, “Baiklah. Aku akan memberikan kartuku padamu saat pulang nanti.”
“Tidak perlu. Aku masih ada uang.” Jasmin tak mungkin menerima kartu Indah.
Indah menjelaskan keputusasaannya, “Tapi Jasmin, jika Nyonya tahu—”
“Ibu tidak akan tahu. Itu uangku. Lagi pula, aku juga sering meminta uang pada Kak Jay. Jadi, anggap saja yang aku bayar itu uang suamimu.” Jasmin tak ingin mendengar ocehan apalagi penolakan dari Indah.
Ini memang keinginan Jasmin, membeli banyak pakaian dan yang lainnya dengan merk yang sering ia pakai. Jasmin ingin Indah mendapatkan apa yang menjadi haknya. Wanita itu sudah menjadi bagian dari keluarga Abraham, dan ia ingin Indah berlaku seperti anggota keluarganya, bukan seperti orang lain yang malah takut pada para pelayan di rumahnya.
Jasmin tahu sendiri bagaimana Dhananjaya terhadap wanita. Penilaiannya sama seperti yang lainnya, yaitu menganggap pria itu tidak normal. Jasmin tidak pernah melihat Dhananjaya bersama seorang wanita sebagai kekasihnya satu kali pun. Bahkan sepertinya, pria yang gila dengan pekerjaannya itu tidak pernah jatuh cinta dan memiliki kekasih.
Sekarang, Jasmin berharap kakaknya itu menemukan cintanya dalam pernikahan yang sudah terjalin. Ia berharap kakaknya itu dapat melihat perbedaan Indah dengan wanita lainnya, yaitu kebaikan dan ketulusannya. Oleh karena itu, ia ingin membuat Indah tampak menarik dan layak untuk kakaknya.
Melihat suasana rumah yang tenang, Indah merasa sedikit lega. Sepertinya Dhananjaya sedang beristirahat, begitu pun dengan orang-orangnya yang juga tidak ada di tempat. Tepat ketika masuk ke dalam kamar, ia melihat sang suami yang sedang duduk di sofa, menatapnya kesal. Indah baru saja selesai menaiki tangga, seharusnya ia berkeringat, bukan? Nyatanya, saat mengetahui Dhananjaya di kamarnya, ia malah merasakan hawa dingin yang menusuk tulang.
“Jam berapa ini?” tanya Dhananjaya yang jelas sedang menyinggung Indah.
“Maaf, Nona Jasmin memintaku untuk menemaninya belanja,” jawab Indah sopan.
“Apa dia menganggapmu pelayan?” Dhananjaya tampak kesal.
“Tidak.” Indah langsung membantah dengan tegas.
“Lalu?” Dhananjaya tak bergerak sedikit pun, anteng duduk di sofa sedangkan Indah tetap berdiri di dekat pintu.
“Kami ... berteman,” ungkap Indah ragu-ragu.
“Teman? Kamu jelas memanggilnya Nona.” Dhananjaya menyipitkan matanya, tampak tak percaya bahkan terdengar konyol. Jika Indah dan Jasmin berteman, tak mungkin Indah memanggilnya nona.
“Aku ... aku takut Pak Jay marah jika aku memanggil Jasmin dengan sebutan nama,” jawab Indah jujur.
Tak ingin mendengar pertanyaan perihal aktivitasnya hari ini, Indah bertanya dengan maksud mengalihkan pembicaraan, “Apa Pak Jay memerlukan sesuatu? Aku akan bersiap-siap untuk datang ke kamarmu.”
Dhananjaya tidak mengatakan apa pun lagi selain beranjak dari duduknya untuk meninggalkan kamar itu. Teringat ucapan Jasmin tadi, tiba-tiba saja Indah ingin mengatakan sesuatu pada suaminya itu.
“Pak Jay.” Indah memanggil suaminya saat berpapasan.
Dhananjaya berhenti, berbalik menatap Indah dari jarak yang sangat dekat. Indah membeo, bingung untuk mengatakannya sedangkan suaminya sudah menunggu ucapannya.
“Bagaimana jika ... malam ini kita di sini?” Indah terlihat kikuk. “Ma—maksudku, tidak ada bedanya, bukan?” sambungnya terbata.
“Kamu ingin mengaturku?” Dhananjaya balik bertanya dalam arti memprotes.
“Tidak.” Indah menggeleng tegas. “Aku akan ke kamarmu,” lanjutnya pelan.
“Jangan pernah membuatku menunggu lagi. Kamu mengerti?” Dhananjaya terlihat kesal.
Indah mengembuskan napasnya lelah. Respons Dhananjaya benar-benar tidak berubah, tetap dingin bagaikan bicara dengan orang asing. Padahal, ia sudah membayangkan dirinya yang akan memakai lingerie di hadapan suaminya.
Ya, Jasmin tetap membeli pakaian itu untuknya. Itu sebabnya Indah ingin melakukan hubungan suami istri di kamarnya, agar ia dapat memakai pakaian itu. Apa boleh buat, Dhananjaya tetap meminta sang istri untuk datang ke kamarnya, yang artinya Indah tidak bisa memakai pakaian sexy itu, tak mungkin ia memakai pakaian yang sangat terbuka keluar dari kamarnya dan menjadi pusat perhatian orang-orang.
Indah juga berharap suaminya terkagum-kagum melihat dirinya memakai dress baru yang dipakainya saat di salon tadi, menyesuaikan dengan penampilan wajahnya yang memakai make up ringan serta rambut yang sedikit bergelombang.
Indah bahagia, sangat bahagia dari hari yang pernah ia temui. Walau tidak sepenuhnya percaya diri, tapi ia merasa dirinya kini sangat berbeda hingga membuat ia merasa sedikit percaya diri. Tampaknya penampilan Indah tidak mengubah apa pun dalam diri Dhananjaya, dan sejujurnya Indah kecewa akan hal itu.